
Pukul 17.02 AEST,Sabrina Dwyne keluar dari British Airways dengan menggendong travel bag
hitamnya di punggung. Musim dingin pun menyambut kulit Sabrina dengan lembut meraba setiap selnya.
Senyum merekah terlihat di wajah wanita cantik itu. Setelah akhirnya dia menuntaskan study S2 Master Of Bussiness Administration (MBA) di Oxford. Kemudian memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya, dengan harapan penuh bermodal pendidikan yang ia enyam selama bertahun-tahun.
Papa dan Mama pasti terkejut dengan kedatanganku.
Sambil terus melangkahkeluar meninggalkan area kedatangan. Sabrina berjalan santai menujuparkiran bandara. Satu hari sebelum kedatangannya ia sudah menghubungisahabatnya lebih dulu dan memintanya untuk menjemput. Sengaja ia tidak menghubungi driver pribadinya karena ia ingin memberikan kejutan untuk orang tuanya.
Saat sedang santai menyebrang sambil menarik koper besarnya terdengar teriakan " MISS MINGGGIIIIRRR " dari beberapa orang yang berada di sisi belakang dandepannya. Yang seketika mengejutkan Sabrina. Spontan matanya langsungtertuju pada mobil di sisi kanan yang sedang melaju dengan kecepatanyang cukup tinggi. Suara dencitan mobil yang berusaha menahan rem begitumekakan telinga semua orang yang berada di sana.
BRRRUUUUAAKKK .......terdengar suara hantaman yang begitu keras mendengung di telinganya.
Sabrina yang terkejut ketika merasa ada seseorang yang menarik tangannya begitu kasar dan membuat tubuhnya limbung ke udara.
Dengan keadaan yangmasih syok Sabrina merasakan ada yang berbeda, karena aspal kali inibegitu empuk dan hangat. Perlahan ia membuka matanya dan memastikan itu benar-benar aspal.
Namun dugaannya salah.Saat ini ia sedang berada di atas tubuh bidang seorang pria yang sampai saat itu pun dia masih berusaha memperhatikan setiap detail wajahnya walau terlihat samar-samar, efek benturan itu sedikit membuat kepalanya pusing.
"Kalau kau sudah puas berbaring di tubuhku, bangunlah."
"Ma-maaf."
Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang berlari dari arah lain menghampirinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat barang sahabatnya berantakan dimana-mana. Dan sebuah mobil hitam yang terpajang di tengah jalan dengan koper besar yang menyelinap masuk kebawah mobil.
"Bri, Are you oke?" Shean berusaha membantu Sabrina untuk bangun walaupun dengan keadaan Sabrina yang masih terlihat syok berat.
"Terimakasih, Sir. Sudah menolong sahabat saya,"suara Shea yang terdengar polos. Namun pria itu tetap dengan sikapnya yang dingin melangkah meninggalkannya.
Dengan tubuh yang tegap dan gantle pria itu menghampiri mobil yang sedari tadi hanya mematung, tanpa ada respon apa pun. Wajahnya yang berubah memerah akibat emosiyang sudah di ujung kepala. Kemudian mengetok jendela mobilnya berkali-kali dengan kasar sampai akhirnya pemilik mobil membuka perlahan.
"Kau hampir saja membunuh seseorang. apa kau tidak berniat untuk meminta maaf padanya?"sambil menunjuk ke arah Sabrina yang masih mengontrol kondisinya.
"Buat apa? Dia yang tidak hati-hati ketika menyebrang,"pria itu masih kekeh dengan posisinya yang tidak bersalah, walaupun jelas-jelas ia bersalah, Karena sudah berkendara melebihi keceptan yang di tentukan di area itu.
"Terserah kau saja. Tapi jika dia menuntutmu atas insiden ini, kau sudah tau akan berhadapan dengan siapa,"ancam pria dingin itu, sambil mengeluarkan kacamata hitamnya dari jas. Seorang pengawal pun menghampirinya dengan raut wajah yang tak kalah gugup melihatnya yang sedang naik pitam.
"Kau ambil record CCTV area ini, dan bawa ke kantor polisi sekarang,"titahnya dengan nada yang mulai meninggi. Sambil terus menatap pria itu dari balik kacamata hitamnya. Sabrina dan Shean yang ketakutan melihat kedua pria itu hanya bisa mematung saling berpelukan.
Sabrina masih berusaha melihat pria yang menolongnya tadi. Namun pandangannya sedikit terhalang dengan body mobil yang cukup besar.
"Ok,ok saya akan meminta maaf, tapi tolong jangan perpanjang masalah ini. Toh tidak ada yang terluka bukan, dalam insiden ini,"suara kekalahan akhirnya terdengar dari dalam mobil. Pria itu hanya menatap sinis dari balik kacamatanya, dan memanggil kembali pengawalnya untuk mengurungkan niatnya mengambil record CCTV itu.
Semua orang yang berlalu lalang, mencoba memperhatikan mereka. Tidak sedikit yang memilih berhenti untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
Pria itu keluar dari persembunyiannya dan berjalan menghampiri Sabrina dan Shean yang berdiri tidak jauh dari tempat Sabrina terjatuh. Walaupun dengan wajah yang sedikit tidak tulus dari pria itu, Sabrina dengan ikhlas memaafkannya. Dan pria itu akhirnya pergi meninggalkan bandara dengan selamat tanpa beban apapun.
Shean pun membantu Sabrina membereskan isi tas dan kopernya yang berantakan di jalan, tanpa menyadari pria itu bersama pengawalnya sudah bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya, meninggalkan mereka yang masih sibuk dengan urusannya.
" Sir ," panggilnya beberapa menit setelah pria itu pergi. Matanya yang celingukan memperhatikan setiap area mencari pria itu namun sudah tidak di temukannya lagi.
Padahal aku belum mengucapkan terimakasih padanya
Dengan sedikit perasaan menyesal Sabrina dan Shean meninggalkan bandara itu. Kemudian melajukan mobilnya menembus Baeckea St. Di perjalanan menuju apartment Sabrina hanya diam mengingat kembali insiden mengerikan tadi.
Kalau tidak ada pria itu mungkin saat ini aku sudah berhenti menghirup udara kota kelahiranku, mengingat tadi kecepatan mobilnya. Koper sekeras itu saja bisa benjol-benjol di buatnya.
"Bri, hey," tegur Shean yang seketika membuat Sabrina tersadar dari lamunannya."Apa kamu masih memikirkan kejadian tadi?"lanjutnya sambil tetap fokus mengemudikan kendaraan dan sesekali melirik kearah sahabatnya.
"I- Iya, aku belum sempat mengucapkan terimakasih sudah menyelamatkan nafasku yang hampir lepas dalam hitungan detik,"lirihnya polos namun sanggup membuat Shean tekekeh mendengar ucapannya.
"Kau tau? pria itu tampan sekali, apalagi saat dia menopang tubuhmu tadi. Wanita manapun akan mati seketika berada di atas tubuh bidangnya itu." seketika suasana menjadi hening . "Apa kau tidak merasa mealting berada di
atasnya?" goda Shean. Sabrina yang hanya mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya mendengar pengakuan sahabatnya itu.
Jangankan mealting melihat wajahnya pun tidak jelas.
"Kau tau apa yang aku pikirkan tadi? Justru aku lebih deg-degan membayangkanmu saat ini membawa mayatku,"ketusnya kesal. Membuat Shean bergidik ketakutan membayangkannya. Dan memilih untuk mengurungkan diri menggoda Sabrinalebih jauh.
Shean terus melajukan kendaraannya melewati gedung-gedung pencakar langit yang berjejer rapi seperti miniatur kota. Sabrina yang sangat menikmati perjalanannya, merasakan kerinduan yang begitu besar terhadap kota kelahirannya. Karena terlalu fokus untuk menyelesaikan Studynya dia lebih memilih untuk tidak kembali sebelum dia mengapai cita-citanya seperti yang orang tuanya mau.
"Kota ini tidak banyak berubah ya Shean, masih sama seperti sebelum aku meninggalkannya," ujarnya sambil mengedarkan matanya di setiap sudut yang di lewatinya. Shean yang masih tersenyum melihat sahabtnya yang masih asik memanjakan mata dari dalam mobil.
"Apa kau mau aku antar ke apartmentmu atau langsung kerumah orang tuamu?"suara Shean memalingkan pandangan Sabrina dari pemandangan di luar.
"Apa apartmentku aman?"
"Maksudmu? memangnya aku apakan dia?"gerutu Shean kesal. Sabrina yang hanya terkekeh melihat
expresi Shean yang merasa tertuduh. "Tenang saja aku tidak membakar apartmentmu," nada Shean mulai tidak terima, sambil mencebikan bibirnya.
"Oke, kalau begitu antarkan aku kesana. Aku ingin berbenah diri sebelum ketemu mereka," Shean yang melirik malas ke arahnya lalu melajukan mobilnya ke arah Boundary St
Mata Sabrina yang mulai terasa berat karena perjalanan yang cukup lama membuatnya seketika tertidur di dalam mobil. Shean yang melihatnya hanya tersenyum polos.
Akhirnya kau kembali Bri, aku sudah sangat merindukanmu. Selama kau tinggal aku merasa kesepian. cuma kamu sahabat yang aku punya.
Shean memang hanya mempunyai satu orang sahabat dalam hidupnya yang mau menerima segala kekeurangannya.
Shean seorang wanita cantik dan berani, namun sayang kehidupannya jauh dari kata sempurna. Dia mempunyai orang tua yang kini hidup terpisah, ayahnya yang seorang penjudi kemudian memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita malam setelah bercerai dengan ibunya. Dan ibunya sendiri pun seorang karyawan swasta yang tidak pernah punya waktu untuk mengawasi dirinya, walau hanya sekedar ' say hay ' lewat jaringan telepon.
Untung saja ada Sabrina yang saat itu menyelamatkan hidupnya dari kehancuran, di kala Shean sudah mulai frustasi dengan tingkah laku orang tuanya dan kehidupannya yang kacau Sabrinalah yang selalu ada di sampingnya untuk mendampingi. Kedua orang tua Sabrina pun sudah menganggap Shean seperti anak
kandungnya sendiri.
Sabrina yang hanya anak tunggal merasa memiliki saudara ketika Shean hadir dalam kehidupannya, ia tidak pernah merasa kesepian lagi saat setiap kali Papa dan Mamanya sibuk dengan urusan perusahaan yang sudah di bangun bertahun-tahun oleh Papanya.
"Bri, brina..." panggil Shean sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Uhmm.."
"Sudah sampai, kau mau masuk dengan berjalan atau ku seret?"ujarnya dengan nada mengejek. Shean sambil terkekeh seketika mata Sabrina membulat mendengar pilihan yang di ajukan Shean.
"Gila."gerutunya kesal sambil melepas seat bealt dan keluar dari dalam mobil.
Shean yang mengikuti langkah kaki Sabrina dari belakang membawa koper tragis itu dengan sedikit hati-hati karena gagangnya yang sudah terbelah 2, bisa di bayangkan kalau koper itu di ajak jalan cepet kemungkinan jalannya bisa tidak simetris .
Sesampainya di apartment, Sabrina langsung mengedarkan tubuhnya di atas ranjang yang selama ini ia rindukan. Shean yang meletakan kopernya di samping ranjang, dan pergi meninggalkan sahabatnya itu sendiri. Ia sadar
sahabatnya butuh istirahat sebelum akhirnya menemui orang tuanya.
"Apa nanti kau mau aku anter juga ke tempat orang tuamu?"seketika wajahnya muncul tiba-tiba dibalik pintu dan mengagetkan Sabrina.
"Tidak perlu. Kau istirahat saja."
" Ok," sambil menarik wajahnya dari ambang pintu dan meninggalkannya.
Dengan melajukan BMW hitamnya menuju Westbourne St tempat orang tuanya bermukim. Jalanan tidak begitu padat saat itu, sehingga memudahkan Sabrina untuk lebih cepat menuju kediaman orang tuanya. Suara
merdu Adele menemani perjalannya malam itu, sambil sesekali Sabrina mengikuti alunan musiknya yang begitu melo.
Sesampainya ia di kawasan Brisbane Royal Residance terlihat deretan rumah megah dengan aksen eropa yang begitu kental berderet memanjakan mata, di tambah deretan lampu jalan yang berdiri begitu menawan menghiasi jalanan di malam hari, semakin membuat Sabrina rindu akan suasana rumahnya yang begitu nyaman dan tentram.
Suara klakson
Mrs. Route selaku Housemaid pun berlari dari dalam rumah. Saat mendengar suara klakson dari luar. Dengan segera dia membukakan pintu pagarnya. Di perhatikannya dengan teliti mobil yang saat itu memasuki halaman rumah yang begitu besar.
Dengan sedikit berlari wanita itu pun menghampiri mobil yang seketika berhenti di depan rumah. Betapa terkejutnya ia ternyata yang di lihat adalah majikannya yang sudah lama tidak terlihat keberadaannya. Di karenakan Sabrina yang sedang menjalani pendidikan.
"Selamat malam, Miss," sambil membungkukan sedikit badannya mendakan penghormatan. Namun seperti biasa Sabrina yang memiliki sifat rendah hati tidak terlalu suka dengan perlakuan semacam itu. Dengan senyum lebar ia menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya dengan hangat.
"Bagaimana keadaan Bibi?"
"Baik Miss, terimakasih,"ucapnya dari balik senyum yang mulai tersirat di wajah tuanya." Saya terkejut melihat Miss kembali, orang tua Anda tidak mengabari apa pun."
"Saya sengaja, Bi. Ingin memberikan kejutan untuk mereka,"balasnya dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari wajah cantiknya. "Saya masuk dulu ya, Bi." ujarnya seraya meninggalkan Mrs. Route yang masih berdiri memperhatikan langkahnya dengan hati yang gembira.
Sabrina yang melewati ruangan demi ruangan merasa sangat bahagia, ia begitu merindukan segala hal yang dulu sempat ia tinggalkan. Pilar-pilar besar yang menopang bangunan 4 lantai itu berjejer menghiasi setiap sudut ruangan. Lukisan abstrak dari berbagai negara yang menjadi koleksi Anne menghiasi dinding
putih yang kokoh. Rumah bernuansa eropa dengan warna dominan putih dan silver begitu menyejukan matanya kembali.
Sesampainya di living room, mata Sabrina membidik ke arah 2 orang paruh baya yang sedang tertawa bahagia sambil menikmati brownie dan film romantic di layar televisiberukuran 85inc. Melihat kebahagian mereka dari jauh membuat Sabrina seolah sedang menonton film romantis tahun 90-an.
Sabrina yang berjalan pelan dari arah belakang, mencoba untuk mengejutkan mereka. Para housemaid yang melihat keisengannya hanya bisa diam ketika di beri isyarat olehnya.
Dan....
"Papaaa.....Mamaaaa........."teriak Sabrina yang seketika membuat kedua orang tuanya tersedak. Sambil menengok kearah belakang Joelian Dwyne & Anne Hillary Dwyne, terlihat kesal namun kesalnya kalah start dengan kebahagiaannya melihat sang putri sekarang sudah ada di hadapannya.
"My Daugh, Oh My God," Anne yang terlihat begitu antusias sehingga berlari memeluk putri tunggalnya itu dengan erat. Air mata tidak bisa dia bendung lagi, kebahagiannya kini lengkap setelah sang putri kembali.
"Sweety, kau kah ini?"ucap Joelian yang juga ikut tidak percaya kalau anaknya kini sudah ada di hadapannya. Sabrina yang hanya mengangguk lembut melihat kedua orang tuanya yang begitu bahagia melihat kehadirannya.
"Sweety, Mama merindukanmu, sangat merindukanmu. Akhirnya kau kembali."sambil membelai lembut pipi buah hatinya. "Apa kau akan meninggalkan kita lagi?"
"Tidak, Ma,"Anne begitu lega mendengar jawaban itu meluncur dari bibir Sabrina. Sambil mengajak Sabrina untuk duduk bersama.
Joelian Dwyne yang tiba-tiba menangis melihat wajah putrinya." Sweety, i'm so sorry. Papa tidak bisa hadir dalam acara kelulusanmu waktu itu. Maafkan papa yang mengecewakanmu, nak. Andaikan waktu itu jantung papa tidak kambuh, tidak ada alasan untuk papa dan mama untuk tidak datang ke hari istimewamu,"terlihat penyesalan dan rasa bersalah yang begitu dalam diraut wajah Joelian.
"Pa, it's ok. Dengan melihat papa sekarang dengan keadaan yang lebih baik. itu sebuah kado terindah buat Sabrina. Justru Sabrina akan kecewa pada papa kalau papa mengabaikan kesehatan papa hanya untuk Sabrina,"lirihnya sambil berlari memeluk tubuh pria paruh baya itu dengan penuh kehangatan. Tangisan haru mulai pecah mengisi ruangan itu.
"Papa dan Mama segalanya buat Sabrina,"bisiknya lembut tepat di telinga Joelian.
Mrs. Route menghampiri mereka, pemandangan yang begitu menyentuh hatinya, tanpa sadar butiran
bening ikut menyelinap dari sudut mata wanita paruh baya itu.
" Sir, Ma'am makan malam sudah siap,"ucapnya setelah ia menyeka air matanya dari kejauhan.
"Terimakasih, Bi,"ucap Sabrina lembut di ikuti senyuman bahagia dari Anne dan Joelian.
Saat mereka berkumpul di meja makan, perbincangan pun tidak ada putus-putusnya terlontar dari 2 orang paruh baya itu. Mulai dari urusan kuliah sampai urusan pribadi pun jadi pembahasan yang asik untuk di nikmati. Tawa dan canda mulai mengisi topik pembicaraan mereka sambil menyantap makan malam.
"Uhm-hm. o,ya by the way Shean kenapa tidak di ajak kesini?" tanya Anne
"Oh, tadi dia habis menjemputku, Ma. Jadi aku suruh istirahat saja."
"Sweety, mama cuma berpesan padamu, nak. Untuk selalu menajaga Shean karena dia bukan sekedar sahabatmu tapi dia sudah seperti adikmu sendiri. Kamu harus perlakukan dia dengan baik."
"Always, ma."
"Bri, habis ini apa langkah kau selanjutnya?"tanya Joelian. Seketika suasana kembali hening. " Apa kamu akan melanjutkan bekerja untuk perusahaan Papa? Atau kamu akan bekerja di tempat lain." lanjutnya.
Tatapan Anne dan Joelian yang semakin intens menunggu jawaban putrinya. Joelian sangat berharap putrinya itu mau meneruskan perusahan software yang selama ini jadi kebanggan keluarga.
"Pa, Ma. Maafin Sabrina,bukannya Sabrina tidak ingin menjalankan perusahaan papa. Tapi Sabrina harus belajar banyak lagi dari bawah agar kelak jika sudah waktunya Sabrina siap secara fisik dan mental,"jelasnya walaupun sedikit mengecewakan. Namun kedua orang tuanya bisa menerima keputusan Sabrina dengan lapang dada.
"Lalu kamu akan melamar pekerjaan dimana? Apa perlu Papa bantu? Kebetulan kolega Papa banyak yang punya perusahan besar di Brisbane. Kau pasti bisa dapat posisi yang baik." Joelian berusaha membujuk putrinya. Namun lagi-lagi Sabrina menolak bantuan Papanya.
Sabrina lebih memilih untuk berjalan sendiri dulu dengan usaha yang dia punya, dia tidak mau mengandalkan nama besar orang tuanya di kota itu. Dia sadar kalau dia mesti belajar dari 0 seperti dulu kedua orang tuanya yang belajar dari 0 sampai membuahkan perusahan software terbesar di Brisbane.
tiga jam Sabrina sudah menghabiskan waktu di kediaman Joelian dan Anne. Melihat mereka yang begitu bahagia dengan kehadirannya cukup membuat Sabrina lega. Bayaran atas perjuangannya bertahun-tahun mengenyam pendidikan di negara orang membuat pertemuan saat ini sungguh berarti. Apalagi dengan predikat Cumlaude yang dia raih dengan penuh perjuangan, semakin membuat kedua orang tuanya kagum dengan putri semata wayangnya itu.
"Sweety percayalah, apa yang kau tanam hari ini untuk masa depanmu akan berbuah sesuai apa yang kau inginkan. Tetaplah menjadi pribadi yang baik dimana pun kau berada,"pesan Joelian kepada putrinya yang masih intens menatap setiap senti wajahnya.
"Pasti, Pa. Sabrina janji akan menjadi wanita yang Mama dan Papa harapakan,"suasana kembali hening dalam haru. Anne yang hanya mentapa senduh wajah malaikat kecilnya yang kini tumbuh jadi wanita dewasa.
Ya Tuhan lindungi selalu langkah putriku.
"Ma, kenapa?"sambil meraih tangan Anne dan membawanya ke dalam genggamnya.
"Mama, melihat anak kecil mama sekarang sudah begitu dewasa. Dan mungkin sebentar lagi akan meninggalkan mama,"tanpa terasa air matanya kembali menyelinap dari sudut matanya.
"Ma, Sabrina akan terus ada di sini untuk mama. Jangan khawatir, Ma."Sabrina yang berusaha meyakinkan orang tuanya. Joelian hanya bisa tersenyum melihat 2 wanita yang di cintainya.
"Ma, Pa Sepertinya Sabrina harus pulang,"serunya sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang begitu mulus. Anne yang hanya pasrah mendengar putrinya yang memutuskan untuk tidak bermalam di kediamannya.
"Bisakah untuk tetap di sini malam ini saja,"pintanya dengan lirih. Sabrina yang hanya tersenyum dan membelai lembut pipi Mamanya.
"Lain waktu ya, Ma. Karena besok Sabrina ada interview dengan GL'A Company."
"GL'A?"Joelian mengerenyitkan kening memastikan yang di dengarnya adalah benar. Sabrina hanya mengangguk perlahan mengiyakan. " GL'A itu perusahan teman Papa, Mr. Gaston Aldero kau masih ingat? Yang 4 tahun lalu sebelum kau pergi dia berkunjung kerumah kita untuk makan malam." Lanjutnya menjelaskan.
Memaksa Sabrina untuk mengingat kembali kejadian 4 th lalu, yang sama sekali tidak terekam jelas di ingatannya. Karena saat itu ada beberapa pasangan yang ikut makan malam di kediamannya.
"Sabrina ingat acara itu, tapi Sabrina tidak tau yang mana orangnya,"sambil terkekeh menjawab pertanyaan Papanya. "Pa, Ma kalau gitu Sabrina pulang dulu ya,"Sabrina tidak mau memperpanjang topik karena harus mempersiapkan keperluan yang akan di bawanya besok.
Joelian, Anne dan Sabrina pun melangkah beriringan. Mengantar putrinya sampai depan rumah, hatinya masih belum puas menghabiskan waktu bersama putri tunggalnya. Namun apa daya urusan Sabrina lebih penting dari keinginannya sendiri.
Sesampainya di apartment Sabrina langsung bergegas memasuki kamarnya. Melewati living room dan terlihat Shean yang sudah tertidur disofa sambil memegang cemilan yang terhambur di tubuhnya.
"Shean, bangun,"
"Uhmm,"sambil menggeliat di permukaan sofa seperti ulat bulu.
"Pindah ke kamar, dong."
Shean yang tersadar dengan kedatangan Sabrina langsung menyandarkan tubuhnya. Menyadari piyamanya yang sekarang menjadi kotor karena remahan snack yang terhambur.
"Bersihkan bajumu sekarang dan istirahatlah di kamarmu. Jangan sampai orang yang datang kesini mengira aku menyiksamu, karena membiarkanmu tertidur di sofa,"gerutunya. Shean yang hanya terkekeh melihat expresi kesalnya cuma bisa berlalu meninggalakan Sabrina yang masih duduk di sofa.
Sabrina yang kemudian ikut menyusul pergi ke kamarnya sendiri. Sambil mempersiapkan berkas-berkas yang di perlukan lalu menscan lembar demi lembar kertas yang ada di tangannya. Setelah selesai Sabrina segera mengganti pakaiannya dengan piyama, lalu menuju tempat peraduan mimpi.