
Sean yang bergegas menuju kamarnya meraih jubah yang tergantung di kursi kerjanya, tidak lupa kunci mobil yang masih tergeletak di meja kerjanya. Berjalan terburu-buru meninggalkan apartment menuju basemant gedung apartment.
Beberapa menit kemudian ia melajukan kendaraanya menuju Newdegate St dengan kecepatan tinggi. Pikirannya hanya di penuhi dengan kekhawatirannya terhadap Sabrina. Jalanan yang saat itu sangat lenggang karena sedang turun hujan, sehingga memudahkan Sean untuk sampai di rumah sakit lebih cepat.
Sean yang memarkirkan mobilnya tepat di depan lobby rumah sakit, dan berlari tanpa mempedulikan hujan yang begitu deras tengah mengguyur tubuhnya. Wajah panik dan tetesan air mata yang masih membekas di wajah cantiknya, menandakan kekhawatiran yang begitu dalam.
Sean sangat mencintai sahabatnya melebihi dirinya sendiri. Ia pun berani pasang badan jika sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.
" Selamat malam,"
" Malam, Miss," sahut perawat yang berjaga di meja receptionist, sembari melontarkan senyum di sudut bibirnya.
" Saya ingin bertemu sahabat saya, bernama Sabrina Dwyn yang baru saja di rawat disini."
" Baik, Miss. saya cek terlebih dulu."
Saat Sean sedang menunggu receptionist memberitahukan kamar rawat Sabrina. Terdengar sayup-sayup suara seseorang.
" Saya mau menyelesaikan biaya administrasi atas Nama Sabrina Dwyne," ucap pria yang berdiri tepat di samping Sean.
" Kau, apa kau yang membawa sahabat saya kesini?" sambar Sean cepat. Pria itu sontak menatap sean dengan tajam.
" Siapa? Sabrina?" tanyanya dengan sedikit wajah kebingungan karena wanita itu tiba-tiba menyambarnya dengan pertanyaan. Sean yang hanya mengangguk mengiyakan.
" Bukan, Miss. Saya hanya di tugaskan atasan saya untuk menyelesaikan biaya administrasi atas nama Sabrina." lanjutnya menjelaskan.
" Kalau begitu,aku akan ikut denganmu menemui Sabrina," pinta Sean dengan nada sedikit memaksa. Daniel yang hanya menganggukan kepala mengiyakan permintaan Sean.
Setelah menerima pelunasan administrasi mereka meninggalkan lobby, menuju VVIP 2. Dalam perjalanan, Daniel dan Sean yang saling diam menciptakan keheningan yang tak berarti. Saat itu pikiran Sean hanya ada Sabrina.
Sesampainya di ambang pintu VVIP 2 Sean menarik nafas panjang. Melangkahkan kakinya memasuki
kamar rawat. Terlihat Sabrina yang terbaring di atas ranjang dengan seorang pria yang duduk di sisi ranjang.
Langkahnya semakin dekat kearah ranjang. " K-kau," sahut Sean dengan nada yang sedikit terkejut.
Gia yang hanya menatap polos kearah Sean, kembali memalingkan pandangannya kearah Sabrina. Daniel yang masih berdiri mematung di belakang Sean. " Gi, semua sudah beres."
" Thank's, kau boleh pergi."
" Gi, sebenarnya aku...-"
" Kita bahas besok, aku sedang tidak bisa berfikir," ucapnya. Pandangan yang tak lepas dari Sabrina membuat Daniel mengerti kalau Gia benar-benar tidak bisa di ganggu.
" Baiklah, jika kau tidak membutuhkan apa-apa lagi," ujarnya sembari meninggalkan ruangan Sabrina.
Tadinya Daniel hanya ingin memberitahukan tentang hasil penyidikan yang ia lakukan. Namun apa daya kondisi tidak memungkinkan. Ia pun harus mengurungkan niatnya sementara waktu. Dan memilih untuk kembali menuju apartmentnya.
Sean yang berdiri di sisi ranjang Sabrina sembari membelai lembut rambutnya. " Bri, sadarlah. kau membuat saraf otakku mati, bri. please bangunlah," tanpa terasa air matanya mengalir dan membasahi pipinya kembali.
Gia yang melihat pemandangan itu hanya menelan salivanya dalam-dalam. " Sepertinya, dia segalanya untukmu," celetuknya.
" Tentu saja, Dia segalanya untuk saya, Sir." Gia yang hanya membulatkan bibirnya. " Apa yang terjadi padanya, Sir," lanjut Sean sembari menatap Gia dengan begitu intens.
" Tubuhnya mengalami dehidrasi dan dia memiliki riwayat asam lambung yang cukup parah. Itu sebabnya tadi dia pingsan," jelasnya.
" Beberapa hari ini Sabrina memang terlihat begitu kelelahan. Saat pulang dari kantor pun dia lebih memilih tidur dari pada makan malam," Sean menjelaskan keadaan sahabatnya. " Apa kau menyiksanya dengan pekerjaan yang tiada henti?" tatapan Sean yang begitu tajam, membuat Gia sedikit terancam.
" A-ah.. saya hanya meminta tolong padanya untuk suatu pekerjaan. Saya juga tidak tau kalau akhirnya akan seperti ini."
" Ma-maafkan saya. Saya akan bertanggung jawab atas kondisinya," Gia yang berusaha menenangkan Sean, yang mulai sedikit memasang tatapan kebencian kepadanya.
Sean yang kembali menatap kearah Sabrina yang masih belum membuka matanya. Begitu pun Gia yang tidak melepaskan genggamannya dari tangan Sabrina. Sean yang melihat pemandangan itu mulai traveling dengan pikirannya sendiri.
Gia yang mulai terlihat letih, tidak sanggup menahan matanya yang mau tertutup. Sean yang tidak sengaja memperhatikannya. " Kalau Anda lelah, Anda bisa pulang," celetuknya tanpa memandang wajah Gia sedikit pun.
" Tidak, saya akan disini sampai dia pulih," jelasnya sembari menormalkan kondisinya. " Kalau kau mau pulang, silahkan. Saya yang akan menjaganya," lanjutnya.
Sean yang berfikir sejanak. " Sebenarnya saya kerja pagi besok."
" Pergilah, saya akan menjaganya."
" Apa aku bisa mempercayaimu?"
" Kau tidak yakin denganku?" Gia yang spontan membulatkan mata birunya dengan sempurna. Seolah memastikan pada Sean kalau ia bisa menjaga sahabatnya dengan baik.
" Hemm... baiklah. Akuakan menghubungi orang tua Sabrina setelah ini. Agar mereka juga tau keadaan putrinya," Gia yang hanya menaikan alisnya.
Sean yang kemudian berpamitan dengan sahabatnya dan bergegas meninggalkan rumah sakit.
Makasih ya, bri. Kau sudah membantuku sampai sejauh ini. Aku akan menjagamu sampai kau benar-benar pulih.
Batinnya sembari melemparkan senyum kearah wanita di hadapannya.
13.45 AEST Sabrina yang mulai mencoba membuka matanya dengan perlahan. Di sambut dengan lampu yang begitu menyorot tepat di wajahnya membuatnya sedikit merasakan nyeri di bagian kepala. Sabrina yang mencoba menutup matanya kembali dan membukanya lagi dengan perlahan.
" Aaargghh... "Gia yang seketika terbangun dari tidur lelapnya, dan merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.
Sabrina yang sedikit membungkukan tubuhnya melihat kearah pria itu. " Mati kau, Bri," sahutnya perlahan ketika menyadari Gia lah yang menjadi korban kebrutalan tangannya.
" Sir, M-maaf. Sa-saya pikir Anda siapa?"
Gia yang sembari menormalkan kondisinya, dan menahan nyeri yang begitu dahsyat di area bokongnya.
" Sabrinaaaaaa...." gerutunya gemas bercampur kesal, wajahnya yang terlihat memerah saat menahan sakit. Membuat Sabrina semakin panik.
Sabrina yang mengulurkan tangannya dan ingin membantunya berdiri, kemudian di tepis perlahan oleh Gia yang masih berusaha berdiri sendiri dengan bantuan meja di sampingnya.
Gia pun kembali mendudukan tubuhnya di atas kursi, sembari merenggangkan tubuhnya yang masih terasa nyeri. Sabrina pun semakin pucat melihat kondisi Gia. Ia khawatir setelah ini ia langsung di berikan surat cuti selamanya.
Gia yang sudah 100% sadar dari kantuknya, kembali menatap kearah Sabrina yang sudah sadarkan diri. " Bagaimana keadaanmu?"
" Sir, Ma-maafkan saya. Saya benar-benar tidak tau kalau itu Anda."
" Ah, It's ok. Kau sendiri, apa yang kau rasakan sekarang?" Gia kembali memastikan keadaan Sabrina.
" Masih sedikit pusing, Sir."
" Dalam keadaan pusing pun kau punya tenaga besar untuk mendorongku, ya," ujarnya dengan sedikit mengejek.
" Ma-maafkan saya," Sabrina yang pasrah hanya bisa menundukan wajahnya.
Sabrina yang kemudian terdiam, mencoba memikirkan kembali apa yang telah terjadi padanya. Sehingga ia bisa berada di rumah sakit ini. Namun ia tidak mengingat apapun, karena ingatannya hanya stak pada saat bertemu dengan Gia di Lobby.
" Apa yang sedang kau pikirkan," sahutnya ketika memperhatikan Sabrina yang terlihat kebingungan. Namun pertanyaan tidak di gubris Sabrina yang masih fokus pada pikirannya.
" Hai, apa kau dengar saya?" sembari melambaikan tangannya di depan wajah Sabrina.
Sabrina yang menyadari itu kembali menatap Gia. " Sir, apa yang terjadi pada saya?"
" Kau pingsan di parkiran mobil," ujarnya dengan nada yang sedikit dingin. Ia pun sedikit terkejut mendengar pernyataan Gia.
" Terimakasih, Sir. Anda sudah mengantarkan saya kesini," balas Sabrina dengan senyum tulus yang terpancar di wajahnya.
Gia pun berdiri untuk merapikan selimut Sabrina yang sedikit berantakan." Saya, akan menemui perawat dan memberitahukan kondisimu," ujarnya kemudian melangkah menjauhinya.
" Kau tidak perlu banyak tingkah, tetaplah pada posisimu," titahnya yang merupakan kewajiban bagi setiap rakyat GL'A Company.
Gia yang melangkahkan kakinya menuju ruang piket perawat. Saat itu kondisi rumah sakit sudah sepi pengunjung, karna rumah sakit yang terbilang ketat ini tidak segan-segan mengusir orang yang berkunjung melebihi jam yang sudah di tentukan.
Sesampainya di ruang piket perawat, Gia menjelaskan kondisi terkini Sabrina. " Baik, Sir. Saya akan mengecek kembali kondisi pasien."
Gia yang kembali ke ruangan bersama perawat yang saat itu sedang berjaga.
" tarik nafas, Miss," perintahnya sembari menempelkan stethoscope kearea dada Sabrina. " Oke, Miss." Perawat itu pun kembali mengetuk perut Sabrina dengan tanganya.
" Sir, kondisi pasien saat ini mulai berangsur baik. Besok pagi akan ada visit dari dr. Damien pukul delapan." imbuhnya.
" Miss, mulai di jaga pola makan dan istirahatnya lagi ya, karena tubuh Anda sangat lemah," perawat itu kembali melemparkan pandangannya kearah Sabrina dan menjelaskan dengan sabar.
Sabrina yang hanya mengangguk mengerti, dan Gia yang memperhatikan wajah polos Sabrina sembari melemparkan senyum tipis.
Perawat itu pun kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Sabrina masih diam menatap ambang pintu yang mulai tertutup kembali.
" Apa aku selemah itu? Perawat itu tidak sedang menakutiku kan?" gerutunya pelan.
" Kau? Lemah? Seharusnya perawat tadi memasang cctv di ruangan ini, dan melihat tenagamu saat mendorongku beberapa menit yang lalu," celetuknya sembari berusaha menyembunyikan tawanya.
" Apa Anda menyindirku, Sir? "
" Ah- tidak, itu perasaan mu saja yang terlalu sensitive," elaknya, yang membuat Sabrina memicingkan mata kearahnya.
" Sudahlah kau tidur lagi, besok dokter akan mengunjungimu pukul delapan. Pastikan kau tidak kekurangan istirahat."
" Anda mau kemana?" tanyanya ketika menyadari Gia berbalik arah menjauhi ranjang.
Gia yang menghentikan langkahnya. " Kenapa? Saya mau tidur, tapi tidak di situ," ketusnya sembari menunjuk kursi di samping ranjang.
Sabrina yang melihat gelagat Gia terkekeh dan membatin
Mungkin dia sedang trauma dengan tapak tangan dewa.
Tanpa terasa Gia pun memejamkan matanya dengan tubuh yang terbaring di atas sofa. Mata Sabrina yang memperhatikan setiap senti tubuhnya yang terjulur panjang. Sembari melemparkan senyum simpul penuh arti.
Terimakasih, Sir
Batinnya kemudian ikut memejamkan matanya kembali.