
Berikan aku seseorang yang dapat mengerti diriku. Seseorang yang takkan pernah mengeluh atas keadaanku. Jika aku bisa mendapatkannya, aku bersumpah takkan pernah mengecewakannya.
Itu lah anganku beberapa tahun yang lalu, namun kini aku tak mau berharap banyak. Mana ada seseorang yang betah berlama\-lama berada di sampingku, berpapasan saja mereka enggan. Aku cantik, aku kaya, aku ramah tapi saat mereka bertatapan denganku, mereka langsung mundur secara teratur. Memangnya salah menjadi diriku, bukan aku yang menginginkan keadaan seperti ini, aku pun tak pernah berharap mempunyai kelebihan ini, tapi aku bisa apa. Firsya Rahyana, aku seorang anak indigo, kelebihan ku bisa mendengar pikiran orang lain dan itu membuat orang\-orang tidak suka padaku. Bahkan orang tua ku pun seperti memasang tembok penghalang dengan diriku. Mereka bahkan sempat berpikir untuk menitipkan ku pada rumah nenekku di Bandung, tapi saat aku mengatakan aku tidak akan membuat kekacauan dengan memberitahukan kemampuanku ini, mereka setuju untuk membiarkanku tinggal bersama mereka di Jakarta. Awalnya semua orang menganggap aku ini monster, namun suatu hari tepatnya hari pertama aku menginjakkan kakiku di universitas, untuk pertama kalinya ada seseorang yang mengulurkan tangan padaku. Ia Mahesa Kusuma, seorang pemuda ramah yang mengajakku berteman saat yang lain duduk menjauh karena rumor tentangku yang entah bagaimana telah beredar ke seluruh kampus.
Anehnya, selama di perjalanan dia tak berbicara sama sekali seperti biasanya, padahal Mahesa termasuk orang yang cerewet. Hingga sampai di depan rumahku pun ia tak mengatakan apapun, aku memutuskan menunggu tanpa berniat beranjak masuk. Mungkin Mahesa mengerti maksudku, ia tersenyum sambil mengacak rambutku dan bertanya mengapa aku tidak langsung masuk ke dalam. Aku hanya memasang wajah datar sambil bertanya ada apa dengannya hari ini, ia terlihat murung sekali. Gerakan tangannya berhenti seketika saat aku bertanya seperti itu, ia menurunkan tangannya sambil menunduk, aku mendengarnya sedikit menggumamkan sesuatu lalu kembali menatapku sambil tersenyum. Senyuman yang dipaksakan, aku tau artinya, aku mendengar gumamannya tadi, walau aku tidak dapat mendengarkan isi pikirannya tapi aku masih dapat mendengar gumamannya. Aku hanya bisa tersenyum miris, lagi lagi karena kemampuanku ini aku harus rela ditinggalkan dan kehilangan seseorang yang berarti bagiku.
"Orang tuaku melarang ku menjalin hubungan denganmu dan menyuruhku untuk pindah kuliah ke Inggris, saat aku mengatakan pada mereka tentang kelebihanmu, Firsya." Sakit, sampai Mahesa pun direnggut dari sisiku, seseorang yang menerimaku apa adanya kini juga harus pergi karena orang terdekatnya tak mau ia berhubungan dengan monster sepertiku. Apakah aku semenakutkan itu? Seseorang, katakan padaku apa yang harus kulakukan.