
Resta
Cuaca hari ini sungguh cerah, cocok sekali jika aku menceritakan sesuatu yang menarik yang terjadi padaku baru-baru ini. Sebelum itu, perkenalkan namaku Resta Nisa Farash, kalian bisa memanggilku Resta, Re, Nisa, apa saja dari namaku, asal jangan memanggilku sayang. Aku seorang mahasiswa baru jurusan Teknik Informatika di sebuah Akademi Komunitas Negeri Teknik dan Multimedia pertama di kotaku.
Jika kalian seangkatan denganku, kalian pasti tahu mengenaiku. Bahkan aku terkenal di kalangan anggota panitia penyelenggara ospek, iya ini aku Resta yang pingsan saat baru tiba di kampus setelah melaksanakan upacara kemerdekaan di Pemda. Konyol memang, tapi mau bagaimana lagi, semua itu tidak sesuai rencana. Padahal kukira semua akan baik-baik saja, karena sangat langka aku tidak pingsan saat mengikuti upacara yang dilaksanakan saat sang surya sedang semangat memancarkan sinarnya. Eh ternyata aku malah pingsan saat tiba di kampus, satu kata, memalukan. Seperti judul cerita ini, aku akan menceritakan kisahku dan kak Firza, kakak tingkatku sekaligus kakak PG a.k.a Pendamping Gugus yang saat ini berada di semester 3 jurusan Teknik Informatika.
Semua berawal saat aku pingsan hari itu, hari keduaku menjalani masa ospek, aku ingat betul bagaimana cara dia memegang tanganku yang ‘katanya’ dingin-walau menurutku tidak-dengan sangat lembut. Umumnya jika seseorang pingsan, entah tangan atau kakinya memang ada yang di tekan agar ia segera sadar, apalagi yang memiliki riwayat pernah kesurupan-kenapa jadi mistis-sepertiku. Tapi si kak Firza ini tidak menekan tanganku sama sekali, ia malah seperti mengelusnya agar hawa panas dari tangannya menular pada tanganku, walau entah mengapa hanya tangan kananku saja yang ia perlakukan seperti itu.
Tidak sampai disitu, kukira saat kegiatannya itu diinterupsi oleh kedatangan teman-teman satu gugusku yang ingin meminta tanda tangannya ia akan lupa dan berhenti ‘menghangatkan tanganku’, ternyata aku salah, ia kembali duduk di sampingku yang sedari aku sadar dalam mode ‘melamun tanpa sepatah kata pun’ dan kembali melakukan kegiatan ‘menghangatkan tanganku’ seperti sebelumnya. Aku hanya memperhatikan dan membiarkannya saja dalam keadaan berbaringku, sesekali melirik ke arah temannya kak Firza-yang juga diamanati untuk menjagaku-yang sibuk berselfie ria menggunakan handphone kak Firza. Berhubung badanku lumayan pegal karena dalam posisi berbaring terus, aku pun berusaha duduk yang ternyata menginterupsi kegiatan teman kak Firza, ia membantuku berhubung kami sama-sama perempuan. Kukira kak Firza hanya akan melihat dan menunggu, ternyata ia pun membantuku-membuatku tersentuh saja, yang untungnya tidak refleks kutendang karena ia mengangkat turun kakiku dengan posisi tangannya hampir menyentuh paha atasku.
Iya aku tahu dia bersikap baik, tapi tetap saja aku ini perempuan. Setelah merasa posisi dudukku terlihat nyaman, mereka kembali keaktivitas yang sebelumnya mereka lakukan, teman kak Firza sibuk berfoto, dan seperti yang kalian tahu kak Firza kembali sibuk dengan tanganku. Bahkan sesekali aku meliriknya yang tertunduk dan beberapa kali menguap sambil bergumam ‘aku sangat mengantuk’, tapi tetap tidak menghentikan kegiatannya dengan tanganku. Aku jadi merasa bersalah karena merepotkannya, tapi aku tidak mengatakan apapun, hanya kembali menatap lurus ke depan seolah-olah tak melihat dan mendengarnya padahal di dalam hati aku bergumam ‘maafkan aku kak sudah membuatmu kerepotan. Kalau mengantuk kakak tidur saja’, ya hanya di dalam hati.
Malamnya, aku yang tidak mengikuti kegiatan ospek sore tadi disibukkan dengan pembuatan peralatan ospek yang harus dibawa besok paginya. Yang merepotkan adalah informasi yang kuterima dari teman-temanku tidak ada yang beres, ini nih yang merugikan akibat insiden pingsan tadi, aku jadi tidak tahu apa apa saja yang diumumkan panitia saat apel sore. Aku yang masih sibuk memelototi peralatan yang berserakan di kamarku juga handphone yang menampilkan tampilan dari group chat whatsapp gugusku, tersentak tatkala melihat ada sebuah notifikasi dari sebuah kontak yang kuberi nama ‘Kak Firza.Bem’, kira-kira begini chat-anku dengannya.
Kak Firza.bem :
Gimana udah sehat dek?
Alhamdulillah, udah mendingan kak
Syukurlah, besok kamu bisa masuk?
InsyaAllah, aku usahain kak
Kalau gak kuat gak usah dipaksain dek
Ngak kak aku bisa kok masuk
Kalau begitu semangat ya
Yah kira\-kira begitulah penggalan isi chat\-ku dengannya, tidak bisa ku tuliskan semua karena bisa bisa menghabiskan berlembar\-lembar halaman. Intinya, malam itu aku di buat baper dan ke ge\-er\-an sendiri oleh kak Firza, sampai\-sampai aku lupa bahwa sebelumnya aku tidak tertarik padanya. Malah aku lebih tertarik pada teman kak Firza yang juga merupakan kakak PG ku yang memiliki senyuman yang manis dari hari pertama pra\-ospek, namanya kak Heru. Saat hari pertama pra\-ospek, dari pengamatanku, kukira kak Heru bukan seseorang yang pendiam karena ia lebih banyak bicara dari kak Firza, tapi saat aku menghubunginya lewat chat whatsapp cueknya na’udzubillah. Padahal aku gak nge\-chat yang bukan\-bukan loh, aku nge\-chat yang iya\-iya, maksudku isi chat\-ku seputar ospek dan barang bawaannya. Tapi responnya cuek syekale, berbeda dengan kak Firza yang responnya welcome saat aku bertanya padanya.
Aku bukan tipe orang yang suka nongol di group chat untuk menanyakan sesuatu apalagi membahas sesuatu yang unfaedah, terkecuali sedang dalam mood untuk menjahili seseorang. Maka dari itu, di saat group chat gugusku sedang rame-ramenya membahas peralatan ini itu, aku lebih memilih menanyakan secara pribadi ke kakak PG yang ternyata tidak berakhir baik karena aku lebih memilih bertanya pada kak Heru dibandingkan kak Firza. Hanya karena alasan aku lebih tertarik padanya.
Dan begitulah, akhir dari rasa ketertarikanku pada kak Heru, ya hanya sampai situ. Karena pada hari-hari selanjutnya, perhatianku teralihkan pada kak Firza. Saat di kampus ia memang lebih banyak diam, tapi saat berbicara dengannya setelah hari dimana aku pingsan waktu itu lewat chat whatsapp ternyata orangnya asik juga, humoris, selalu diselingi kata-kata yang bisa membuatku nyengir-nyengir gak jelas. Walau terkadang ada kalanya dia gak nyambung dengan topik yang kubicarakan.
Tapi namanya juga hidup, kadang di atas kadang di bawah, kadang senang dan sedetik kemudian sedih. Itu juga terjadi padaku, karena tidak lama setelah itu muncul rumor bahwa kak Firza dan kak Heru naksir teman satu gugusku, Cyndar namanya. Tahu tidak apa reaksiku, melotot dengan mulut mangap kayak kadal baru jatuh dari pohon sambil terus membaca tulisan yang terpampang di group chat whatsapp gugusku. Aku tahu ini lebay tapi siapa yang tidak patah hati saat tahu orang yang kamu taksir malah naksir orang lain, teman sendiri pula, dan bisa dibilang anak asuhnya kak Firza dan kak Heru. Hei yang benar saja, ini dua-duanya loh, secara bersamaan orang yang ku taksir malah naksir orang yang sama.
Tapi namanya juga rumor, bisa benar bisa tidak, dan kak Heru langsung menentang bahwa dia naksir Cyndar, klarifikasinya bukannya membuat hatiku tenang, malah membuatku komat kamit ngabsen penduduk kebun binatang. Kak Heru bilang ‘bukan aku yang naksir Cyndar, tapi kak Firza nya tuh’, dan di perkeruh dengan chat-chat dari teman-teman gugusku yang lain yang hobinya memang menjodoh-jodohkan orang. Padahal orang yang bersangkutan, kak Firza dan Cyndar, menentang keras rumor itu. Apalagi ada yang memang meragukannya, karena setahu temanku si Cyndar sudah mempunyai pacar. Tapi hei, sekarang kan banyak orang yang hubungannya berakhir karena merasa tertarik pada orang lain, jadi bisa saja si Cyndar lama kelamaan malah memilih kak Firza dibandingkan pacarnya. Apalagi teman-temanku sangat gencar mengolok-olokkan mereka untuk bersama, dan kak Firza juga akhirnya malah meladeni ocehan mereka dengan respon positif yang mereka harapkan. Aku sudah gatal ingin mengklarifikasi hubungan mereka benar atau tidak. Jadi kuputuskan untuk bertanya langsung kepada kak Firza, ia menjawab.
Kak Firza.bem :
Ngak dek, aku gak ada hubungan apa-apa kok sama Cyndar.
Itu anak-anak bercanda doang.
Beneran kak? Tapi kakak kok malah ngasih respon positif gitu?
Iya beneran, itu kakak cuma bercanda aja
Iya, gitu katanya, tentu saja aku gak percaya lah. Karena nyatanya dari yang kulihat emang seperti ada apa apanya. Pas itu kita lagi ngumpul di rumah teman sekaligus bendahara gugusku, Khaira, dalam rangka merayakan hari jadiannya dengan Alsya, teman gugusku juga. Rencananya kami mau pergi ke pantai, namun gagal karena nenek Khaira melarangnya. Sehingga kami berakhir terdampar di rumah kontrakan kak Firza. Dengan perjalanan yang tidak menyenangkan untukku, bagaimana tidak, selama perjalanan aku harus menerima kenyataan bahwa kak Firza membonceng Cyndar dan juga sesampainya di rumahnya, ia mengajak Cyndar membeli air, berdua, dengan dibonceng.
Sudah hari itu panasnya mau nyaingin panas kompor, malah di tambah adegan yang membuat darahku seperti sedang direbus. Sakitnya tuh di sini, di otak. Sungguh, saat itu aku sudah tidak bisa duduk diam, aku terus merengek pulang pada teman-temanku juga pada kak Heru, masa bodo aku baru sampai juga, yang aku inginkan hanya cepat-cepat pergi dari sana. Jika kalian bertanya bagaimana perasaanku saat ini pada kak Heru, aku akan menjawab, biasa saja, mungkin kalau hanya sebatas rasa kagum sih masih ada. Tapi jika kalian bertanya bagaimana perasaanku saat ini pada kak Firza, aku tidak bisa menjawab, aku kesal saat melihatnya berinteraksi dengan Cyndar, aku marah saat melihatnya merespon ocehan anak-anak gugus yang menjodohkannya dengan Cyndar. Tapi memangnya aku siapa? Aku bukan siapa-siapa, aku akui mungkin aku sedikit suka pada kak Firza. Sampai-sampai aku keseringan menanyakan hubungannya dengan Cyndar. Dan jawabannya tetap sama seperti saat pertama kali aku bertanya.
Kak Firza.bem :
Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Cyndar dek. Sungguh
Tapi kenapa kakak boncengan dengan Cyndar
pas mau ke rumah kakak dari rumah Khaira kemaren
Lalu kakak juga ngajak Cyndar beli air berdua
Itu kakak di dorong-dorong sama anak-anak
Kakak kan lama-lama gak enak, jadi kakak turuti saja ocehan mereka
Di dorong dari mananya coba?! Teriakku dalam hati. Alibinya bagus banget deh, bikin tambah gak percaya saja. Saat itu aku langsung menekankan, jangan lagi chat kak Firza duluan kecuali penting dan memang perlu banget, atau ka Firza duluan yang chat. Emang aku sudah berhasil melakukannya seharian penuh, ehh tapi ternyata benar-benar kak Firza duluan yang nge-chat aku, dia nge-comment story whatsappku yang gak mungkin aku abaikan dong, hehe. Aku sudah mengira bahwa ini gak mungkin berakhir dengan baik, dan ternyata benar. Aku yang gak bisa menahan rasa penasaran dan rasa cemburuku kembali menanyakan kebenaran hubungan antara kak Firza dan Cyndar. Dan tak di sangka-sangka aku malah beneran secara terang terang-terangngan mengatakan bahwa aku cemburu melihatnya dan Cyndar saat itu.
Kak Firza.bem :
Emang kenapa sih dek kamu nanya kayak gitu?
Kamu cemburu ya? Jujur aja sama kakak dek ahahha
Ahh ketahuan ya
Iya aku cemburu kak
Bener ternyata ya feeling kakak, kamu cemburu ahaha
Ngapain sih dek pakai cemburu cemburu segala?
Iya gak cemburu, ngapain juga
emang gak penting kan aku
Ehh bukan gitu maksud kakak dek
Yah, chat-an saat itu tidak berakhir hanya sampai situ. Tapi satu yang dapat kusimpulkan, aku di tolak secara tidak langsung. Lagi-lagi aku menekankan pada diriku sendiri, jangan pernah lagi chat kak Firza duluan kecuali penting dan memang sangat perlu, atau kak Firza duluan yang chat. Nah, semua yang kulakukan dan kualami akhir-akhir ini menjurus pada satu hal yang perlu aku garis bawahi, aku di tolak sebelum aku sempat bergerak, rasanya itu kayak, ada pahit-pahitnya gitu.
END
Jangan tanya kelanjutan hubunganku sekarang dengan kak Firza, intinya ancur kek telor peccah~hiss, aku Resta Nisa Farash, sekian and good bye