STOP PLEASE !

STOP PLEASE !
CHAPTER 6 " SISI LAIN GIA ALDERO "



Daniel yang di beri  kesibukan oleh Gia untuk mengurusi upacara pemakaman Jerry di Centenary Memorial Gardens, kemudian menghubunginya dengan sekali menekan tombol dial di layar ponselnya.


"Hallo, urusan pemakaman sudah selesai." ujarnya percaya diri.


"Kau yakin?"


"Tentu. Apa kau meragukan ku?"Daniel yang telihat gemas mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Tidak." sembari menutup panggilan teleponnya yang semakin membuat Daniel mendengus kesal.


"Tidak ada ucapan terimakasih atau apa pun, yang membuatku senang Mr. Gia Aldero." dengusnya kesal, lalu berjalan meninggalkan crew pemakaman menuju area lounge yang terletak  tidak begitu jauh dari area pemakaman.


Sambil menikmati americano coffee yang telah di hidangkan oleh waitters, Daniel masih di fokuskan oleh layar ponselnya. Sembari menunggu rombongan keluarga Aldero.


Di GL'A Tower terlihat Gia yang sedang merapihkan berkasnya yang terlihat berhamburan di atas meja. Dengan sedikit terburu-buru, yang mengakibatkan berkas itu terjatuh dan berserakan di lantai. Seketika membuat emosinya menciut di ubun-ubun.


Tidakkah kau bersahabat sedikit saat ini.


Makinya sembari meraih telepon yang terletak di atas meja, dan menekan sambungan ke sekertaris barunya, yang gak lain adalah Sabrina Dwyn.


Sabrina yang terkejut mendengar dering telepon, seketika membuyarkan konsentrasinya. Meraih gagang telepon itu dengan sedikit kesal.


"Selamat siang, Sabrina Dwyn di sini."


"Ke ruangan saya sekarang." dengan nada yang terlihat sedikit kesal.


"B-baik, Sir." sembari meletakan kembali gagang teleponnya.


Sabrina yang bangkit dari kursinya, Menghela nafas panjang. Lalu berjalan menuju ruangan Gia yang terletak tidak jauh dari mejanya.


"Masuk." terdengar sayup-sayup suara Gia menembus dinding pintu.


Ia pun berjalan memasuki neraka itu, dengan perasaan yang masih sama saat pertama kali ia memasukinya. Yang ternyata membuat nasibnya berakhir dengan tragis.


Di tambah lagi dengan tatapan Gia yang begitu tajam mengarah kepadanya. Mata Sabrina yang saat itu berpaling melihat kearah kertas yang sudah berserakan di lantai semakin membuatnya keringat dingin.


Ada apa lagi ini.


Hati yang mulai bertanya-tanya. Sembari melangkah mendekati meja Gia. "Ada yang bisa saya bantu, Sir?"tanpa sadar ia menawarkan dirinya. Yang membuatnya seketika mengumpat dalam hati.


Tatapan aneh dan senyum yang di selipkan di sudut bibirnya. "Tentu," Gia yang sedikit mengangkat alis tebalnya dan menunjuk kearah kertas-kertas yang berada di ubin ruangannya. "Kau lihat itu semua? Saya mau kau bereskan segera, sesuai nama-nama perusahaan yang sudah tertera di masing-masing map  folder,"titahnya.


Sabrina yang seketika membulatkan matanya, mencoba menebak ada berapa ratus lembar yang harus


ia selesaikan di lantai itu. "B-baik, Sir," tatapan Sabrina yang masih memperhatikan Gia yang bangkit dari kursinya, dan berjalan meninggalkan ruangan.


Sial, pekerjaan tadi saja belum selesai. Oh, God cobaan apa lagi ini.


"Jangan pulang sebelum semua pekerjaanmu selesai," Sabrian yang kaget mendengar suara itu kemudian membalikan badannya.


Melihat kepala yang  muncul dari sudut pintu. Ia yang hanya mengangguk pasrah kembali melemparkan pandangannya kearah lembaran-lembaran itu.


Proses pemakaman memakan waktu tiga jam, dan tepat pukul 13.45 AEST Alban kembali melajukan kendaraannya meninggalkan Centenary Memorial Gardens bersama Gia, dan Daniel yang mengikutinya dari belakang.


Gia yang masih terlihat murung membuat suasana dalam mobil begitu hening, Alban yang hanya sesekali melirik kearah majikannya.


"Sir," sahutnya ketika sampai di persimpangan jalan, antara menuju kediaman Aldero atau kembali ke kantor. Gia yang hanya menengok kearah spion. "Anda mau kembali ke kantor atau kerumah, Sir?"lanjutnya.


Mengingat banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke GL'A Tower


Sesampainya di parkirkan lobby, Gia melangkahkan kakinya ke executive lift menuju lantai 20. Melewati meja para karyawan yang sebagian sudah terlihat kosong, karena jam kerja hari itu hanya 1/2 hari.


Matanya yang seketika tertuju pada meja Sabrina yang nampak kosong, namun tumpukan kertas yang masih berada di atas meja terlihat begitu berantakan.


Astaga berantakan sekali mejanya.


Sambil menatap risih, ia pun kemudian memalingkan pandangan ke arah ruangannya yang saat itu pintunya tidak tertutup rapat.


Melihat wanita itu masih sibuk berjibaku dengan berkas-berkas yang sudah tertata rapi di atas meja. Langkahnya perlahan mendekat kearah meja, membuat Sabrina terkesiap menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.


"Se-Selamat siang, Sir," sapanya sedikit gugup. Gia yang hanya menatapnya dengan pandangan dingin kembali menduduki kursinya sembari membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


"Kau bisa keluar sekarang,"titahnya.


Sabrina yang mengerutkan kening, menatap kearahnya. "T-tapi, Sir.Ini belum semua saya selesaikan," Gia yang tiba-tiba memalingkan pandangannya dari layar laptop. Kemudian menatap Sabrina dengan tatapan


dingin dan alis mengangkat keatas. Membuat Sabrina bergidik.


"B-baik, Sir," lanjutnya, seketika meletakan beberapa berkas yang dia pegang.


Berjalan sedikit terburu-buru meninggalkan ruangan Gia. Gia yang meliriknya dari sudut mata hanya menggelengkan kepala.


"Bri, belum pulang,"tegur seseorang seketika melihatnya keluar dari ruangan Gia.


"Ah. B-belum. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai,"lirihnya dengan wajah yang sedikit memelas.


"Baiklah, kalau begitu aku duluan ya,"ucapnya mengakhiri obrolan yang hanya di balas oleh anggukan pasrah dari Sabrina.


Sabrina yang melihat sekeliling ruangan. Nampak meja karyawan yang sudah terlihat kosong. Hanya tersisa Office Boy dan Office Girl yang sedang membersihkan area itu.


Dengan sedikit memijat pangkal lehernya yang begitu pegal karena, harus berada dalam posisi jongkok yang cukup lama. Ia membuka lagi lembar demi lembar berkas yang ada di atas meja, dan memasukan satu per satu data yang tertera dalam berkas itu ke dalam komputer.


Office Boy yang menyadari keberadaan Sabrina yang masih sibuk berjibaku dengan pekerjaannya di saat seluruh karyawan sudah pada meninggalkan kantor untuk menikmati waktu weekendnya esok.


"Miss, apa perlu saya buatkan tea untuk Anda?" suara lembut Office Boy itu menyadarkan Sabrina dari konsentrasinya.


Dengan senyum yang merekah. "Apa tidak merepotkan?"tanyanya memastikan. Office Boy yang langsung menggelengkan kepala dengan lembut kemudian melanjutkan langkahnya menuju pantri lantai 20.


10 menit kemudian ia kembali dengan cangkir tea yang sudah berada di atas nampan. Lalu memberikannya pada Sabrina yang langsung meraihnya dengan perasaan bahagia. "Terimakasih."


Waktu menunjukan pukul lima sore, yang ternyata pekerjaan Sabrina sampai saat itu pun belum kelar-kelar. Membuatnya semakin frustasi di hari pertamanya masuk kerja.


Sayup-sayup terdengar langkah kaki seseorang, yang seketika membuat pandangannya melihat kearah tersebut.


Terlihat Gia yang baru saja keluar dari ruangannya dengan membawa briefcase berwarna hitam kulit di tangan kanannya.


Gia yang kembali meliriknya dari balik kacamata yang ia kenakan, dan berpindah melirik kearah kertas yang saat itu masih di pegang oleh Sabrina. "Belum selesai?" tanyanya sedikit ketus.


"Tersisa 2 file lagi, Sir," dengan suara yang sedikit lirih. Wajah yang mulai terlihat pucat pasih saat pandangan Gia tidak beralih darinya.


"Pulanglah, lanjutkan itu di rumah."


Sabrina yang takjub membulatkan matanya dengan senyum yang mulai menghiasi wajah pucatnya. "B-baik, Sir. Terimakasi."


"Saya tunggu laporan itu sampai pukul delapan malam."ujarnya yang seketika di sanggupi oleh Sabrina.


Gia yang kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Sabrina yang langsung membereskan semua pekerjaannya. Memasukan berkas-berkas itu kedalam paper bag yang tersedia di dalam laci mejanya.


Gia yang memasuki executive lift menuju lobby seorang diri.


Dari kejauhan sudah terlihat Alban yang sedang menunggunya di depan pintu lobby lengkap dengan Bugatti LVN yang sudah terparkir di hadapannya.


Dengan menyodorkan sebuah kunci. "Silahkan, Sir."


Ia pun memasuki mobilnya di ikuti oleh Alban yang memasuki mobil alphard hitam yang terparkir tepat berada di belakangnya.


Gia yang saat itu memutuskan untuk menyetir sendiri, membuat Alban harus mengikutinya dengan kendaraan lain.


20 menit kemudian Sabrina menyusul Gia meninggalkan lantai 20 dengan menggunakan lift karyawan, menempelkan kartu rifd miliknya menuju lobby.


Matahari yang saat itu sudah hampir menuju peraduannya membuat awan senja pun menghiasi langit-langi di brisbane. Dengan senyum kelegaan Sabrina melangkah menuju basemant.


Menjalankan mobilnya meninggalkan area basemant. Namun sesaat akan keluar dari area kantor mobilnya mendadak mati.


Membuatnya sedikit terkejut, ketika menyadari mobilnya mogok. Panik dan kesal mulai mendera otaknya yang mengakibatkan keringat dingin mulai membuat pola di keningnya.


Kenapa lagi ini


Batinnya. Dengan sedikit malas ia keluar dari mobil dan mengecek apa yang terjadi pada mesin mobilnya. Saat ia membuka kap depan mobil, ia mulai bingung ketika begitu banyak asap yang keluar dari arah mesin mobil.


Sayang ilmu bussiness yang ia pelajari bertahun-tahun tidak mengajarkan bagaimana mengatasi mobil yang mendadak mogok.


Segera ia kembali ke dalam mobil dan mengambil ponsel yang terletak di dalam tasnya. Saat layar ponsel menyala, ada peringatan batrai ponsel lemah. Belum sempat mendial nomor Shean ponselnya pun mati.


" Lengkap penderitaanku hari ini,"sambil terduduk di dalam mobil dengan membiarkan keadaan kap mobil terbuka.


" Kau kenapa?" Suara bass yang tiba-tiba mengagetkan Sabrina yang sedang tertunduk kebingungan.


Terlihat pria bertubuh tinggi dan kekar berdiri tepat di samping jendela pengemudi.


" Sir, Ehem i-ini mobil saya mendadak mogok disini. Saya bingung bagaimana memperbaikinya karena saya gak pernah belajar ilmu otomotif,"gerutunya yang sedikit membuat Gia menggelengkan kepala melihat nasib karyawannya itu.


Flash Back on


Di perjalanan menuju kediamannya Gia mencoba merogoh ponsel yang berada di dalam jasnya. Namun tidak dia temukan ponsel itu. Kemudian ia menepikan mobilnya, dan meraih tas yang berada di kursi sebelahnya.


Astaga aku melupakannya di atas meja.


Sambil menahan kekesalan ia keluar dari mobil. Terlihat Alban yang ikut berhenti di belakangnya.Saat melihat majikannya keluar ia pun buru-buru menghampirinya.


" Kau hubungi kepala security, perintahkan dia untuk mengambil ponsel saya di atas meja ruangan saya. Saya akan puter balik kekantor. Satu lagi perintahkan, untuk tunggu saya di lobby," titahnya yang kemudian di laksanakan oleh Alban.


Alban yang seketika menjauh darinya mencoba menghubungi kepala security yang saat itu bertugas. Memerintahkannya sesuai perintah yang diberikan Gia. Dan kembali kepada Gia dengan memberitahukan bahwa Kepala security sedang menuju ruangannya.


" Kau lanjutkan perjalanan. Tidak perlu ikuti saya," sembari membuka pintu mobilnya.


" T-tapi, Sir?"


" Kau tidak paham?" mata birunya yang membidik Alban, cukup membuatnya terdiam dan bertekuk mengikuti perintahnya.


Gia yang kembali memutarmobilnya ke arah Dock St dengan kecepatan penuh. Sehingga mampu di tempuhnya hanya dengan waktu 15 menit.


Sesampainya di depan lobby, terlihat kepala security yang sedang berdiri menantinya dengan menggenggam ponsel itu di tangan kanannya. Gia yang keluar menghampirinya dan kembali lagi setelahnya.


Saat akan melajukan kembali kendaraannya matanya tertuju pada mobil yang sedikit malang di tengah jalan dengan keadaan kap mobil yang terbuka.


Flash Back off


Gia berjalan menuju bagian depan mobilnya, dan mengecek bagian mesinnya. Sambil mencoba menghubungi Daniel. Yang saat itu langsung di respon.


" Kau hubungi, Gerry. Perintahkan tehnisinya untuk ke kantor."


" Ada apa dengan mobilmu?"tanya Daniel penasaran.


" Bukan mobilku, kau hanya perlu perintahkan dia saja. Dan tidak perlu banyak bertanya." tegasnya yang langsung mengakhiri percakapan di ponsel.


Sambil menutup kap mobilnya. " Saya anter Anda pulang,"tawarnya masih dengan nada suara yang dingin. " Mobilmu akan jadi urusan assistant saya." lanjutnya.


" Ta-tapi, Sir. Apa tidak merepotkan? a-atau begini saya boleh pinjem ponsel Anda untuk menelpon taxi. Karena ponsel saya tiba-tiba low bat." Sabrina yang masihberusaha untuk menolak ajakan Gia, seketika membuat wajahnya sedikit geram. Sepertinya di tolak mentah-mentah oleh Gia.


Gia pun langsung mengambil tas Sabrina bersama kunci dan ponselnya. Kemudian menarik tangannya sehingga ia berjalan tepat di belakang Gia.


" Masuk," perintahnya yang nyaris seketika membuat mulut Sabrina kaku. Mata biru Gia yang membulat sempurna membuat Sabrina makin deg-degan, di tambah ketika mata itu menatap tajam dan intens kearah wajahnya.


Kepala security yang hanya bengong melihat pemandangan itu tidak habis pikir bahwa CEO yang ia kenal terkesan dingin dengan siapa pun seketika menjadi lebih murah hati.


Di perjalanan pun mereka saling diam, sehingga membuat keheningan tak berarti di dalam mobil. Sabrina yang masih salah tingkah dengan kejadian itu hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam.


Tanpa mereka sadari terdengar suara aneh yang muncul diantara mereka. Spontan membuat mata Gia menembak kearah wanita di sampingnya. Wajah Sabrina yang seketika pucat, berusaha menutupi suara perutnya dengan tas yang berada di pangkuannya.


Sial, perut penghianat.


Gerutunya kesal dalam hati, ketika menyadari suara itu muncul lagi. Dengan gemas ia mencibit sedikit perutnya, yang tanpa sadar membuatnya merasakan sakit dengan sendirinya.


Gia yang menggaruk keningnya heran, dan membuatnya menggelengkan kepala. Namun saat itu ia juga berusaha menyembunyikan senyumnya melihat tingkah konyol karyawannya.


Tanpa persetujuan Sabrina ia pun melajukan kendaraannya menuju restaurant terdekat.