STORIETTE

STORIETTE
Anugerah atau Kutukan



 


Suara desisan, goresan kuku pada dinding, tangisan pilu, teriakan yang memekakkan telinga maupun suara-suara serak yang terus menerus memanggilku membuatku tak bisa tidur dengan tenang setiap malam. Jendela telah kututupi dengan tirai, kaca kamar kuselimuti dengan kain, pintu lemari telah ku kunci rapat-rapat, bahkan aku pun merelakan tidur di kasur tanpa ranjang. Tidak ada tempat yang aman dimana pun, bahkan di kamar ku sendiri aku tak menemukannya. Yang kulakukan setiap malam hanya meringkuk di tengah-tengah kasur, tak berani tidur karena pasti ada sesuatu yang menarik kakiku. Aku harus tetap terjaga jika tak ingin berakhir di tempat lain seperti 5 tahun yang lalu. Tidak ada kesempatan dimana aku bisa tidur dengan tenang. Bahkan sering kali aku ketiduran di kelas saat pelajaran sedang berlangsung.


Kapan pagi kan datang, aku ingin cepat-cepat terbebas dari situasi ini walau hanya sementara. Yang paling merepotkan jika semua orang sedang tidak ada di rumah seperti sekarang, aku tidak bisa pergi ke kamar kakak maupun ibu dan ayahku. Mereka sedang pergi ke rumah kakek, bertanya mengapa banyak sekali arwah yang mengejarku. Namaku Shizuka Mirai, aku seorang gadis indigo, bahkan seluruh keluargaku—keluarga Shizuka, bisa melihat mereka, sebenarnya dulu ibu tidak bisa melihat mereka sama sekali, tapi semenjak kelahiranku ia pun memiliki kelebihan itu. Untungnya ibu tidak histeris saat pertama kali melihat mereka, karena ia sudah tahu kemampuan ayah dan kakak. Hiks, aku ingin mereka cepat-cepat kembali, mereka yang ada di luar semakin banyak saja—terdengar dari suara-suara yang semakin ribut di jendela. Bahkan yang memang berada di kamarku sendiri pun tak bisa tenang walau sebentar. Aku ingin tidur dengan kakak lagi saja, yang berada di kamarnya tidak seribut mereka, meski tetap mengincarku juga jika aku sedang sendiri setidaknya jika ada kakak ia akan sembunyi dengan tenang. Kalau di kamar ayah dan ibu, lebih berbahaya lagi aku dulu pernah di lempar keluar jendela kamarnya, ia tak ingin ada orang lain yang tinggal di kamar ayah ibu. Orang tuaku panik sekali waktu menemukanku di pagi harinya dengan tubuh lecet di semak-semak lantai bawah, kamar kami ada di lantai dua semua, untung saja aku tidak mati di tempat.


 


"Mirai.."


Uh oh, itu suara kakak di depan pintu kamar, apa dia sudah pulang? Tapi mengapa dia tak langsung masuk ke kamar seperti biasanya?


"Ka–", tunggu, ini jam berapa? Aku pun melirik jam dinding di atas pintu kamar, baru jam setengah 8. Tidak itu bukan kakak, mereka bilang akan tiba jam 8 malam di rumah, dan itu sudah mereka pastikan agar aku tidak tertipu oleh sesuatu yang mengincarku. Aku yang semula sangat senang kembali merinding ketakutan, kenapa itu bisa di dalam rumah tidak ada sesuatu yang bisa masuk tanpa ada yang mengijinkannya. Rumahku telah dipasangi pelindung oleh ayah sehingga yang ada di luar tidak bisa masuk tanpa penangkal, dan yang di dalam tidak bisa masuk lagi bila keluar, makanya mereka yang memang telah berada di dalam rumah tak ada yang berani keluar dari rumah ini untuk mengikutiku.


"Mirai.. buka kan pintu.. kakak ingin bicara.."


Suaranya terdengar lagi, bagaimana ini apa pelindung yang dipasang ayah bisa ditembusnya. Hening, tidak ada suara lagi yang memanggilku dari arah pintu, mungkin itu telah pergi, semoga.


Tidak, kini itu berada di jendela. Tuhan, semoga itu cepat pergi dari sini aku takut sekali. Memang seharusnya aku tetap memaksa untuk ikut ayah ibu saja tadi, uh aku tidak seberani itu untuk diam sendiri di rumah dengan makhluk itu walaupun wajah mereka menyeramkan tapi aku sudah terbiasa melihatnya, namun itu entah mengapa walau wajahnya tidak terlalu menyeramkan tapi aku sangat ketakutan saat merasakan kehadirannya.


Tinn tinn


Itu suara mobil ayah, mereka sudah sampai terbukti para arwah beberapa menit terdiam tanpa ada yang bersuara. Aku pun segera menyibak selimut yang membungkus tubuhku dan langsung lari menuju pintu depan tanpa menoleh kemana-mana. Untung saja aku sampai di depan pintu rumah bertepatan dengan kakak yang membuka pintu, aku pun langsung menubruk tubuhnya dan menangis keras, aku lega sekali.


"A–ada apa Mirai?!", tanya kakak cemas sambil mengusap-usap punggungku. Ayah dan ibu pun terheran-heran, mereka mendorong kami menjauhi pintu dan menutupnya, lalu mengisyaratkan kami untuk pergi ke ruang keluarga.


"I–itu tadi itu ada di depan pintu kamarku, ia memanggilku dengan suara kakak, ku–kukira kalian sudah pulang. Ta–tapi aku baru ingat kalian bilang akan tiba jam 8", terangku terbata-bata.


"Kamu membuka pintunya?", tanya ibu khawatir.


"Tidak"


"Syukurlah kalau begitu"