STORIETTE

STORIETTE
Tak Sadar akan Tomat, Bakso pun Hilang



Sinar mentari membakar kulit putihnya yang bersih, menyinari wajahnya yang kini sumringah melihat sang kekasih berjalan ke arahnya.


Ia melambai dengan semangat, berlari-lari kecil menghampiri sang pujaan dengan tak sabar.


Mereka berbincang-bincang dengan canda tawa yang menghiasi wajah mereka, tak sadar ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan.


Pasangan kekasih itu pun berjalan mendekatinya, hanya sekedar lewat dengan diiringi senyum sapa untuknya.


Syeril namanya, memandang pasangan kekasih yang baru saja melewatinya.


Sang pria, Furqan, adalah sahabatnya dari kecil, ia dan Furqan telah berteman sejak masih kanak-kanak, benar apa kata pepatah 'tak kan ada persahabatan di antara pria dan wanita karena salah satunya pasti akan menyimpan sebuah rasa' dan itu terjadi pada Syeril, ia menyukai Furqan sebagai seorang pria, namun Furqan hanya menganggapnya sahabat, tak lebih.


Sedangkan sang wanita bernama Icha, sahabatnya sejak duduk di bangku SMA.


Ia tau sejak pertama kali berteman dengan Icha, sahabatnya itu menyukai Furqan, ia tak pernah mengatakan pada Icha bahwa ia pun merasakan hal serupa.


Saat Furqan bercerita padanya bahwa ia juga menyukai Icha, kalian tau apa yang dilakukan Syeril? Ia dengan semangatnya mendukung rencana Furqan tuk menyatakan perasaannya pada Icha, tentu saja semua itu pura-pura.


Syeril hanya tak mau jika Furqan sampai tau bahwa ia menyukainya, bisa-bisa Furqan menjauhinya dan ia tak mau itu terjadi.


Memang, saat itu ia belum tau benar bagaimana sifat Icha yang sebenernya, tapi kini saat ia melihat di depan sebuah toko buku, Icha dengan seorang pria bukan Furqan tentu saja, tengah bergandengan tangan, sejak saat itu ia pun memutuskan tuk tidak mempercayakan Furqan menjadi kekasih Icha.


Bukan tanpa sebab, namun ini sudah lebih dari tiga kali ia tak sengaja melihat Icha bersama seorang pria.


Awalnya saat ia melihat untuk pertama kalinya, ia menduga bahwa pria yang bersama dengan Icha adalah saudaranya, dan saat ia bertanya pada Icha perihal tersebut Icha pun mengatakan demikian.


Ia pun percaya saja, karena Syeril tak mau berburuk sangka pada Icha. Begitu pun dengan kali kedua ia melihat Icha bersama pria lain, saat ia bertanya kepada Icha, dia menjawab bahwa pria itu adalah temannya.


Syeril tetap mempercayainya, namun kali ini ia tersadar bahwa mungkin saja selama ini ia dibodohi oleh Icha, mana ada seorang teman yang saling balas mencium pipi temannya di depan umum dengan begitu mesra sambil tertawa bahagia.


Ya, pria yang kini dilihat Syeril tengah bersama Icha adalah pria yang sama saat kali kedua ia memergoki Icha. Syeril bergegas pergi dari sana, tak lagi memperdulikan interaksi keduanya.


Hanya satu yang kini ada dalam pikirannya, ia harus segera memberitahu Furqan bahwa Icha telah mengkhianatinya.


Syeril kira saat Furqan tau kelakuan Icha, ia akan marah dan memutuskan Icha lalu berterima kasih pada Syeril karena telah memberitahunya. Namun yang ia dapatkan malah bentakan kasar seorang Furqan, yang selama ini tak pernah meninggikan suaranya saat berbicara dengannya.


Furqan tak mempercayai perkataan Syeril, ia lebih memilih mempercayai Icha. Furqan memaklumi Icha jika ia bersama dengan temannya, ia bahkan mengatakan itu semua wajar karena mereka adalah teman.


Namun Syeril menggeleng dengan cepat membantah asumsi Furqan, memangnya Furqan lupa, sebelum ia dan Icha menjadi sepasang kekasih mereka berdua itu apa? Teman juga bukan? Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa Icha dan pria itu juga mengalami hal serupa.


Dan nyatanya Furqan tetap bersikukuh untuk tak mempercayai perkataan Syeril, ia bahkan dengan kasarnya mengusir Syeril dari rumahnya dengan diiringi bentakan kerasnya.


Ia bahkan lupa, bahwa teman masa kecilnya itu memiliki jantung yang lemah, Syeril tak bisa mendengar ada seseorang yang bicara keras kepadanya karena itu akan membuatnya terkejut dan membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat akibat syok.


Namun, karena cinta, Furqan malah melupakannya dan itu akan membuat nya menyesali apa yang telah ia lakukan saat itu.


Syeril pun pulang pasca diusir dari rumah Furqan, ia menangis keras sambil memegangi dadanya yang mulai sakit.


Ia berjalan tertatih berusaha meraih pintu rumahnya, pintu baru setengah terbuka saat tubuhnya tiba-tiba tersungkur ke lantai.


Saat itu Furqan pergi keluar untuk menjernihkan pikirannya, ia merasa bersalah pada Syeril karena telah membentaknya seperti tadi.


Ia hanya tidak ingin percaya pada ucapan Syeril tentang Icha, tadinya ia ingin menemui Icha untuk mengetahui kejelasan ucapan Syeril.


Tapi saat ia melewati taman, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya pada Syeril. Di depannya dengan di kelilingi banyak orang, ia melihat Icha tengah menangis haru di hadapan seorang pria yang Syeril lihat tadi.


Pria itu berlutut dan menyodorkan kotak yang berisi sebuah cincin pada Icha, tengah menunggu jawaban Icha yang diiringi sorakan untuk menerimanya dari orang-orang yang mengelilingi mereka, dan terlihat Icha yang mengangguk menerimanya.


Furqan tetap tak mau percaya walaupun kejadian itu telah terjadi di depan matanya sendiri, ia bergegas menghampiri Icha dengan diiringi tatapan heran orang-orang yang menonton.


Furqan bertanya apa maksud dari semua ini, dan Icha malah menjawab 'oh Furqan, baguslah kamu ada di sini jadi aku tak perlu susah-susah untuk menemuimu lagi. Kamu lihat kan aku baru saja di lamar oleh kekasihku, dan aku akan segera menikah jadi hubungan kita sampai di sini saja ya' dengan rasa tidak bersalahnya Icha mengatakan semua itu pada Furqan tanpa penjelasan lebih, Icha dan pria itu pergi dari taman disusul oleh orang-orang yang tadinya berkerumun dengan bisikan keheranan mereka.


Furqan menatap kepergian Icha dan calon suaminya dengan nanar, ia sungguh bodoh karena tidak mempercayai sahabatnya itu demi seseorang seperti Icha ia bahkan dengan tega membentak dan mengusirnya sampai melupakan fakta penting, Syeril memiliki jantung yang lemah.


Saat mengingat fakta itu, ia pun bergegas pergi dari taman itu untuk memastikan keadaan Syeril, namun baru beberapa langkah ia ambil handphone di saku celananya berbunyi, tertera nama ibu Syeril di sana dan ia pun mengangkatnya.


Ibu Syeril memintanya untuk segera datang ke rumah sakit, Syeril sedang membutuhkannya.


Tanpa ba-bi-bu lagi Furqan berlari menuju motornya dan mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata, dipikirannya tak henti-hentinya ia berdoa agar Syeril baik-baik saja.


Takdir tidak ada yang tau, akan seperti apa nasib kita nanti Tuhan lah yang mengaturnya.


Saat tiba di UGD Furqan ternyata terlambat, Syeril telah meninggalkannya dengan sepucuk surat yang diberikan sang ibu padanya, surat terakhir Syeril untuk Furqan yang berisi semua perasaan Syeril yang tak pernah tersampaikan pada Furqan.


Ia jatuh terduduk membacanya, mengapa ia bisa tidak sadar tentang perasaan sang sahabat untuknya selama ini.


Ia begitu bodoh sehingga menyakiti Syeril sebegitunya, yang mengakibatkan kondisi Syeril yang lemah menjadi tambah buruk.


Sampai akhirnya sentilan kecil akibat perkataan kerasnya pada Syeril tadi membuat sahabatnya itu di renggut dari sisinya untuk selamanya.


Ia telah kehilangan Icha, dan ia tak sadar akan perasaan Syeril yang tulus padanya, kini ia hanya bisa merutuki semua kebodohan yang telah dilakukannya tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan Syeril ke sisinya.


Hai Furqan,


Ah aku tau kamu pasti masih marah padaku. Maafkan aku ya, kita tetap sahabatkan. Hehe


Oh iya, aku tidak berbohong padamu, kecuali soal perasaanku, maaf karena tak pernah jujur soal perasaanku padamu.


Maaf juga karena aku tak bisa selamanya disisimu, menjadi sahabat selamanya seperti janji kita waktu kecil dulu.


Aku sudah ingkar janji ya, hehe, maaf ya.


Dan terima kasih kamu sudah mau menjadi sahabat terbaikku.


Kalau begitu selamat tinggal Furqan, semoga kamu bahagia atas pilihanmu ya, aku pergi.


Syeril, sahabatmu