
Halo, namaku Viola Cassandra, kalian bisa memanggilku Vio. Aku anak tunggal dari pasutri Prof. Dr. Abraham Nugraha dan Prof. Kristin Cassandra.
Mereka merupakan peneliti di LOF (Laboratory Of Future). Sebuah laboratorium yang menciptakan mesin-mesin canggih di zaman modern ini. Laboratorium itu telah banyak menciptakan mesin yang dapat membantu masyarakat di kotaku, Titanian.
Contohnya seperti Teleport Machine, Song-fueled Car, Machine Modifier Objects, dan Food-making Machine. Mesin-mesin itu banyak digandrungi masyarakat yang menginginkan sesuatu dengan instan, cepat, dan menghemat waktu. Apalagi bagi orang-orang yang sangat sibuk bekerja. Tahun ini, ayah dan ibuku sedang mengerjakan sebuah project yang akan membuat dunia gempar.
Mereka sedang mengembangkan sebuah mesin yang dapat mengirim seseorang menjelajah antara ruang dan waktu. Time Cruiser, sebuah mesin penjelajah yang sedang dikembangkan oleh orang tuaku. Sebuah mesin untuk mengirim seseorang ke masa lalu maupun masa depan, untuk melihat perbedaan dari ketiga masa—masa lalu, masa kini, dan masa depan—sebagai bentuk dari sebuah perkembangan zaman.
Pagi ini aku akan pergi ke LOF untuk membantu ayah dan ibu. Setiap hari sepulang sekolah biasanya aku memang selalu pergi ke sana. Entah itu memberikan saran untuk project mereka, membantu mendesain dan merangkai mesin, atau menjadi orang pertama yang mencoba mesin terbaru mereka—kelinci percobaan.
Aku suka berkunjung ke sana—walaupun sebagai kelinci percobaan—untuk melihat mereka bekerja, karena aku ingin menjadi seorang peneliti hebat seperti mereka saat lulus sekolah nanti. Sesampainya di sana, aku langsung pergi menuju ke ruangan mereka. Di dalam sudah ada ayah, ibu, dan rekan-rekan satu tim mereka yang sedang memeriksa sebuah mesin, Time Cruiser.
“Selamat siang ayah, ibu, semuanya!”, sapaku pada mereka.
“Selamat siang, nak!”, jawab orang tuaku.
“Selamat siang, Vio!”, balas yang lain.
“Baguslah kau sudah datang, Vio.”, ucap ibuku.
“Memangnya ada apa, bu? Oh, apa Time Cruisernya sudah selesai?”, tanyaku antusias.
“Iya, kami sudah menyelesaikannya. Sekarang tinggal mengujinya.”, jelas ayah.
“Kalau begitu ayo kita lakukan!”, seruku.
“Tunggu, Vio. Kau harus memakai ini.”, tahan paman Gilbert–teman satu tim orang tuaku–sambil menyerahkan sebuah gelang unik seperti jam tangan.
“Apa ini, paman?”, tanyaku sambil menerima gelang itu.
“Itu Time Bracelet. Benda itu akan membantumu menunjukkan sisa waktumu saat berada di masa yang sedang kau kunjungi. Dan juga bawa kamera pengintai ini untuk merekam suasana dan keadaan di sana.”, jelas paman Gilbert panjang lebar
“Baik, aku mengerti paman.”, ucapku sambil memasang gelang itu. “Tapi, apa kamera dan gelang ini tidak akan rusak saat perjalanan melompati waktu nanti?”, cemasku sambil memperhatikan kamera kecil di tanganku ini.
“Tidak akan. Kami mendesain khusus kedua alat itu untuk menjelajah ruang dan waktu. Jadi, kami bisa memantau keadaanmu dari sini. Kau tidak perlu khawatir, Vio.”, jelas ayah menenangkanku.
“Baiklah, ayah. Aku mengerti.”
“Kalau begitu sekarang kau berdiri di Time Cruiser, kami akan segera mengirimkanmu kembali ke masa lalu. Ke kota Titanian seratus tahun dari sekarang, karena sekarang tahun 2106, jadi kau akan pergi ke tahun 2006.”, terang ayah padaku.
Aku mengangguk mengerti dan langsung berjalan menuju Time Cruiser lalu berdiri di sana mengikuti instruksi dari ayah.
“Vio sayang, jika kau tidak kuat menahan reaksi saat pengiriman dilakukan, berteriaklah agar kami segera menghentikan prosesnya. Jangan menahannya bila kau tidak kuat, karena itu sangat menyakitkan, ibu tidak mau kau kenapa-kenapa, sayang.”, pinta ibu khawatir.
“Ibu tenang saja, aku pasti kuat. Ayo kita lakukan sekarang.”, ujarku pada mereka mantap.
“Baik, kita mulai. Hidupkan Time Cruiser. Nyalakan pengatur waktu. Tentukan tempat tujuan. Periksa kondisi mesin. Hubungkan Time Cruiser dengan Time Bracelet.”, perintah ayah pada para peneliti lain yang bertugas menjalankan Time Cruiser.
“Semua selesai, Prof. Kita tinggal mengirim Vio.”, lapor paman Gilbert.
“Nah, Vio. Sekarang waktunya kau berangkat, dan waktumu di sana hanya 24 jam. Tapi ingat, jika saat proses pengiriman nanti kau merasa kesakitan berteriaklah. Dan bila terjadi sesuatu yang aneh, segera tekan tombol merah di gelang itu.”, jelas ayah lagi.
“Baik, ayah. Aku mengerti.”
“Kristin, tekan tombol pengirimannya. Mulai proses pengiriman Vio ke Titanian tahun 2006.”, perintah ayah pada ibu.
Aku bisa melihat bahwa ibu mengetikkan sesuatu di komputer lalu menekan tombol biru besar di sampingnya, dan seketika terdengar bunyi bising disertai kilatan-kilatan cahaya berwarna putih.
Aku mengerang kesakitan, tak kusangka rasanya akan sesakit ini. Aku benar-benar menahan teriakanku agar tak keluar.
Penglihatanku perlahan-lahan menjadi samar, aku masih sempat melihat ibu yang memanggil-manggil ayah dengan panik–entah mengapa, ayah yang langsung melotot syok padaku, dan teman-teman ayah yang langsung bergerak cepat sama panik nya dengan orang tuaku.
Tapi, sebelum kesadaranku menghilang, aku masih bisa mendengar teriakan ayah dengan jelas.
“Bagaimana kau bisa salah mengirimnya ke tahun 2206, Kristin?!”, teriak ayah yang aku dengar sebelum semuanya menjadi gelap.
⏳⏳⏳
Ramai, sungguh berisik sekali. Panas, tapi udaranya sejuk. Aku terdiam menikmati sensasinya, sampai aku tersadar akan satu hal.
Kenapa aku tidak merasakan guncangan-guncangan seperti tadi?
Kenapa aku tidak merasa melayang lagi?
Tunggu, apa ini di bawah kakiku? Tanah?
Kubuka perlahan-lahan mataku yang sedari tadi kupejamkan.
Sampai aku melihat sesuatu yang menakjubkan. Aku langsung teringat satu kata dari sebuah novel yang pernah kubaca.
DASI? Dimana-Aku-Sekarang-Ini?
Sesuatu yang kulihat adalah jejeran gedung pencakar langit yang semuanya terbuat dari kaca—walaupun di masaku juga ada—tapi di masa ini semua bangunannya terbuat dari kaca tanpa terkecuali bahkan toilet sekalipun–aku bertanya-tanya, apa mereka tak malu?
Aku juga memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dengan mengenakan pakaian serba perak seperti beberapa bagian tubuh robot manusia buatan ayah yang tidak ditutupi kulit silikon di LOF, namanya Agi Sru.
Aku menunduk untuk melihat dataran yang ku pijak, ku kira tanah, saat kuketukkan sepatu yang kupakai terdengar bunyi seperti logam yang di pukul, ternyata ini beton yang menyerupai tanah.
Aku kembali mendongakkan kepalaku dan melihat ke sekitar, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang di jalanan di sampingku ini.
Hanya ada orang-orang yang memakai sepasang sepatu yang mirip sepatu roda tetapi melayang tanpa menyentuh aspal jalan lalu pergi secepat mobil.
Sekarang aku mengerti, di masa ini tidak ada kendaraan yang akan mencemari udara sekitar, mereka menggantinya dengan sepatu itu—aku tidak tahu sepatu apa itu. Pantas saja, walau cuacanya panas tapi udaranya sangat sejuk.
Oh, aku harus merekamnya. Kuarahkan kamera kecil di tanganku ke arah jalan dan mulai merekamnya sambil terus berjalan ke depan, tanpa memperhatikan jalan aku terus mengoceh dan berdecak kagum dengan apa yang kulihat.
Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menabrakku cukup keras dari arah samping kananku sampai membuatku jatuh ke tanah–beton–yang keras.
Orang itu juga jatuh, tapi sialnya ia jatuh menimpaku membuat rasa sakitku bertambah dua kali lipat akibat bobot tubuhnya yang berat dan besar ditumpukan padaku.
Aku membuka mataku yang sedari tadi ku tutup hanya untuk melihat seseorang berada di atasku. Ia terlihat melamun sambil melihatku yang meringis kesakitan tanpa ada niatan untuk menyingkir dari atas tubuhku. Kuakui dia memang cukup tampan, tapi tetap saja berat.
“Ehem.”, aku berpura-pura batuk agar dia sadar dan segera bangkit, karena sedari tadi kami menjadi tontonan banyak orang. Tapi kurasa itu belum cukup untuk menyadarkannya.
“Halo. Permisi. Ada orang di sana?”, tanyaku sambil melambai-lambaikan tanganku di depan wajahnya. Ternyata berhasil, ia tersadar dan langsung bangkit dari tubuhku sambil mengulurkan tangannya membantuku berdiri.
“Ah, sorry sorry. Aku tidak sengaja, apa kau baik-baik saja?”, tanyanya sesaat setelah aku berdiri.
“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”, balasku sambil membersihkan bajuku.
“Syukurlah kalau begitu.”, katanya lega sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Eh, aku harus cepat-cepat pergi. Sampai jumpa. Sekali lagi maafkan aku!”, lanjutnya terburu-buru sambil berteriak di akhir perkataannya.
Aku hanya tertegun melihat tingkahnya. Sungguh tidak sopan. Walaupun dia sudah meminta maaf dan membantuku berdiri, tetapi itu tetap tidak sopan karena langsung pergi begitu saja.
Dia tidak tau apa kalau pantatku sakit. Uhh.
Aku mengelus-elus pantatku yang terasa sedikit nyeri sambil meringis pelan.
Kemudian aku menatap ke sekelilingku, semua orang kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Aku kembali melangkahkan kakiku untuk berkeliling, hingga aku sadar akan satu hal.
Bukannya seharusnya aku berada di masa lalu? Kenapa sekarang aku ada di sini?
Kemudian aku teringat akan perkataan ayah sebelum kesadaranku menghilang, sepertinya terjadi kesalahan saat pengiriman. Ibu pasti salah mengetikkan tempat tujuannya.
Sehingga di sinilah aku sekarang, kusimpulkan saat ini aku berada di masa depan, seratus tahun ke depan dari masaku, Titanian tahun 2206.
⏳⏳⏳
Sementara itu di masa yang lain di waktu yang hampir bersamaan, para peneliti di LOF sedang panik karena salah mengirim Vio ke masa depan. Ini bermula karena Prof. Kristin, ibu Vio, salah mengetikkan tempat tujuannya.
“Bagaimana ini Abraham?”, tanyanya panik kepada Prof. Abraham, ayah Vio.
“Tenang Kristin, tenang. Vio pasti baik-baik saja. Aku yakin itu. Kita akan mencoba memulangkannya.”, ucap Prof. Abraham menenangkan istrinya yang menangis di sebelahnya.
“Gilbert, apakah proses pemulangan secara paksa dapat dilakukan?”
“Maaf, Prof. Kami sudah mencobanya, tapi tidak bisa. Kita tidak mendesain Time Cruiser untuk pemulangan secara paksa. Jadi, kita hanya bisa menunggu sampai batas waktu Vio di masa depan habis, baru bisa memulangkannya.”, jelas Gilbert menyesal.
“Abraham, sekarang apa yang harus kita lakukan?”, tanya Prof. Kristin mengguncang lengan suaminya.
“Kita tunggu saja. Aku yakin Vio bisa mengatasinya. Ini bukan kali pertamanya mencoba mesin ciptaan kita dan terjadi kesalahan.”, ujar Prof. Abraham tenang.
“Aku tahu. Tapi ini kali pertama Vio melompati waktu.”, sanggah Prof. Kristin.
“Kristin, kau tenang saja. Vio anak kita. Percaya padanya. Dia pasti bisa mengatasinya.”
⏳⏳⏳
Kakiku pegal karena dari tadi terus berjalan tak tentu arah. Aku bingung harus pergi kemana. Apalagi sedari tadi orang-orang memperhatikanku. Memangnya ada yang salah ya?
Aku terus berjalan dan berjalan sambil tetap mengarahkan kameraku ke sekitar. Sungguh, kota ini benar-benar sangat canggih.
Aku bertanya-tanya, kira-kira apa tanggapan ayah dan ibu jika melihat semua ini ya? Aku tidak mau menerka jawabannya. Pasti mereka akan mengoceh tentang ilmu fisika dan kawan-kawannya.
Tiba-tiba aku melihat di depanku sangat ramai, sekira 5 meter dari tempatku berdiri saat ini di sebuah tanah lapang layaknya lapangan sepak bola, banyak tenda-tenda yang berjejer rapi.
Aku segera berlari ke sana, ternyata aku datang ke masa ini di waktu yang tepat. Karena saat aku sampai di depan gerbang masuk lapangan itu di atasnya tertulis “FESTIVAL MUSIM PANAS TITANIAN”. Dengan begitu aku langsung bergegas masuk ke festival itu.
Saat aku berada di dalam, aku kembali berdecak kagum. Lagi-lagi yang kulihat di sini sangat berbeda dari masaku.
Semua barang yang ditawarkan di festival ini tidak ada yang pernah kulihat.
Semuanya sangat berbeda, dari makanannya, mainannya, aksesorisnya, pakaian-pakaiannya, sampai hiburannya pun berbeda.
Aku melihat-lihat tenda yang menjual baju, hanya melihat-lihat, hingga aku terpikat dengan sebuah dress mini sebatas lutut tanpa lengan berwarna perak—semua pakaiannya memang berwarna perak sih—dengan hiasan berlian warna merah darah di sekitar leher dan sebuah pita dengan warna senada di bagian pinggang.
Aku pun mengambilnya dan mencoba mencocokkannya pada tubuhku. Kurasa dress ini pas untukku.
“Pilihan yang bagus.”, ucap seseorang mengagetkanku dari samping.
“Kau?!”, tunjukku kaget padanya. Ya, laki-laki yang menabrakku tadi.
“Halo, kita bertemu lagi. Soal yang tadi aku sungguh minta maaf. Aku terburu-buru sehingga tidak melihatmu.”, sesalnya.
“Ya, tidak apa-apa. Lagipula itu juga salahku karena tidak melihat-lihat saat berjalan.”
“Terima kasih. Dress itu untukmu saja, sebagai ucapan maafku.”, tunjuknya pada dress yang kupegang.
“Eh? Memangnya boleh?”
“Hahaha. Tentu saja, tenda ini milik orang tuaku. Jadi kau tenang saja, mereka tidak akan marah kok.”, jelasnya karena melihat raut keraguan di wajahku.
“Baiklah kalau begitu.”
“Nah, kau bisa menggantinya di sana.”, tunjuknya pada sebuah ruangan yang kusimpulkan sebagai ruang ganti.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan berbalik meninggalkannya memasuki ruang ganti.
Tidak lama untukku mengganti bajuku, karena kini aku sudah berada di hadapannya yang hanya terdiam melihatku.
“Terima kasih untuk dressnya. Aku suka. Ngomong-ngomong, namaku Viola Cassandra.”, ucapku sambil tersenyum manis padanya.
“Namaku Arka Gibran, senang bertemu denganmu, Viola.”
“Kau bisa memanggilku Vio, Arka.”
Arka hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian mengajakku berkeliling festival.
Ia banyak bercerita padaku tentang ini dan itu padahal kami baru saling mengenal beberapa jam yang lalu.
Kurasa ia seseorang yang mudah akrab dengan orang lain.
Kami banyak mencoba permainan di sini, walau sebenarnya yang bermain hanya Arka saja, aku hanya menontonnya sambil memegang dua buah boneka hadiah dari permainan yang sebelumnya Arka menangkan.
Tetapi aku sangat menikmati waktuku di sini bersama Arka.
Aku juga lumayan banyak bertanya kepadanya mengenai Titanian, walau ia sempat terheran-heran mengapa aku bertanya mengenai tempat tinggal kami sendiri, ia tetap menjawabnya dan aku selalu merekamnya tanpa ia sadari.
Tentu saja aku tidak bilang padanya bahwa aku berasal dari masa lalu, aku tidak mau menebak apa yang akan terjadi jika aku memberitahukannya.
Hingga tak terasa waktu sudah memasuki tengah malam saat aku melihat jam tangan milik Arka.
Aku langsung teringat akan perkataan ayah, waktuku hanya 24 jam, dan saat aku melihat Time Bracelet ternyata waktuku hanya tinggal 30 menit lagi.
Oh My, mengapa aku bisa lupa mengecek sisa waktuku. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Saat itu juga aku langsung mendekati Arka dan mengatakan padanya bahwa aku harus pergi ke toilet.
Ia percaya saja saat aku menitipkan satu boneka yang kupegang padanya tanpa bertanya.
Dan setelah itu aku langsung pergi berlari meninggalkannya di festival itu, tidak seperti ucapanku pada Arka, aku tidak pergi ke toilet melainkan pergi keluar dari festival menuju tempat yang sepi di belakang tenda.
Maafkan aku Arka, aku tidak pamit dengan benar padamu, tapi aku akan selalu mengingatmu dan kuharap kau juga tidak melupakanku.
Aku sengaja membawa satu boneka dan memberikan yang satunya pada Arka sebagai kenang-kenangan.
Itulah yang kuingat sebelum cahaya putih menyilaukan menelanku sampai aku terbangun di kamarku sendiri.
Aku tidak ingat kapan aku kembali dan berbaring di kasur empukku ini.
Yang aku tahu saat aku tiba di LOF, aku langsung pingsan karena kelelahan sambil memeluk boneka rubah pemberian Arka yang sampai saat ini berada di kamarku.
Dress yang Arka berikan juga kusimpan rapi dalam lemariku. Sebagai bukti dan pengingat bahwa aku pernah pergi ke masa depan dan bertemu seseorang bernama Arka Gibran.
Seseorang yang pertama kali kutemui dengan cara menabrakku lalu kemudian menemaniku di sebuah festival di masa depan, ialah Arka Gibran.