
Rani dimasukkan kedalam ruang operasi, diikuti oleh sang Ibu dan Ayah. Ibunya masih menangis mengikuti Rani sudah dibawa.
"Dok! Saya ingin bicara sama putri saya sebentar dok." mohon ibunya sambil menahan dokter masuk ke ruangan operasi.
"Baik Bu, tapi harap cepat." minta dokter dan mempersilahkan. Dengan cepat ibunya mengusap rambut Rani dengan lembut dan tak lupa meneteskan air matanya.
"Ibu kenapa nangis?" tanya Rani.
"Kamu kuat ya nak. Jangan drop kalau di operasi nanti." pesan Ibunya to the point.
"Ibu tenang aja, Rani kan kuat." Rani menyemangati Ibunya, padahal dia yang mau operasi.
Mereka mengobrol sebentar. Dan Rani tiba-tiba teringat sesuatu dan langsung bertanya kepada sang Ibu.
"Bu, kemarin yang hubungin Ibu siapa? Kok bisa tau kalau Rani ada disini?" tanya Rani bingung.
"Itu, temen sekelas kamu kayaknya ya. Dia manggilnya Al gitu." jelas sang ibu. Rani hanya mengangguk, dia juga tau kalau pasti itu Alfino.
Setelah mengobrol selama lima menit, akhirnya Rani dimasukkan ke ruang operasi. Lagi-lagi tangis sang ibu pecah ketika pintu ditutup, dan lampu operasi sudah menyala.
"Mas! Anak kita kuat kan?" tanya Ibunya kurang yakin.
"Kamu ngomong apa sih? Dia pasti kuat!" yakin tuan Rian, mereka kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Menunggu operasi selesai.
***
Jam empat itu juga, inti Leo baru pulang dari kesibukan mereka, begitu juga Cinta, Jihan, dan Vina. Mereka baru selesai dari ekskul mereka masing-masing.
"Gue penasaran kok tadi Putri nggak dateng?" cetus Cinta tiba-tiba. "Loh! Jadi Putri nggak dateng tadi?" tanya Jihan balik.
"Iya, gue kira dia telat datang gitu, tapi nggak dateng rupanya." jelas Cinta. "Kemana kira-kira dia ya?" bingung Vina. Mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Sampai ke gerbang sekolah, langkah mereka berhenti. Vina sudah jengah melihat mereka terus-terusan, dia berniat balik badan mencari jalan belakang. Tapi belum lagi satu langkah, Reihan sudah memanggilnya.
"Woi!" panggil Reihan di depan. Vina hanya menarik napas sabar. Kemudian dia berbalik badan. "Apa?!" ketus Vina.
"Lo dari tadi kayaknya kesel terus liat gue?" bingung Reihan, tidak peduli dengan pemikiran temannya nanti. Masih terus menatap bingung Vina.
"Iya, kenapa!" jawab Vina lagi dengan ketus. Reihan hanya menarik napas tak habis pikir. "Serah Lo, capek gue." pasrah Reihan, kemudian berbalik badan. "Yok pulang." ajak Reihan.
"Yaudah sana pulang! Ganggu aja!" bisik Vina lagi dengan nada ketus. Kemudian dia pulang dengan menaiki angkot. Mereka pulang ke rumah masing-masing, berbeda dengan Alfino.
"Al, nanti kita ngumpul ya." ajak Revan tak berapa lama. "Gue sibuk!" jawabnya datar.
"Kenapa?" tanya Revan lagi.
"Hmmm." jawabnya Alfino. Mereka kebingungan maksud jawabannya. Tapi mereka tidak memikirkannya lagi. Mereka langsung pulang ke rumah, tidak jadi kumpul.
***
Alfino datang ke rumah sakit, ternyata itu alasannya. Dia menemui ibu Rani yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Tante kenapa?" tanya Alfino setelah sampai di dekat ibu Rani. Diana menghapus air matanya, dan beranjak berdiri.
"Rani, dia operasi." jelas Ibunya, masih sambil menahan tangis.
Sedangkan Alfino hanya memasang wajah datar mendengar kabar itu. "Rani operasi?" tanyanya dalam hati. Kemudian mereka mengobrol sebentar.
.
.
.
"Emangnya Rani sakit apa?" tanya Alfino to the point. Diana masih berusaha fokus untuk tidak menangis. Dan berusaha untuk menjawab pertanyaan Alfino.
"Rani, dia...-" omongan Diana terpotong, dia masih berusaha menahan tangisnya sekuat tenaga. Dia pun berusaha berbicara lagi.
"Dia, sakit jantung. Tadi baru dioperasi." jelas Ibunya. Alfino yang mendengar antara khawatir dan tidak peduli. Siapa dia? Kenapa Alfino menghawatirkan Rani? Pikirnya begitu.
Mereka kembali diam, dan menunggu operasi selesai.
***
"Bosan banget gue." Vina berusaha menghilangkan rasa bosannya. Tapi tetap saja bosan. "Kan kalau ada Putri gue bisa bahas tentang di Lady sialan itu!" kesalnya. Hari ini Lady terbebas dari Rani.
"Aaa!! Leo!!" teriak kumpulan cewek yang sedang maraton di taman.
Vina dengan rasa penasarannya melihat dari jauh, mereka sedang mengerubuni siapa? Ternyata itu anggota inti Leo. Mereka mengunjungi taman ini dan membuat cewek-cewek pada salting.
"Ck! Kenapa mereka lagi sih!" kesal Vina, selalu saja diganggu. Dia mau pergi dari sana, tapi sudah kadung anggota inti sudah mendekat dan memanggil namanya.
"Vin!" teriak Zaky, yang kebetulan ikut bersama mereka. "Apa?!" tanyanya ketus, hari ini sudah tiga kali dia bertemu mereka.
"Cuma nyapa aja marah!" sewot Revan yang ikut bersama mereka. "Kenapa?!" tanya Vina lagi dengan nada datar.
"Ya terserah kita kali mau jalan-jalan dimana! Ini taman juga bukan punya Lo!" kesal Reihan, kemudian dia mengomel.
"Ya kalau Lo nggak suka Lo beli aja satu taman ini buat Lo puterin terus!" balas Vina, dia tidak senang sekarang.
"Loh! Kok Lo yang marah!" sambung Reihan setelah itu. "Terserah gue lah! Mulut mulut gue! Gue mau ngomong apa pun terserah gue!" teriak Vina yang didengar oleh sekumpulan cewek. Kebetulan disana ada Lady, jadi dia langsung menghampiri.
"Eh, enak banget ya Lo Vin. Langsung empat cowok aja yang Lo embat!" sindir Lady, berusaha memanas-manasi Vina untuk marah.
"Lo aja deh! Kan Lo gatal, semua cowok Lo deketin!" balasnya tak kalah pedas. "Jaga mulut Lo ya! Lo nggak tau gua siapa?" ancam Lady dengan suara agak meninggi.
"Nggak! Makanya gue berani! Kalau Lo cuman manfaatin derajat orang tua Lo aja! Pengecut banget Lo!" sindir Vina lagi, kali ini tidak ada ampun.
Plak!!
Lady melayangkan tamparan ke pipi kana Vina, suaranya terdengar begitu nyaring.
"Kalau Lo ngomong nggak usah jelek-jelekin gue dan keluarga gue!" bentaknya.
Vina hanya diam, tapi dia tidak menangis. Untuk apa dia menangisi perlakuan Lady padanya.
Kemudian Vina melepaskan tangannya dari pipi kanannya. Dan menatap dingin Lady, kali ini dia sudah dalam mode serius.
Plak!!
Tamparan dilayangkan Vina begitu saja di pipi kiri Lady, kali ini dia kali lebih kuat dari tamparan Lady.
"Kenapa? Mau nangis? Mau ngadu ke bokap Lo, mau masukin gue ke penjara?" pertanyaan beruntun Vina lontarkan. Lady masih diam.
"Dasar anak sialan Lo! Nggak tau diri!" makinya, Lady sangat marah sekarang. "Lo yang anak sialan! Nggak tau malu!" balas Vina tak mau kalah.
Reihan dan teman-temannya mendengarkan perdebatan mereka, tidak tahan. Akhirnya Reihan menarik tangan Vina untuk menjauh dari sana.
"Ikut gue!" perintah Reihan tidak mau dibantah. "Nggak!" tolak Vina juga tidak ingin dibantah. "Ikut gue atau gue bentak Lo disini!" ancamnya. Vina hanya diam, dan terus ditarik oleh Reihan.
Mereka berhenti di sebuah pohon besar, dan berdiri di sana. Reihan menatap tajam Vina yang hanya menunduk.
"Maksud Lo apa tadi?" tanya Reihan mencoba memelankan suaranya. "Yang Lo liat?" tanya Vina balik, kali ini dia sudah mengangkat kepalanya.
"Lo nggak mikir gitu?" tanya Reihan lagi tak habis pikir. "Emang apa yang mau gue pikirin? Nanti di bully sama dia, nggak akan." jawab Vina.
"Lagian kenapa Lo peduli sama gue. Lo bukan siapa-siapa gue kan?" lanjutnya. Emang benar apa yang dibilang Vina, Reihan itu bukan siapa-siapanya, jadi kenapa dia yang harus sewot.
"Iya! Tapi bisa nggak Lo nggak usah berlebihan kayak tadi?" tanya Reihan mencoba memperingati.
"Ya tergantung, kalau itu emang maunya dia. Ya mau gimana lagi." balasnya acuh tak acuh. Kemudian memegang bekas tamparan Lady tadi.
"Pipi Lo merah." kasih tau Reihan, dia juga memperhatikan. "Iya gue tau. Nanti gue obatin." jawab Vina. Kemudian dia berlaku dari sana.
"Lo mau kemana?" tanya Reihan lagi, dia mau menyusul tapi teman-temannya masih disana. "Mau pulang! Jangan sampek gue ngeliat Lo lagi untuk ke empat kalinya!" ancam Vina, kemudian dia pulang.
Reihan melihat tubuh Vina sudah menghilang di balik tumbuhan, kemudian menyusul ke arah temannya. "Kita pulang aja." suruh Reihan, dan mereka langsung pulang.
Suasana hati mereka sudah tidak enak. Jadi mereka pulang saja. Tapi, mereka bertiga sudah mengarah ke motor masing-masing, Raihan masih berada di tempat dimana Lady berada.
"Kamu belum pulang, Rei?" tanya Lady sok perhatian. Kemudian Reihan menatap Lady dengan wajah datar dan serius.
"Kalau sampek gue liat Lo nampar Vina lagi, awas aja Lo!" bisiknya dengan nada mengancam. Lady hanya terdiam dan tercengang. Tapi dia berusaha mengontrol dirinya.
Mereka semua kemudian memutuskan untuk pulang, hari juga sudah mau malam.