
Daisy
Namaku Daisy Meriya Prista seorang muslim yang memutuskan untuk merubah diriku kearah yang lebih baik lagi. Aku memutuskan untuk menggunakan cadar dan menutup secara rapat auratku beberapa bulan yang lalu. Setidaknya, walau aku tidak paham betul seluk beluk keagamaan, aku bisa memulainya dari hal yang lebih sederhana. Aku seseorang yang bisa di bilang cukup pemalu, walau pun saat ini aku berstatus sebagai mahasiswa baru di sebuah Akademi Komunitas Negeri Teknik dan Multimedia satu\-satunya di kotaku, aku masih sering menempel pada teman satu gugusku dan juga teman SMA\-ku, Resta namanya. Dulu saat SMA aku tidak terlalu akrab dengannya, tapi semenjak teman sekaligus sepupuku, Friska, mengajakku untuk mengambil SKL a.k.a Surat Keterangan Lulus miliknya, aku pun mulai dekat dengan Resta sedikit demi sedikit.
Sayang sekali aku tidak satu jurusan dengan Resta, dia mengambil jurusan Teknik Informatika, sedangkan aku Multimedia dan Broadcasting. Saat masa pra-ospek beberapa hari lalu aku dan Friska, yang juga satu jurusan denganku, selalu berdiri berdekatan dengan Resta, maklum kami sama-sama pemalu dan tidak ada orang lain yang kami kenal di gugus itu selain Resta. Kadang aku juga merasa tidak enak saat aku atau Friska menarik tangan Resta dengan arah yang berlawanan saat akan berkumpul dengan yang lain, maklum badan Resta lebih kecil dariku.
Saat hari pembukaan ospek pada acara pemberian materi setelah selesai shalat Dzuhur dan makan siang, aku mendapat tempat duduk di sebelah Resta, sebelumnya aku duduk di belakangnya. Kami banyak mengobrol dan malah tidak mendengarkan sebagian materi yang disampaikan. Resta bilang padaku bahwa iya suka pada kak Heru, kakak Pendamping gugus kami. Iya mengatakan bahwa senyum kak Heru itu manis dan wajahnya juga mirip dengan teman sekelasku, Damar, saat SMA. Kuakui apa yang ia katakan memang benar, tapi itu saja tidak cukup untuk membuatku ikut menyukai kak Heru. Dari pada kak Heru, aku lebih menyukai seorang kakak senior yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang kami lakukan dari hari pertama pra-ospek sampai besok, saat malam inagurasi sekaligus hari penutupan kegiatan ospek.
Kak Zaidan Abraham Permana namanya, kakak senior yang berhasil menarik perhatianku dengan tingkah konyol yang sering dia perlihatkan saat di hadapan maba a.k.a mahasiswa baru, maupun kepada teman-teman sesama anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sekaligus panitia penyelenggara ospek. Melihat tingkah dan senyuman khasnya ternyata juga mengingatkanku kepada teman sekelas Resta, si Roi, saat SMA, mereka memiliki tingkah laku yang sama. Tingkah konyol dengan dilengkapin cengiran khas yang memperlihatkan sederet gigi mereka seperti bocah umur 5 tahun. Karena kemiripan mereka dengan teman SMA kami, kami pun setuju untuk memanggil mereka dengan nama teman kami, kak Heru dengan nama samaran Damar, sedangkan kak Zaidan kusebut Roi. Selama proses penyampaian materi sampai pelaksaan games yang juga dilaksanakan di aula kala itu, fokusku hanya tertuju pada kak Zaidan. Saat aku tidak menemukannya dalam jarak pandangku, aku pasti bertanya pada Resta.
“Res, Roi mana kok tidak ada?”, tanyaku sambil menggoyangkan lengan bajunya saat itu.
“Itu, di sana. Kamu sudah menanyakan ini berkali-kali loh”, jawabnya sedikit kesal sambil menunjuk ke arah kak Zaidan berada.
Bicara soal kak Zaidan, aku jadi ingat saat aku dan Resta membicarakan tentang sesi berburu tanda tangan. Iya masa ospek sudah lewat beberapa hari yang lalu, tapi saat kemarin Resta menanyakan bagaimana kejadian waktu aku meminta tanda tangan kak Zaidan aku hanya bisa tersenyum miris. Kejadiannya gak ada menarik-menariknya sama sekali. Kalimat andalan yang menjadi ciri khas kak Zaidan, ‘iya, sayang’, setiap ada maba yang mengobrol dengannya tak terucap padaku saat itu. Tapi saat pada malam inagurasi, Resta yang belum memiliki satu pun tanda tangan para panitia ospek, meminta tanda tangannya waktu ia direpotkan dengan editing video kegiatan ospek, kak Zaidan masih sempat mengatakan ‘iya, sayang boleh, sini’ saat Resta bertanya.
Ah beruntung sekali dia, aku yang menyukai kak Zaidan saja belum pernah mendengar kak Zaidan mengatakan itu padaku. Yah wajar saja, karena pada saat sesi berburu tanda tangan, yang bertepatan setelah makan siang hari kedua ospek kak Zaidan menyuruh anggota gugusku untuk langsung mengumpulkan bukunya menjadi satu. Sehingga tidak ada kesempatan aku berbicara dengannya. Jika kalian bertanya mengapa Resta tidak ikut berburu tanda tangan denganku dan lainnya sehingga pada malam inagurasi bukunya masih bersih dari coretan bolpen, itu karena selama dua hari terakhir ospek kesehatannya memburuk, ia yang tidak tahan panas dan tidak bisa kelelahan harus rela berburu semua kakak panitia saat malam inagurasi untuk meminta tanda tangan mereka dari awal.
Ah ya, malam inagurasi, kukira akan jadi malam yang seru dan mengasikkan, nyatanya tidak sama sekali. Awalnya memang asik dan seru sih, disuguhkan bermacam\-macam penampilan dari berbagai gugus. Tapi saat sampai acara penukaran kado yang dilaksanakan oleh semua maba dan kakak panitia yang memang ingin mendapatkan kado juga, aku memiliki firasat yang tidak menyenangkan. Terbukti, saat acara itu selesai dan semua orang sudah mendapatkan kado masing\-masing, ketua panitia ospek memerintahkan siapapun yang mendapatkan surat di dalam kadonya harus membacakannya di depan panggung. Dan ternyata, kak Zaidan juga mendapatkan surat, dari Sella anak gugus sebelah, kuakui orangnya memang lumayan cantik, cocok dengan kak Zaidan.
Tapi, hatiku tetap tidak dapat menerimanya, seolah ada kran air yang mengalir deras memenuhi dadaku, sesak saat melihat mereka berdua tersenyum malu-malu dan berjalan pulang bersama setelah acara malam inagurasi itu selesai. Aku hanya bisa menatap nanar keduanya sambil meremas tangan Resta yang berdiri di sampingku menemaniku melihat itu semua saat kak Zaidan dan Sella lewat di depan kami. Pikiran ku kosong untuk sesaat, aku tidak menghiraukan perdebadatan Friska dengan teman laki-laki gugus kami yang ingin mengajaknya berfoto. Yang ada dalam pikiranku hanya satu, begini ya rasanya mengagumi sekaligus menyukai seseorang tanpa orang itu mengetahui, dan dengan seenaknya orang itu memamerkan kemesraannya bersama orang lain, di depanku pula. Sakit ya Tuhan.
END