STORIETTE

STORIETTE
HUJAN



Melahap sejuta kenangan


Menghanyutkan sisa harapan


Menghapus luka yang membekas


Menyapu bersih kenyataan


Hingga tak bersisa lagi untukku


Membuatku oleng terlahap api kehampaan


Di tengah derasnya hujan aku berdiri menantang air yang jatuh ke bumi, meratapi takdir memuakkan yang selalu aku alami. Apa ini sebuah kutukan atau anugerah, akupun tak tau. Apa sebegitu menyedihkannya diriku hingga tak pantas bahagia.


Pertanyaan demi pertanyaan melintas dalam otakku. Apa hanya aku saja manusia tak berhati tak berperasaan. Di saat semua orang bahagia aku hanya terdiam. Di saat orang-orang bersedih aku membisu. Di saat seseorang mengatakan 'aku menyukaimu' aku menatapnya datar.


Aku kembali menatap jalanan sepi di depanku, sudah malam. Sebaiknya aku pulang sebelum ibu memarahiku. Aku berjalan dengan langkah pelan, kembali larut dalam pikiranku. Di saat ayahku kecelakaan ibu dan adikku menangis histeris, memanggil-manggil ayahku yang tak kunjung sadarkan diri, semua orang berusaha menenangkan mereka, aku pun turut ditenangkan walau aku tak menangis sedikitpun. Aku hanya terdiam, tak berbicara satu katapun, hanya memandang ayah yang tak membuka matanya namun tetap meringis kesakitan saat di sentuh kedua kakinya. Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan, menangis kah, pergi kah, atau malah mendorong sang penabrak ayah yang berada di kasur belakangku saat itu. Aku hanya duduk merapat pada dinding di bawah dekat ranjang ayah terbaring, menelungkup kan kepala ku di lipatan lutut. Orang-orang bersimpati untuk menyuruhku pulang mengambil barang yang dibutuhkan ayah selama di rawat di rumah sakit. Aku bisa menyetir sendiri ke rumah, aku tidak apa-apa, tapi mereka tetap mengantarku tak membiarkanku pergi sendiri. Sungguh, aku tak merasakan apa-apa.


Di saat seseorang kehilangan anggota keluarga terdekatnya, mereka pasti bersedih, sangat. Saat aku kehilangan nenekku saat itu pun aku sedih, mungkin. Sedih itu bagaimana, apa menangis cukup. Jika ia berarti aku sudah bisa merasa bersedih, kan. Tapi kenapa aku tak merasakan apa-apa, kata orang jika bersedih hati akan merasa sakit, aku tidak merasakannya, tak ada apapun, biasa saja. Seburuk itukah aku.


Apakah aku tidak memiliki perasaan apapun?


Apa semua yang ku tunjukkan selama ini adalah palsu?


Aku pun tak tahu, jangan bertanya padaku.


Aku bahkan bingung akan perasaan ku sendiri.


Hei hati dimanakah dirimu? Dimana kau menyembunyikan sesuatu yang disebut perasaan itu?


Tak terasa aku sudah sampai di depan pintu rumahku, tubuhku basah kuyup, tapi aku tak menggigil sedikitpun. Aku membuka pintu sedikit pelan, menatap ibu yang sudah berkacak pinggang di depan sana, ah pasti aku kena omel lagi.