STORIETTE

STORIETTE
Kembalikan Identitasku



"Sebenarnya kau itu mau apa sih, bro?", Tanya Kavin pada Setto yang kini sedang berkutat dengan berkas-berkas proposal di ruangan BEM.


"Apanya yang mau apa, Kav?", Jawab Setto pada temannya itu.


Mereka berdua tinggal satu rumah, dengan Setto yang menumpang di rumah Kavin.


Setto anak seorang yang tak mampu yang berasal dari desa kecil di pinggir kota, ia berkuliah di kota bermodal beasiswa.


Ia anak yang pintar dan rajin, tak ada hari tanpa kehadirannya di kelas.


Ia pun aktif berorganisasi, salah satunya yaitu BEM, dengan posisi Presiden BEM ia bersemangat menjalani hari-harinya di berbagai organisasi di kampusnya.


Hingga ia melupakan satu hal penting, ia sudah berada di semester akhir, dimana seharusnya yang ia pikirkan adalah cara agar lulus dengan nilai memuaskan, bukannya berkutat dengan berkas-berkas proposal berbagai organisasi yang menumpuk di mejanya.


"Kau ini lupa atau apa sih? Kita ini sudah mahasiswa tingkat akhir, kita seharusnya memikirkan bagaimana cara agar lulus dari kampus dan mendapat kerja yang tepat.


Tapi kau? Malah sibuk dengan kertas-kertas yang seharusnya kau serahkan kepada adik tingkat kita", oceh Kavin kesal dengan tingkah temannya yang satu itu.


"Aku tau Kav, aku tau. Kau tak perlu mengoceh seperti ibu-ibu kost nagih uang iuran", sergah Setto tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas proposal.


"Lantas, jika kau tau, kenapa kau malah nongkrong di sini dan bukannya di depan komputer dengan skripsimu.


Tugas akhir malah kau abaikan dan lebih memilih bermesraan dengan proposal kegiatan organisasi?", Tanya Kavin tak habis pikir.


"Bukan begitu, Kavin", jelas Setto sambil meletakkan proposal yang belum selesai ia cek.


"Saat ini aku sedang galau tau"


"Galau? Sejak kapan seorang Settonia Fardiyan, yang kerjanya hanya belajar dan memilih pacaran dengan organisasi-organisasi membosankan, bisa galau?", Ucap Kavin terkekeh.


"Sungguh, Kavin. Saat ini aku sedang galau, aku sedang kehilangan identitasku sebagai mahasiswa. Antara cepat-cepat lulus atau aku harus menunda kelulusanku untuk tetap memberdayakan organisasi, mana yang harus kupilih?


Kau tau sendiri, kalau aku mau, aku sudah bisa lulus tahun lalu. Tapi aku memutuskan untuk tetap mengambil sistem kuliah seperti yang lainnya. 4 tahun 8 semester.


Apa pemimpin selanjutnya cocok menggantikanku? Bagaimana kalau ia tak mampu? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang hilir mudik memenuhi otakku, Kav", jelas Setto menatap nanar Kavin yang tertegun mendengarnya.


Kavin mengerti, temannya ini sangat mencintai organisasi hingga ia tak rela meninggalkannya, tapi tetap saja itu tak baik untuk Setto.


Karena Kavin tau, jika Setto lebih memilih organisasi dari pada kelulusannya, Setto hanya akan mengecewakan orang tuanya di desa yang mengharapkan kesuksesan Setto walau ia berasal dari keluarga tak mampu.


"Bro, coba kau pikir lagi apa kata orang tuamu jika mereka tau bahwa kau tidak lulus tahun ini? Bukankah yang selama ini mereka ketahui kau itu anak yang pintar dan rajin, bahkan bisa mendapat beasiswa di kampus ternama di kota.


Apa kau mau mengecewakan mereka demi organisasi yang jelas-jelas bisa kau tinggalkan pada adik tingkatmu? Aku yakin mereka mampu meneruskan apa yang kau tinggalkan, jangan terlalu khawatir, Setto.


Percayalah pada mereka. Semua pemikiranmu tadi itu hanya karena kau belum sepenuhnya mempercayai para anggota organisasi yang baru", kata Kavin memberi pengertian pada Setto sambil menepuk pundaknya dan berlalu dari ruangan BEM.


Setelah Kavin tak terlihat, Setto termenung sendiri.


Ia mencoba mencerna perkataan Kavin tadi, Kavin memang benar.


Jika ia ragu-ragu seperti ini dan lebih memilih organisasi ketimbang lulus, ia pasti akan membuat ayah ibunya kecewa.


Sedangkan tujuannya pergi ke kota untuk kuliah adalah agar bisa membuat orang tuanya bangga dengan pencapaiannya.


Lalu, bagaimana dengan organisasi? Ia tak bisa meninggalkannya seperti itu kan?


Tanpa di komando, kata-kata Kavin beberapa menit lalu kembali terputar di memorinya.


Apakah mungkin seharusnya ia mencoba percaya pada adik tingkatnya? Mereka tidak akan menghancurkan organisasi kan?


Sungguh, ia masih khawatir akan hal itu, namun wajah orang tuanya yang menyambutnya pulang setelah sukses di kota terbayang di pikirannya.


Mungkin, memang sudah waktunya ia menyerahkan segala urusan organisasi pada generasi penerusnya, mempercayakan semua yang di tinggalkannya pada mereka.


Dan kembali pada kewajibannya sebagai mahasiswa, lalu lulus tepat waktu serta mendapatkan pekerjaan yang layak agar kedua orang tuanya bangga dan tak kecewa padanya.