STOP PLEASE !

STOP PLEASE !
CHAPTER 4 " PERTEMUAN KE 3 "



Gia berjalan gontai mendekati ranjang. Matanya terpaku pada tubuh tua yang terbaring di atasnya dengan balutan selimut berwarna silver yang masih melekat di tubuhnya.  Air matanya yang mulai terkuras ketika di tatapnya wajah


Laki-laki tua yang sudah terlihat pucat dan kaku.


Sambil berjalan mendekatkan tubuhnya ke sudut ranjang, tatapan yang semakin intens memperhatikan setiap inchi tubuh pria itu . Begitu banyak kenangan yang tersimpan dalam memori Gia tentang Jerry Rain Aldero, sang Kakek yang selalu menemani masa-masa kecilnya hingga ia beranjak besar dan tumbuh menjadi pria hebat.


Sang kakek yang selalu ada di setiap langkah kecilnya dalam memulai menapaki kehidupan, sampai langkah besarnya saat ia harus menggantikan posisi sang kakek dan ayahnya sebagai penerus GL'A Company.


Suara tangis yang menggema di dalam ruangan itu semakin mebuat suasana duka terasa begitu kental. Gia yang masih berdiri di sudut ranjang sembari menangis dan memeluk jasad sang kakek, hatinya yang semakin terpukul karena yang pergi meninggalkannya adalah orang yang sangat berharga dalam perjalanan panjang hidupnya.


Ingatannya kembali akan masa-masa kecilnya, yang dimana selalu ada Jerry yang menemaninya dari mulai ia membuka mata dan menutup matanya kembali. Di saat kedua orang tuanya sibuk dengan urusan perusahaan, sang kakeklah yang menjadi pengganti background orang tua dalam kehidupan Gia.


Jerry yang sudah lama di tinggal sang istri lebih dulu, saat melahirkan putra tunggalnya Gaston Aldero. Kemudian ia lebih memilih untuk menghabiskan masa sendirinya dengan merawat sang anak, hingga sang anak menikah dan memiliki seorang putra tampan yang di beri nama Gia Aldero.


Kini pengusaha real estet terbesar di Brisbane yang memulai karirnya hanya menjadi seorang arsitek di perusahaan swasta menutup mata untuk selamanya.


Gia yang tidak mampu menahan kesedihannya yang begitu dalam hanya mengexpresikan dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.


Kakek


Lirih batinnya saat 2 orang perawat mendorong ranjangnya keluar dari ruang VVIP 2 menuju kamar duka. Gia yang ikut keluar dari ruangan itu bersama kedua orang tuanya dan beberapa krabat dari keluarga Gaston dan Eva, berjalan mendampingi Jerry untuk terakhir kalinya.


Satu jam kemudian kepengurusan rumah sakit sudah selesai, tubuh Jerry juga sudah berada di dalam ambulance. Gia yang kemudian melangkah melewati lobby terkejut  Wartawan sudah bergerumun untuk meliput kematian dari pengusaha besar di Brisbane itu.


Dengan wajah yang masih penuh duka, Gia melewati kerumunan wartawan yang terus menrus menanyakan kebenaran kematian Jerry, ' Sir, apa benar Mr. Jerry sudah lama mengidap kanker?' , ' Sir, bagaimana keadaan keluarga menghadapi kabar duka?' dan masih banyak lagi pertanyaan yang seketika membuatnya muak.


"Sir, " terdengar suara seseorang memanggilnya dari arah kerumunan, lalu terlihat dari kejauhan Daniel yang berjalan menembus deretan wartawan yang menggerombolan mentupi dirinya.


Akhirnya


Sambil menatap lega melihat Daniel yang seketika menarik tangannya dan membawanya keluar dari lobby rumah sakit. Daniel yang dengan sigap langsung melajukan kendaraannya, mengikuti iring-iringan ambulance yang di kawal beberapa mobil polisi.


Terlihat juga wajah duka yang terpancar dari wajah Daniel. Jerry yang di kenalnya sebagai sosok kakek yang baik hati dan penyayang, ia tidak pernah membedakan manusia menurut kastanya membuat Jerry begitu sangat istimewa dalam memori Daniel.


"Kenapa kau tadi tidak memberitahuku,"lirihnya. "Andai saja aku tidak menonton berita saat itu, aku akan baru mengetahuinya esok pagi,"gerutunya sedikit kesal.


Gia yang hanya melirik tanpa merespon apa pun, hanya mendengar protes Daniel bertubi-tubi. Suara serine ambulance dan mobil polisi memekakan telinga. Membuat hati Gia semakin hancur.


Kek, aku tidak menyangka kau pergi secepat ini. Resort rancangan kakek belum Gia selesaikan, tapi kau sudah meninggalkanku.


Sambil sesekali menyeka air matanya dan berpaling menatap kearah luar jendela, memperhatikan setiap videotron memberitakan kematian kakeknya.


Dari Boundary St, terlihat Shean yang sedang berada di living room seorang diri sambil menguatik atik channel televisi. Seketika sorot matanya tersita pada tayangan News Update malam itu.


Pembawa berita


Mantan President Director GL'A Company menutup matanya di usia 86 tahun. Dan kini jasad pengusaha besar itu sedang menuju kediaman keluarga besar Aldero.


"BRINAAAA......."teriak Shean yang seketika membuat Sabrina melompat dari atas ranjang dan berlari menghampiri Shean dengan keadaan yang seadanya.


"Ada apa?"wajahnya yang seketika menjadi panik. Ia khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu. "Kau kenapa?"tanyanya sekali lagi, saat melihat wajah Shean yang seketika berubah menjadi panik.


"I-itu, kau lihat,"sambil terus meninggikan volume televisinya. Sabrina yang akhirnya melihat berita itu kembali membulatkan mulut dan matanya ketika melihat gambar 2 orang yang baru saja turun dari dalam mobil.


"I-itu kan? laki-laki yang bertemuku di lobby,"wajahnya yang seketika terlihat bingung. "Kok dia ada di sana?"sambil terus menatap layar televisinya.


"Mantan petinggi GL'A Company, meninggal,"jelas shean sambil berpaling memandang wajah sahabatnya. Sabrina yang mengerenyitkan kening mulai berfikir keras apa hubungan 2 pria itu dengan petinggi GL'A Company.


Dari arah rekaman televisi terlihat Gia yang membungkukan tubuhnya sambil mengusap tangan pria itu. "Laki-laki itu,"seketika sean menunjuk kearah gambar Gia, yang seketika di ikuti oleh mata Sabrina.


"Dia yang menolongmu, brina,"terang Shean. Cukup membuat Sabrina terperanjat kaget, dan membulatkan matanya menatap Shean.


"Kau yakin? Kau tidak salah liat?"


"Kau pikir mataku serabun apa, sampai kau meragukanku? Ha!"matanya yang kini menatap tajam kearah Sabrina seolah tidak terima dengan tuduhan itu. Sabrina yang hanya terkekeh menatap sahabtanya.


"Hallo Sweety."


"Hallo, Pa. Ada apa?"


"Sweety kau sudah dengar berita malam ini?"


"Sudah, Pa. Ada apa?"


"Papa ingin mengajakmu kediaman Aldero untuk memberikan penghormatan terakhir. Bagiamana pun Papa dan keluarga Aldero sudah cukup lama menjalin bisnis bersama."


"T-tapi, Pa."


"No excuse, Sweety Please."


"Baiklah."Sabrina mengakhiri pembicaraannya.


Sabrina yang langsung bergegas memasuki walk in closet  meraih  satu setel turtleneck hitam beserta celana Palazzo berwarna senada, dengan lapisan trench coat berwarna coklat.


45 menit kemudian ponselnya berdering. Dengan segera Sabrina berlari meninggalkan apartment menuju parkiran lobby. Dari kejauhan terlihat Joelian dan Anne yang sudah menunggunya dari dalam mobil.


"Maaf, pa sudah menunggu."


"It's ok Sweety,"ujar Joelian dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


Segera mobilnya melaju menyusuri jalanan di kota Brisbane yang malam itu begitu dingin. videotron yang yang berderet sepanjang jalan hampir semua menampilkan berita yang sama, membuat Sabrina yang melihatnya terheran. Di tambah foto pria yang menolongnya itu terlihat begitu jelas di sana.


Pria itu lagi?


Sambil menatap cuek. "Pa, pria itu siapa?"tanyanya polos.


Joelian yang seketika meliriknya dari spion belakang. "kau tidak tau?"ucapnya sambil mengerenyitkan kening. Sabrina yang hanya menggelengkan kepalanya. "Dia CEO perusahaan yang kau lamar."Sabrina yang seketika membulatkan matanya.


"O-oh, ya,"sahutnya pasrah.


Apa aku yang bodoh tidak mengenalinya? hanya karena dia selalu menggunakan kacamata hitam.


Sambil memukul-mukul lembut keningnya. Joelian yang memperhatikannya dari kaca spion terheran melihat tingkah laku anaknya. "Kau kenapa?"tanya Joelian yang penasaran.


"A-ah. T-tidak apa-apa, Pa."suaranya yang sektika menjadi gugup, membuatnya salah tingkah.


Sesampainya di area kediaman Aldero. terlihat dari kejauhan begitu banyak wartawan dan beberapa rakyat brisbane yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk pengusaha besar itu. di luar gerbang kediaman Aldero juga terlihat beberapa polisi yang sedang mengamankan area sekitar.


Saat berada di depan gerbang security membukakan pintu untuk keluarga Dwyn. Joelian, Anne dan Sabrina berjalan menyusuri halaman yang begitu luas, di kelilingi begitu banyak taman. Mereka terpaksa memarkirkan mobilnya di luar karena akses menuju kediaman Aldero di tutup.


Saat memasuki istana yang begitu besar terlihat kerumunan petinggi-petinggi perusahaan besar berkumpul mengelilingi area ballroom baik di luar maupun di dalam. Sabrina yang hanya mengikuti langkah Joelian dan Anne dari belakang saat akan mendekat kearah peti Jerry.


"Saya turut berduka cita, Sir."ucap Joelian pada Gaston sembari menjabat tanganya dan memeluk tubuh pria


itu. Anne yang juga ikut menjabat tangan Eva dan bergantian menuju Gaston. Sabrina yang hanya bisa membungkukan badannya memberikan hormat.


Seketika matanya tersita pada pria yang berdiri sejajar dengan peti. Seketika kembali membuat jantungnya berdegup begitu cepat, tangannya yang mulai kaku mencoba menutupi nervesnya.


"Pa, Sabrina kesana dulu ya,"ucapnya sambil menunjuk kearah sudut ballroom yang terlihat cukup sepi. Joelian yang hanya mengangguk mengiyakan membuat langkah Sabrina meninggalkannya.


Gia yang sepintas melihat sesorang mencoba mengedarkan pandangannya, namun tidak di temukan apa pun.


Aduh, kenapa harus kesini sih.


batinnya sambil memijat lembut keningnya. Pandangannya kembali mengedar kesetiap sudut kediaman Aldero yang begitu luas. Tatapan takjub mulai menghiasi wajah cantiknya. "seluas ini baru ballroomnya saja, bagaimana rumahnya?"gerutunya pelan. Namun sayangnya ucapannya terdengar oleh seseorang.


"Kau suka rumah model ini?"celetuknya. Seketika membuat Sabrina terperanjat kaget. Dengan segera dia membalikan tubuhnya dan melihat seseorang di belakangnya. Mata yang membulat dan mulut yang sedikit terbuka, ketika melihat pria itu lagi ada di hadapanya.