
Gia yang pagi itu terlihat tergesa-gesa langsung menuju ruangannya. Walaupun langkahnya yang cukup cepat tidak mengurangi kesempatan para karyawan memanjakan mata di pagi hari melihat penampilannya yang semakin hari semakin membuat mereka terpesona.
Outfit kemeja hitam dan celana panjang hitam di tambah balutan jas putih tulang yang ia kenakan saat itu cukup mempertegas statusnya sebagai pewaris GL'A Company. Tatapan yang dingin membuat semua karyawan yang di lewatinya menunduk dengan sempurna, tanpa terkecuali Sabrina Dwyne.
Sabrina yang langsung mengikuti langkah Gia menuju ruangannya, seketika menutup pintunya rapat. Dari dalam sudah terlihat Daniel yang duduk santai di depan mejanya.
Dengan nada yang sedikit gugup . "Selamat pagi, Sir," sapa Sabrina sesaat Gia kembali menatapnya begitu tajam.
" Bacakan schedule saya."
" B-Baik, Sir." sembari membuka tab yang di pegangnya. " Pukul sembilan meeting bersama, Erlando Group. Di lanjut makan siang bersama Mr. Gaston Aldero dan Mr. Andreas ( pengacara keluarga ). Setelah itu anda ada kunjungan ke Perth untuk pembukaan resort baru dari Agatha Group malam harinya," Gia yang seksama mendengarnya, kemudian mengalihkan pandangan kepada Daniel yang masih terfokus dengan Game di ponselnya.
" Ada apa?" ujarnya seketika menyadari kalau Gia sedang membidiknya. " Aku tidak mau menggantikanmu lagi, itu resort ke empat Agatha yang kau abaikan undangannya." seolah Daniel menyadari apa yang ingin di katakan
sahabatnya itu, namun masih dalam keadaan yang sama, matanya hanya mengarah ke ponselnya
" Yakin, kau tidak menginginkan bonusmu bulan ini bertambah?" bujuknya sembari membenarkan jam tangannya, dan membenamkan tubuhnya pada kursi coklat yang menjadi kebanggaan dirinya.
Mata Daniel yang kembali membidik Gia, sontak membuat Gia kembali tersenyum licik. "Kau mau menyogokku?" tanya Daniel keras.
" Saya tidak menyogokmu, saya hanya menawarkan sesuatu padamu. Ya, kalau kau tidak berkenan ya tidak masalah." ucapnya santai.
Sabrina yang hanya berdiri mematung melihat perdebatan dua orang di hadapannya hanya bisa membisu, Ia tidak akan keluar sebelum Gia memerintahkannya keluar. Ia tidak mau kejadian pertama kali masuk kerja terulang lagi.
Apa dia tidak tahu kalau kakiku sudah menciut berdiri di sini.
Batinnya yang masih melihat negosiasi mereka yang belum kelar. Daniel yang masih kekeh dengan pendiriannya membuatnya semakin geram.
20 menit berlalu, dan Gia masih belum memerintahkan Sabrina untuk meninggalkan ruangan. kakinya yang sudah terasa pegal membuatnya sedikit memutar pergelangan kakinya, yang tanpa sadar di perhatikan olehnya.
" Kau pegal," ucapan itu lolos begitu saja dari bibir Gia yang membuat Sabrina sontak mengerjipkan matanya karena kaget. Daniel yang ikut melirik kearahnya membuat Sabrina semakin salah tingkah.
Bisakah kalian berdua jangan menatapku seperti itu.
Batinnya dengan wajah yang terlihat masam. ia juga menutupi geroginya kemudian menggelengkan kepala. " T-tidak, Sir. Maaf."
" Keluarlah, saya tidak mau sekertaris saya pincang," ujarnya sedikit ketus, yang membuat mata Sabrina membulat sempurna.
Kau yang menyebabkan kakiku pincang, kau yang tidak terima.
Sambil berlalu meninggalkan ruangan Gia. Mata biru Gia memperhatikan langkahnya sampai menghilang dari ambang pintu.
" Kau selalu menghindar darinya," gerutu Daniel sesaat setelah Sabrina meninggalkan ruangan. " Kau pikir itu akan membuatnya menyerah?" lanjutnya.
Seketika ingatan Gia berputar ke waktu 10 tahun silam. Saat ia masih menjalin hubungan dengan Christy Agatha, yang kini mereka sama-sama menjadi pengusaha real estate di kota yang berbeda.
flash back on
Saat itu Gia sedang menjalani private study di Aldero State High school. Sebagai pewaris perusahaan Aldero, Gia melakukan serangkaian pembelajaran bisnis & managemen yang di dalamnya ada 5 orang pewaris muda yang ikut mengenyam pendidikan tersebut termasuk Gia Aldero & Christy Agatha.
Christy Agatha yang merupakan satu-satunya pewaris wanita saat itu, menjadi rebutan para pria lajang lainnya namun tidak termasuk Gia Aldero. Gia yang tidak begitu tertarik dengan urusan percintaan membuatnya tidak menggubris apapun yang saat itu di lakukan oleh Christy untuk menarik simpatinya.
Namun seiring berjalannya waktu, Christy mampu meluluhkan hati seorang Gia Aldero dan menjadi satu-satunya wanita yang menjadi begitu special buatnya.
Singkat cerita, setelah lulus study mereka saling berpisah karena Gia yang memilih melanjutkan kuliah di oxford university. Membuat mereka harus menjalin hubungan jarak jauh, dengan Christy yang berpindah kota ke Perth.
Satu tahun, Dua tahun berlalu hubungan mereka masih sangat baik. Tepat tanggal 13 November 2005 Gia memutuskan untuk mengunjungi Christy di Perth karena kerinduannya yang sudah sangat memuncak dengan wanita itu, di tambah setiap hari ia selalu merengek meminta agar Gia mengunjunginya.
Saat itu Gia tidak memberitahukan kedatangannya pada Christy karena ingin membuat kejutan untuknya. Sesampainya di Perth Airport , Gia langsung melajukan mobil mewah yang sudah jauh hari dia sediakan untuk
menemaninya selama di Perth. Rasa bahagia yang tidak bisa dia pungkiri saat sampai di apartment Christy.
Berkali-kali Gia menekan bel apartment namun tak kunjung ada yang membukakan pintu. Menunggu
beberapa menit, kemudian Gia menekan kembali bel itu yang akhirnya terdengar langkah seseorang dari dalam apartment.
Senyum bahagia yang merekah terpancar dari wajah Gia saat itu. Namun tiba-tiba senyum itu memudar, seiring ia sadari seorang yang nyaris ia kenal ada di apartment itu.
Pria yang sontak sama-sama terkejut menatap Gia dengan tatapan yang tajam. " G-Gi,"
" Kau."
" Siapa, darl," suara wanita yang terdengar begitu jelas di antara mereka berdua. Semakin membuat Gia geram.
" CHRISTY AGATHA!" teriak Gia yang masih berdiri di ambang pintu. Sontak membuat wanita itu berlari, saat mengenali suara yang selama ini selalu menemaninya tiap saat walau hanya melalui jaringan telephone & skype.
Mata Christy membulat dengan sempurna saat ia menyadari siapa yang mengunjunginya saat itu. Dengan keadaan yang sama-sama masih menggunakan bathrobe . " G-Gi, A-aku bisa jelaskan," suara yang terdengar panik semakin membuat Gia paham, apa yang sedang terjadi di apartment itu.
" Kau, Kau," sambil bergantian menunjuk dua orang yang ada di hadapannya. " Terimakasih, kau sudah memberitahuku siapa wanita ini," sembari menunjuk kearah Christy yang saat itu masih dalam keadaan panik. Bola mata biru Gia yang seketika memerah menahan amarah yang begitu memuncak.
" Dan kau, Terimakasih. Sudah memberitahuku siapa orang yang selama ini saya anggap teman," nada suara yang terdengar bergetar dari bibir Gia, dan sikap Gia yang begitu dingin mencoba menutupi emosinya semakin membuat mereka tidak berkutik.
" Sayang, a-aku bisa jelaskan," ucap Christy sembari menarik lengan Gia yang seketika di tepis kasar olehnya.
Christy yang berlari ingin mengejar Gia, tertahan oleh tangan Jill yang langsung menahan pergelangan tangannya. Gia yang berjalan menyusuri koridor apartment dengan perasaan yang kecewa dan menghilang di balik lift.
Saat itu juga Gia kembali memerintahkan assistent Gaston untuk mempersiapkan private jet untuknya kembali ke london.
Flash back off
Gia yang meraih telepon di atas mejanya, kemudian menekan nomor sambungan ke Sabrina. yang tidak berapa lama di angkat olehnya.
" Batalkan schedul ke perth," belum sempat Sabrina menyapanya telepon itu kembali di tutup olehnya. Daniel yang mengerutkan keningnya menatap heran kearah sahabatnya itu.
Gia yang masa bodoh dengan apa yang di pikiran Daniel kembali menatap laptopnya dengan seksama. " Apa aku menggajimu hanya untuk mengawasiku disini?" ketusnya kesal. Daniel yang terkekeh mendengar ucapan sahabatnya bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan.
" Christy begitu mencintaimu, Sir," ejeknya dari balik pintu, sontak membuat Gia yang langsung melemparkan pulpen telak mengenai keningnya.
Auh, Sial sakit sekali.
Gerutunya pelan sembari membelai keningnya yang memerah. Sabrina yang melihat Daniel kesakitan, mencoba menghampirinya.
" Anda tidak apa-apa, Sir?" ujarnya lembut, Daniel yang tidak mengucapkan apa-apa hanya melambaikan tangannya kearah Sabrina dan pergi keruangannya. Sabrina yang hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka memilih kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sabrina yang masih sibuk berjibaku dengan berkas-berkas penting perusahaan yang harus di update di komputer, seketika memalingkan pandangannya saat seorang wanita memanggil namanya dengan jelas.
" Siang ini apa kau mau makan denganku, bri?" tanya Andrea, staff admin yang mejanya hanya terpisah oleh partisi.
Sabrina yang menanggapinya dengan senyum. " Boleh, kabari aku kalau sudah waktunya ya."
Waktu sudah menunjukan pukul 08.30 dering telepon mejanya kembali berbunyi. Dengan cepat Sabrina meraihnya.
" Siapkan ruang meeting." perintahnya lalu mematikan sambungan telepon. Lagi-lagi memotong ucapan Sabrina.
Dengan kasar Sabrina meletakan teleponnya, sehingga memancing beberapa karyawan untuk memperhatikannya. Dengan hela nafas panjang, ia menetralisir kekesalannya. Kemudian berjalan memasuki ruangan OB, untuk meminta tolong pada beberapa orang di sana agar bisa membantunya untuk menyiapkan ruang meeting untuk Gia.
Di dalam ruang meeting yang cukup besar itu, mampu menampung sekitar 50 orang di dalamnya, ruangan itu juga sudah di lengkapi toilet dan pantri bersih untuk meletakan coffee break.
" Miss, apa snack ini cukup?"tanya office girl yang sedang mempersiapkan coffee break.
" enaugh."
beberapa dari mereka juga meletakan mineral water dan note book beserta pulpen di masing-masing kursi. 15 menit mempersiapkan semuanya dan selesai. Membuat Sabrina kembali ke meja kerjanya.
Dering telepon
" Selamat pagi, Sabrina Dwyne di sini."
" Miss, team dari Erlando sudah menunggu di lobby."
" Baik terimakasih."
Sabrina yang langsung menuju lobby, menjemput team Erlando Group. Saat keluar dari lift karyawan langkahnya terhenti, sontak matanya langsung tertuju pada pria yang berdiri tegap diantara beberapa orang yang berdiri diantaranya.
Pria yang menyadri kehadirannya, kemudian menghampiri Sabrina yang masih mematung di depan lift. Langkah pria itu pun tidak luput dari pandangannya, hingga pria itu benar-benar mendekat kearah Sabrina.
" Sir," sapa Sabrina.
" Apa kau ingin menjemputku?" tanyanya dengan senyum yang tidak memudar dari wajah tampannya itu. Dengan anggukan lembut Sabrina mengarahkan Kheil menuju lift tamu, di ikuti team lainnya.
Mereka yang saling berbincang entah apa yang mereka obrolkan, namun Sabrina berusaha untuk tidak mengetahuinya. Sayup-sayup terdengar seorang dari mereka mengagumiGL'A company dan perusahaan-perusahaan yang berada di bawah naungannya.
" Kau kenapa?" ucapan itu lolos dari bibir Kheil yang menyadari Sabrina tidak bergeming sama sekali.
" Ah. T-tidak, Sir. Tidak apa-apa,"jawabnya sembari menampakan senyum tipis di sudut bibirnya.
" Ka-." ucapannya seketika terpotong ketika pintu lift mulai terbuka di lantai 20. Sabrina yang mempersilahkan mereka untuk keluar dan berjalan menuju ruang meeting.
Sepanjang langkah mereka, mata karyawan tidak lepas memandang pesona dari pewaris Erlando Group itu. Sayup-sayup terdengar.
" Saingannya Mr.Gi."
" Ternyata selain Mr. Gi ada juga yang tampan."
" Walaupun dia tampan, tetap Mr. Gi idaman wanita,"ucapan mereka sontak membuat Sabrina yang mendengarnya tertawa dan ingin muntah.
Kalian tidak tau saja, bos kalian yang seperti kulkas itu.
Batinnya yang mendadak kesal. Sesampainya di depan ruang meeting Sabrina mempersilahkan team Erlando untuk mengisi tempat, dan ia pun berpamitan untuk memanggil CEO nya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Gia Aldero.
Suara ketukan pintu
" Masuk."
Sabrina pun menarik nafas panjang dan membuka pintu ruangan Gia dengan perasaan yang campur aduk. Masih terlihat Gia yang duduk di kursinya sembari melihat lembar demi lembar kertas yang ada di hadapannya.
Jantungnya seketika berdegup kencang ketika bola mata biru Gia menatapnya dengan tajam. dengan langkah kecil Sabrina menghampiri mejanya dan menyerahkan beberapa berkas yang di butuhkan saat meeting. " Sir, team dari Erlando sudah berada di ruang meeting."
" Baik," ucapnya masih dengan nada suara yang dingin.
Seketika matanya memperhatikan penampilan Sabrina yang sedikit mengganggu pemandangannya saat itu. Gia meletakan berkas yang ada di tangannya dan berdiri mendekati Sabrina yang berada tidak jauh dari hadapannya.
" Kau habis berbuat apa?" Sinisnya sambil mengancingkan kembali kancing baju Sabrina yang terbuka di bagian dada. Sontak membuat mata Sabrina membulat sempurna.
Sial, apa dia berpikir aku habis melakukan perbuatan asusila di kantor.
Batinnya kesal, namun badannya terasa kaku ketika tangan Gia menyentuh kemejanya dengan lembut.
Flash back on
Sehabis menata coffee break, salah satu OB tidak sengaja menumpahkan bubuk coffee di bajunya. Tanpa pikir panjang Sabrina berlari menuju toilet dan membersihkan sisa serbuk kopi yang menempel tepat di bagian dadanya. Tanpa sadar ia lupa mengancingnya kembali.
Flash back Off
Sabrina yang semakin nerves, mendadak membuat sel-sel ototnya melemah. Di tambah aroma maskulin Gia yang tercium jelas menusuk indra penciumannya. Begitu pun Gia yang fokusnya sedikit terganggu dengan Aroma parfum yang di pakai Sabrina dan warna kulit lehernya yang begitu jelas terlihat.
" M-maaf, Sir. Tadi kemeja saya terkena tumpahan coffee, karena itu saya bersihkan terlebih dulu tadi," Sabrina berusaha menjelaskan agar CEO nya tidak menganggap ia habis melakukan tindakan asusila di pagi buta.
Rasa malu mulai terpancar di wajahnya yang seketika berubah menjadi merah. Gia yang masih menatapnya dingin menutupi gerogi yang saat itu menerjangnya. Dengan langkah santai Gia berjalan meninggalkan Sabrina yang masih berdiri mematung di samping mejanya.
Menyadari Sabrina tidak mengikutinya, membuat Gia membalikan badannya. " Mau sampai jam berapa kau berdiri disana."
Mendengar kata-kata itu membuat Sabrina tersadar dari lamunannya, dengan perasaan malu yang masih menguasi dirinya membuat ia terpaksa mengikuti langkah Gia dari belakang. Daniel yang ingin menuju keruang meeting juga ikut berjalan disamping Gia.
Sabrina yang masih memikirkan nasib dadanya yang terumbar beberapa menit membuatnya tidak fokus dalam meeting. Gia yang menyadari sekertarisnya itu sedang melamun.
" Aduh," gerutunya. Ketika pantofel Gia tepat mendarat diatas kakinya. Suara Sabrina yang cukup menyita beberapa orang di dekatnya.
"Are you oke, Miss?" bisik wanita yang duduk tepat di sebelahnya. Sabrina yang hanya memberikan senyuman membuat wanita itu berhenti bertanya.
Sabrina dan Daniel yang fokus memperhatikan persentasi Kheil tentang profit pendapatan yang akan di dapatkan jika perusahan GL'A dan Erlando bergabung. Namun tidak dengan Gia, Gia yang malah fokus ke sosok Kheil sendiri mencoba mengingat-ingat siapa pria yang ada di hadapannya.
Sontak ingatannya kembali ke tragedi Sabrina Dwyne yang ada di bandara, dan kembalinya sosok itu di kediamannya. Tepatnya saat kakeknya meninggal. Pria itu yang ia lihat sedang bersama Sabrina, nampak begitu akrab.
Apa mereka sudah lebih dulu saling kenal?
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja di otaknya. Sampai akhirnya meeting pun selesai, rekan-rekan dari Erlando Group meninggalkan ruangan meeting. Namun tidakdengan Kheil. Kheil yang menghampiri Gia dengan senyuman yang tidak pudar dari wajahnya.
" Sir, apa kabar?" sapanya.
Gia yang menatapnya dingin. " Baik," jawabnya tanpa membalas uluran tangannya. Kemudian meninggalkan Sabrina dan Kheil yang masih berdiri di luar ruang meeting.
Sabrina yang sudah mulai khatam dengan tingkah laku bosnya itu hanya mendengus kesal, dan meminta maaf kepada Kheil atas sikap Gia. Sabrina yang ikut mengantarkan Kheil beserta rekannya menuju lobby kantor.
Saat akan kembali menujulift karyawan, terlihat Gia sudah keluar dari lift executive miliknya. Masih dengan tatapan dinginnya Gia menghampiri Sabrina yang masih berdiri mematung di depan meja reception.
" Kalau ada yang mencari saya, bilang saya keluar."
" Baik, Sir." jawabnya singkat. Gia yang berlalu meninggalkan kantor dengan mobil andalannya dan di ikuti mobil pengawal di belakangnya.