
Suara petir saat itu menghujani kota brisbane dengan begitu antusias. Sabrina yang masih di dalam apartmentnya mulai mempersiapkan diri untuk pergi kekantor lagi. Hari ini, adalah hari penentuan dia apakah akan lanjut bekerja di G'LA atau tidak.
Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan berjalan melewati Shean yang sedari tadi masih duduk di depan televisi, lengkap dengan selimut yang membalut tubuhnya.
" Kerja?" tanya Shean, sembari menatap intens kearah Sabrina. Sabrina hanya menjawabnya dengan anggukan perlahan. " Apa kau sudah lebih baik?" lanjutnya.
" Ya."
Mobilnya menerobos mulus kejalan besar, dibawah rintikan hujan yang begitu deras. Awan pun masih terlihat gelap walau sekarang sudah menujukan pukul 06.15 AEST. Terlihat banyak pejalan kaki yang masih berteduh di
depan pertokoan, sembari berharap hujan cepat mereda.
Sesampainya ia di basemant GL'A Company, dengan cepat ia meraih tas dan laptop yang berada di sebelahnya. Berjalan menyusuri setiap sudut parkiran hingga sampai di depan lobby kantor. Memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.
Apa aku akan terus berada di sini? atau malah ini hari terakhirku.
Batinnya, sambil berusaha mengukir senyum di wajahnya. Kakiknya yang jenjang mulai melewati meja receptionist, memasuki lift menuju ruangan HRD.
Sesampainya dilantai 8 ia pun menunggu dengan sabar Mr. Vins yang sepertinya belum berada diruangannya.
Gia yang baru saja memarkirkan mobilnya di depan Lobby, berjalan cepat kearah lift. Tanpa memperdulikan beberapa orang yang menyapanya. Dengan kacamata hitam yang masih melekat di wajahnya ia berjalan menaiki lift menuju lantai 20.
Saat keluar dari lift, matanya langsung tertuju pada meja Sabrina yang masih terlihat kosong. Ia pun kembali mengurangi intonasi langkahnya agar sedikit lebih lambat. Melihat dengan seksama sekeliling ruangan namun
tidak terlihat sosok Sabrina di lantai itu.
Tepat di depan meja Sabrina ia berhenti sejenak. Dengan cepat ia mengayunkan pergelangannya melihat jam sudah menunjukan pukul 7.50 AEST. Dengan mendengus kesal ia mengambil ponselnya di saku jas.
" Dimana?" tanyanya dengan nada sedikit dingin.
" Selamat siang, Sir. Saya sedang berada di lantai 8 menunggu Mr. Vins, Sir." jelasnya dengan lembut
" Untuk apa? Apa kau mau membuatku menunggu lebih lama lagi hari ini."
ketusnya, cukup membuat Sabrina terperanjat dari kursinya.
" Ba-baik,Sir." jawabnya gugup.
Saat akan meninggalkan lantai 8 Mr. Vins muncul di hadapannya dan hampir bertubrukan. " Miss, ada apa? apa anda sedang mencariku?" tanya Mr. Vins sembari membenarkan posisi dasinya.
" I-iya, Sir. Saya ingin menanyakan kelanjutan kontrak kerja saya." sahutnya dengan lembut. " Tetapi, saya sekarang harus buru-buru kembali ke meja, Sir . Mr. Gia mencari saya." lanjutnya.
" Baik, nanti saya akan bicarakan ini pada Mr. Gia, saya akan menghubungi anda segera. Sekarang kembalilah dulu." ucapannya hanya di jawab anggukan lembut dari Sabrina yang langsung buru-buru memasuki lift yang
terbuka.
Ia pun berjalan terengah-engah menuju mejanya, merogoh i-pad yang berada didalam tasnya kemudian meletakan bawaanya di atas meja. Berjalan kembali menuju ruangan Gia. Suara bass khasnya pun memerintahkannya masuk. Perlahan Sabrina membuka pintu itu, matanya tidak berani menatap Gia yang juga menatapnya dengan tatapan tajam.
" Ma-maaf, Sir. sudah membuat anda menunggu." suara lirih itu pun lolos darinya.
Ia terus menatap tajam kearah Sabrina yang berdiri tepat di hadapannya dengan wajah yang tertunduk. Gia pun menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan tangan tepat di depan dadanya. " Duduk." perintahnya.
Sabrina hanya menuruti permintaannya dan menggeser kursi di hadapannya. " Apa kau baik-baik saja?" tanya Gia menurunkan intonasi suaranya.
Tatapan Sabrina yang kembali tenang mendengar pertanyaan itu, hanya bisa menganggukan kepalanya sembari mengukir senyum tipis di wajahnya.
" Lalu untuk apa kau bertemu Vins pagi-pagi sekali?" tanyanya sedikit mengintrogasi.
" Bukankan hari ini, masa Trainee saya berakhir?" jawabnya dengan sedikit pelan. Terlihat wajahnya yang nyaris tidak menampakan expresi apa pun.
Dengan lirikan cepat Gia melihat kalender di hadapannya. " Ya, mungkin saya yang lupa." dengan sedikit tarikan nafas, dan kembali menatap Sabrina
dengan intens. " Apa kau masih berminat bekerja denganku?" tanyanya
kembali. Memastikan kalau apa yang ia pikirkan saat itu benar.
" Saya ingin bekerja lebih lama lagi, Sir. " lirihnya sambil menundukan pandangnnya. " Itu pun jika saya masih di perlukan, Sir. "
" Apa ini artinya Saya akan menjadi karyawan tetap perusahan ini, Sir ." Gia yang hanya membalasnya dengan anggukan tipis membuat Sabrina kembali bersemangat.
Tanpa membuat Sabrina larut dengan kebahagiannya, Ia langsung menyuruh Sabrina untuk mengambil beberapa berkas dalam kabinet proyek yang terletak tidak jauh dari mejanya. "Tolong kamu follow up pekerjaan dari
kontraktor kita proyek mana aja yang masih terkendala." ucapnya sambil menandatangani kertas yang ada di hadapannya. " Setela itu susun reportnya dan kirim ke email saya." lanjutnya
Sabrina yang hanya mendengarkan dan mengiyakan permintaan Gia, kembali berjalan meninggalkan ruangannya masih dengan hati yang bahagia, walaupun hari ini schedule dia pasti sangat padat. karena harus menghubungi beberapa kepala kontraktor.
Sebelum memulai pekerjaannya, Sabrina berjalan menuju pantry dengan membawal Bowl berisi Slim Tea miliknya.
Sembari melihat pemandangan gedung tinggi yang di selimuti hujan dari baik jendela pantry. Sedikit demi sedikit Sabrina menyeruput Teanya yang begitu hangat.
Tanpa ia sadari seseorang berjalan menghampirinya dari belakang. Dengan menepuk lembut pundaknya, " How are you, Miss?" sapanya dengan suara lembut.
" Sir, I'm fine. Thanks. What happen?" tanya Sabrina dengan sedikit senyuman.
" Selamat ya, kau sudah resmi join di perusahan, ini. Ya, walaupun hidupmu akan di buat sedikit suram dengannya." candanya dengan tawa yang khas. " But, it's ok. Anda pasti bisa menaklukan bos itu." tawanya
lagi.
Secepat itu beritanya sampai ke telinganya? Apa karena dia sebenarnya sudah tau?
Batinnya sedikit menelisik. Tapi apa pun itu ia sangat bersyukur karena ini bukan hari terakhirnya.
" O-ok..." tawa kecil Sabrina yang terdengar begitu samar. Matanya kembali memperhatikan tubuh Daniel yang perlahan menjauh darinya.
" O,ya." Ucapnya seketika menghentikan langkahnya. " Apa waktu itu Gia menemuimu?" tanyanya dengan mimik wajah sedikit menyelidiki.
" A-ah, Mr. Gia tidak pernah mengunjungi saya, kecuali di rumah sakit." jawabnya dengan sedikit bingung.
Daniel yang hanya membulatkan bibirnya dan kembali meninggalkan Pantry.
Waktu sudah menunjukan jam makan siang, namun Sabrina masih sibuk dengan telepon di hadapannya sesuai arahan Gia, ia harus memastikan pekerjaan proyek dari GL'A tidak ada yang terhambat.
Tanpa ia sadari ponsel yang ada di sampingnya terus berdering, dengan panggilan yang sama. Gia yang berjalan pelan meninggalkan ruangnya memperhatikan Sabrina yang masih berjibaku dengan pekerjaan yang ia berikan. Langkah demi langkah ia menghampiri meja Sabrina melihatnya lebih dekat membuat degup jantungnya mulai berpacu lebih kencang.
Mata yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Sabrina dari belakang akhirnya tertuju intens pada ponsel Sabrina yang layarnya tertulis dengan jelas nama Kheil, sangat begitu jelas sehingga membuatnya sedikit
muak. Mood yang seketika berubah, membuat ia dengan cepat meraih ponsel Sabrina dan meletakan tepat di hadapannya. Sabrina yang terkejut, kembali menatap wajah Gia yang saat itu tepat berada di depannya.
" Kau sampai tidak menyadari ponselmu terus berdering." ucapnya sedikit ketus dan meninggalkan Sabrina yang hanya bisa mematung memperhatikan langkahnya memasuki lift.
Ia pun meraih ponselnya, yang masih dalam panggilan. " Ya." Jawabnya singkat.
" Darl, apa kita bisa lunch bareng hari ini?"
" Hem... ok."
" 5 menit lagi aku sampai di kantormu."
" Ok." singkatnya sembari menutup telepon dari Kheil.
Membereskan semua lembaran yang berserakan di atas mejanya, kemudian ia meraih tas yang berada di atas kabinet. Berjalan perlahan menuju lift, dengan pandangan yang datar. Entah apa yang sedang ia pikirkan, semenjak
melihat wajah Gia yang begitu angkuh padanya.
Kenapa dia? Apa aku melakukan kesalahan?
Gumamnya dalam hati sambil menekan tombol lt 1. Cermin kaca yang menampilkan tubuhnya yang begitu jenjang terlihat jelas di hadapannya. " Kusam sekali wajahmu, Bri." celetuknya sambil tersenyum kecut pada dirinya
sendiri.
Sabrina berjalan menyusuri lobby, melihat mobil BMW Silver sudah menunggunya. Seorang pria dengan setelan jas dan celana maroon, keluar menghampirinya. Ia pun membukakan pintu untuk Sabrina dengan begitu sopan.
Mata yang menelisik dari kejauhan hanya bisa mengerenyitkan kening. kemudian ikut meninggalkan area GL'A.