
Gia yang baru saja selesai meeting intern bersama Daniel dan beberapa tim pengacara, yang saat itu sedang membahas tindakan lebih lanjut terkait kasus proyek Aldero Land. Yang melibatkan manager keuangan dan beberapa staff penting yang ada di GL'A Company.
Ia yang saat itu terlihat lebih tenang dari hari sebelumnya. Karena, akhirnya ia menemukan titik terang atas kasusnya. Berdasarkan bukti-bukti yang telah di kumpulkan oleh Daniel dan Sabrina beberapa waktu belakangan ini.
" Akhirnya aku melihat aura ketampananmu meningkat 100% lagi," Daniel yang terkekeh berjalan di sampingnya.
" Kau, mau apa?" Gia yang mengangkat sebelah alisnya menatap seolah ia tau apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.
" Wow... Anda cepat tanggap sekali, Sir."
Gia mengeluarkan ponselnya, dan membuka sebuah aplikasi yang ada di layar home. Beberapa menit kemudian Gia memasukan kembali ponselnya kedalam jas dan kembali berajalan menjauhi Daniel yang masih berdiri di
belakangnya.
Saat akan melangkahkan kaki mengikuti Gia, Daniel pun terhenti sejenak dan mengambil ponselnya yang berdenting.
"WHAAATTT...." Matanya yang seketika melotot melihat rekeningnya yang sudah bertambah 10.000 AUD.
Gia yang mendengar keterkejutan Daniel hanya tertawa kecil sembari menuju ruang kerjanya. Daniel yang kemudian berlari kecil menghampirinya dengan raut wajah yang masih tidak percaya.
" Apa lagi?" tanyanya dingin, saat tangan Daniel menahan pintu ruangannya.
" Kau serius?" gumamnya yang masih tidak percaya, dengan apa yang di lihatnya beberapa menit yang lalu.
" Kurang?"tanyanya dengan nada santai, sontak membuat mata Daniel membulat dengan sempurna.
" AKU MENCINTAIMU GIA ALDERO" teriakannya membuat gema di area itu. Sembari memanjat tubuh Gia dan memeluknya dengan erat.
Ia yang saat itu terkejut melihat kegirangan Daniel yang berlebihan, masih berusaha menutupi malunya ketika semua staff melihat tingkah kekanak-kanakan Daniel dengan pandangan yang aneh dan sedikit mengejek.
" Kau gila! Turunlah!!!" bisiknya dengan nada geram. Daniel yang tidak peduli dengan sikap Gia hanya tertawa terkekeh bahagia. Wajah Gia yang merah padam seakan menjadi hiburan tersendiri untuknya.
" Aku harap mereka tidak berfikir bahwa aku sudah tidak tertarik dengan wanita," dengan nada kesal Gia mengusap kasar wajahnya kemudian membenarkan jasnya dengan tatapan yang masih tajam kearah Daniel.
Daniel yang masih tertawa mendengar ucapan Gia, beranjak meningglkan ruangan dengan santai. Seorang staff wanita yang sempat memperhatikannya mencoba mendekat. " Sir, are you ok?" tanya gadis muda itu dengan tatapan penuh ejekan.
" I'm ok," timpalnya dengan sedikit tertawa dan berjalan menuju ruangannya kembali.
Gia pun kembali membuka dokumen yang berada di hadapannya. Membaca lembar demi lembar dan menandatanganinya satu persatu. Seketika fokusnya mulai buyar ketika dering ponselnya berbunyi. Nama Sabrina muncul dengan jelas di ponselnya, tanpa ia sadari senyum tipis itu seketika terlukis jelas di wajah tirusnnya.
" Pagi, Sir."
" Ya," suara bass khas Gia Aldero mendengung dengan jelas di telinga Sabrina.
" Hari ini saya sudah di perbolehkan pulang. Terimakasih, Sir. Sudah menjaga saya beberapa hari ini," suara Sabrina yang begitu lembut seketika membuat jantung Gia berpacu sedikit cepat.
" it's ok. Saya akan kirimkan driver untukmu."
" Ti-tidak perlu. Saya akan pulan dengan Sean."
" Kau yakin?" Gia mencoba memastikan kembali.
" Ya."
" Ok." ucapnya singkat, sembari mengakhiri panggilan teleponnya.
Gia pun kembali menatap tumpukan kertas itu dengan semangat yang sudah meningkat 100%. Saat sedang fokus membaca kembali dokumen yang berada di tangannya, sayup sayup terdengar suara ketukan pintu yang kemudian
mengalihkan pandangannya.
Gia pun memerintahkannya masuk, namun pandangannya tetap fokus pada lembaran yang sedari tadi bertengger di tangannya. Terlihat Ryn yang kemudian berdiri di sudut pintu dengan membawa tab di tangan kanannya,
berjalan anggun menghampiri meja Gia.
" Selamat Siang, Sir," sapa Ryn dengan suara yang begitu lembut dan senyuman yang terlukis di wajah orientalnya. Ryn yang awalnya menduduki posisi administrasi, beberapa hari belakangan ini di tugaskan untuk menggantikan posisi Sabrina untuk sementara waktu.
" Siang."
" Sir, setelah makan siang, Anda ada pertemuan dengan Mr. Kheil dari Erlando Group," Gia yang saat itu menatapnya dengan tatapan dingin, seketika membuat Ryn menundukan kepalanya.
" Batalkan."
" Ta-tapi, Sir. beliau sudah membuat janji dua hari yang lalu."
" Apa kau tidak dengar ucapan saya?" Nada Gia yang saat itu semakin meninggi sontak membuat wajah Ryn memucat.
" Ba-baik, Sir," sahutnya pelan. Dengan langkah cepat ia meninggalkan ruangan Gia.
Dari balik pintu ruangan, Ryn berhenti sejenak menarik nafas panjang beberapa menit. " Apa ini yang di rasakan Sabrina selama ini. Oh, Bri...cepatlah kembali, otakku sudah mulai tidak stabil menghadapinya," gerutunya pelan, kemudian menjauh dari ruangan itu.
Jam saat itu sudah menunjukan pukul dua belas, Keadaan kantor mulai senggang dan karyawan berangsur meninggalkan tempat kerjanya untuk Lunch. Ryn, yang terlihat ingin meninggalkan mejanya, seketika kembali ke
posisinya semula setelah melihat Gia yang keluar dengan terburu-buru meninggalkan ruangan.
" Sir," teriaknya, namun langkah Gia yang begitu cepat membuat Ryn hanya menghela nafas panjang sekali lagi.
Memasuki lift menuju lobby, Gia mengeluarkan kunci mobil dalam saku jasnya. Alban yang melihat bosnya akan meninggalkan kantor, segera ia mengikutinya dari belakang dengan mobil lain.
Gia melajukan kendaraannya menuju jalan besar. Ia yang ingin memastikan sendiri keadaan Sabrina, membuatnya harus membatalkan meeting penting bersama Erlando Group. Dengan wajah yang berseri Gia terus melajukan
kendaraannya menerobos kendaraan demi kendaraan yang tidak terlalu padat saat itu.
Pandangannya pun beralih kearah spion di hadapannya, terlihat pengawalnya yang terus mengikutinya. Wajah yang sedari tadi berseri kembali memerah menahan kesal. Dengan cepat ia meraih ponsel yang ada di saku jasnya dan mendial sebuah nomor.
" Kau, tidak perlu mengikutiku," sahutnya sedikit ketus saat Alban menjawab panggilannya.
" Ta-tapi, Sir."
" Apa saya membayarmu untuk memata-matai urusan pribadiku juga?" Alban yang hanya terdiam tidak menjawab, ketika nada suara Gia kembali meninggi.
Wajah Alban yang sontak memucat. " B-baik, Sir," dengan nada sedikit terbata-bata Alban mengakhiri pembicaraannya, dan memutar balikkan arah mobilnya kembali ke GL'A Tower.
Gia yang merasa senang karena melihat mobil Alban yang langsung memutar arah. Ia pun kembali melajukan kendaraannya menuju boundary St.
Sepanjang perjalanan ia mencoba menghubungi Sabrina beberapa kali namun tidak ada jawaban darinya. Pandangan matanya mengedar di seluruh penjuru jalanan yang ia lewati. Ia pun terus melajukan kendaraanya dengan kecepatan yang stabil.
20 menit kemudian ia pun memarkirkan Bugatti LVN miliknya di dalam basemant apartment. Dengan santai ia berjalan menyusuri lorong basemant, dengan deretan mobil yang terparkir rapi. Suasana yang tidak begitu ramai,
hanya terlihat beberapa security yang sedang berjaga disana, dan beberapa orang yang berlalu lalang.
Gia melangkahkan kakinya menuju lobby. Tubuh tegap dan aura kebesarannya mulai terpancar, memberikan magnet tersendiri, sehingga tidak ada satu pun mata yang tidak memandangnya dengan kagum. " Sir," sapa
beberapa orang yang melintas di hadapannya. Ia yang hanya melemparkan senyum tipis kearah mereka, kemudian kembali berjalan menuju lift yang tepat berada di sebelah meja receptionist.
Sesampainya didepan pintu apartment Sabrina, pandangannya tertuju pada pintu yang tidak di tutup dengan rapat. Dengan sedikit menempelkan kupingnya disudut pintu, terdengar sayup-sayup suara pria di dalam apartmentnya.
Suara yang akhir-akhir ini sangat ia kenal.
Wajar saja dia tidak mengangkat telepon saya.
Batinnya, dengan wajah yang sedikit kesal Gia kembali meninggalkan apartment Sabrina. Ia pun buru-buru memasuki lift menuju lobby. Kepalan tangan yang mulai memerah lantaran menahan kekesalannya terlihat begitu
jelas.
Beberapa menit kemudian lift pun terbuka, Gia yang terkejut karena tidak sengaja menubruk tubuh seseorang. Matanya yang sontak memandang kearah wanita yang terduduk dibawah kakinya.
" Kau," sahutnya saat melihat Sean yang menahan kesakitan karena tubuhnya tersungkur.
bertemu dengan Sabrina?" tanyanya
" E-ehm... Tidak, kebetulan saya menemui rekan kerja saya di sini," jawabnya berbohong. Namun Sean menatapnya dengan tatapan curiga, melihat wajah Gia yang memerah seperti menahan amarah, karena tidak ada senyum yang terpancar saat itu.
" O-oke, Terimakasi, Sir."
Dengan wajah datar Gia kembali berlalu meninggalkan Sean yang juga masih mematung menatapnya hingga menghilang dari area lobby.
" Aku tidak percaya dengan apa yang dia katakan," Sean menaikan sudut bibirnya, dan berjalan sedikit oleng karena bokongnya yang sedikit cedera.
Kembali ia melajukan kendaraannya meninggalkan boundary St, menuju GL'A Tower dengan perasaan yang seharusnya tidak ia rasakan.
Sean yang berjalan gontai menuju apartment Sabrina. Mendorong pintu yang tidak tertutup rapat, membuatnya melongos masuk begitu saja. Terlihat Kheil yang sedang duduk berhadapan dengan Sabrina.
Apa Bos besar itu melihat pemandangan ini.
Batinnya mulai menebak-nebak alasan Gia meninggalkan apartment ini dengan keadaan marah. Sean pun menghampiri mereka dengan memposisikan duduk di samping Sabrina.
" Apa kau sudah lama?" tanya Sean santai.
" Lumayan," jawab Kheil dengan sedikit senyuman yang tertarik di sudut bibirnya.
" Kau kenapa?" Sabrina yang terheran melihat Sean berjalan gontai.
Sambil memegang bokongnya dengan senyuman menahan nyeri. " Tadi terjatuh di lobby?" melihat Sabrina yang memicingkan mata, membuat Sean salah tingkah. " Ehm, ok kalau begitu aku kekamar dulu," ucapnya mengakhiri
pembicaraan. Dengan sedikit bantuan Sabrina, Sean kembali berjalan gontai menuju kamarnya.
"Apa Bos mu menemuimu?" tanya Sean sedikit berbisik saat Sabrina membantunya berjalan.Sabrina yang terheran dengan pertanyaannya hanya menggelengkan kepala perlahan.
" Ada apa?" tanyanya sedikit penasaran.
" Ah, tidak apa. Bantulah aku sampai dalam," pintanya lembut. Sabrina yang tersenyum mengiyakan permintaan Sean.
Sabrina pun kembali meninggalkan Sean yang sedang beristirahat di dalam kamarnya. Berjalan menuju living room, Kheil yang terlihat sedang fokus dengan ponselnya terkejut ketika Sabrina berdehem disudut tembok.
" Apa Sean baik-baik saja?"
" Ya, mungkin hanya memar sedikit."
Kheil yang kembali memasukan ponselnya kedalam jasnya. " Darl, Aku harus kembali ke kantor. Sekertarisku memberitahukan kalau Gia Aldero bersedia meeting denganku 30 menit lagi."
" What? 30 menit?" Sabrina yang terkejut mendengarnya.
" Ya, awalnya dia membatalkan meeting hari ini. Entahlah sekarang dia berubah pikiran," sambil tertawa kecil. Sabrina yang sudah khatam dengan watak bosnya hanya menelan salivanya dalam-dalam.
" Semoga,hari ini menjadi hari terbaikmu."
" Thank you, darl. Akuakan mengunjungimu lagi nanti," sahutnya pelan. Sabrina hanya mengiyakan dengan anggukan perlahan, dan berjalan mengikuti langkah kaki Kheil. Dengan canggung Kheil meraih leher Sabrina dan meninggalkan kecupan lembut di keningnya. Jantung Sabrina yang kemudian berpacu dengan kencang membuatnya sontak kaku.
" Get well soon." bisiknya.
" Thank you,"
Dari ruangan Presdir terlihat Gia dan Daniel yang saling memberikan tatapan tajam. Wajah Gia yang masih terlihat kesal, membuat Daniel tidak berani bergeming sedikit pun. Gia yang memainkan penanya, sehingga menimbulkan
irama yang tidak beraturan di atas meja.
" Apa yang sebeneranya terjadi?" Daniel mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Namun Gia yang masih diam menahan kekesalannya. " Apa kau jadi ke apartmentnya?"
Gia hanya mengangkat satu alisnya. " Ya," sahutnya dengan nada yang sedikit ketus.
" Lalu?" tanyanya penasaran.
" Apa yang ingin kau tau?" sembari memijat pelipisnya dan menopangkan kepalanya pada sandaran kursi. " Aku mendengar dia sedang bersama seorang," sahutnya perlahan. Daniel yang mengerti keadaan itu tersenyum
tipis kearahnya.
" Apa kau sedang cemburu?" Gia sontak menghentikan gerakan tangannya dan kembali menatap tajam kearah Daniel yang tersenyum licik.
" Cemburu? hahahaha. Aku? cemburu? Tidak," balasnya sedikit ketus sembariberdiri meninggalkan kursinya dan berjalan kearah jendela, pemandangan kota yang begitu tertata rapi dengan deretan gedung tinggi begitu jelas
terlihat di balik jendela ruangannya.
" Apa kau melihat orang itu?" tanyanya semakin penasaran.
" Bisakah kau berhenti bertanya tentangnya," dengan nada tinggi Gia mulai memperingatkan Daniel, yang seketika terdiam tak bergeming.
beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu, Daniel yang mendengarnya memerintahkan untuk masuk. Wajah Ryn terlihat jelas di sudut pintu.
" Sir, tim dari Erlando Group sudah ada di ruang meeting," gumam Ryn.
Daniel,mengangguk mengerti dan kembali memerintahkan Ryn untuk keluar ruangan. Melihatnya masih mematung menatap kearah luar jendela, namun Gia tetap mendengar apa yang di informasikan oleh Ryn.
" Gi-," belum sempat Daniel melanjutkan pembicaraan, Gia sudah melongos keluar meninggalkan ruangannya dengan begitu antusias.
Semangat sekali dia.
Gumamnya pelan, lalu mengikuti langkah Gia menuju ruang meeting. Melihat Gia dengan raut wajah yang sedang tidak baik-baik saja, membuat seluruh karyawan yang di lewatinya menundukan kepala tanpa ada yang berani
menyapanya.
Sesampainya di depan pintu ruangan meeting, Gia menarik nafasnya panjang. Mencoba mengontrol apa yang ia rasakan saat ini, agar terlihat lebih stabil. Daniel berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu, kemudian duduk tepat di samping kursi Gia.
Tatapan tajam Gia tepat mengarah pada Kheil yang masih terlihat santai dengan senyuman yang masih menghiasai wajahnya. Daniel yang memberikan dokumen kesepakatan kerjasama antara Elrlando dan GL'A Company kehadapan Gia. Namun ia hanya melirik tanpa menyentuh.
" Sir, jelaskan pada mereka proyek yang akan segera kita kerjakan, termasuk perjanjian kerjasama di perusahan kita," perintahnya kepada Daniel yang masih dengan nada sedikit angkuh, namun tatapannya masih tertumpu pada
Kheil yang duduknya tidak jauh darinya.
Tanpa membuang waktu Daniel langsung menjelaskan proyek terbaru Aldero, beserta konsep yang akan di bangun. Tidak ketinggalan untuk menjelaskan bagian-bagian inti pembangunan proyek itu yang harus selesai lebih
awal.
Hampir satu jam mereka berjibaku dengan proyek yang akan mereka jalankan tepat awal bulan April. Gia pun kembali fokus memperhatikan Daniel yang menjelaskan setiap materi yang sudah ia buat secara detail.
Sampai pada akhirnya mereka menyepakati hubungan kerjasama dan saling menandatangani kontrak perjanjian kerja.
" Terimakasih, Sir. Anda sudah mempercayakan proyek sosial ini kepada perusahaan kami. Kami akan menyelesaikannya sesuai dengan target dan pencapaian yang sudah kita sepakati bersama," terang Kheil dengan senyum yang terpancar cerah di wajahnya.
Gia berusaha membalas senyumannya dengan terpaksa. Kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang meeting terlebih dahulu.
Sesaat setelah tim Erlando meninggalkan ruangan, Daniel pun beranjak pergi menghampiri Gia di dalam ruangannya.
" Gi, apa kau mau aku juga yang mengawasi proyek sosial ini?"
" Tidak perlu. Aku yang akan mengawasinya. Karena ini proyek pribadi."
" Yah, walaupun kau sedikit sombong dan tak tau diri, tapi kau termasuk manusia yang sangat dermawan," hinanya santai.
Mata Gia memicing sempurna dan menarik dasi Daniel mengng rapi.
" Crazy, hampir habis nafasku kau cekik," makinya, dengan tenaga penuh iya melepaskan tang Gia yang begitu kuat. Gia yang, hanya tertawa melihat sahabatnya itu mencari udara seperti mulut ikan.