
Akhirnya jam pelajaran di mulai seperti biasa. Putri juga sedang mengerjakan tugas yang di berikan dari guru. Semua murid sedang sibuk dengan kerjaannya masing-masing.
Tiba-tiba, ada orang yang berbisik di belakang Putri. "Shhh! Lo benci Lady juga?" tanya orang itu yang tak lain adalah Cinta, mereka sekelas. "Iya." jawab Putri singkat kemudian kembali mengerjakan tugasnya.
"Gue juga loh, gimana kalau kita jatuhin dia aja." tanya Cinta mencoba menarik perhatian Putri. Putri yang sepertinya tertarik dengan ajakan Cinta memilih keluar dari kelas sambil membawa Cinta.
"Ayo." ajaknya singkat. Cinta hanya ikut saja tanpa perlawanan. Sesampainya di taman belakang sekolah, mereka berbicara.
"Emangnya Lo benci banget sama dia?" tanya Putri meyakinkan. "Ya iyalah! Gara-gara dia luka di lutut gue nggak akan bisa hilang lagi!" jelasnya sambil menunjuk lututnya.
"Tapi bukannya lutut Lo luka karena jatuh?" tanya Putri lagi memastikan. "Iya. Karena dia lutut gue jadi luka dan ditambah lagi sama lima orang cowok tadi." jelasnya lagi.
Tiba-tiba Putri mengalihkan pembicaraannya kepada lima orang cowok itu. "Eh! Siapa sih sebenernya mereka berlima?" tanya Putri penasaran. Wajah Cinta tampak terkejut begitu mendengar pertanyaan itu.
"Apa? Lo nggak tau? Mereka itu adalah geng motor paling terkenal di sekolah ini! Mereka sangat ditakuti, Anggota mereka aja ada banyak!" jelas Cinta dengan gregetan.
"Banyak? Orang cuma lima kok dibilang banyak!" gerutu Putri tidak percaya dengan Cinta. "Iya banyak lah! Mereka berlima itu anggota inti, anggota ada banyak! Ratusan mungkin!" jelasnya panjang lebar.
"Apa?!" teriak Putri tidak percaya dengan perkataan Cinta barusan. "Yang bener Lo!" tanyanya lagi memastikan. Sebagai jawaban, Cinta hanya mengangguk.
"Jadi sekarang kita ceritanya mau balas dendam ini?" tanya Cinta lagi kembali ke pembahasan awal. "Iya, kita butuh beberapa orang lagi. Kita masih belum sekuat dia." jelas Putri sambil memasang wajah serius.
"Kita butuh orang yang pandai ilmu IT untuk ngeretas data-datanya untuk dijadikan ancaman." lanjutnya lagi. Cinta hanya terdiam mendengar perencanaan rinci dari Putri.
"Wah, Lo rinci banget ya jelasin semua rencananya." ujar Cinta sambil geleng-geleng kepala. "Untuk selama ini kita nggak akan melakukan pergerakan apapun sampai mendapat orang-orang yang kita perlukan." lanjutnya.
Mereka hening sejenak. "Eh, Lo ada nggak kenal sama orang-orang yang benci sama Lady yang punya keahlian khusus?" tanya Putri. "Ada, nanti gue cari. Salah satunya ya yang tadi nolongin gue." jelas Cinta.
"Dia! Cari kelasnya dimana dan apa keahliannya." perintah Putri entah kenapa dia memerintah yang langsung dilakukan oleh Cinta. Dia berlari mencari kelas dimana gadis tadi yang tak lain Jihan.
Tok Tok
Cinta sudah didepan pintu kelas dimana Jihan berada. Kemudian dia setengah masuk ke dalam kelas. "Ada apa ya?" tanya guru yang lagi mengajar. "Saya mau manggil Jihan, Bu." jawabnya.
"Untuk apa ya? Siapa yang nyuruh?" tanya beruntun dari guru yang sedang mengajar. "Itu Bu, nggak tau untuk apa. Tapi dipanggil sama guru yang ngajar TIK." jawab asal Cinta yang dipercaya oleh gurunya. Setelahnya menyuruh Jihan keluar.
"Lo ngapain nyuruh gue keluar sih?" tanya Jihan kesal karena dia diganggu saat belajar. "Lo nggak denger tadi gue bilang apa?" tanya Cinta balik. "Lo nggak usah bohong ya! Lo kan yang sengaja manggil gue? Lo pikir gue bisa ketipu?" jelas Jihan, dia adalah murid yang pintar.
"Iya iya, gue yang minta. Lo sini dulu, ada orang yang mau ketemu sama Lo!" ajaknya tanpa persetujuan dari Jihan
***
Putri lagi duduk di kursi taman belakang sekolah. Menatap bunga-bunga yang berwarna warni. Suasana hatinya saat ini lagi tenang. Sampai saat dia terganggu karena dua gadis itu datang.
"Put! Ini si Jihan udah dateng!!" teriak Cinta. "Ish! Lo ngapain teriak sih? Ribut tau nggak!" omel Jihan melepaskan genggaman tangan Cinta. Putri yang mendengar keributan ini langsung beranjak dari kursinya menuju kedua gadis ribut itu.
"Ribut banget sih?" omelnya lagi. "Ini! Gue udah bawa orang yang pandai ilmu IT nih. Sekarang kita bisa lengkap." jelas Cinta sambil menunjuk Jihan. Mereka saling tatap, dan kemudian Putri tersenyum ramah kepadanya.
"Eh! Lo kan yang tadi pagi ya?" tanya Jihan melihat Putri. "Hmmm." jawab Putri singkat. "Jadi Lo punya dendam sama Lady?" tanya Putri to the point. "Ada sih, dia pernah buat adek gue malu semalu-malunya." jelas Jihan, seketika raut wajahnya berubah.
"Jadi? Gimana rencananya?" tanya Jihan. "Lo kan bisa ngeretas data-data kan? Lo bisa gunain itu untuk cari dan retas semua data-data Lady sampai keluarganya." jelas Putri.
"Gimana kalau data-data dia sama keluarganya pengamanannya ketat?" tanya Jihan lagi. "Nggak! Gue pastiin data itu nggak ketat pengamanannya. Mereka harus terlihat seperti biasa-biasa aja." jelas Putri dengan yakin.
Hening sejenak diantara mereka bertiga. Hingga akhirnya Cinta membuka mulut. "Kayaknya kalau cuma bertiga masih belum cukup. Kita perlu banyak anggota untuk bisa menjatuhkan Lady." saran Cinta.
"Iya juga sih, kita tunda ini dulu aja. Kita harus cari anggota dulu." putus Putri yang diangguki oleh keduanya. Kemudian mereka kembali ke kelas masing-masing.
.
.
.
Setelah sampai ke kelas, Putri langsung duduk di kursinya. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Lady juga sedang duduk di kursinya, dari tadi dia sudah kembali.
Plak!!!
Lady menggebrak meja Putri lagi, melototi nya. "Maksud Lo apa ninggalin kelas hah!" bentak Lady yang membuat satu kelas langsung hening. Putri hanya menunduk tanpa memberikan perlawanan.
"Kalau ditanya orang itu jawab!" bentaknya lagi. Tapi Putri masih tetap diam. "Jawab!!" banyak Lady lagi tidak sabaran. Putri langsung berdiri dan menatap tajam wajah si ketua kelas itu. Kemudian dia mencekiknya sampai Lady hampir kehabisan napas.
"Uhuk...Uhuk... Lo mau bunuh gue ya?!" bentaknya lagi. Putri kemudian tersenyum jahat dan terus menatap Lady dengan aura yang sangat mencekam.
"Iya, kenapa? Lo nggak mau?" tantang Putri. "Gue bisa laporin Lo ke polisi ya, Putri!" ancam Lady serius. "Silahkan! Kalau Lo pengen hidup lebih menderita lagi." balas Putri, setelah itu dia pergi dari kelas.
Lady tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia merasa dirinya seperti sedang dipermalukan. "Awas aja Lo Putri!" teriak Lady memenuhi ruangan kelas. Setelah itu ruangan kelas kembali ribut. Sementara Lady pergi entah kemana. Yang disusul oleh Alfino, Reihan dan satu orang temannya lagi keluar kelas, padahal masih jam pelajaran.
Putri kembali bergabung dengan Cinta dan Jihan. Mereka berkumpul di tempat yang sama seperti tempat mereka berkumpul tadi. Mereka kembali membahas tentang si Ketua Kelas.
"Eh! Lo tau nggak tadi si Putri nyekik Lady sampek hampir mau kehabisan napas loh!" adu Cinta pada Jihan. "Yang bener Lo, Put!" tanya Jihan memastikan. Putri hanya diam sebagai jawaban.
Ternyata Alfino dan dua orang temannya mendengar percakapan mereka. Reihan terlihat tidak nyaman di posisi seperti itu. "Bos, kenapa kita nguping mereka sih Bos?" tanya Reihan tidak nyaman.
"Lo bisa diem nggak?" peringatan dari Zaky, teman yang ikut dengan Alfino dan Reihan. "Iya! Tapi gue nggak nyaman! Tau nggak!" jawab Reihan sambil menggerutu.
"Kalau Lo nggak bisa diem, pergi sana." usir Alfino dengan nada datar dan dingin. "Iya! Gue cabut!" balas Reihan sambil menggerutu meninggalkan mereka. Hanya tersisa Alfino dan Zaky saja.
Putri sebenarnya sudah memperhatikan gerak-gerik aneh di balik tembok itu. "Kalian keluar! Kalau masih mau hidup!" ancam Putri menyuruh mereka keluar. Alfino dan Zaky terkejut dan mereka langsung keluar dari balik tembok. "Lo ngapain disini?" tanya Zaky basa-basi.
Putri hanya menatap sinis mereka. "Kalian nguping kan?" tanyanya to the point. "Eng, enggak kok! Siapa yang nguping?" elak Zaky sambil memasang wajah serius. "Gue nggak main-main ya!" ancam Putri, yang membuat nyali berbohong Zaky seketika menciut.
"Jawab!" bentak Putri Pelan. "I, Iya kita nguping. Maafin gue." Zaky mengakui kesalahannya dan merasa menyesal. "Kenapa kalian nguping pembicaraan kami?" tanya Jihan tiba-tiba.
"Itu, anu..." omongan Zaky terputus karena dia ditarik pergi oleh Alfino. "Lo nggak perlu nanya-nanya dia!" larang Alfino yang kemudian pergi. "Ck! Siapa juga yang kepo sama Lo!" ejek Cinta karena kesal.
Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan mereka lagi.