
Keadaan Mexico sangat cerah sore hari ini, tetapi tidak dengan di dalam perusahaan pencakar langit lantai empat puluh dua, di dalam ruangan CEO.
Kursi eksekutif yang terbuat dari kulit dengan desain sandaran yang lebih tinggi ini, terduduk oleh pria tampan dengan tinggi tegap dan dada yang bidang, juga mata almond yang tajam menyerupai mata elang ini menatap lurus ke depan dengan sorot mematikan, membuat ruangan mewah yang terkesan sunyi dan kaku ini menjadi dingin dan mencekam.
Di hadapannya terdapat pria paruh baya yang tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutannya, dari ujung kuku kaki sampai ujung rambutnya yang mulai memutih bergetar begitu hebatnya, seolah tau, ini adalah hari terakhirnya dia bernafas, bernafas dengan begitu menyakitkan.
Arvas James Arlington. Pria berdarah dingin dan tidak memiliki belas kasih sedikit pun, dia memiliki kekayaan yang tidak ternilai harganya, pria dewasa dengan rupa rupawan ini seringkali di juluki "THE ONE AND ONLY" MAFIA. Siapa yang tidak tau akan kegagahan keturunan mafia dari keluarga Arlington? Mendengar nama Arvas Arlington saja sudah dapat membuat orang-orang bergidik ngeri.
"Kau tahu apa kesalahan mu?" Tanya Arvas pada pria separuh baya yang ada dihadapan nya.
Terdengar sebuah pertanyaan biasa namun sangat menusuk hati bagi yang mendengar nya, apa lagi setelah berani mengusik kedamaian seorang Arvas.
Ralat, Arvas tidak pernah hidup damai, apa itu damai? Sepanjang hidup nya, hingga kini usia nya menginjak 30 tahun, Arvas terus berburu nyawa manusia. Manusia yang dengan berani mengusik hidup nya, dan dengan berani bermain di area kepemilikannya.
"Ma...maafkan saya tuan, saya hanya diperintah" Jawab pria yang berdiri didepan Arvas dengan bibir keluh.Dahi nya terus mengeluarkan peluh sebesar biji jagung, hanya karena tatapan Arvas yang begitu mengintimidasi.
"Melakukan perintah mereka, dan melalaikan keamanan nyawa mu? Ck ck ck bodoh!" Ucap Arvas dengan menekan intonasi bicaranya.
"Me...mereka mengancam saya tuan. mereka mengatakan, akan membunuh keluarga saya" Jawab pria paruh baya yang terus menundukkan kepala nya dengan kaki yang sudah gemetar takut.
"Apa bedanya dengan ku? Aku bisa membunuh keluarga mu, setelah membunuh mu tentunya" Ucap Arvas.
"Ja....jangan tuan, saya mohon kasihanilah saya hiks" Pintanya.
Brukkkk
Pria separuh baya ititu berlutut didepan Arvas, karena kaki nya yang tidak mampu lagi menopang tubuh dan ketakutan yang ada dalam dirinya.
"Saya mohon, ampuni saya tuan" Mohon pria itu, berharap mendapatkan rasa iba dari seorang Arvas.
Arvas mengeluarkan Raging Bull 454 kesayangan nya, benda berbahaya yang sudah menghabiskan banyak nyawa.
Ceklekkk
Arvas mengarahkan Raging Bull nya tepat kedahi pria paruh baya yang wajah nya sudah sangat pucat,Tubuh pria itu semakin bergetar karena takut.
"Apa jadi nya jika Raging melubangi dahi mu? Dan apa jadi nya putri kesayangan mu digilir oleh pengawal ku?".
Seketika air mata pria paruh baya itu semakin deras, kesalahan nya begitu fatal hingga membuat keturunan Arlington murka, Siapa yang dapat menolong nasib malang pria ini sekarang? Bukankah mati lebih baik, dari pada harus menderita karena rasa takut?.
"Bu...bunuh saja saya tuan! Tapi saya mohon, jangan sentuh istri dan putri saya" Pinta nya.
Arvas tersenyum miring kepada pria itu, senyuman layaknya seorang iblis. "Bawa dia" Titah Arvas, pada pria bertubuh kekar yang sedari tadi berdiri dibelakang pria paruh baya.
Arvas berjalan keluar ruangan nya, dengan gaya angkuh dan tatapan mengintimidasi bagi siapa saja yang melihatnya.
Tidak jarang pula, para wanita terus berusaha mendekati nya. Walaupun Arvas sendiri sering acuh terhadap mereka.
"Tuan Arvas tampan sekali, lihat tubuh atletis nya"
"Ahhh rasanya aku ingin sekali menikmati malam bersamanya"
"Bagaimana rasanya menjadi wanita tuan Arvas ya? Bukankah wanita itu sangat beruntung, walaupun menjadi teman ranjang semalam".
Begitu banyak ocehan yang keluar dari mulut para wanita, tentu saja itu terlontar setelah mereka melihat rupa Arvas.
Arvas mengendarai mobil sport Trevita miliknya. kuda besi yang mengkilap dengan warna hitam mewah, membelah jalanan kota yang cukup padat.
Kuda besi mewah milik Arvas berhenti setelah melakukan perjalanan selama 1 jam lebih, Arvas turun dan langsung memasuki bangunan tua yang ada di depan nya.
Bangunan tua yang terletak sangat jauh dari pemukiman, bahkan hanya ada pepohonan yang rindang disekitarnya.
"Selamat datang tuan" Sapa seluruh bawahan Arvas yang ada disana.
Tap Tap Tap
Sepatu pantofelnya yang hitam mengkilap, mengketuk-ketuk lantai yang dingin, yg di mana terdapat dua orang wanita sedang duduk meringkuk di atasnya, Dengan keadaan yang begitu memprihatinkan, bahkan pakaian yang sudah compang camping tak berbentuk.
"Kalian boleh melakukan apapun pada ku, tapi ku mohon jangan sakiti keluarga ku" Pinta pria tua yang tadi bersama Arvas.
Sang pria paruh baya diseret masuk secara paksa ke dalam bangunan tua, saat tiba di dalam, di situ dia dapat melihat pemandangan yang begitu menyedihkan, begitu menyakitkan.
Pria angkuh dan berkuasa ini, tidak mengindahkan permohonan sang paruh baya.
"Kau sudah mengusikku, berarti kau sudah siap untuk mati. " Ucap nya dengan santai tapi sedikit di tekan
"Bagaimana?, Apa kalian semua sudah menikmati nya?" Tanya Arvas, pada anak buah nya yang berada disana.
"Belum tuan" Jawab salah satu dari mereka untuk mewakili.
"Pergi, nikmati hidangan yang ku siapkan, dan tahan tua Bangka ini, biar dia lihat hasil dari perbuatannya" Titah nya.
"Tidak! Jangan! Jangan tuan, saya mohon!" Racau sang pria paruh baya yang sudah berlinang air mata.
"Tidak! Jangan sentuh aku! Ayah tolong!" Lolong gadis malang yang tubuh nya mulai dihujam oleh bawahan Arvas.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Putriku!" Teriak sang istri dengan pilu.
Arvas menonton secara live, para bawahan nya menikmati tubuh kedua wanita berbeda generasi itu.
Tatapannya datar, tidak tersirat nafsu sedikitpun, tidak ada tatapan gairah saat tubuh molek sang gadis terlihat jelas di hadapan nya.
"Kau iblis Arvas! Tidak ada belas kasih di hatimu, kau pria paling biadab yang ada didunia! Kelak keturunan mu akan menuai atas apa yang telah kau perbuat sekarang ini! " Teriak pria paruh baya yang amat menyedihkan akan nasib keluarga nya.
Plakkkkkk!
Dengan keras Arvas menampar pipi pria itu, Arvas tertawa sadis setelah nya.
"HA!..HA!..HA!.." suara tawa yang nyaring menggema di seluruh bangunan tua, iblis di dalam tubuhnya mulai terbangun, uratnya yang menonjol semakin menonjol karena genggamannya yang kuat, matanya yang tajam seperti elang mulai memerah, seolah di dalam matanya terdapat kemarahan yang mendalam. Bahkan para bawahan dapat merasakan aura yang begitu kuat, terasa sesak dan panas.
"ini lah diriku, jadi jangan menguji monster di dalam diri ku." Ucap Arvas menarik kerah baju pria itu.
"Dan Jaga ucapan mu pria tua, jika suatu saat nanti aku memiliki seorang putri,maka akan ku pastikan hidupnya layak. Kau lihat sana, bukankah putrimu sangat menikmatinya?" Ucap Arvas, memaksa pria itu untuk menyaksikan putrinya dinodai dengan pria yang berbeda-beda.
Air mata terus luruh diwajah tua nya, hatinya begitu begitu amat sakit melihat istri dan putri nya diperlakukan seperti j@l@n9 yang kotor.
Setelah 2 jam lamanya menggilir 2 wanita berbeda generasi, akhirnya kedua nya pun terkulai lemas. Keadaan tubuh yang sudah tidak memakai sehelai benangpun, serta rambut acak-acakan, juga bermandikan cairan kotor dari berbagai macam pria.
Keduanya hanya bisa menangis, karena harga diri mereka jatuh di depan pria yang mereka sayangi.
Lagi - lagi Raging Bull 454 milik Arvas keluar, Arvas mengarahkan moncong senjata itu tepat dikepala wanita muda di hadapan nya.
"Jangan! Jangan bunuh putriku tuan, aku mohon!" Teriak pria paruh baya itu, yang masih dalam kungkungan pengawal Arvas.
Dorrrr!
"Upsss, tepat sasaran" ucap Arvas setelah melepaskan pelatuknya, dan tepat mengenai didahi istri pria itu.
"Tidak..! Ibu!." Teriak sang gadis.
"Tidak..!" Teriak sang pria saat menyaksikan kematian sang istri yang begitu mengenaskan.
Dorrrr!
"Tidak..! Putriku!" Teriak nya lagi, saat timah panas milik Arvas menembus dada sang putri tercinta.
"Kau bajingan Arvas! Kau iblis! Kau akan merasakan apa yang dirasakan setiap orang yang kau siksa!" Teriak nya.
"Dari awal kau sudah tahu konsekuensi nya dengan menyetujui mereka, mencuri data perusahaan ku dan membocorkan rahasia perusahaan ku. Bukankah nyawa mu yang menjadi taruhan nya?"
"Peduli atas nyawa, paling tidak kau hampir di ambang kehancuran" Ucap pria itu dengan seringai nya.
"Paling tidak sudah kuhancurkan lebih dulu" Ucap Arvas membuat senyum pria paruh baya hilangan seketika
"Tidak..! ini tidak mungkin!, seharusnya kau hancur dalam hitungan beberapa menit lagi, kau Pria bedeb..."
Dorrr!
"Terlalu berisik" Gerutu Arvas, setelah melepaskan timah panas nya diwajah pria itu.
Sudah tiga nyawa yang lenyap di tangan Arvas hari ini, tidak terhitung dengan sebelum-sebelumnya. Yang pria ini tahu, selagi ada yang mengusiknya maka balasannya sebuah nyawa.
Nyawa seakan sebuah mainan untuk seorang Arvas James Arlington, berani mengusik hidup nya sama saja seperti membangunkan singa yang sedang tertidur pulas di wilayah tempat dirinya berkuasa.