STOP PLEASE !

STOP PLEASE !
CHAPTER 8 " WASIAT JERRY RAIN ALDERO "



" Apa!" Gia yang terkejut membulatkan matanya, seketika mendengar penjelasan Andreas. ia pun bangkit dari duduknya, yang kemudian Gaston menahannya dengan sigap.


" Kau mau kemana?" kini wajah Gaston semakin menegang. Ia sangat hapal dengan karakter sang putra yang begitu keras.


" Pa, menurutmu apa lagi yang harus saya dengarkan disni? Kekonyolan apa lagi ini!" nada Gia yang semakin tinggi, membuat Andreas bergidik sedikit takut. Namun apa daya ini sudah tugasnya sebagai pengacara keluarga Aldero.


Surat wasiat dari Jerry cukup membuat emosinya meningkat 180 derajat.Ya, bagaimana tidak. untuk mewarisi seluruh aset perusahaan Aldero yang seabreg, ia harus menikahi seorang wanita setelah 40 hari kematian Jerry.


Dan seperti yang Gaston tau, sang putra sama sekali tidak sedang terlihat menjalin hubungan dengan wanita manapun dan dari kalangan apa pun. Tetapi wasiat Jerry menuntut Gia untuk segera memiliki teman hidup,hanya dalam hitungan nafas. Mau tidak mau, suka tidak suka Gia harus menjalankannya karena ia satu-satunya pewaris dari keluarga Aldero. Atau seluruh aset perusahaan GL'A Company akan sepenuhnya di bagikan pada yayasan yatim piatu, rumah sakit gratis dan panti jompo di seluruh brisbane, yang selama ini juga berada di bahwa naungan perusahaan Aldero.


Gia yang masih dengan emosinya kembali duduk dan mendengarkan setiap kalimat yang di keluarkan oleh Andreas. " Untuk putraku, Gaston Aldero. Saya tugaskan untuk terus memantau setiap perkembangan perusahaan yang akan di jalankan oleh Gia Aldero selaku pewaris satu-satunya keluarga Aldero. .....dst......" bacanya mengikuti tulisan tangan Jerry.


" Tertanda, Jerry Rain Aldero," lanjutnya mengakhiri isi surat wasiat.


Sembari memijat kepalanya yang mulai melembek, Gia bergantian memandang Gaston dan Andreas yang masih duduk kaku di hadapannya.


I thought by following your wish to leave my world. is enough to make you happy.


Batinnya mulai merutuki takdirnya. Ia yang selalu menjaga jarak dengan spacies yang bernama wanita, harus kembali berurusan dengan masalah itu. Pengalaman percintaan yang menyakitkan bersama Christy cukup menacap begitu dalam di alam bawah sadarnya.


" Saya tidak akan menikah dengan wanita mana pun," tegasnya sehingga membuat Gaston dan Andreas menajamkan pandangannya. Wajah Gia yang masih konsisten dengan emosinya membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin.


" Sir, saya mohon Anda pikirkan masalah ini matang-matang. Akan ada ratusan jiwa yang Anda terlantarkan kalau seluruh aset perusahaan ini di jual dan di berikan kepada yayasan. Sedangkan jika Anda mengikuti wasiat ini, Anda bisa menyelamatkan semuanya. Ratusan jiwa yang masih bergantung dengan perusahaan Anda dan juga yayasan yang terus berjalan seperti sebelumnya."


" Gi, Andreas benar. Kau pikirkan baik-baik. Jangan sampai kau mengecewakan banyak orang hanya karena keegoisanmu."


" Pa-."


" Gi, Please," potong Gaston.


" Apa kau tau kenapa kakekku memberikan persyaratan itu," tembak Gia yang lalu menatap tajam kearah Andreas.


Andreas yang menelan salivanya dalam-dalam kemudian menjelaskannya dengan perlahan. " Sir, Andalah satu-satunya generasi ketiga dari keluarga Aldero. Mengingat Ayah Anda putra satu-satunya dari mendiang kakek Anda, begitu pun Anda yang merupakan putra tunggal dari Mr. Gaston Aldero. Kalau Anda tidak memiliki keturunan, siapa yang akan mewarisinya setelah Anda? apa Anda membiarkan begitu saja perusahaan sebesar ini terbengkalai?" penjelasan Andreas yang cukup masuk akal membuat Gia kembali memikirkan wasiat itu


Gaston yang merasa lega mendengar penjelasan Andreas menarik nafasnya panjang. Dan berharap Gia mau mengakhiri pemikirannya yang selalu menganggap semua wanita di dunia ini hanya menyusahkan hidupnya saja.


Karena tanpa di sadari usia Gia yang sudah menginjak kepala tiga, sampai sekarang pun belum sama sekali ia terlihat mengandeng wanita setelah hubungannya dengan Christy berakhir tragis.


" Saya permisi," tanpa basa-basi Gia meninggalkan Andreas dan Gaston. Berjalan keluar restaurant menuju parking area .


Dalam perjalanan menuju Dock St ucapan Andreas terus terngiang-ngiang di kepalanya yang saat itu membuatnya kembali di liputi kekesalan. " AARRRGGGHHH...." sambil memukul kemudinya berkali-kali.


" Hallo, tunggu saya di ruangan," ucapnya sesaat setelah meraih ponsel di dasbor mobilnya. Dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


15 menit kemudian Gia sudah memarkirkan mobilnya di depan lobby dan berlari menuju lantai 20. Karyawan saat itu masih terlihat sepi, karena masih jam makan siang.


" Bri, gimana pengalaman beberapa hari gabung disini?" tanya Andrea sembari menyuapi sedikit demi sedikit sirloin steak yang ada di hadapannya.


Sabrina yang dengan lembut menatap wajahnya. " So far  so good," senyum yang tertarik lebar di sudut pipinya. " Andrea, bagaimana sih hubungan Mr. Daniel dan Mr. Gia itu?" tanyanya kembali.


Andrea yang menghentikan aktivitasnya sembari memikirkan sesuatu. " Setau aku sejauh ini mereka itu sahabat dari kecil, dan kebetulan keluarga mereka sama-sama pebisnis besar. bedanya bisnis keluarga Mr. Daniel ada di Amerika dan bergerak dalam bidang jaringan telekomunikasi," jelas Andrea.


" Tapi kenapa Mr. Daniel tidak menjalankan bisnis keluarganya saja. Sekarang dia malah jadi pembantunya bos kita."


" Aku sempat tanya maslah ini padanya. Dan ternyata Mr. Daniel itu memiliki satu orang adik yang memang terobsesi untuk menggantikan posisi ayahnya, jadi untuk menghindari perselisihan antara saudara Mr. Daniel


lebih memilih untuk mengabdi pada keluarga Aldero."


Sabrina yang hanya membulatkan mulutnya sembari menatap Andrea yang kembali memasukan suapan terakhirnya.


Mereka pun melanjutkan obrolannya sembari meninggalkan cafe, berjalan menyusuri toko demi toko. Karena letak cafe tidak begitu jauh dari kantor mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki, sembari menikmati hiruk pikuk pinggri kota yang begitu ramai.


Sesampainya di depan GL'A Tower mata Sabrina tertuju pada Bugatti LVN yang sudah terparkir di tempatnya. Matanya beralih melihat jam tangan di lengannya, masih menunjukan pukul 12.30 AEST.  Dengan santai Sabrina


menyusuri lobby tower menuju ruangan karyawan miliknya.


Tangannya yang lihai memberikan sentuhan make up di kulit wajahnya, rambut yang kembali ia tata menjadi rapi. Karena berjalan kaki cukup membuat rambutnya berantakan. Setelah selesai touch up ia pun kembali menaiki lift karyawan menuju lantai 20.


Terlihat karyawan yang lain sudah mulai menyibukan diri kembali. Baru beberapa menit Sabrina menaruh tubuhnya dengan tenang , telepon di sampingnya kembali berdering.


" Selamat siang, Sabrina Dwyne disini."


" Keruangan saya sekarang."


" Baik, Sir. " sahut Sabrina lembut sembari meletakan kembali gagang teleponnya. Sabrina yang membulatkan matanya terheran-heran.


Apa tadi aku sempat mengucapkan salam padanya? Apa moodnya sedang baik-baik saja saat ini.


Tanyanya dalam hati, sambil tertawa terkekeh. Tanpa mebuang-buang waktu segera ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Gia. Entah kenapa setiap ingin memasuki ruangan itu firasatnya selalu tidak enak.


" Masuk," sahut Gia seketika melihat Sabrina berdiri di ambang pintu.


Dalam ruangan itu Gia tidak terlihat sendiri, Daniel yang sedang duduk di hadapannya sibuk mengutak atik ponselnya. Wajah Gia yang begitu tegang membuat Sabrina bertanya-tanya, sembari berharap Gia hari ini


masih dalam kewarasan yang normal.


" Wanita seperti apa yang cocok untuk mu?" celetuknya, matanya yang masih fokus melihat foto-foto wanita yang ada di ponselnya.


Sabrina yang spontan menengok kearah Daniel yang berbicara sendiri, merasa terheran kemudian membulatkan matanya sempurna. Namun ia kembali memalingkan wajahnya dengan santai kearah Gia yang masih belum


memperhatikannya.


" Kau duduk disana," sembari mengarahkan bola matanya kearah sofa.


Sabrina yang masih bingung mencoba menuruti apa yang ia inginkan.


Sambil menghela nafas panjang Sabrina melangkahkan kakinya menuju sofa. Tanpa di sadari Gia memperhatikan langkahnya dari sudut mata, dan tersenyum tipis.


" Apa kau tertarik dengan ini?" sambil menunjukan foto di dalam ponselnya. Gia yang menghentikan aktivitasnya kembali mengarahkan pandangannya ke ponsel Daniel.


" Dia Kareen, temanku waktu di Queensland University. Anaknya baik, humoris, humbel dan yang paling penting dia juga wanita cerdas. Sekarang dia memiliki bisnis fashion di Singapore. Jika kau berminat aku akan


memperkenalkannya." lajutnya, melihat wajah Gia yang setengah malas membuat Daniel pun tidak yakin dengan wanita yang ia tawarkan.


Gia yang mulai bingung kembali memiji kepalanya. Terlihat ia begitu lelah membayangkan waktu singkat yang di berikan Jerry untuknya. Sabrina yang memperhatikan dari arah sofa masih di penuhi banyak pertanyaan di


otaknya.


Tidak biasanya mereke ada di ruangan ini untuk membicarakan seorang wanita. Apa Mr. Daniel sedang mencarikan jodoh untuknya.


Sabrina berusaha menebak-nebak apa yang terjadi di hadapannya. Terlihat Daniel yang memberkali-kali menunjukan foto dan menjelaskan setiap foto yang ia berikan.


Gia yang mulai tidak sabar meraih ponsel Daniel dengan kasar dan berjalan menghampiri Sabrina yang masih duduk dengan anggun di sofa kulit miliknya. Jantung Sabrina yang kembali berdegup kencang berkat


tatapan Gia yang begitu intens mengarah kepadanya.


" Pilihkan untukku," sambil melemparkan ponsel Daniel keatas meja. Daniel yang seketika membalikan badannya dengan sempurna ketika mendengar ponselnya berteriak ketika menyentuh permukaan meja.


" Astaga ponsel baruku," gerutunya pelan sambil menatap tak berdaya kearah Gia.


" A-apa, Sir ?" Sabrina yang tidak tau harus memilih apa, kembali mengalihkan pandangannya heran kearah Daniel. Daniel yang hanya menaikan pundaknya dengan kaku.


" Kau buka ponselnya."


Sabrina yang mendengar titah Gia meraih ponsel di hadapannya dan menekan tombol power. Foto wanita yang terpampang jelas di layar


ponselnya semakin membuat Sabrina kaku dan mati gaya.


" Di situ ada beberapa foto wanita. Dan salah satunya akan saya nikahi. Jadi, saya harap pilihanmu tidak menyesatkan."


" APA? NIKAH?" Sabrina yang seketika meninggikan suaranya membuat para pria itu terkejut. Merasa keterkejutannya mengundang respon yang berbeda, Sabrina kembali menarik nafasnya panjang dan meminta maaf.


Gia yang memicingkan matanya, kembali menatap begitu dalam kearah Sabrina yang saat itu juga menjadi salah tingkah.


Apa memilihkan jodoh untuknya termasuk dalam SOP ku? Apa mataku sudah mulai buta sehingga tidak membaca SOP nya dengan benar. arrrgh sial. Bagaimana jika aku salah memilihkan istri untuknya? bisa jadi aku akan


di tembak mati diatas gedung ini.


Sabrina merutuki nasibnya dalam hati. Sembari menggeser layar ponsel dengan perlahan. " Sir, apa Anda tidak bisa memilihnya sendiri?" celetukan yang seketika lolos daribibirnya yang tipis. Sabrina yang hanya menelan salivanya dalam-dalam saat ucapannya tidak mendapatkan respon.


Gia yang masih memperhatikan Sabrina dengan seksama, melihatnya mengeser layar begitu perlahan. Senyum yang seketika ia sembunyikan ketika melihat wajah wanita malang itu kembali memucat.


Pekerjaan macam apa ini Sabrinaaaa....


Emosi yang hanya bisa ia luapkan dalam hati, sesekali menyeka butiran keringat yang mulai mengalir membasahi pipinya. Padhal ruangan itu begitu dingin, namun keringatnya tidak mengering.


30 menit menghabiskan waktu memandang satu persatu wajah wanita itu dengan kekonyolan, akhirnya Sabrina meletakan ponselnya dengan satu wajah wanita yang memenuhi layar. Gia yang meraih ponsel itu, memperhatikan wajahnya dengan mata yang di sipitkan.


" Kalau tidak tertarik, maafkan saya, Sir.  Karena universitas saya tidak mengajarkan bagaimana cara memilihkan jodoh untuk orang lain," gerutunya yang seketika membuat Daniel tersedak hingga tertawa


terbahak-bahak.


" Kau tidak salah Sabrina. Takdir pria itu saja yang salah," sindirnya sembari melenggangkan bola matanya kearah Gia. Sabrina yang tadinya menatap kearah Gia kembali membuang pandangannya saat Gia membalas dengan tatapan elang kearahnya.


" Kau hubungi dia." sembari melempar ponselnya kearah Daniel, yang langsung di tangkapnya dengan cepat.


Matanya kembali melihat layar ponselnya. " Kareen, bagus juga seleramu nona," ucapnya perlahan. Sabrina yang kembali menatap malas kearah Daniel yang memutar tubuh membelakanginya.


" Sir, kalau sudah tidak ada yang di perlukan lagi apa saya boleh keluar?" tanyanya dengan nada pasrah. Gia yang hanya mengibaskan tangannya memerintahkan Sabrina untuk meninggalkan ruangan.


Dengan lega Sabrina bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan Gia, namun ia masih memikirkan maksud dari Gia menyuruhnya memilih salah satuwanita itu. Apa yang ada di kepala Gia memang tidak bisa di prediksi


siapa pun.


Dering ponsel, seketika membuyarkan lamunan Sabrina. Senyum itu seketika melebar ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya.


" Hallo," sapanya.


" Apa kau sibuk ?" tanya seseorang di seberang sana


" Tidak terlalu, ada apa?"


" Apa aku boleh mengajakmu dinner?"


" Sure. "


" Ok, aku jemput di apartmentmu jam delapan."


" Ok." jawabnya mengakhiri pembicaraan.


Sabrina pun meraih coklat yang ada di dalam tasnya, sembari berharap coklat itu bisa memulihakan kewarasannya yang sudah di renggut oleh Gia Aldero.