
Gia berjalan meninggalkan ruangannya, wajah yang terlihat letih dan kacau begitu jelas terlukis di wajah tampannya. Masalah perusahaan beberapa hari ini benar-benar menyita otak dan tenaganya. Di tambah lagi ia harus mempersiapkan anniversary 40 tahun berdirinya G'LA company yang akan di adakan tepat satu bulan lagi.
Saat memasuki lift, sayup-sayup terdengar suara dering ponsel dalam saku jasnya. Dengan nada yang sedikit malas ia mengangkat panggilan itu.
" Hallo."
" Ya, ada apa?"
" Aku sudah berhasil mengajaknya untuk bergabung di acara lelang sosial kita. "
" Persiapkan segalanya. Saya tidak mau ada kelalaian sedikit pun dalam acara itu,"
" Baik," pembicaraan pun berakhir seiring terbukanya pintu lift.
Suasana kantor yang sudah gelap gulita dan hanya di terangi beberapa lampu dari arah luar, dan di pastikan tidak ada seorang pun yang berada di sana lagi. Namun langkah kakinya kembali terhenti ketika mendengar derap langkah seseorang dari arah belakang.
Gia membalikan tubuhnya,memperhatikan dengan seksama seseorang yang berdiri cukup jauh darinya.Derap langkah itu kembali terdengar seperti sedang mendekatinya.
" Good Night, Sir."
" K-kau." sambil melirik jam di pergelangan tangannya. " Kau sudah hilang dari pukul empat tadi, dan kau baru keluar pukul sembilan malam," ketusnya sambari memicingkan bola matanya. " apa perjalanan lantai 20 ke lobby membutuhkan waktu 5 jam?"
Sabrina yang pasrah hanya mampu menghela nafas panjang, mendengar Gia menubruknya dengan pertanyaan yang ia pun sama sekali tidak cukup tertarik untuk menjawabnya.
" Ma-maaf, Sir. Saya istirahat sejenak tadi di employe room." Jelasnya singkat mengakhiri pembicaraan. Sabrina meninggalkan Gia yang masih berdiri mematung memperhatikan langkahnya yang mulai menjauh.
Apa senyaman itu employe room kantor ini
batinnya seraya memperhatikan gerak gerik Sabrina. Namun tidak ada yang mencurigakan dari wanita itu.
Langkah Sabrina yang saat itu terlihat sedikit gontai, membuat Gia terus memperhatikannya dari kejauhan.
Sabrina yang sudah beberapa hari ini merasakan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, namun harus memaksakan untuk terus bekerja. Masa percobaannya yang tinggal beberapa hari lagi membuat ia mengurungkan niat untuk mengecek kesehatannya. Ia takut izinnya akan mempengaruhi performanya di mata Gia.
Gia yang terkejut melihat pemandangan didepannya, kemudian berlari menuju keluar lobby dengan menjatuhkan tasnya. bergegas menuju parkiran. Sabrina yang sudah tergeletak tak berdaya seketika membuatnya panik.
" Bri, hey... " panggil Gia sambil memangku kepalanya. " Hey, bri... what happend?" sesekali menepuk pipinya dengan lembut. " Astaga, badanmu panas sekali." seketika menyadari suhu tubuh Sabrina yang tidak biasa.
Pandangannya pun mulai mengitari sekeliling area mencari bantuan." Hai, kau...!" teriak Gia seketika melihat seseorang melewati arah lobby. Menyadari ada yang meneriakinya, pria paruh baya itu membalikan tubuhnya, Dengan berlari kecil pria paruh baya yang menjabat sebagai security di tower itu langsung menghampirinya.
" Sir. Ada apa ini?" tanya security itu dengan nada yang tidak kalah panik.
Gia pun mengeluarkan kunci mobil dari dalam jasnya, dan memberikan kepada security yang berjongkok di sampingnya. "K-Kau buka mobilku sekarang. " titahnya dengan suara yang sedikit terbata.
Tanpa basa-basi securityitu berlari, di ikuti dengan Gia yang menggendong Sabrina di pelukannya. Dengan perlahan ia mendudukan Sabrina di kursi depan dan memasangkan seat beltnya dengan hati-hati.
Gia yang langsung melajukan mobilnya menuju Greenslopes Private Hospital. Sepanjang perjalanan Gia terus berusaha memanggil namanya, sambil menepuk-nepuk lebut pipi Sabrina. berharap ia lekas sadar.
" Hei bodoh, kenapa kau tidak izin saja kalau kau merasa tidak sehat," Gia yang seketika gemas bercampur kesal menoyor kepala Sabrina yang masih tidak sadarkan diri.
Di tengah perjalanan, Gia kembali di buat naik pitam dengan kemacatan yang ternyata begitu panjang. Ia hanya mampu merutuki kekesalannya dengan berkali-kali menekan tombol klakson.
Sudah 15 menit mobilnya stak dan tidak bergerak, Gia hanya mampu pasrah dan kembali bersabar sambil berharap keadaan Sabrina tidak semakin memburuk.
Deretan mobil yang mulai bisa bergerak perlahan membuat Gia lega, segera ia mencari jalan alternatif. " Oke, kita lewat sini," ujarnya sembari memutarkan kemudinya ke arah yang ingin di tuju.
10 menit kemudian mobilnya sudah terparkir di depan hospital .Dengan perlahan Gia mengeluarkan tubuh Sabrina dari dalam mobilnya. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa perawat yang berlari sembari mendorong kasur dari arah lorong UGD.
" Kami bantu, Sir."ucap salah satu perawat. Gia yang saat itu merasa tertolong segera meletakan tubuh Sabrina di atas kasur, dan ikut membantu mendorong kasur itu menuju UGD.
Sesampainya, di depan pintu UGD. " Sir, di mohon untuk menunggu di luar," Gia yang kemudian menghentikan langkahnya sembari melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sabrina.
" Saya, mohon berikan perawatan terbaik untuknya," nada suara yang memelas, memancarkan kecemasan yang tidak biasa.
" Kami akan melakukan yang terbaik," Gia yang hanya membalasnya dengan senyum yang di paksakan.
30 menit berlalu sesekali Gia berjalan dan berdiri di ambang pintu UGD namun satu pun perawat belum ada yang keluar untuk memberikan informasi apa-apa. Gia yang semakin dirundung kepanikan, meraih ponsel di dalam jasnya dan menelpon seseorang.
" Selamat malam, Sir."
" Saya sedang ada di greenlops apa anda bisa ke UGD sekarang, karyawan saya tiba-tiba tidak sadarkan diri," pintanya dengan nada suara yang terlihat panik.
" Baik, Sir. saya turun sekarang."
" Terimakasih," ucapnya mengakhiri pembicaraan.
kebetulan bertugas di Greenslops Private Hospital.
" Sir, " sesaat memlihat Gia yang masih berdiri mematung di depan pintu UGD.
" Oh, ya. Tolong bantu karyawan saya. Namanya Sabrina, Sabrina Dwyne," ucapnya dengan penuh harap. dr. Damien tersenyum simpul dan berjalan memasuki ruangan itu.
Terlihat tubuh Sabrina yang masih terbaring tidak sadarkan diri dan perawat yang masih mengecek kondisinya. " Bagaimana?" ucap dr. Damien sesaat berdiri di belakang salah satu perawat.
" Kami sudah mengecek semua, dan bisa di pastikan dia mengalami dehidrasi dok. Kami juga sudah mengambil sampel darahnya, untuk di kaji lebih dalam lagi di laboratorium."
"Segera bawa ke Lab, saya minta reportnya segera."
" Baik, Dok." ujar perawat itu sembari meninggalkan ruangan UGD.
Melihat seorang perawat keluar dari ruangan, Gia kembali bangkit dari duduknya. dan menghampiri perawat itu dengan wajah yang masih terlihat panik. " Bagaimana keadaannya?"
" Nanti akan ada dokter yang menjelaskannya, Sir.untuk sementara kita masih menunggu hasil pastinya dari lab," ujarnya sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Gia yang masih belum tenang.
Tak beberapa lama dr. Damien pun keluar untuk menemui Gia. " Sir," panggilnya. Gia yang kemudian menoleh kearahnya. " Prediksi awal kami, Sabrina mengalami dehidrasi yang berlebihan, apa dia bekerja begitu keras beberapa hari ini?"
Gia yang kembali mengingat apa yang terjadi beberapa hari belakangan ini, ia baru menyadari kalau sudah benar-benar memforsir tenaga Sabrina untuk membantunya mencari tau bibit korup yang sedang berjalan di perusahaannya. Sabrina yang selalu pulang dini hari belakangan ini.
Dengan menghela nafas panjang, " Ya, saya sedang memintanya untuk membantu saya. Saya tidak menyadari bahwa itu akan mempengaruhi kondisinya."
" Mungkin itu salah satu pemicunya, mungkin juga karena itu dia lupa memperhatikan bahwa badannya juga butuh perhatian. makannya kurang teratur, dan kurangnya asupan air." jelasnya. Gia yang terlihat merasa bersalah kembali menundukan wajahnya.
" Perawat kami sudah membawa sampel darahnya menuju laboratorium, saya akan berikan reportnya segera kepada Anda, Sir." lanjutnya, sambil menepuk lembut pundak Gia. " Duduklah, kau terlalu panik," ucapan dr. Damien yang sedikit menggoda, membuat Gia membulatkan matanya dengan sempurna.
Apakah aku terlihat sepanik itu.
Batinnya, tatapan yang masih mengarah pada dr. Damien yang kembali memasuki ruangan UGD. dr. Damien yang mengetahui cerita pengusaha muda itu hanya bisa tersenyum simpul.
Gia memutuskan kembali menuju parkiran, mengambil beberapa barang Sabrina yang masih tertinggal didalam mobilnya. Saat melihat kearah kursi belakang ia tidak mendapati tas yang berisi laptop dan dokumen penting miliknya. Sedikit memutar ingatannya, kemudian ia sadari bahwa tasnya tertinggal di lobby saat berlari menghampiri Sabrina.
Dengan segera ia mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi security kantor. Sayup-sayup terdengar suara sesorang yang menyapanya.
" Tas, saya terjatuh di area lobby. Saya minta tolong untuk diamankan segera," security yang menyadari siapa yang menghubungi langsung mengiyakan perintah Gia. Dan mengakhiri pembicaraan.
" Bisanya kau membuang barang penting hanya karena melihatnya tergeletak," gerutrunya kesal sembari memukul-mukul keningnya.
Gia pun kembali menuju UGD dengan membawa barang-barang Sabrina. Baru saja meletakan tubuhnya di kursi Gia di kejutkan dengan dering ponsel yang ia yakini itu bukan ponselnya. Dengan segera ia merogoh ponsel Sabrina dari dalam tasnya. " Sean," saat melihat nama di layar ponselnya.
" Brina, jam berapa ini? kenapa kau selalu pulang larut," gerutu seseorang di sebrang sana.
" Hallo," menyadari suara yang menyapanya adalah suara laki-laki, membuat Sean salah tingkah.
" A-ah, Ma-Maaf ini siapa? Saya tidak salah sambungan kan?" tanyanya sedikit gugup.
" Tidak, temanmu sedang berada di Greenslops Hospital," jelasnya.
" APAAA....."
" Kau tidak perlu berteriak Miss, jika kau mau melihatnya datanglah," sanggah Gia dengan sedikit kesal dan menutup sambungan teleponnya.
30 menit kemudian dr. Damien kembali menghampiri Gia dengan membawa secarik hasil laboratorium. Gia yang menyadari kehadiran dr. Damien kemudian berdiri dan menghampirinya.
" Sir, ternyata benar hasil laboratorium ini menunjukan Sabrina mengalami dehidrasi akut, dan dia juga mempunyai riwayat asam lambung yang sangat buruk. Untuk itu dia harus di rawat sementara waktu disini." jelasnya. Gia yang hanya menatap kosong kearahnya mengangguk perlahan. " Kami akan pindahkan Sabrina ke ruang rawat."
" Berikan dia kamar terbaik dan perawatan terbaik, semua urusan administrasi biar saya yang urus," pintanya. dr. Damien mengangguk mengerti.
" Perawat kami akan membantu Anda dalam urusan administrasi, Sir, " Gia hanya mengangguk paham.
Beberapa menit kemudian 2 perawat sudah keluar UGD membawa Sabrina yang masih tidak sadarkan diri, dengan selang infus yang sudah menempel di tangannya. Gia yang mengikutinya di sisi ranjang, sembari terus memandangi wajahnya dengan rasa bersalah.
" Maafkan saya, Bri. Saya tidak tau akan seperti ini."
Sesampainya di VVIP 2 perawat memberikan sebuah map kepada Gia. " Ini hasil laboratorium pasien dan dokumen administrasi yang harus Anda selesaikan, Sir,"
" Baik, Terimakasih."
Gia yang duduk di sisi ranjang Sabrina, memperhatikan wajahnya senti demi senti. Sesekali menarik nafas panjang. kemudian membelai rambutnya perlahan. " Cepatlah sadar, kau membuatku merasa bersalah," bisiknya lembut.