
Semilir angin menerbangkan anak-anak rambutku ke segala arah, membuatnya tambah berantakan. Dinginnya malam mencumbu setiap jenjang kulitku yang tak tertutupi baju seragam ku.
Ku berdiri memandangi jernihnya air di bawah kakiku, sesaat ku terdiam mengingat kembali serentetan kejadian yang menimpaku selama ini, keluargaku berantakan, aku dijauhi teman-teman sekolah dan tidak ada yang mau berteman dengan ku karena ayahku seorang narapidana.
Tadi pagi saja sebelum berangkat sekolah, untuk yang kesekian kalinya aku dipukuli oleh ibuku, yang terkena gangguan jiwa karena tak percaya dan marah kepada ayahku yang melakukan korupsi sehingga membuatnya mendekam di balik jeruji besi dengan meninggalkan segala utang yang menumpuk di sana sini.
Untuk melunasinya aku pun harus bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah sampai malam menjelang.
Dan selama di sekolah aku pun tak bisa tenang, karena setiap ku melangkah pasti diiringi oleh lirikan sinis dan hinaan dari siswa-siswa lain.
Mereka merasa aku ini menjijikkan, aku anak dari seorang napi, seorang yang telah melakukan korupsi. Aku ingin membantah mereka, aku ingin menyuarakan kegelisahan ku, mengapa jadi aku?
Yang korupsi itu ayahku, bukan aku dan juga bukan kemauanku, lantas mengapa aku yang kalian perlakukan seperti ini.
Dunia sungguh memperlakukanku tak adil, entah di rumah, di sekolah bahkan di tempat kerja ku pun tidak ada yang memperlakukanku selayaknya manusia.
Mereka semua menyalahkan ku atas perbuatan yang tak pernah kulakukan, aku tidak pernah mengharapkan hidup seperti ini, aku tidak kuat Tuhan.
Tidak ada yang peduli padaku, aku hanya tinggal seorang diri sekarang, tiada siapapun yang bisa kujadikan tempat tuk bersandar, lantas untuk apa lagi aku hidup di dunia yang kejam ini.
Terbersit pikiran 'bagaimana ya rasanya jatuh dari ketinggian 200m ke dalam air sungai yang dingin?' Ku ambil langkah pertama meninggalkan pijakanku saat ini.
Hanya tinggal selangkah lagi pertanyaanku kan terjawab, namun seseorang secara tiba-tiba menarikku turun dari pagar pembatas jembatan tempatku berdiri dengan keras, membuatku terjatuh di sampingnya yang ternyata ikut terjatuh juga.
Aku hanya bisa diam sambil menatap ke arahnya, ia menatapku horror sambil mengomel atas tindakanku tadi.
Padahal hanya tinggal sedikit lagi aku akan meninggalkan dunia yang kotor ini, namun ternyata gagal.
Aku tak menyalahkan orang yang kini berdiri berkacak pinggang di depanku, aku hanya menyesali mengapa harus dia yang memergokiku.
Dia adalah satu-satunya orang yang peduli padaku selama ini, di saat orang lain menjauhiku, dia malah datang mengulurkan tangan padaku yang menyedihkan ini.
Saking larutnya aku tenggelam dalam kesedihan yang terjadi di dalam hidupku, aku sampai lupa bahwa masih ada satu orang yang patut ku pertimbangkan perasaannya jika aku memutuskan meninggalkan nya di dunia ini.
Sambil terdiam membiarkannya mengoceh akan tindakan gilaku tadi, aku berdoa di dalam hati aku berharap setelah ini aku tidak akan menyesal karena telah mengurungkan niatku untuk pergi. Setidaknya aku ingin mencoba bertahan lebih lama lagi di dunia ini untuk dirinya. Untuk melihatnya bahagia, karena hanya dengan itu pun aku juga bisa merasakan kebahagiaan walau pun hanya sesaat saja. Tuhan jika kau membuat hidupku semenyedihkan ini, setidaknya jangan buat dirinya merasakan hal yang sama denganku. Buatlah hidupnya tetap bahagia karena hanya dengan itu aku bisa mengucapkan terima kasih karena telah menemaniku di saat orang lain enggan melihat diriku.