
Didunia luar matahari telah sampai diatas kepala, fengying yang telah menghabiskan waktunya membaca atau lebih tepatnya menghafalkan isi buku di dalam pagoda, akhirnya memutuskan keluar ruangan. Dia keluar kamar dan bertemu xinglan.
"Nona, Bibi nuan memerintahkan budak untuk memanggil nona untuk makan, nona tidak ada makan dari pagi. Budak tidak berani masuk kedalam kamar nona karena nona sudah melarang budak masuk." xinglan pun canggung menghadapi nona mudanya sejak pulang dari hutan. Nonanya melakukan hal hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
"Baiklah, ayo kita ke ruang makan dan bertemu bibi nuan. Ada hal yang ingin aku bicarakan pada bibi." Xinglanpun mengikuti nonanya dari belakang, xinglan terpesona dengan pembawaan diri fengying, dari saat nonanya keluar kamar sampai saat nonanya melewatinya dan tercium aroma lembut yang cocok dengan nonanya. cara berjalan nonanya pun sangat anggun dan percaya diri.
Nonanya semakin cantik pikirnya. Jika xinglan memperhatikan fengying yang dulu menggunakan pakaian yang sama, tetapi dia tidak berfikir seperti ini. Keindahan dalam diri fengying yang barulah yang memancarkan pesonanya. Sepertinya dia harus menata rambut nonanya dengan indah agar kecantikan nona bertambah inisiatif xinglan. Memang fengying saat ini hanya menggerai rambutnya, sebenarnya dia ingin mengikatnya tetapi dia tidak menemukan ikat rambut dimeja rias yang dia temukan hanya tusuk konde. Fengying yang berasal dari dunia modern mana mengerti cara memakai tusuk konde. Akhirnya dia hanya menggerai rambutnya.
Bibi nuan telah menyiapkan makanan dimeja untuk fengying, fengying pun menikmati makanan tersebut dengan perlahan. Bibi nuan yang melayani fengying dari tadipun menyadari perubahan yang terjadi pada nonanya. Tetapi dia tidak memberi komentar apapun, hanya melayani fengying dengan baik.
"Bibi nuan, silahkan duduk disini. Fengying ingin menanyakan sesuatu." ucap fengying setelah menaruh sumpitnya dan mengelap mulutnya dengan anggun.
"Tapi hal itu tidak sopan nona. Silahkan bicara saja nona, budak akan berusaha mencoba melakukan yang terbaik untuk menjawabnya nona."
"Baiklah."fengying tidak terus memaksa karena dia menyadari zaman ini masih belum mengenal konsep kesetaraan. Mereka masih menjunjung tinggi nilai nilai kasta,pangkat,derajat. Pengecualian untuk orang bebas yang berkultivasi, orang yang kuat selalu dihormati. Bibi nuan adalah seorang kultivator, fengying tidak tau alasan mengapa bibi nuan mau tetap disampingnya dan menjadi seorang pelayan yang melayani orang yang tidak bisa berkultivasi.
Fengying akan mencari tahu nanti, apalagi kalau bukan karena bibi nuan bagaimana mungkin fengying itu masih bisa bertahan. ya walaupun dia meninggal pada akhirnya dan digantikan olehnya. Kesetiaan bibi nuan ini akan dihitung fengying didalam hati dan akan membalasnya demi fengying yang sudah meninggal.
"Saya telah menghilangkan racun didalam tubuh saya bi, saya ingin memulai kultivasi sehingga saya ingin bertanya kepada bibi karena saya tau bibi juga seorang kultivator." kata fengying langsung.
Bibi nuan yang telah mendengar hal tersebutpun terkejut tidak percaya dengan bom yang baru saja dijatuhkan oleh fengying tersebut. Tetapi bibi nuan segera menguasai dirinya.
"Benarkah nona? bagaimana itu mungkin terjadi? sudah 2 tahun lamanya tuan dan nyonya pergi untuk mencari obat untuk nona." Bibi nuan menjadi emosional.
Fengying telah mempersiapkan karangan cerita sebelum dia memutuskan untuk memberitahu bibi nuan, karena bagaimanapun akan sulit menyembunyikan hal tersebut kepada orang terdekatnya. Apalagi nantinya dia pasti membutuhkan bantuannya untuk menyembunyikan kekuatannya untuk sementara. Fengying telah mengambilkan keputusan untuk menyembunyikan perihal dia telah dapat berkultivasi karena ini akan membuat orang penasaran dan mencari tau tentangnya. Dia takut jika ada yang mengetahui bahwa dia memiliki artefak ilahi, itu akan mendatangkan bahaya padanya.
"Benar bi, bibi ingat saya kembali dalam keadaan kotor? Saya tidak membicarakannya karena saya juga masih belum percaya.
"Saya tidak memberitahu bibi karena saya takut bibi tidak akan mengijinkan saya menggunakan obat itu. Tadi saya mandi menggunakan obat itu makanya saya tidak mengijinkan xinglan masuk tanpa seijin saya." sempurna pikir fengying. Cerita yang dibuatnya sangat masuk akal.
"lalu dimana kakek itu sekarang? kita harus berterima kasih nona. walaupun nona telah menolongnya tetapi yang nona lakukan hanya mengambilkannya obat tetapi kakek itu memberikan obat yang berharga. sepertinya tidak sepadan nona.
"Saya juga telah memberitahukan hal itu kepada kakek itu tetapi kakek itu bilang menolong orang lain bukan dinilai dari banyaknya tenaga atau harta yang terbuang tetapi melainkan hasil akhirnya. Saya hanya mengambilkan kakek itu obat tetapi menyelamatkan hidupnya, dia memberikan obat itu akan menyelamatkan hidupku, jadi itu sepadan."
"lagipula kakek itu sepertinya bukan orang biasa, dia bisa melihat sekilas dan mengetahui saya diracun apalagi dia terluka parah keluar dari dalam hutan. Bukankah itu mencurigakan? lebih baik kita tidak mencari tau lebih dalam bi." saran fengying bijak.
"benar nona. Nona telah menjadi bijaksana, jika tuan dan nyonya ada disini sekarang pasti mereka sangat bangga. lalu apa yang budak bisa bantu untuk nona selanjutnya?"
"saya ingin mengetahui bagaimana saya bisa memulai kultivasi?" walaupun dia sudah mengetahuinya dari buku yang ada dipagoda, fengying tetap menanyakan kepada bibi nuan. Agar tidak ada kecurigaan dari mana fengying mengetahui tentang kultivasi padahal tidak ada siapapun yang mengajarinya.
"Pertama nona harus membagun fondasi, membentuk kekuatan fisik agar dapat menahan energi spiritual didalam tubuh. Jadi nona harus melakukan latihan fisik seperti berlari,mengangkat beban untuk meningkatkan kekuatan pernafasan. Bernafas sangat penting dalam kultivasi dan seni beladiri."
"Baiklah, besok pagi saya akan memulai pelatihan. saya ingin meminta xinglan untuk datang ke kamar saya setelah ini untuk menjahit beberapa hal yang saya butuhkan."
"Saya akan menemani nona besok." ujar bibi nuan
"Baiklah bi. Terima kasih bibi selama ini menemani fengying."
"ini sudah tugas budak nona.
Fengying pun berjalan menuju kamarnya dan menunggu xinglan datang agar fengying dapat memerintahkan fengying untuk membuat kantong khusus untuknya. Dia ingin membuat kantong yang bisa diisi pasir atau plat besi untuk diikatkan ke tubuhnya. Dia akan menggunakan beban itu saat berlari besok. Dia akan mulai dari hal ini terlebih dahulu, untuk meningkatkan kecepatannya. Wanita yang dari lahir sudah lebih lemah dalam hal kekuatan dari pria, kecepatan adalah solusi untuk mengimbanginya.