
" Sir, ada telepon untuk anda,"sahut Alban yang sedari tadi berdiri di belakang Gia. Alban termasuk pengawal yang selalu mendampingi Gia kemana pun ia pergi.
Gia yang meraih ponselnya dari tangan Alban seraya berdiri dari tempat duduknya. Berjalan meninggalkan kerumunan orang-orang yang berada di ballroom.
"Hallo,"sapanya dengan suara bass yang khas.
"Selamat malam, Sir. Maaf saya baru mendengar berita tentang kepergian Mr. Jerry yang begitu mengejutkan. Saya sekeluarga mengucapkan turut berduka cita, Sir."
"Terimakasih."
"........"
"Ok. Selamat malam."sahut Gia mengakhiri pembicaraan.
Malam yang begitu dingin membuatnya tidak ingin berlama-lama untuk berada di luar. Dengan langkah perlahan Gia berjalan memasuki ballroom, masih dengan raut wajah dan perasaan yang sama.
Karangan bunga yang berjejer di setiap anak tangga semakin membuatnya merasakan kesedihan yang luar biasa, langkah kaki yang terasa semakin berat membuatnya seketika berhenti sejenak.
" Kenapa Tuhan? kenapa kau ambil kakekku begitu cepat. Kenapa kau ambil orang yang paling berharga dalam hidupku. AARRGGGGHHHH." Gia yang geram dengan wajah berbalut air mata.
Seketika itu ia menendang salah satu karangan bunga yang berdiri tidak jauh darinya. Pengawal yang melihat kejadian itu berlari menghampiri Gia, beberapa dari mereka mencoba menenangkannya, beberapa yang lain berusaha merapikan kembali karangan bunga yang terlempar dari posisinya.
"Sir, are you ok?"sahut pengawal itu, terlihat raut panik menghiasi wajahnya. Gia yang masih dalam keadaan marah dan kecewa mencoba melepaskan cengkraman pengawal itu dengan kasar.
Dengan tatapan dingin Gia memperhatikan satu per satu wajah pengawalnya yang langsung tertunduk, dan berlalu melanjutkan langkahnya. menapaki setiap anak tangga menuju area ballroom.
Namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika pandangannya tersita pada seseorang yang berdiri di sudut ballroom, dengan seorang laki-laki yang tidak begitu jelas terlihat, karena posisi pria itu berdiri sedikit menyerong dari pandangannya. Namun tidak dengan wanitanya yang jelas-jelas berdiri menghadap kearahnya.
Wanita itu? bagaimana mungkin dia ada di sini?
Sambil melanjutkan langkahnya, sesekali ia melirik dingin kearah wanita itu. Namun ia malasambil pusing dengan keberadaanya disana. Segera dia kembali menghampiri Daniel yang masih duduk di sebelah peti Jerry.
"Sir, sedang apa disini?"tanya Sabrina sedikit gugup
"Menurut pengelihatanmu saya sedang melakukan apa? Meeting?" celetuknya yang di ikuti tawa tipis menghiasi wajahnya yang sedikit tegas.
"A-ah, maksud saya-"
"Saya hanya memberikan penghormatan terakhir untuk rekan bisnis orang tua saya, karena mereka tidak datang jadi saya mewakili mereka," terangnya. Sambil mengulurkan tangan ke arah Sabrina. Sabrina yang bingung hanya memundurkan wajahnya heran.
"Dari mulai saya menabrakmu waktu itu, sampai kita bertemu lagi di GL'A Tower, dan akhirnya sekali liga kita bertemu disini. Saya belum mengenalmu," lanjutnya. senyum simpul pun ia lontarkan kepada Sabrina, yang di balas dengan uluran tangan olehnya.
"Sabrina Dwyn," ujar Sabrina memperkenalkan dirinya pada seseorang yang nyaris melepas nyawanya dari jasad beberapa hari yang lalu.
"Kheil Alexander," sahutnya membalas memperkenalkan diri. "Kau bisa memanggilku Kheil." Sabrina yang hanya membalas dengan anggukan lembut.
Kheil yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling area, kemudian matanya tersita pada sebuah bangku kosong yang terletak di taman sudut ballroom itu.
Masih tetap mengarahkan pandangannya kearah bangku taman. "Kalau kau tidak keberatan, boleh saya mengajakmu mengobrol di sana," tangannya yang menunjuk kearah taman membuat mata Sabrina mengikuti telunjuknya.
Sabrina yang mengiyakan kemudian mengikuti langkah Kheil dari belakang. Saat keluar melewati pintu utama. mata dingin Gia kembali tertuju pada dua orang yang melangkah keluar meninggalkan ballroom. "Kau tau siapa pria itu?" tanya Gia kepada Daniel yang seketika menajamkan pandangannya kearah yang di
tuju Gia.
"Sabrina," celetuk Daniel yang seketika di balas tatapan tajam dari Gia. Daniel yang menatapnya bingung ketika Gia membulatkan matanya.
"Loh,apa yang salah. Kenapa kau melihatku seperti itu?" Gia yang kembali menatapnya malas seketika membuang wajahnya dari hadapan Daniel.
"Sepertinya besok saya harus menggantimu dengan kandidat baru,"gerutunya kesal. Daniel yang membulatkan pandangannya merasa terkejut mendengar ucapan mengerikan itu.
"Kau ingin membuatku menyusul kakekmu?"
Gia yang kembali menatapa malas kearah Daniel. " Sebaiknya kau perbaiki pendengaranmu, sebelum saya benar-benar mencoretmu dari daftar karyawan."
Daniel yang semakin bergidik, hanya bisa melihat Gia berlalu dari bangkunya dan meninggalkannya. "Kau mau kemana lagi?" tanyanya polos.
"Mempersiapkan surat pengunduran dirimu."
"Sial."umpatnya kesal.
Joelian dan Anne yang saat itu terlihat berpamitan pada keluarga besar Aldero. Kemudian melangkah keluar ballroom, mengedarkan matanya di seluruh area yang terlihat sambil menuruni anak tangga.
Matanya tersita pada dua orang yang sedang duduk di bangku taman, yang di yakini adalah Sabrina namun dia tidak mengenali pria yang sedang duduk bersamanya.
Joelian dan Anne yang kemudian menghampiri mereka. "Sweety, kita pulang."ajak Joelian yang berdiri kurang lebih tiga meter dari bangku. Sabrina yang menengok kearah belakang menyadari orang tuanya sudah menunggu.
"Sir, saya pulang dulu. Terimakasih sudah mengajak saya mengobrol,"ujar Sabrina polos. Kheil yang hanya mengangguk dan berdiri memperhatikan Sabrina melangkah meninggalkannya.
Joelian melajukan kendaraannya dengan kecepatan standar, sepanjang jalan Sabrina hanya diam memandang kearah luar jendela. Menikmati malam yang cukup indah walau kota saat itu terasa dingin.
Mata Joelian melirik kearah spion. "Swetty, kau kenal dengannya?" seketika suara Joelian memecah kesunyian. Anne yang saat itu ikut mengarahkan pandangnya kearahSabrina ikut bertanya-tanya.
"Baru kenal,Pa."jawabnya jujur.
"Tapi tadi Papa lihat kau begitu akrab berbicara dengannya,"todong Joelian sekali lagi.
"Haruskah ketika kita diajak bicara dengan seseorang kita tidak mengeluarkan suara,Pa. Sabrina tidak bisu bukan?" Sabrina masih berusaha berkelit dari pertanyaan orangtuanya.
Mana mungkin aku cerita,kalau pria itu hampir membunuhku dengan mobilnya beberapa waktu lalu. Yang ada habis dari taman dia tidur di jeruji besi.
Sambil terkekeh membayangkan itu, Sabrina kembali memalingkan wajahnya kearah jalan raya.
"Pa, kasian sekali Gia. dia terihat terpukul dengan kepergian Mr. Jerry." gummam Anne membuka topik pembicaraan lagi.
Sambil melirik kearah istrinya. "Tentu saja, Ma. dari kecil sampai Gia sebesar itu hanya ada Mr. Jerry dalam hidupnya."Joelian yang menarik nafas panjang. "Tapi, tidak bisa di pungkiri, Ma. Gia bisa menjadi sosok hebat seperti sekarang juga berkat didikan Mr. Jerry." lanjutnya.
Sabrina yang hanya diam mendengar percakaan kedua orang tuanya. "Memangnya CEO itu tidak punya orang tua?" celetuknya.
Joelian dan Anne yang terkekeh mendengar pertanyaan putrinya, membuat Sabrina semakin bingung.
"Ada sayang, hanya saja mereka lebih sibuk dari Papa dan Mama."sambil merengkuh tangan Anne ke pangkuannya.
"Bagaimana mereka tidak sibuk. Kau bayangkan saja, perusahaan yang kau lamar ini. Perusahaan yang tidak ada matinya. Di saat property jatuh tiga tahun lalu, Perusahaan itu masih bertahan dengan gelarnya. Bahkan GL'A Company yang memback-up hampir 85% perusahaan di Brisbane yang kolaps secara
bersamaan waktu itu."
Sabrina yang hanya membulatkan pandangannya, merasa takjub dengan penjelasan orang tuanya. "Sure?" ujarnya yang masih tidak percaya
"Yes."singkatnya yang mengakhiri pembicaraan
Pukul 23.12 AEST Sabrina sudah turun di depan apartmentnya. Joelian dan Anne yang hanya berpamitan dari dalam mobil kemudian melajukan kembali kendaraannya.
Saat membuka pintu di lihatnya Shean yang sudah terbujur tak berdaya. Lagi-lagi nyawanya berakhir di atas sofa dengan keadaan tangan dan kaki yang menggantung.
Ia yang memperlambat gerak langkahnya menghampiri Shean yang sudah larut dalam mimpi. Dengan sedikit menggerakan lengannya, berharap sahabatnya terbangun. Namun apa daya nafsu tidur Shean mengalahkan segalanya.
Sabrina yang hanya menarik nafas, berjalan menuju kamar Shean mengambilkan bantal dan selimut untuknya. "Kau ini, seperti orang mati saja."celetuknya sembari meninggalkan Shean dengan keadaan yang lebih baik.
Badannya yang begitu letih membuatnya sangat malas untuk merombak pakaiannya lagi. Dengan
keadaan seadanya Sabrina mengedarkan tubuhnya diatas ranjang kemudian memejamkan matanya.
******
Sabrina yang seketika lompat dari ranjangnya, saat mendengar teriakan Shean 'Sabrinaaa kau telat ke kantor' meraih jam wakernya diatas nakes. Dalam keadaan duduk ia membulatkan matanya ketika jam menunjukan pukul 6.30 AEST.
Sial. Hari pertama saya.
Makinya, sambil berlari kearah walk in closet membersihkan tubuhnya seadanya, dan memakai pakaian sedapatnya di weardrop. Ini untuk pertama kalinya ia menempuh waktu kurang lebih 10 menit untuk membereskan tubuhnya.
Waktu tersisa 15 menit untuk sampai ke kantor. Dengan kecepatan penuh Sabrina melajukan kendaraannya menembus Boundary St menuju Dock St.
Kepanikan mulai terlukisdi wajahnya sepanjang perjalanan. "Mana mungkin sampai kesana cuma dalam waktu 15 menit. Astagaaa, Sabrina."gerutunya kesal. "Kau jangan menggali kuburan pertamamu, bri," sembari memukul-mukul kemudinya geram.
Tepat sekali, pukul 7.15 AEST Sabrina baru sampai di parkiran kantor. Saat ingin menuju area sudut lobby untuk menaiki lift karyawan. Sudah terlihat Vins yang berdiri di depan receptionist. Sabrina yang terlihat pucat menghampiri Vins dengan langkah yang cukup berat.
"I'm Sorry, Sir. I'm Late." Vins yang kemudian memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki hanya menggelengkan kepala.
"Kau habis kena badai dimana, Miss."sindirnya. Mata biru itu kemudian menatapnya tajam.
"S-saya, T-tadi..."ucapannya yang di potong Vins yang kemudian memberikannya waktu untuk berbenah diri di loker.
Dengan modal Kartu RFID yang di berikan Vins kepadanya, lalu ia berlari menuju loker pribadinya.
Saat memasuki ruang karyawan, pandangannya lagi-lagi di bikin takjub dengan ruangan itu. setiap karyawan mempunyai satu ruangan khusus.
Ini sih jauh banget dari kategori loker, sudah mirip kamar apartment.
Saat berada di roomnya, matanya kembali tertuju pada ranjang singel yang di peruntukan untuk karyawan yang ingin melepas lelahnya, di lengkapi dengan kamar mandi dalam yang lengkap dengan shower.
Yang benar saja perusahaan ini harus menyediakan hampir 100 lebih ruangan, khusus untuk karyawannya beristirahat. Gak salah sih kalau perusahaan ini besar banget.
Saat tersadar, kalau ia berada di sana untuk berbenah diri bukan untuk memanjakan mata. Sabrina melangkah buru-buru merapikan pakaiannya dan memberikan sedikit sentuhan make up di wajahnya.
15 menit kemudian Sabrina keluar dari ruangan itu menuju lobby kembali. Terlihat Vins yang masih menunggunya.
Wajah Vins yang berubah menjadi cerah melihat penampilan Sabrina yang kini lebih rapi. "Ikut saya keruangan Mr. Gia," titahnya. Sabrina yang seketika mengerenyitkan keningnya mendengar akan bertemu dengan CEO itu.
"E-ehm, Sir. Bukankah Mr. Gia sedang berkabung?"tanya Sabrina sedikit aneh.
"Mr.Gia tetaplah profesional bagaimana pun keadaannya," Sabrina yang hanya menggelengkan kepala tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya.
Langkah kecilnya mengikuti Vins dari belakng. Memasuki lift karyawan menuju lantai 20 tempat Gia berada, sekaligus tempat Sabrina memperjuangkan karirnya.
Sesampainya di lantai 20, Vins melangkahkan kakinya menuju ruangan Gia. Seluruh karyawan yang saat itu terlihat sedang berjibaku dengan pekerjaan mereka. Dan beberapa OB yang terlihat membawakan minuman ke masing-masing meja karyawan.
Suara ketokan pintu terdengar begitu jelas di telinga Gia yang saat itu lagi memperhatikan berkas-berkas penting yang ada di hadapannya. "Masuk," sahut Gia.
sayup-sayup terdengar suar dari balik pintu. Vins pun yang kemudian memasuki ruangan itu di ikuti Sabrina yang masih menguntit di belakangnya.
Gia yang seketika menghentikan aktivitasnya saat melihat Vins melangkah mendekati mejanya,masuk bersama seseorang yang sudah di duga sebelumnya.
"Duduk." titahnya dengan nada suara yang masih dingin. Tatapan yang begitu intens memperhatikan setiap inci wajah Sabrina.
Sabrina yang terlihat nerves saat mata biru Gia menelisik memperhatikan setiap gerak geriknya.
"Ini, Miss Sabrina, Sir. Dia akan menjadi sekertaris pribadi Anda."
Masih menatap Sabrina begitu tajam. "Kau terlambat di hari pertamamu?"tembaknya yang seketika membuat Sabrina membulatkan matanya.
Bagaimana dia bisa tau?
Keringat dingin yang mulai membuat pola di keningnya pun tidak luput dari perhatian Gia. "M-Maaf, Sir."jawab Sabrina pasrah.
"Ini pertama dan terakhir kalinya saya dapati Anda terlambat. Esok, atau seterusnya saya tidak terima alasan apa pun." ucapannya yang begitu tajam membuat Sabrina kaku seketika. Namun ia tidak bisa berkelik apa pun karena ia sangat menyadari kesalahannya.
"Baik, Sir." ucapnya polos yang seketika tertunduk tidak berani menatap mata Gia yang masih intens memperhatikan gerak-geriknya.
"Kau boleh keluar," perintahnya sambil menatap kearah Vins. Vins yang seketika bangkit dari kursinya dan melangkah keluar. Sabrina yang tanpa sadar mengikuti langkah Vins terhenti ketika suara Gia kembali menusuk kupingnya.
"Anda mau kemana?"lanjutnya kembali menatap keara Sabrina.
"Bukankah tadi Anda menyuruh saya keluar?"tanya Sabrina yang semakin keki menghadapi CEO itu.
"Saya hanya memerintahkan, Mr.Vins keluar. Bukan Anda."
Vins yang seketika menutup tawanya dengan satu tangan kembali berlalu meninggalkan ruangan Gia. Sabrina yang hanya mampu menghela nafas panjang kembali melangkah menghampiri meja Gia dengan raut wajah pasrah.
Gia yang saat itu tersenyum licik, menyerahkan satu buah tab berwarna putih kehadapan Sabrina. Lalu mengambil beberapa berkas yang terletak di atas mejanya. "Setiap hari Anda harus bacakan dengan detail schedul saya yang ada di dalamnya. Semua sudah di atur oleh Mr. Daniel,"
Sabrina yang menangguk." Baik, Sir."
"Dan berkas itu, saya mau Anda rekap sesuai tanggal, bulan, dan tahunnya. Format sudah ada di komputer Anda,"terangnya. "Dan satu lagi. Saya tidak ingin Anda bacakan schedul saya jam delapan, jam sembilan atau jam sepuluh. Karena saya selalu datang sebelum pukul tujuh. Paham," tegasnya sekali lagi
Sempat-sempatnya dia menyelipkan sindiran untukku
Hati Sabrina seperti terkena senapan bertubi-tubi pagi ini. Dengan langkah berat Sabrina keluar dari ruangan Gia. Moodnya yang sektika berubah jadi malas-malasan.
Ayo semangat Sabrina. Ini pilihanmu.
Sabrina yang berusaha menyemangati dirinya sendiri, kemudian menghampiri meja kerjanya yang sudah jelas terpampang namanya di sana 'Sabrina Dwyn as Secretary'
Saat sedang serius menyusun report yang di minta Gia. Ponselnya pun berbunyi menandakan pesan singkat yang masuk.
Diusapnya layar ponsel, terlihat no yang tidak dia kenal terpampang di layar ponselnya.
Selamat pagi, Miss. Siang ini saya boleh mengajakmu lunch?
To Be continue.....
Hai readers jika cerita ini menurut kalian bagus, jangan lupa votenya ya... terimakasih