
Seruputan green tea hangat di pagi hari seakan merileksasi setiap otot dan pikiran Sabrina yang sedang duduk santai di balkon apartementnya. Landon mengajarkannya bagaimana menghadapi musim dingin yang extream, Namun musim dingin di Brisbane tidak seextream kota yang memiliki julukan The Smoke itu. Kendaraan yang berlalu lalang di Boundary St pun tak luput dari tatapan mata bulatnya. Brisbane river pun terlihat begitu indah walaupun jarak pandanganya cukup jauh dari balkon apartment Sabrina.
Shean yang baru saja bangun dari tidurnya melihat Sabrina yang sedang bersantai di balik kaca balkonnya. Melangkah menyusul Sabrina dengan secangkir Tea yang baru di seduhnya.
Sabrina yang juga menyadari kehadiran Shean langsung memalingkan pandangannya.
"Tidurmu nyenyak?" Shean memastikan sambil menyeruput tea yang berada di tanganya. Sabrina mengangguk sambil tersenyum kearah sahabtanya itu. "Rencanamu apa hari ini?"
"Aku akan interview di GL'A Company." Jelasnya sambil menghabiskan sisa green tea di tanganya.
"Interview? Kapan kau ajukan lamaran, tiba-tiba sudah interview saja." Shean menatapnya heran. Karena dia pun butuh berhari-hari untuk mendapatkan kesempatan untuk interview.
"Aku sudah mengurusnya semenjak masih di London. Jadi saat aku sampai di sini aku sudah punya kegiatan baru,"terangnya. Shean yang hanya bengong mendengar penjelasan Sabrina.
Dari dulu sampai sekarang Shean tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Orang tuanya mempunyai perusahaan besar. Kalau bisa di bilang dia tidak perlu capek-capek untuk bekerja di perusahaan orang lain. Tapi dia sangat
paham bagaimana sifat Sabrina.
"Shean, aku bersiap dulu."ujarnya sembari bangkit dari kursi. Langkahnya terhenti dan berbalik menatap Shean. "Kau jangan telat kerestaurant atau kau akan di bunuh oleh botak," sambil tertawa terbahak-bahak Sabrina meninggalkan Shean yang mencebikan bibirnya kesal.
Shean selalu curhat tentang nasibnya di restaurant. Termasuk menyebut manager restaurantnya itu dengan sebutan botak, karena memiliki postur tubuh gendut, dan kepala botak dan mengkilap. Setiap hari Shean adalah tumbal managernya jika dia memiliki masalah apa pun itu. Entah bersama istrinya atau pun selingakuhannya.
Botak, ingin ku mencelupkan kepalanya di Brisbane river.
Sambil menyeruput kembali teanya.
Sabrina berjalan memasuki walk in closet untuk mengambil satu set pakaian yang akan ia gunakan untuk interview
hari ini. Setelan rok midi berwarna hitam, kemeja berwarna Pale Yellow dan blazer hitam menjadi pilihannya, walaupun terlihat simpel namun sangat menawan ketika melekat di tubuhnya.
Sambil berjalan kearah cermin, Sabrina berdiri di hadapan potongan kaca yang cukup besar yang berdiri begitu menawan di samping meja riasnya. Memastikan penampilannya dengan berputar ke kanan dan ke kiri. Rambutnya yang sedikit bergelombong di biarkan untuk tetap tergerai rapi menutupi kedua pundaknya. Menjadi pesona tersendiri bagi wanita berusia 23 tahun ini. Make up flawless yang menjadi andalannya, semakin menambah kesan
menawannya seorang Sabrina.
20 menit kemudian Sabrina keluar dari kamarnya dan berjalan menemui Shean di balkon.
"Aku duluan ya,"ucapnya sambil berlalu meninggalkan Shean yang hanya memperhatikannya sampai menghilang dari sudut pintu.
Seraya melangkahkan jenjang kakinya menyusuri lorong apartment. Memasuki lift yang sudah terbuka dan menuju lobby.
Lima menit kemudian Sabrina sudah melajukan mobilnya menyusuri Boundary St menuju Dock St. Jalanan cukup lenggang sehingga Sabrina tidak perlu menggunakan jalan alternatif untuk sampai tepat waktu.
Sepanjang perjalanan Sabrina mengisi kesunyiannya hanya dengan mendengarkan lagu dari rockwell yang begitu romantis dan bikin penikmatnya ikut terbawa romansa yang di ciptakan.
Matanya masih fokus menyorot setiap meter jalannya yang dia lalui.
Sampai akhirnya Sabrina sudah memarkirkan mobilnya di dalam basemant gedung GL'A Company. Matanya mengedar di setiap sudut parkiran basemant yang begitu luas. Setelah melepaskan seat beltnya Sabrina melewati dereatan mobil yang terparkir rapi dengan berjalan kaki.
Saat berada di lobby Sabrina menghampiri receptionist yang stand by di hadapannya.
"Selamat pagi, Miss selamat datang di GL'A Company ada yang bisa kami bantu?"
"Pagi, saya Sabrina Dwyne. Saya ada janji interview dengan Human Resource Managment perusahan ini apa beliau ada di tempat?"ujar Sabrina dengan lembut dan sopan.
"Baik, Silahkan Miss menunggu di lobby terlebih dahulu," dengan senyum yang merekah Sabrina mengiyakan permintaan receptionist itu. Dan berbalik duduk di sofa lobby.
Gedung yang begitu besar membuat sabrina yakin dia akan berkembang di sana. Sambil menunggu Sabrina meraih majalah yang terletak di meja sudut dekat sofa. Membukanya lembar demi lembar.
Seorang pria celingukan memperhatikannya dari jauh dan akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.
Sabrina yang tidak sadar dengan kehadiran pria itu masih fokus dengan majalah yang ada di hadapannya.
"Miss, apa kopermu baik-baik saja?" mendengar suara bass yang menggema di telinganya membuat pandangan Sabrina beralih mencari arah suara itu.
"Anda!" Sabrina terkejut ketika melihat Pria yang nyaris membunuhnya kemarin ada di hadapannya. Seketika Sabrina menelan salivanya, memfokuskan pandangannya kearah mata pria itu.
"Anda, bekerja disini?" suara Sabrina yang seketika berubah menjadi gugup karena pria itu menatapnya sangat tajam kedalam bola mata Sabrina.
"Tidak, hanya saja saya ada perlu dengan CEO perusahaan ini." jelasnya. Sabrina yang hanya membulatkan mulutnya. Lalu seketika berbalik ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan jelas.
Oh, namanya Sabrina Dwyne
Seseorang memperkenalkan diri sebagi HRM dari GL'A Company Vins Derick memastikan bahwa ia benarlah Sabrina yang di maksud.
Dengan sedikit menyunggingkan senyum di sudut bibirnya pria itu meninggalkan Sabrina yang sedang asik berbicara dengan orang lain.
Vins pun mengajak Sabrina untuk menuju ruangannya di lantai 8, Sabrina yang menyadari sesuatu, kembali memalingkan pandangannya ke sisi lain sambil mengerenyitkan keningnya.
Cepat sekali perginya pria itu
Batin Sabrina sambil menampilkan senyum tipis di sudut bibirnya, dan berlalu mengikuti langkah kaki Vins. Saat akan menuju lift Vins terlihat membalikan tubuhnya dan menyapa seseorang yang berdiri di belakang Sabrina.
"Selamat pagi, Sir,"sambil sedikit membungkukan tubuhnya. Sabrina yang seketika bingung melihat
penampakan di depannya, ikut menoleh kearah Vins memandang.
Pria dengan tinggi kurang lebih 185cm dengan tubuh yang tegap, kulit putih dengan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya terlihat berdiri begitu dominan dibelakang Sabrina. Sabrina yang tidak mengetahui siapa pria itu hanyatersenyum dan menundukan kepalanya.
Namun pandangan Sabrina lebih fokus ke arah pria yang berdiri tepat di belakangnya, dia seperti mengenal pria itu. Sambil berusaha untuk mengingat kembali dimana dia bertemu pria itu. Pandangan Sabrina kembali tertuju pada Vins yang sedang mengobrol dengan pria yang berdiri begitu dominan di sampingnya.
"Sir, tadi ada putra Mr. Alexander dari perusahaan Erlando Group ingin menemui Anda terkait kontrak kerja yang akan di ajukan oleh perusahaan mereka," jelas Vins dengan lantang.
"Kenapa tidak menemui Daniel kalau saya tidak ada."
"Beliau hanya ingin langsung bertemu dengan Anda, Sir."
Mendengar pernyataan Vins pria itu hanya tersenyum sinis sambari menaikan alis matanya, yang terlihat dari sudut kacamata. Pria itu kemudian berlalu memasuki lift executive. Dan membuat Sabrina menebak-nebak apakah pria tadi pemilik GL'A Company karena dia menaiki lift khusus yang hanya di peruntukan untuk orang penting saja. Terlihat pula saat ingin memasuki lift pria itu menggunakan sensor mata untuk membuka liftnya.
Pandangan mata Sabrina terhenti seiring menghilangnya pria itu dari pandangannya. Vins yang kembali mengajak Sabrina untuk mengikutinya ke arah lift. Sabrina hanya diam menunggu lift itu sampai di lantai 8. Dalam hati ia ingin sekali bertanya tentang pria yang mengawal pria tadi.
Sesampainya di lantai 8 Sabrina keluar lift mengikuti langkah demi langkah Vins menuju ruang kerjanya yang tidak jauh dari lift.
"Silahkan duduk Miss," pinta Vins.
Sabrina yang mengikuti perintahnya langsung mendudukan tubuhnya di kursi yang tepat berada di hadapannya. Dengan menyerahkan berkas-berkas penting terkait lamaran pekerjaannya. Walaupun dia sudah menyerahkan dalam bentuk file, dia juga harus menyertakan berkas dalam bentuk fisik juga. Karena perusahaan yang ingin di masuki Sabrina termasuk perusahaan raksasa dalam bidang real estate jadi karyawan yang masuk di dalamnya harus melewati proses seleksi yang cukup panjang dan ketat.
Sambil memperhatikan lembar demi lembar berkas Sabrina, sembari mencocokan dengan berkas yang di kirim melalui website resmi GL'A Company.
Setelah selesai mengecek semua berkasnya Vins meminta Sabrina untuk menunggu sejenak karena dia
akan membawa berkas itu langsung kepada seseorang. Sabrina yang hanya mengangguk dengan sabar mencoba menunggunya kembali.
Harapannya sambil memandang langkah Vins yang semakin jauh meninggalkannya. Dan menghilang di sudut pintu ruangan itu.
Vins yang berjalan melewati beberapa meja karyawan dan memasuki lift menuju ruangan President Director di lantai 20.
Sesampainya di lantai 20 tanpa sengaja Vins berpapasan dengan Daniel yang berjalan searah denganya. Daniel selaku assistant dan orang kepercayaannya CEO GL'A Company dia juga termasuk sahabat Gia sejak kecil.
Pria muda yang memiliki perawakan tampan dan lembut ini, sangat kental dengan aksen jerman yang
begitu melekat di wajahnya. Dengan gaya berbusana yang selalu terlihat manly semakin menambah pesona pria 26 tahun itu. Pesona yang mampu menghipnotis seluruh karyawati yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Apa itu?"sambil menunjuk berkas yang di pegang Vins.
"Kandidat Sekertaris untuk Mr. Gia, sir,"Daniel yang seketika membulatkan pandangannya menatap expresi yang berbeda dari HRMnya itu.
"Semoga kali ini CV itu berhasil lolos di hadapannya,"sembari tersenyum mengejek kearah Vins yang seketika menarik nafas panjang melihat Daniel berlalu meninggalkannya.
Vins sadar sekali ini sudah ke-20 kalinya ia mengantarkan CV kehadapan Gia dalam kurun waktu 5
hari tapi semua hanya berakhir di tong sampah ruangannya. Namun kali ini ia merasa percaya diri membawa CV Sabrina kehadapan CEO nya itu.
Langkahnya mengantarkannya kedepan pintu ruangan yang bertuliskan Pres Direct. Dengan 1 kali tarikan nafas Vins mengetok pintu itu. Tidak lama kemudian terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Dengan perasaan yang campur aduk ia membuka handel pintu dan berjalan memasuki ruangan. 2 mata pria tampan itu sangat lekat memperhatikan setiap langkahnya sampai Vins berdiri tepat di depan meja Gia.
Gia yang memperhatikan berkas itu kemudian menaikan alisnya dan memangkukan dagunya dengan
kedua tangannya di atas meja. Tatapan yang tetap intens tanpa suara semakin membuat ruangan itu terasa horor.
Daniel yang hanya tersenyum sembari menutup mulutnya ketika melihat butiran bening mulai membuat pola di kening pria paruh baya yang sekarang sudah duduk di kursi sebelahnya.
Tangan yang mulai terlihat lipatannya itu seketika gemetar saat menyerahkan amplop coklat kehadapannya Gia. Sambil menoleh kearah amplop itu dan meraihnya, dan merubah posisi duduknya agar lebih santai.
Sabrina Dwyne
Saat melihat foto dan Nama yang terpampang di halaman paling depan. Membuat Gia sedikit terkejut melihat wanita itu namun ia mencoba menutupinya dengan masih bersikap dingin. Tanpa melanjutkan membaca CV nya, ia menyerahkan kembali amplop itu kepada Vins yang langsung tertunduk lemas karenaharus membuang CV ke-20 ke dalam tong sampahnya.
" trainee dia dalam jangka waktu 1 bulan. Jika dalam jangka waktu itu saya tidak puas dengan kerjanya, keluarkan,"perintahnya yang seketika membuat Daniel dan Vins saling melemparkan pandangan.
" Uuwoow, kau hanya melihat 1% bagian dari berkasnya langsung accept." Daniel yang terkekeh tidak percaya dengan apa yang di saksikannya barusan langsung meraih amplop coklat itu dari tangan Vins yang masih
tersenyum lega. Tanpa sabar Daniel melihat berkasnya dan tersenyum lebar.
Dengan penasaran Daniel membuka amplop itu. "Foto ini wajib di masukan ke musium keajaiban dunia,"sambil tertawa lepas memandang wajah Sabrina di dalam pas foto 3x4 itu. "Dia berhasil mencairkan isi otak Anda yang terlalu lama membeku," ejeknya yang masih terkekeh. Gia yang begitu kesal mendengar tawanya, kembali merampas berkas itu dan memberikannya kepada Vins lalu memerintahkannya untuk keluar dari ruangan.
Gia yang masih memperhatikan sahabatnya menertawakan dirinya dengan begitu puas.
"Kau jangan terlalu bersemangat seperti itu. Khawatir akhir bulan ini tidak ada nominal yang masuk ke rek Anda," gerutunya santai sambil tersenyum licik. Daniel yang seketika kupingnya berdengung kencang mendengar kata-kata menyeramkan itu berbalik membulatkan matanya menatap Gia yang menampakan wajah santai.
"Kalau kau mau membunuhku tidak perlu tanggung-tanggung, sekalian saja," gerutunya tidak kalah kesal. Gia yang kembali memperhatikan expresi sahabatnya itu berbalik tertawa terbahak-bahak.
Vins yang sudah kembali menemui Sabrina di ruangannya dengan wajah yang terlihat bahagia, menyerahkan beberapa lembar kontrak trainee ke hadapan Sabrina. Sabrina yang membaca kontrak itu tersenyum bahagia.
"Benarkah ini?"tanyanya ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi. Mr. Vins yang memberikan isyarat
dengan anggukan sembari melemparkan senyuman ke arah Sabrina yang masih terlihat bahagia.
"Miss, silahkan sign di bagian ini dan ini ,"sambil menunjukan bagian yang harus ditandatanganinya. Tanpa ragu Sabrina membubuhi tandatangannya.
"Kapan saya mulai bisa bekerja ?"raut wajah yang masih exited.
"Besok sudah bisa bekerja Miss, Jam kerja kantor ini pukul tujuh diharapkan Anda datang sebelum jam itu
setiap harinya,"jelasnya. Sabrina yang hanya mengangguk mengerti dengan penjelasan Vins. "Miss, trainee ini masanya 1 bulan. Saya harap Anda bisa berikan yang terbaik untuk perusahaan ini."
"Baik, Saya akan memanfaatkan waktu percobaan satu bulan ini dengan maximal. Sekali lagi terimakasih, Sir. Sudah memberikan saya kesempatan."
"Sama-sama, Miss. Apa ada yang perlu di tanyakan lagi?"
"Tidak, saya rasa kontrak ini sudah sangat cukup."
"Baik kalau sudah tidak ada yang ingin Anda tanyakan lagi. Dan sampai jumpa besok," ucapnya mengakhiri pertemuan.
Sabrina yang pergi meninggalkan ruangan Vins memasuki lift karyawan dengan hati yang sangat bahagia, besok ia sudah berstatus karyawan di perusahaan GL'A Company. Sambil menunggu pintu lift terbuka Sabrina merogoh ponsel di dalam tasnya dan menulisa sebuah pesan.
Shean, kau tau? Aku di terima kerja. Sebagai perayaannya siang ini aku menjemputmu di restaurant. Ok
Sambil memasukan kembali ponselnya, wajah itu terus di hiasi oleh senyuman puas. Semua karyawan yang di lewatinya ikut membalas dengan senyuman. Sampai akhirnya dia berada di ambang pintu lobby.
Saat sedang berdiri sejenak memperhatikan ke arah jalan besar, tubuhnya seperti tertabrak mobil fuso berkecepatan tornado. Tubuh yang sampai tersungkur mencium pintu kaca lobby.
"Sial, sakit sekali,"gerutunya kesal. Sambil memegang lututnya yang seketika terasa nyeri, dan bibirnya yang sedikit terluka karena terbentur pintu kaca. Dalam keadaan kesakitan Sabrina memalingkan wajahnya kearah kaca dan mengetuk-ketuk pintu pintu kaca yang nyaris tidak lecet.
Bibirku ternyata tidak sekuat kaca ini
"Miss, saya bantu,"seorang pria dengan nada suara lembut menyodorkan bantuan dengan mengulurkan tangannya ke arah Sabrina. Ia yang memperhatikan pria itu dengan seksama dan beralih pandangan ke arah pria di sebelahnya, yang sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Siapa yang tadi menabrakku? Sepertinya aku harus memberikan dia pedal rem," celetuknya kesal sambil meraih tangan pria itu dan berdiri.
"Maaf."
"Kalau kau mau berlari, tempelkan rem di kakimu agar tidak menubruk kemana-mana," gerutunya kesal. Sabrina belum menyadari jelas siapa yang menabraknya, ia hanya berfikir pria yang menolongnyalah yang sudah menabraknya.
"Baik, Miss. Setelah ini saya akan membelikan pedal rem untuk sahabat saya,"pria itu masih terkekeh melihat harga diri sahabatnya di permainkan. Seluruh karyawan yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam ketika CEO &
Assistentnya di ceramahi Sabrina.
Gia yang masih tetap dalam keadaan dingin kembali berlalu meninggalkan Sabrina yang masih mengomel. Dan Daniel yang berulang kali mengucapkan kata 'Maaf' ikut meninggalkan Sabrina, berjalan mengikuti langkah Mr. Gia dari belakang.
"Pria aneh dia yang menubrukku, kenapa malah temannya yang meminta maaf,"celetuknya kesal. Kemudian ia memperhatikan semua mata yang mengarah kepadanya tanpa expresi apa pun.
"Apa yang salah? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" nadanya sedikit nyaring sehingga membuat semua yang memperhatikan terkejut, dan mengalihkan pandangannya dari Sabrina.
Sabrina yang masih kesal melanjutkan langkahnya menuju basemant. Kemudian melajukan mobilnya menuju tempat Shean bekerja. Gia yang memperhatikan mobil Sabrina melewatinya hanya menatap dingin sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
"Wanita itu boleh juga,"celetuk Daniel yang memperhatikan wajah sahabatnya yang sedang melamun kearah depan. "Suatu saat aku akan mengajaknya berkencan,"ucapan itu berhasil lolos dari bibir tipisnya yang seketika membuat Gia mengerutkan keningnya dan menatap tajam kearah Daniel.
" Kau mau jalan sekarang atau tidak." tegurnya dengan nada sedikit galak. Daniel yang hanya tersenyum licik kemudian memalingkan wajahnya dan melajukan mobilnya menembus jalan besar.