THE ARVAS

THE ARVAS
BAB.12 TERLUKA



Angin berhembus kencang di heliport pribadi milik Arvas, pria tampan dengan balutan jas hitam dan kaca mata yang bertengger diwajah tampannya membuat mata wanita siapa saja pasti tertuju padanya.


Burung besi yang sudah bersiap untuk mengantarkan sang tuan ketempat tujuan, untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang menantinya.


"Pembangunan Mall nya akan rampung dalam beberapa hari lagi tuan, pembukaan nya akan dilakukan setelah pernikahan anda, sehingga anda bisa menghadirinya bersama nona muda" Ucap Zack.


Arvas hanya mengangguk, Arvas tidak pernah mengalami kesulitan dalam melakukan pekerjaan nya karena Zack selalu bisa menjadi orang yang paling di andalkan dalam hal apa pun.


"Hanya ada satu masalah tuan" Ucap Mateow.


Arvas menghentikan langkah nya dan langsung memandang Mateow.


"Myota"


"Ada apa dengan nya?"


"Kita semua tahu tuan" Jawab Mateow.


Arvas melirik Zack sebagai kode agar pria ini mengambil tindakan.


"Saya sudah mengatur pertemuan dengan Myota, di Midnight Rodeo"


"Bagus, ayo kita berangkat" Ajak Arvas.


Arvas pun langsung menaiki pesawat pribadi nya, setelah pramugari memastikan semua aman barulah pilot lepas landas, Meksiko ke Filipina.



Pagi pagi sekali Vivian sudah berada dalam perjalanan menuju suatu tempat, dengan masih menggunakan piyama tidur nya serta rambut yang hanya di cepol seadanya. Mobil nya melaju kencang membelah jalanan yang cukup ramai di pagi hari ini. Tatapan yang tidak bisa diartikan dan tangan yang menggenggam kuat kemudi.


Cittttt


Mobil Vivian pun berhenti tepat dikediaman tuan besar Aldrich. Yap, Vivian memang kerumah kakek nya pagi ini, entah apa yang membuat gadis itu meninggalkan rumah sepagi ini bahkan masih dalam keadaan yang seperti ini.


"Kakek!" Panggil Vivian saat memasuki rumah mewah Victor.


"Kakek di mana kak?" Tanya Vivian pada salah satu pelayan rumah Victor.


"Tuan besar masih berada di kamar nya nona muda"


"Terimakasih" Ucap Vivian dan berlari menaiki anak tangga.


"Nona muda jangan berlari" Ucap pelayan itu memperingati tetapi tidak didengar oleh Vivian. Vivian berlari menaiki tangga menuju lantai 2 dimana kamar Victor berada.


Tok


Tok


Tok


"Kakek" Panggil Vivian sedikit lembut.


Ceklekkk


"Sayang?"


"Kakek....." Rengek Vivian dan langsung masuk kedalam pelukan Victor.


"Ada apa nak? Kenapa pagi pagi sudah kesini?" Tanya Victor dengan raut bingung. Victor lihat penampilan cucu nya dari atas sampai bawah dengan kening yang berkerut.


"Hiks hiks hiks"


Victor terkejut mendengar suara isakan Vivian, Vivian terbilang wanita yang sangat jarang menangis menurut Victor, jika wanita ini menangis pasti apa yang di rasakan nya begitu sakit.


"Ada apa nak? Siapa yang membuat mu men...." Ucapan Victor terhenti saat melihat celana bagian lutut Vivian yang robek dikedua sisi nya dan terdapat bercak merah disana.


"Kau terluka? Pelayan!" Teriak Victor.


"Iya tuan besar"


"Bawakan kotak obat kekamar saya"


"Baik tuan".


Victor pun membawa masuk Vivian kedalam kamar nya dan mendudukkan sang cucu di sofa yang berada di sudut ruang kamar nya.


"Ini tuan"


Victor menerima kotak obat yang diberikan pelayan nya dan langsung menggunting celana Vivian dari bagian lutut.


"Hiks hiks hiks" Masih terdengar isakan yang keluar dari mulut Vivian.


Rahang Victor mengeras saat melihat luka yang cukup serius di lutut cucu nya, bisa di pastikan wanita ini sudah menahan sakit sedari tadi.


"Sakit kakek hiks" Isak Vivian.


"Akan kakek bersihkan saja setelah ini kita kerumah sakit ya?" Tawar Victor dan Vivian pun mengangguk.


Dengan penuh kelembutan Victor mengusap luka Vivian dengan menggunakan kapas yang sudah di teteskan anestesi agar tidak terlalu perih.


"Awww hiks" Rintih Vivian.


Victor sangat tidak tega melihat cucu nya, Vivian menangis bukan hanya luka ini bisa jadi ada hal lain yang membuatnya begitu terluka, walaupun tinggal bersama Julio, Victor tahu betul akan cucu nya. Rumah itu bak neraka untuk Vivian.


Jika hanya karena luka Vivian tidak akan menangis sampai sesenggukan begini, pasti ada faktor lain yang membuatnya pergi dari rumah dalam keadaan seperti ini.


Victor mengambil ponselnya "siapkan mobil, kita kerumah sakit" Sambungan langsung terputus setelah Victor mengatakan perintah nya.


"Tunggu sebentar, kakek akan ganti baju setelah ini kita kerumah sakit oke" Dan Vivian pun mengangguk.


Victor berlalu ke walk in closet untuk mengganti piyama tidur nya menjadi kemeja berwarna biru yang dipadu dengan celana hitam.


Setelah selesai Victor pun menghampiri cucu nya yang masih menangis, jujur saja Victor sangat sakit melihat Vivian menangis seakan air mata itu begitu berharga untuk jatuh. Victor langsung mengangkat tubuh Vivian ala bridal style, umur nya memang tua tetapi tenaga pria tua ini tidak bisa diragukan terlebih keadaan genting seperti ini.


Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, kuda besi mewah milik Victor pun sampai didepan Galenia Hospitals, rumah sakit terbesar yang ada di Meksiko.


Beberapa perawat dan seorang dokter yang sudah diberi tahu bahwa cucu orang terkaya nomor 2 di Meksiko itu sedang terluka sudah bersiap didepan pintu, Vivian pun langsung di letakkan di atas brankar dan dibawa ke ruang rawat.


Victor merogoh saku nya dan mengeluarkan benda pipih, lalu menelpon seseorang dengan emosi yang memuncak.


"Kau apakan cucu ku Julio?" Tanya Victor dengan gigi yang bergemelatuk.


"Di...."


"Aku tidak ingin mendengar alasan mu dari telepon, datang ke rumah sakit atau akan ku penggal kepala mu"


Tutttt


Panggilan pun langsung terputus secara sepihak, kesensitifan pria tua ini terletak pada Vivian. Victor sangat sulit mengendalikan emosi nya ketika sang cucu yang menjadi korban seperti ini.



Di restauran Li Li Filipina.


Arvas melangkah masuk bersama Zack dan juga beberapa pria berbadan kekar yang mengikutinya dari belakang.


"Maligayang pagdating ginoo Arvas (selamat datang tuan arvas)" Ucap seorang pria dengan tubuh tambun dan berkulit sedikit coklat.


"Selamat po ginoo Manuel (Terimkasih tuan Manuel" Jawab Arvas menjabat tangan pria itu.


Manuel Villar, pengusaha terkaya di Filipina dan berusia 40 tahun. Tubuh nya pendek dan buncit tetapi suka bermain wanita walaupun sudah memiliki 3 istri dan 4 orang anak.


Manuel adalah salah satu rekan kerja Arvas, perusahaan Manuel hampir saja gulung tikar jika Arvas tidak menjadi investor di perusahaan nya. Arvas mengeluarkan dana sebesar USD 55,6 miliyar untuk perusahaan Manuel hingga akhirnya mampu berdiri hingga kini.


"Mangyaring umupo Arvas (silahkan duduk Arvas)"


"Terimakasih" Jawab Arvas dan mendudukkan dirinya dikursi yang ada di hadapan Manuel.


"Sudah 2 tahun sejak kau terakhir kali mengunjungi ku disini"


"Begitu banyak pekerjaan, aku hanya ingin memberikan tugas kepada mu" Ucap Arvas.


"Apa itu?"


Arvas memberi kode pada Zack, Zack pun mengangguk dan menyodorkan sebuah amplop tipis berwarna coklat kepada Manuel.


Manuel menerima nya dan langsung membuka amplop itu yang ternyata berisi sebuah poto punggung pria yang terukir tato naga disana.


"Apa dia mengganggu mu?" Tanya Manuel menutup kembali amplop itu dan memberikannya pada anak buah nya.


"Dia mengacaukan transaksi ku dengan rekan ku"


"Baiklah akan ku urus, ada lagi?"


"Hanya itu"


"Yang benar saja?"


"Jangan terlalu memandang rendah Manuel, klan itu cu....."


"Permisi tuan" Ucap Mateow yang tiba tiba datang.


"Ada apa?"


"Nona muda berada dirumah sakit"


Arvas langsung berdiri dan berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan wajah bingung yang ditunjukkan oleh Manuel. Manuel sendiri bingung pasalnya Arvas tidak mempunyai seorang adik, lalu siapa yang mereka panggil nona muda?


"Terimakasih atas waktunya tuan Manuel, kami permisi" Pamit Zack dan berlalu menyusul Arvas.


"Alihkan semua pertemuan, undang mereka datang ke Meksiko. Atur kepulangan kita sekarang juga Mateow"


"Baik tuan" Jawab Zack dan Mateow secara bersamaan.


Arvas langsung masuk kedalam mobil dan mobil pun melesat pergi menuju Helpeat tempat mereka melandas tadi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Arvas pada seseorang diseberang sana melalui sambungan telepon.


"Sepertinya ada pertengkaran dirumah nona muda, tuan"


"Lalu Vivian? Kenapa bisa berada dirumah sakit?"


"Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi didalam, nona muda langsung pergi kerumah tuan besar Victor. Lutut nona muda terluka dikedua sisi nya"


"Parah?"


"Lumayan tuan, sepertinya nona terjatuh"


"Cari tahu apa yang terjadi"


"Baik tuan"


Tuttt


Panggilan pun terputus, terlihat wajah Arvas memerah karena menahan amarah mendengar Vivian terluka. Kesensitifan Arvas sama dengan Victor yaitu Vivian.


Arvas tidak akan membiarkan siapa pun bisa menyakiti Vivian, sekalipun orang terdekat Arvas. Arvas akan tetap mengambil tindakan nya. Tidak perduli siapa pun orang nya, selagi Vivian yang menjadi bahan bulan-bulanan mereka maka Arvas lah yang akan bertindak.


💜


💜


💜


Udah yaw hari ini 3 bab aku post jangan lupa dukungannya aku maksa