STOP PLEASE !

STOP PLEASE !
CHAPTER 3 " KABAR DUKA DARI BRISBANE "



Sore itu Sabrina lebihdulu sampai ke apartment. Hari-hari yang melelahkan membuatnya langsung menuju dapur, mengambil segelas air putih dan meneguknya perlahan. Senyum tipis terpancar di sudut bibirnya.


Besok aku akan menjadi bagian GL'A Company. Semoga ini awal yang baik untuk karirku kedepannya


Seketika Sabrina membulatkan matanya ketika mengingat sesuatu. "Astaga. Lupa mengabari Mama & Papa."gerutunya. Sambil berjalan menuju living room. Meraih tas yang tergeletak di sofa. Dengan lancar Sabrina mengetik no telepon Papanya.


"Sweety."sahut Joelian dengan nada lembut.


"Finally,Pa. Kau tau? Putri mu ini akan menjadi karyawan besok."ucapnya antusias.


"Realy? Congratulation Sweety. Papa ikut senang mendengarnya."


"Papa lagi apa?"tanyanya lembut.


"Sweety saat ini papa sedang meeting denga klien."terangnya. Joelian yang tidak pernah absen dalam mengangkat telepon dari Anak & Istrinya, sekalipun dia sedang melangsungkan meeting penting. Baginya keperluan kedua wanita itu di atas segalanya termasuk perhatian dan cinta.


" Ok, Pa kalau begitu. Jaga kesehatan dan jangan lupa makan."titahnya. " I Love You, Pa." ucapnya mengakhiri perakapan.


Saat akan melangkah menuju kamarnya terdengar ada yang membuka handel pintunya. Seketika Sabrina mengurungkan melanjutkan langkahnya dan berbalik melihat siapa yang datang.


Dengan hela nafas panjang dia menatap lembut ke arah Shean yang terlihat begitu lelah hari ini. Shean yang seketika mengedarkan tubuhnya di atas sofa tidak menyadari Sabrina yang memperhatikannya dari lorong kamar.


"Apa kau dari restaurant ke sini berjalan kaki?"celetuknya asal. Shean yang seketika mengerjipkan matanya melihat ada kepala muncul dari balik tembok yang menyekat antara living room dan koridor kamar.


"Bisa jadi seperti itu."balasnya sambil menatap malas kearah Sabrina, memijit setiap inci tangan yang hampir resign dari tubuhnya. Sabrina yang kemudian menghampirinya dan duduk di sebelah Shean dengan tatapan prihatin.


"Kau tau, hari ini aku melihat drama besar botak di restaurant?"lanjutnya wajah yang seketika berubah kesal membuat Sabrina membulatkan matanya. Dan kembali meletakan tas dan blazernya di atas meja.


"Apa? Bukankah dia selalu main drama setiap hari?"Sabrina yang terlihat serius menanggapi ucapan Shean masih sedikit merasa bingung.


"Ini lebih dari drama biasa yang pernah terjadi."sambil menarik nafas lebih dalam. "lebih extream dari yang pernh ku bayangkan."serunya melanjutkan pembicaraan.


" Bagaimana mungkin?"


" Ya lah, ini akibat si botak itu datang dengan percaya diri, membawa selingkuhannya itu kedalam restaurant dan bercumbu di ruangannya. Kau tau selang beberapa menit istri sahnya datang dan memergoki mereka. Lalu kau tau keadaan mereka di dalam?"potongnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Dengan suara yang sedikit berat sambil menatap ngeri kearah Sabrina. "Ya ampun Sabrinaaa.... tidak bisa aku bayangkan. Ketika tadi botak yang berlari mengejar istri sahnya dengan Cuma menggunakan bouxter tweety."lanjutnya dengan rasa kesal namun geli terlihat di wajah Shean.


Sabrina yang mendengar pengaduan itu seketika berusaha menahan tawanya mencoba membayangkan apa


yang terjadi pada saat itu. Di tambah dengan mimik wajah Shean yang berubah lucu ketika mengibahi managernya itu.


"Lalu?"


"Si botak yang geram akhirnya menghambur semua isi restaurant." sambil menarik nafas panjang. " Kau tau? Sebenarnya yang membuatku bersyukur, saat itu sudah tidak ada tamu yang berkunjung. Jadi tidak ada korban yang tiba-tiba kena serangan jantung melihat bouxter tweetynya."Sabrina yang dari tadi mencoba menahan tawanya akhirnya puas tertawa terbahak-bahak dengan mengabaikan rasa ibanya terhadap Shean.


"Terus bagaimana dengan selingkuhannya?"ia yang masih terkekeh tidak bisa melawan rasa penasaran.


"Entahlah, aku tidak perduli. Aku hanya memperdulikan nasibku yang makin tragis jika berlama-lama di dalam restaurant itu. Jadi aku buru-buru membereskan bekas perbuatan botak dan pergi meninggalkannya setelah selesai."sambil menyandarkan kembali tubuhnya di sofa


"Sabarlah Shean, anggap saja itu sebagai hiburan. Jarang-jarang kau melihat botak kepergok istri sahnya, kan? Bukankah kau selalu menyumpahinya biar kepergok?" tawa Sabrina yang mulai sedikit meredup.


"Iya kali, ya. Ini balasan buat orang dzalim."Shean yang terkekeh mendengar ucapan Sabrina kembali mengingat kalau dia selalu menyumpahi managernya.


"Kau beruntung sekali bekerja di perusahaan besar yang pasti tidak ada model manusia seperti dia." lanjutnya sambil menampakan wajah memelas kearah Sabrina. Sabrina yang seketika menatap lembut kearah sahabatnya itu.


"Kau tidak perlu seperti itu."sambil memeluk hangat tubuh mungil sahabatnya itu."Istirahatlah, kau kelihatan lelah sekali."sambil berlalu meninggalkan Shean yang masih bermalas-malasan di sofa


Sabrina yang bergegas menuju walk in closet untuk membersihkan diri karena seharian sudah berpetualang di luar.


Sembari bersenandung Sabrina menyalakan showernya, membiarkan setiap tetesan air mengerumuni tubuhnya yang putih dan sexsi.


Setelah selesai dengan ritual mandinya Sabrina menyelimuti tubuhnya dengan bathrobe yang seketika membuat tubuhnya kembali hangat. Tangannya yang jenjang meraih piyama silver yang menggantung di weardrop.


Dengan rambut yang masih tergulung dengan handuk dia berjalan menuju badroom mengurut lembut lututnya yang kini berubah warna menjadi biru lebam akibat benturan yang cukup keras tadi. Melangkah menuju laci nakes untuk


mengambil kota P3K dengan kaki yang sedikit pincang.


" Ugh, sakit sekali."sembari mengoleskan kakinya dengan cream. " Malu sekali aku kalau berjalan seperti ini besok." Sabrina yang menjatuhkan tubuhnya dia atas ranjang dengan hanuk yang masih menempel di atas kepala.


DariĀ  Adelaide St terlihat Gia dan Daniel yang lagi menyantap hidangan bersama klien mereka yang akan menjadi kontraktor dari pembangunan resort baru yang sedang di kerjakan oleh GL'A Company.


Pembangunan resort di pulau pribadi milik keluarga Aldero yang akan di buka untuk umum itu sudah menjadi perbincangan hangat di Brisbane. Pemberitaan dalam dunia cetak dan elektronik yang begitu antusisas.


Daniel yang juga di beri kepercayaan penuh oleh sahabatnya itu untuk memantau proyek resort yang di gadang-gadang akan menjadi resort terbaik di benua asia.


"Mr. Riu semoga proyek yang saya percayakan kepada anda bisa berjalan sesuai expektasi saya. Dan saya berharap semua yang sudah kita sepakati tidak ada kendala apapun." ujarnya dengan nada yang sedikit dingin.


"Kami akan mengerjakan proyek ini semaximal mungkin."ujarnya berusaha meyakinkan Gia yang masih menatapnya begitu tajam.


"Anda bisa obser, lapangan lusa di temanin oleh Mr. Daniel. Bukan begitu, Sir?" sahutnya sambil melempar pandangannya kearah Daniel yang seketika tersedak minumannya. Tatapan mata membunuh Gia, membuat Daniel hanya bisa mengangguk pasrah.


Lusa? weekend maksudnya? yang benar saja! aku harus membatalkan kencanku lagi?


Riu yang mengalihkan pandangannya kearah Daniel dan menyunggingkan senyum tipis dari sudut bibirnya. Daniel yang berusaha menutupi kekesalannya dengan membalas dengan senyuman yang sedikit di paksa.


"Ada pertanyaan lagi, Sir?"tanyanya santai.


"Tidak, Sir. Sudah cukup."


"Baik kalau begitu. Jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, saya akhiri meeting hari ini. Selamat siang."ucap Gia mengakhiri pertemuan. Berlalu meninggalkan Riu dan asisstantnya.


Daniel yang mengikuti langkahnya dari belakang. berjalan menuju parkiran mengambil mobil. Gia yang menunggu di depan restaurant berdiri menatap kearah Daniel yang melangkah menjauhinya.


Sesaat kemudian Daniel melajukan mobilnya menyusuri jalan besar Adelaide St. Gia yang masih fokus kearah ponselnya. Memantau perkembangan sahamnya secara online. "Kau siapkan seluruh schedulku dan take over ke sekertaris baru besok. Aku mau dia sudah mulai mengatur schedulku dengan baik." sambil melirik kearah Daniel yang tidak memberikan respon.


"Kau PAHAM."nada suaranya yang tinggi mengejutkan Daniel yang seketika mengerjipkan matanya.


Dengan menghela nafas malas Daniel hanya berseru "heumm..."


Mendengar suara singkat itu keluar dari bibir Daniel, Gia hanya mengerenyitkan kening dan menaikan alis matanya. "Kau marah weekendmu terganggu?"tanyanya.


"Tidak."


"Baik, kalau begitu. Jangan telat untuk menjemput Mr.Riu besok lusa."pandangannya kembali beralih kearah layar ponsel dengan senyum sinis yang masih tergambar di wajah tampannya.


Sesampainya di kantor Gia langsung melangkahkan kakinya memasuki executife lift menuju lantai 20. Meninggalkan Daniel yang masih memarkirkan mobilnya di dalam basemant.


Saat akan memasuki ruangannya terdengar suara ponsel mendengung mengisi bagian gedung yang


saat itu sudah terlihat sepi. Seluruh karyawan sudah mengakhiri jam kerjanya.


Dengan terus melangkahkan kakinya, Gia melihat layar ponselnya.


Mama


Dengan wajah sedikit malas, Gia mngangkat panggilan dari Eva. Menyapanya dengan suara bass yang begitu khas.


Suara Eva mulai mengisi telinga Gia yang seketika membuat expresi wajah Gia berubah menjadi pucat, dan panik. Entah apa yang mengganggu pikirannya saat itu. Sehingga membuatnya mengurungkan kembali niatnya untuk bekerja.


Dengan langkah cepat Gia keluar dari ruangannya. Daniel yang saat itu sudah berada di ambang pintu, terkejut melihat Gia yang berjalan meninggalkan ruangannya dengan sangat terburu-buru.


Daniel yang mengerenyitkan kening berteriak. "Ada apa?" suaranya seketika membuat Gia menghentikan langkahnya dan membalik badannya.


"Kau pulang saja, saya mau ke Greenslopes Private Hospital ."sambil berlari menuju kearah lift. Daniel yang hanya menatap bingung kearahnya hanya bisa diam. Lalu meninggalkan kantor mengikuti jejak Gia.


sesampainya di Greenslopes Hospital Gia berlalu memasuki lobby menuju ruangan VVIP 2 dengan sedikit


tergesa-gesa. melewati koridor rumah sakit dengan orang yang berlalu lalang di dalamnya, beberapa perawat yang sedang mendorong pasien di kursi roda juga terlihat melintas dari arah selatan area itu.


Akhirnya ketemu juga


Sambil melangkah mendekat ambang pintu. Tangan yang mulai gemetar, otak yang membuat Gia semakin tak karuan, pikiran demi pikiran buruk mulai membabi buta kekuatannya.


Dengan langkah yang sedikit lemah Gia memasuki ruangan itu, melihat semua keluarganya berkumpul. mengelilingi ranjang rumah sakit yang nyaris hampir tak terlihat.


Air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya tak terbendung lagi setelah melihat mamanya berbalik dan mendekapnya dalam pelukan