STOP PLEASE !

STOP PLEASE !
CHAPTER 12 " KEESOKAN HARINYA DI VVIP 2 "



Gia terbangun dari tidur Lelapnya di pukul enam pagi. Saat ia membuka mata, terlihat Sabrina yang masih terlelap di alam tidurnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya yang jenjang mendekati ranjangnya.


Senyum tersimpul di sudut bibirnya ketika melihat wajah polos wanita itu. Jemarinya yang kokoh mulai membelai rambutnya dengan lembut. Sembari berharap sentuhannnya tidak mengganggu mimpi wanita itu.


Di angkat sedikit lengan kemejanya, berharap pagi ini restaurant di lobby rumah sakit sudah buka. Gia bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, lalu pergi mempersiapkan breakfast buat Sabrina.


Gia pun membuka handel pintunya perlahan, dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang masih terlihat sepi pengunjung.


" Morning, Sir," sapa pelayan yang baru saja selesai membereskan etalase.


" Coffe Latte 1, Fresh Milk 1, dan siapkan 4 croiffle. Semuanya take away.


" Baik, Sir."


Sambil menunggu pesannnya tersedia, Gia memeriksa beberapa notif yang dari semalam belum sempat ia respon.


Mata Gia yang membulat sempurna, ketika melihat puluhan pesan dan missed call dari beberpa rekan dan orang tuanya.


Segera ia mendial no telepon orang tuanya terlebih dulu. Menunggu beberapa saat sampai akhirnya terdengar suara laki-laki paruh baya menyapanya.


" Ada apa menghubungiku semalam?" sifat Gia yang tidak terlalu suka basa basi, membuat semua orang harus


mempersiapkan mental terlebih dulu sebelum memulai berbicara dengannya.


" Gi, apa kamu sudah menemukan calon pendampingmu?" tembak Gaston.


Gia menghela nafas panjang. " Tidak, semudah itu," keningnya yang mulai mengkerut dan jemari yang menggaruk sudut matanya. Terlihat sekali bahwa ia sedang tidak tertarik dengan arah pembicaraan itu.


Dari sudut etalase terlihat seorang pelayan sedang berjalan menghampirinya sembari membawakan pesanannya. Saat itu juga kesempatan untuk Gia mengakhiri pembicaraan yang membuatnya sedikit muak.


" Ini billnya, Sir,"


" Ini." ia menyerahkan debit card dari dalam dompetnya.


Masalah perusahaan belum kelar sekarang aku harus mengurusi masalah wasiat. OH, GOD lama-lama umurku lebih pendek dari yang ku harapkan.


Batinnya mengumpat untuk kesialan yang datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Langkah kakinya mengarah kembali menyusuri koridor ruang rawat vvip.


Dari ambang pintu nampak Sabrina yang sudah bangun dari tidurnya. Gia berjalan menghampirinya dengan pandangan yang sedikit dingin. Entah kenapa saat bertemu dengan wanita itu moodnya selalu berubah-ubah.


" Sir, Selamat pagi." suara lembut Sabrina seketika menembus kuping Gia yang spontan membuatnya menyunggingkan senyum sedikit masam di sudut bibir.


" Minumlah." Gia mengeluarkan fresh milk hangat yang ia pesan.


" Terimakasih."


Sabrina yang meneguk sedikit demi sedikit, di temani Gia yang juga menikmati lattenya di sisi ranjang. Keheningan mulai tercipta di ruangan itu. Sabrina yang sesekali memperhatikan Gia yang hanya melemparkan pandangannya kearah lain.


Kau begitu baik, aku merasakan itu beberapa jam belakangan ini. Terimakasih, Sir.


Batin Sabrina yang berusaha menyembunyikan senyumnya dari balik gelas yang ia pegang.


Sesaat kemudian terdengar suara ponsel Gia berdering. Terlihat nama Daniel di layar ponselnya.


" Hemm..."


" Gi, saya on the way ke rumah sakit."


" Ok."


Saat Gia mengakhiri pembicaraannya dengan Daniel terdengar lagi suara dering ponsel, dan kali ini bukan berasal dari ponselnya, melainkan Sabrina.


" Dimana ponselku?" tanya Sabrina sedikit berbisik. Padahal di kamar itu hanya ada mereka berdua.


Gia yang langsung membuka laci nakes di sampingnya, meraih ponsel Sabrina. Tanpa sengaja pandangan Gia tertuju pada layar ponselnya yang bertuliskan " KHEIL".


Dengan sedikit melempar ia memberikan ponsel itu pada Sabrina. " Issh..." sungut Sabrina. Ia pun beranjak menjauh dari ranjang. Bermaksud agar wanita itu lebih leluasa untuk berbicara.


" Darl, aku semalam mampir ke apartmentmu dan Sean memberitahukan kau di rawat di greenlops, benarkah?" tanya Kheil dengan nada yang cukup khawatir.


" Ya, semalam aku pingsan saat akan pulang ke apartment."


" Bagaimana keadaanmu sekarang?"


" Sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."


" Ok, sebelum ke kantor pagi ini, aku akan menjengukmu."


" Baiklah, take care."


Sabrina yang kemudian berusaha meletakan kembali ponselnya di atas nakes, butuh perjuangan karena posisi meja nakes yang cukup berjarak membuatnya sedikit kesusahan.


Mata Gia yang saat itu melihatnya, spontan berdiri dan menghampirinya. Ia langsung membantu Sabrina meletakan ponselnya dalam laci nakes.


" cuma ada 2 kemungkinan hp ini yang jatuh atau kau yang akan menggantikan nasibku semalam." celetuknya dingin.


Sabrina yang merasa tersindir, memanyunkan bibirnya. " Kenapa Anda masih membahasnya? Bukankah saya sudah berkali-kali meminta maaf." celotehnya dengan nada yang sedikit pelan. Gia yang hanya menggelengkan kepala tanpa mengubris protesnya.


Tak lama kemudian, Lagi-lagi Sabrina bertingkah aneh, yang membuat Gia sedikit mengacak rambutnya dengan kesal." Kenapa lagi?" matanya yg kini menatap tajam kearahnya. Seketika membuat Sabrina menciut.


" Apa saya boleh membersihkan diri?" pintanya dengan nada polos, diiringi tangannya yang mulai bergeriliya menggaruk sekujur tubuh.


" Saya akan panggilkan perawat untuk membantumu." ujar Gia masih dengan nada datar.


Gia pun berjalan meninggalkan ruangan vvip 2 mencari perawat yang bisa membantu Sabrina membersihkan diri.


Tidak butuh waktu lama, Gia sudah membawa perawat kedalam ruang rawat wanita itu. Gia yang enggan ikut masuk, memilih untuk menunggunya di depan kamar.


15 menit kemudian dari koridor kamar vvip terlihat seseorang yang berjalan seperti mengarah kepadanya, dengan membawa buket bunga di tangannya beserta keranjang buah.


" Sir, Kebetulan sekali kita bertemu disini," Kheil yang berusaha menyapanya. Namun Gia hanya membalasnya dengan senyum sinis di sudut bibirnya.


" Apa Sabrina ada di dalam?" tanyanya lagi.


" Ya, sedang membersihkan diri." jawabnya datar tanpa menengok kearah lawan bicaranya.


" Oh, ok saya akan menunggu di sini," Kheil sosok pria yang boros dengan senyuman. Tidak heran banyak kaum hawa mengaguminya.


Namun ketampanan Gia dan sikap dinginnya itu masih tidak bisa di kalahkan oleh siapa pun, karena begitu banyak wanita yang semakin penasaran dengan sosok konglomerat satu ini.


Mereka yang saling berdiri berjauhan, seketika mendekat pada 1 ruangan yang sama saat seorang perawat meninggalkan ruangan itu.


Semakin baik pria itu memperlakukan Sabrina, semakin muak Gia melihatnya. Namun ia tetap harus


menampakan wibawanya di depan dua orang itu.


Tak beberapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Terlihat kepala Daniel melongos di bibir pintu. Gia yang melihat itu menyuruhnya masuk.


Akhirnya kau datang juga


Batin Gia lega, ternyata ia sedang tidak baik-baik saja berada di dalam sana.


Daniel yang mengeluarkan beberapa dokumen hasil meeting kemarin dan hasil penyidikan yang ia lakukan beberapa hari ini bersama Sabrina.


Gia membaca dengan seksama laporan keuangan yang asli dan laporan yang sudah di manipulasi. Bola mata Gia yang membulat sempurna ketika melihat kerugian yang tidak sedikit.


" BAJINGAN, BERANINYA DIA..." emosinya yang sudah di ubun-ubun sedari tadi akhirnya mencuat lepas. Dokumen yang ada di tangannya terhempas keras diatas meja. Sehingga membuat 3 manusia disana terpenjarat.


Kheil yang merasa bingung dan sebenarnya tidak ingin mau tau akhirnya membuka suara.


" Are you ok?" tanyanya sedikit heran.


Gia yang masih di liputi dengan emosinya tidak menjawab apa pun.


" It's ok, Sir," Daniel berusaha merespon seadanya.


Wajah Gia yang memerah seakan ingin memangsa seseorang, membuat Sabrina yang kembali takut oleh


sikapnya. Padahal ia sudah sering melihat kemarahan Gia, entah kali ini ia benar-benar tidak berani bersuara.


Daniel yang berusaha menenangkan Gia, memintanya untuk membahas persoalan ini di tempat lain.


Gia yang mengikuti saran Daniel, beranjak keluar tanpa menoleh sedikit pun kearah Sabrina dan Kheil.


Dalam perjalanan meninggalkan rumah sakit, tidak lupa Gia menemui salah satu perawat jaga, untuk menitipkan Sabrina sejenak, dan ia berjanji akan kembali secepatnya.


" Kau begitu khawatir dengannya,"


" Dia tanggung jawabku sampai dia benar-benar pulih," ujarnya masih dengan nada datar.


Mereka pun meninggalkan rumah sakit menuju restaurant yang tepat berada di seberang rumah sakit.


Sesampainya di restaurant mereka memesan private area. Waitress pun menghampiri mereka dengan membawa buku menu. Dan kembali lagi untuk mempersiapkan orderan mereka


Daniel dengan perlahan menjelaskan rincian kesalahan laporan keuangan yang diberikan selama beberapa bulan belakangan ini.


Daniel membuka lembar demi lembar 2 dokumen di hadapannya dan saling membandingkan angka demi angka.


Gia benar-benar merutuki kelalaian beberapa bulan ini, ia mempercayakan project Aldero Land dengan orang yang salah.


Aldero Land merupakan project property berupa kawasan perumahan elit yang sedang di garap oleh GL'A Company beberapa bulan lalu. Karena proyek itu belum kelar-kelar hingga mendekati batas deadline yang sudah di sepakati.


Membuat Gia harus turun tangan sendiri mencari tau masalah apa yang menghambat proyek besar ini, sedangkan ia selalu menandatangani keperluan proyek itu.


Mengingat waktu tinggal sedikit lagi, membuat Gia harus mencari cara untuk mempercepat proyek itu.


" Kau cari tau semua asetnya, dan bekukan," perintahnya. " Saya akan mencari cara untuk mempercepat proyeknya."


" Apa kau akan menggunakan save deposit perusahaan?"


" Tidak,"


" Lalu? Apa kau akan mencari investor lagi?"


Sambil berfikir keras. "Kau kumpulkan data aset perusahaan kita, semuanya." suasana seketika hening, pikiran Daniel sudah melayang kemana-mana. Namun ia tetap percaya bahwa Gia akan melakukan yang terbaik untuk perusahaannya.


" Saya butuh data itu siang ini, dan saya akan putuskan esok," lanjutnya." Satu lagi. Kau bawa semua bukti ini ke kantor polisi, dan minta bantuan Alexander untuk mengurus pembekuan semua aset milik pria sialan itu."


" Satu lagi, berhati-hatilah dengan orang licik itu. Bisa saja dia membuang hartanya ke goa atau kutub."


" Baik."


" Kabari aku tiap jam, pastikan orang itu tidak berkelit dan mengganti semua kerugian perusahaan," Gia yang masih terlihat Geram membuat Daniel hanya mampu mengikuti arus yang ia buat.


Setelah pertemuannya dengan Daniel, Gia kembali menuju rumah sakit. Suasana sekarang cukup ramai oleh pengunjung. Saat Gia melangkahkan kakinya melewati lobby, semua mata tertuju padanya.


Sayup-sayup terdengar. " Apa aku tidak salah liat, pewaris muda itu ternyata tampan sekali."


" Iya, tampan sekali."


" Bukankah dia Tuan Muda Aldero."


Gia menarik nafas panjang hanya melongos melewati mereka menuju kamar Sabrina kembali.


Sesampainya di kamar Sabrina terlihat dua orang paruh baya yang sedang berdiri di sampingnya. Gia yang tidak begitu mengenalnya hanya tersenyum tipis.


" Sir," sapa pria itu yang seolah mengenalnya. " Terimakasih Anda sudah menolong putri kami," lanjutnya dengan nada yang begitu bijaksana.


" Ah- tidak masalah, hanya kebetulan saja," ujarnya. " Kalau begitu saya keluar dulu."


" Tidak perlu, Sir." Gia yang bengong ketika langkahnya seolah di tahan oleh pria itu." Apa kau lupa denganku?"


" Ma-maaf," sahut Gia yg sedikit bingung.


" Saya Joelian, dan ini istri saya Anne. Kebetulan sekali kami dengan ayahmu sudah berteman sejak kami kuliah di Oxford dulu."


" Oh- Maaf, Sir. Saya baru mengingatnya, bukankah Anda yang datang saat malam berkabung kakek saya," Gia berusaha mengingat kembali hari itu." Anda berarti orang tua Sabrina?" tebaknya.


" Ya." jawab Joelian dengan senyum yang merekah.


" Sir, Terimakasih juga Anda sudah memberikan kesempatan untuk putri kami, berada di perusahaan Anda," lanjut Anne.


" Sabrina sudah sepantasnya bergabung di perusahaan kami, Mrs," mendengar pujian itu terlontar, membuat Anne & Joelian tersenyum puas.


" Semoga putri kami tidak mengecewakan Anda."


Gia yang tertawa kecil, menimpali ucapan wanita paruh baya itu.


Setelah lama mereka saling mengobrol, Joelian dan Anne pun bergegas meninggalkan putrinya, dan berjanji akan menjenguknya lagi esok.


Gia yang sedikit tersentuh melihat kebahagian keluarga mereka. Satu lagi pandangan yang membuatnya kagum terhadap wanita itu, dan menganggapnya ia memang layak mendapatkan jabatan itu.