
"Tepuk tangan!" guru memberi perintah untuk semua murid agar bertepuk tangan. Hari ini sepertinya mereka sedang belajar IPA. Dan yang mendapatkan nilai plus hari ini adalah Putri.
Putri berumur 14 tahun, penampilannya layaknya seperti remaja-remaja lainnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda dengan yang lain.
Teng...Teng...Teng...
Bel istirahat telah berbunyi. Putri langsung keluar dari kelas, menuju kantin. Tak lama kemudian dia sampai ke kantin. "Mbok! Saya pesan mie ayamnya satu ya!" pesan Putri ingin makan mie ayam. Perutnya sudah sangat lapar.
Selama menunggu, Putri bermain ponsel dulu dan melihat situasi kantin. Dia kehilangan fokus ketika melihat salah satu murid di ujung pintu sana. Karena situasi tidak memungkinkan, dia kemudian pergi dari kantin.
"Eh! Ini mie ayamnya gimana?" tanya penjual mie ayam kebingungan melihat Putri berlari menjauhi warung. "Simpen aja dulu, Mbok! Nanti saya bayar!" ucap Putri sambil terengah-engah. Akhirnya dia sampai di kelas.
Dia kemudian duduk di kursinya dan mencoba untuk tenang. "Tenang Putri! Dia cuma orang, bukan hantu." Putri mencoba menghibur dirinya sendiri agar tidak takut lagi. Setelah tenang, barulah dia memainkan ponselnya lagi.
Belum selesai Putri membuka pola di ponselnya, seseorang telah menggebrak meja. Putri yang melihat itu spontan langsung berdiri, dia kembali takut. "Enak ya rasanya di banggain sama Bu Riri?" tanya orang itu sambil tersenyum jahat.
"Eng, enggak kok Lad." jawab Putri gelagapan. Ternyata yang ada di depannya itu namanya Lady, dia terkenal sebagai pembully yang kasar dan berani mempermalukan korbannya sampai dia keluar sekolah.
"Baguslah kalau gitu! Jangan sekali lagi gue liat Lo coba caper sama Bu Riri!" ancam gadis itu yang tidak lain adalah Lady. Putri hanya bisa mengangguk, setelah itu Lady pergi dari sana. Akhirnya Putri bisa menghela napas lega.
"Kalau gue diginiin terus bisa jadi apa gue?!" cetus Putri kesal sendiri. Dia merasa dirinya selalu lemah kalau sudah berhadapan dengan Lady. "Gue harus bisa lebih berani lain kali." lanjut cetus Putri untuk menghibur dirinya.
Putri tidak memiliki teman di sekolah barunya. Sejak pertama masuk, dia selalu sendiri. Banyak orang beranggapan kalau Putri itu pendiam dan introvert, padahal aslinya dia sangat gembira dan berisik. Hanya keadaan yang membuatnya jadi seperti ini.
Teng...Teng...Teng...
Tak terasa 15 menit terlewatkan begitu cepat. Semua murid di kelas Putri mulai masuk kembali. "Ck! Ngapain sih tuh anak duduk disana?! Ganggu pemandangan aja!" ejek salah satu murid yang masuk ke dalam kelas bersama satu temannya lagi.
Putri tak menanggapinya karena percuma saja. Jika Putri menanggapinya, mereka akan adu mulut. Dan ujung-ujungnya Putri yang tetap bersalah. Jadi dia pikir kenapa tidak mengalah saja dari pada nanti ujung-ujungnya dia juga disalahkan.
"Selamat pagi, anak-anak!" salam seorang guru yang masuk ke kelas. Dia adalah Bu Dinda, guru bahasa Indonesia mereka. Pelajaran berjalan seperti biasanya sampai bel pulang berbunyi.
Teng...Teng...Teng...
Seketika seluruh murid berhamburan keluar kelas seperti orang yang mengantre sembako. "Ck! Mau pulang kok kayak mau tawuran!" cetus Putri tidak peduli. Sambil menunggu lorong kosong, Putri membuka ponselnya.
"Gue penasaran, gimana sih caranya supaya nggak mudah di bully sama teman-teman." ucap Putri awalnya dia berniat tidak serius, tapi dia menemukan sebuah website yang berisi tentang hal yang dia cari.
"Gue buka nggak ya?" tanya Putri ragu-ragu. Dia berpikir sebentar, lalu menekan website itu. Putri membaca semua isi website dengan dengan wajah serius.
15 menit kemudian...
"Oh! Jadi gitu, yaudah besok gue coba deh. Kali aja bisa." ucap Putri sambil membereskan peralatan sekolahnya. Dia mendapatkan pengajaran baru. Lorong sudah sepi, sekarang waktunya dia untuk pulang.
Putri berjalan kaki menuju rumahnya. Terlihat ibunya sedang menunggu Putri di depan. "Eh putri ibu, gimana pembelajarannya?" tanya ibu Putri penasaran. "Baik kok, Bu. Berjalan lancar." jawab Putri sopan.
"Yaudah! Sini masuk. Nanti makanannya keburu dingin loh!" ajak ibu Putri sambil menarik lengan Putri .
"Iya, Bu. Putri mau ganti baju dulu. Udah gerah." kemudian Putri mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Putri tinggal di sebuah Mension 3 lantai. Ayahnya adalah seorang pebisnis sukses.
Setelah selesai, Putri menyusul Ibunya ke dapur. "Ibu masak apa? Kok wangi banget?" cetus Putri, dia langsung duduk menunggu masakan ibunya. "Ini, ibu masak telur goreng." jawab ibunya lembut. Mereka kemudian makan siang bersama.
***
Sedangkan disisi lain, seorang gadis cantik berponi dan mata yang lebar sedang bermain gitar di halaman belakang rumahnya. Namanya adalah Jihan. Melodi yang dibawakannya sangat merdu, bisa membuat orang-orang langsung mengantuk.
Tak lama, seorang wanita paruh baya datang dari balik-balik jemuran kain. "Ji! Lanjutin nih! Mama mau masak dulu buat makan siang!" suruh ibunya menjemurkan kain. "Iya Mah. Jihan dateng!" seru gadis itu yang meletakkan gitarnya berjalan menuju Mamanya.
"Nanti kalau udah selesai jemurnya, tarok aja di kamar mandi ya, Ji. Mama mau masak makan siang dulu." ingat mamanya sambil berjalan meninggalkan Jihan.
Bisa dibilang Jihan adalah anak yang rajin. Dia tidak pernah mencelah ataupun melawan orang tuanya. Dia mengerjakan semuanya tanpa rasa beban.
***
Akhirnya makan siang mereka selesai. Putri membereskan piring dan membawanya ke wastafel. Sedangkan ibunya masih makan dengan nikmat. Setelah selesai, Putri kembali ke meja makan.
"Bu, Ayah kapan ya pulangnya? Putri udah kangen." tanya Putri dengan nada agak manja. "Aduh! Anak Ibu yang cantik ini, Ayahmu baru pulang kalau nggak besok ya lusa. Kerjaannya banyak, jadi kamu tau lah gimana." jawab Ibunya sambil menjelaskan kondisi pekerjaan sang Ayah. Putri hanya mengangguk dan kembali memainkan ponselnya.
***
"Loh, Mah! Mama kenapa?" tanya Jihan kebingungan. Mamanya kaget dan melihat kebelakang. "Ini loh, Ji. Blender nya nggak mau nyala. Padahal cok-nya udah nyambung." keluar Mamanya dengan wajah kesal.
Jihan hanya tersenyum geli melihat tingkah sang Mama. "Udah, Mah. Biar Jihan aja yang masak. Mama istirahat aja." Jihan berusaha membantu Mamanya.
"Enggak usah, Ji. Mama masih bisa kok! Lagian tadi kamu kan udah jemur kain. Nggak capek?" tanya Mamanya sekaligus menolak bantuan Jihan. "Jihan?! Capek?! Mana ada sejarahnya Jihan capek!" sikap sombong Jihan mulai keluar.
"Udah-udah! Nggak jadi-jadi Mama masaknya ini. Mendingan kamu ke kamar aja, nanti kalau makanannya udah jadi baru Mama panggil." jelas Mamanya dan mendorong lembut Jihan menjauh dari dapur.
Jihan pun menunggu Mamanya selesai masak si meja makan, bukan di kamar. Sambil memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. "Siapa nih yang nelpon?" tanya Jihan sambil melihat nomornya. Nomor itu tidak dikenal.
"Mah, ini siapa yang nelpon?" tanya Jihan pada Mamanya. "Siapa? Nggak ada namanya?" balik Mama Jihan bertanya.
"Nggak ada, Mah. Cuma nomor doang." jelas Jihan sambil memperlihatkan ponselnya. Mamanya memperhatikan sebentar.
"Yaudah, nggak usah diangkat." suruh Mamanya yang kemudian lanjut memasak. "Tapi nanti penting, Mah?" lanjut Jihan meyakinkan. "Banyak kejadian kayak gitu, Ji. Nanti palingan dia nelpon ke nomor kamu pinjam uang." jelas Mamanya, Jihan mengangguk dan kembali duduk.
***
"Bu, kira-kira Ayah pulang kapan ya?" tanya Putri lagi memecah keheningan. "Ya, katanya sih secepatnya. Tapi nggak tau kapan." jelas Ibunya malas, Putri hanya mengangguk dan melanjutkan bermain ponsel.
"Udah ya, Ibu mau ke kamar dulu. Ngantuk, mau tidur." ujar Ibunya seraya berjalan menaiki anak tangga. Sebagai balasan, Putri hanya mengangguk. Setelah itu pun Putri juga ke kamarnya.
***
"Siapa sih sebenernya yang nelpon?" tanya Jihan penasaran di dalam hati. Dia pun langsung pergi ke kamarnya. "Eh! Mau kemana, nak?" tanya Mamanya. "Jihan mau ke kamar dulu, Mah." jawabnya cepat. "Yang cepat ya, bentar lagi masakannya siap." ingatkan Mamanya.
Jihan naik ke kamarnya yang ada di lantai tiga Mension itu dengan lift. Setelah sampai dia buru-buru masuk ke kamarnya. Dia langsung menuju komputernya yang berseberangan dengan pintu. Tanpa lama dia langsung duduk dan menyalakannya.
Jihan menyambungkan data dari ponselnya ke komputer. Inilah kelebihan Jihan, bahkan Mamanya sendiri saja tidak mengetahui ini. Jihan pintar dalam ilmu IT, dia sudah mempelajari ini sejak SD.
Dengan cepat Jihan mengetikkan sesuatu di komputernya dan melihat-lihat. "Oh, jadi dia orangnya. Iseng banget mau jahilin gue!" sinis Jihan, jika ada yang bermasalah dengannya dia tidak akan tinggal diam.
Kemudian dia kembali menelpon nomor tadi, tapi dengan niat mengerjai saja. Telepon diangkat.
"Halo?" sapa orang itu.
"Iya, kenapa nelpon saya ya?" tanya Jihan memulai pembicaraan.
"Ini, saya mau ngasih tau kalau Mama kamu kecelakaan." ucap orang itu.
Jihan yang mendengar itu hanya tersenyum dan balas bertanya.
"Benarkah? Dimana Mama saya sekarang?" tanya Jihan panik seolah memang benar terjadi seperti itu.
"Mama kamu ada di rumah sakit sekarang, dan pihak resepsionis sudah meminta biaya. Saya akan kirimkan alamatnya." jelas orang itu.
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa datang." jawab Jihan kemudian, balas berbohong.
"Ke, kenapa ya?" tanya orang itu bingung.
"Soalnya Mama saya sedang ada di rumah. Dan Mama saya juga nggak lagi kenapa-napa." jelas Jihan yang menekankan kata 'nggak kenapa-napa.'
Orang itu langsung terkejut dan memutuskan sambungan. "Rasain Lo kan! Mau banget nipu orang pakek cara kampungan. Udah basi kali!" cetus Jihan sambil mematikan komputer.
"Jihan!! Ayo makan!" teriak Mamanya dari bawah yang masih terdengar sayup-sayup. "Iya, Mah!" jawab Jihan juga dengan teriakkan. Kemudian dia turun dan menemui Mamanya di meja makan.
"Kamu habis ngapain, nak?" tanya Mamanya penasaran dengan apa yang dikerjakan sang putri. "Itu Mah, Jihan habis ngerjain orang jail yang nelpon tadi." jelas Jihan. "Masa dia bilang kalau Mama kecelakaan dan bilang kalau resepsionisnya udah ngasih cek yang harus dibayar." lanjutnya.
"Tuh kah, Mama bilang juga apa. Nggak mungkin dia baik." timpal Mamanya. "Yaudah, kita makan aja. Perut Mama juga udah laper dari tadi." ajak Mamanya yang disetujui Jihan. Dia juga sudah lapar.
Mereka makan siang dengan gembira. Walaupun di rumah itu hanya ada mereka berdua dan para pembantu, mereka terlihat bahagia. Mereka melanjutkan makan siang bersama.