
Putri kembali membuka ponsel, mencari berbagai informasi bagaimana caranya tidak dibully lagi oleh teman-temannya. Dia mencari ke seluruh website yang ada.
"Oh, jadi gini." seru Putri sambil menatap ponselnya. "Gue lain kali nggak boleh lemah di depannya. Gue harus berani ngelawan." lanjut Putri. Kali ini dia sangat bertekad ingin mengakhiri pembullyannya.
"Liat aja Lo Lady, gue nggak akan takut lagi sama Lo mulai besok dan sampai seterusnya!" tekad Putri, kemudian dia memutuskan untuk tidur siang.
***
"Yaudah Ji, nanti kalau kamu udah selesai makan diberesin ya. Mama mau ke kamar dulu." suruh Mamanya sambil berjalan ke anak tangga. "Iya Mah." jawab Jihan yang lagi bermain ponsel.
Setelah dia membereskan meja makan, Jihan langsung ke kamarnya. Dia mengantuk, jadi dia ingin tidur. Tapi, sebelum dia tidur dia kembali di hubungi oleh orang iseng tadi.
"Ck! Ini siapa lagi sih! Ganggu aja!" kesal Jihan, dia kemudian mengangkat telponnya. "Apa!" bentak Jihan to the point. Tapi tidak ada jawaban dari teleponnya. "Lo kalau cuma mau gangguin gue mendingan nggak usah ya!" putus Jihan, kemudian dia ingin mematikan teleponnya.
Tiba-tiba keluar suara dari dalam telepon. "Gue pastiin Lo nggak bakal hidup tenang!" Tut. Orang iseng itu menutup telepon. Jihan yang mendengar itu merasa tidak terima, tapi dia sangat mengantuk.
"Ah! Nanti malem aja deh gue urus dia! Gue ngantuk banget! Huah!" kemudian dia tertidur di atas ranjangnya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Putri terbangun karena dia sudah memasang alarm untuk bangun pada jam segitu. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya menuju ruang tamu.
"Hmmm, gue mau nonton apa ya?" keluh Putri, dia ingin menonton TV tapi dia bingung ingin nonton apa. Tapi setelah itu dia mencolokkan kabel agar TV bisa hidup.
Saat TV sudah menyala, Putri tidak langsung mengganti salurannya. Dia mendengarkan seorang pembawa berita. "Hati-hati terhadap penelepon iseng yang berujung minta uang." ucap pembawa berita itu. "Sudah banyak korban yang menderita akibat telepon iseng ini." lanjutnya.
Tapi Putri tidak peduli dengan apa yang dikatakan pembawa berita itu, dia pikir beritanya penting, dia langsung mengubah salurannya.
"Ck! Nggak ada acara yang bagus!" gerutu Putri. "Andai aja aku punya temen, pasti sekarang aku udah kesana." Putri merenungi sesuatu. Dia merasa menyesal karena tidak sempat mencari teman.
"Kalau aja gue nggak dibully sama si ketua kelas sialan itu, gue nggak akan kayak gini!" marah Putri pada Lady. Ya, Lady adalah ketua kelas di kelas yang Putri tempati. Putri masih kesal hingga tidak minat nonton TV lagi, dia memutuskan pergi ke dapur.
"Hmmm, enaknya gue masak apa ya?" Putri kebingungan ingin memasak apa. Putri gemar memasak dan untunglah dia pandai memasak. Jadi dia tidak kebingungan untuk memasak.
"Yaudah deh, gue masak cookies aja." putus Putri, kemudian dia mulai mengadon.
***
Jihan sudah terbangun dari tidur siangnya. Dia beranjak mengambil ponselnya. "Gua liat dulu deh orang itu. Mana tau dia berulah lagi." ujar serak Jihan menghampiri komputer. Dia menghidupkannya.
Jihan mulai meretas data-data orang iseng itu. "Berani-beraninya dia ngancam gue kayak gitu! Nggak punya takut ya?" kesal Jihan. Padahal dia tidak ada mengganggu orang iseng itu, tapi jika sudah dipancing pasti Jihan tidak akan diam.
***
Ting...
Masakan Putri sudah siap. Dia meletakkan cookies buatannya di atas meja makan. Kemudian dia menghampiri kamar Ibunya.
"Bu, Ibu udah bangun? Kalau udah bangun langsung turun ya. Putri masak cookies nih." ujar Putri sambil mengetok pintu kamar sang Ibu.
"Iya iya. Bentar lagi Ibu turun." jawab Ibunya setelahnya. Putri yang mendengar itu langsung turun dan kembali ke dapur. Dia memindahkan tempat cookies ke dalam stoples.
Tak lama Ibunya pun datang. Segera duduk berhadapan dengan Putri. "Wah! Ini kamu masak apa nak?" tanya Ibunya antusias. "Tadi Putri bosan, Bu. Jadi Putri buat cookies aja deh." jawabnya singkat. "Yaudah Bu, ayo makan!" ajar Putri, dan tak lama kemudian mereka makan cookies itu sampai habis tak tersisa.
"Wah, putri Ibu memang pintar banget masak yang beginian." puji sang Ibu. "Biasa aja kok Bu. Siapa dulu yang ngajarin." jawab Putri mencoba merendah. "Agak heran sih Ibu, kamu pandai masak yang beginian. Tapi giliran disuruh masak telur dadar, kamu nggak bisa." bingung Ibunya.
Putri hanya tersenyum mendengar keheranan Ibunya. Dia kemudian kembali memainkan ponselnya. "Bu, Ibu dulu pernah dibully nggak?" tanya Putri tiba-tiba. Ibunya sedikit bingung kenapa putrinya bertanya hal itu.
"Ke, kenapa kamu nanya begitu nak?" heran Ibunya. "Ibu pernah nggak?" ulang Putri sekali lagi. Sekarang dia ada dalam mode serius.
Ibunya sedikit ragu mengatakan yang sebenarnya. "Kenapa Ibu diem aja? Pasti pernah kan?" tanya Putri memastikan. "Enggak kok!" ujar sang Ibu menyalahkan pernyataan putrinya itu.
"Kalau enggak kenapa Ibu jawabnya lama banget?" tanya Putri sekali lagi yang membuatnya semakin penasaran. Melihat Ibunya hanya diam tak menanggapi, Putri pun menatap mata sang Ibu.
"Bu, jujur sama Putri. Ibu pernah dibully apa enggak?" tanya Putri sekali lagi, tapi sekarang dengan nada yang lebih lembut. Ibunya masih kelihatan ragu, tapi dia berusaha menjawab yang sebenarnya. Terlihat dari raut wajahnya yang tidak ingin menyembunyikan apapun kepada anak semata wayangnya itu.
"I, ibu..." jawab Ibunya terhenti. Dia masih ragu. "Ibu...pernah dibully." jawabnya singkat. Membuat wajah sang anak seketika berubah. Yang awalnya riang, menjadi wajah menyeramkan yang seperti ingin menerkam orang. Bahkan Ibunya sendiri saja takut.
"Siapa yang membully Ibu?" tanya Putri, kini dia sudah berubah. Nada suaranya sudah datar dan dingin, membuat Ibunya menjadi merinding. "Ibu?" tanya Putri sekali lagi. Yang membuat lamunan Ibunya buyar.
"Itu, Mamanya teman sekelas kamu." jelas Ibunya. "Banyak Bu kalau Mamanya teman sekelas Putri. Bisa lebih spesifik lagi nggak Bu?" protes Putri.
"Iya iya. Mamanya ketua kelas kamu. Kalau nggak salah namanya Lady kan?" jelas Ibunya lagi. Mendengar itu membuat wajah Putri seketika memerah, dia menggebrak meja makan. Lalu pergi dari sana.
"Eh, nak! Kamu mau kemana?" teriak Ibunya. Namun tak ada jawaban dari Putri. Ibunya hanya merasa takut kalau Putri melakukan yang tidak-tidak.
Sedangkan yang lagi dikhawatirkan, sedang berdiri di depan pintu kamar. Masuk kedalamnya, menatap tajam foto yang terpajang didinding. Dengan mudah dia melepas dan melemparkannya ke lantai.
"Kurang ajar kau, Lady! Sialan!" amuk Putri, dia sudah sangat marah. Mendengar kalau keluarga diperlakukan oleh orang yang sama.
Ibunya yang mendengar teriakan Putri langsung kaget dan berlari ke arah kamar Putri. Dia menggedor pintu dengan kuat sambil berteriak juga.
"Putri! Kamu ngapain didalam, nak? Keluar!" pinta sang Ibu, tapi percuma saja. Kalau Putri bisa dibilang sedang ngamuk, dia tidak bisa dihentikan sampai dia yang berhenti sendiri.
Sedangkan Putri yang berada di dalam, tangannya sudah berlumuran darah. Akibat memgang kaca bingkai foto yang pecah. Sambil menatap penuh dendam kepada sosok Lady di dalam bingkai itu.
"Lo liat aja, Lad! Mulai besok, gue nggak akan jadi Putri yang lemah dan penakut! Karena keluarga Lo udah nyakitin Ibu gue, gue akan balas semuanya!" sumpah Putri.
Ibunya yang punya kunci cadangan di luar langsung mengambilnya dan membukanya.
Ceklek...
Pintu terbuka. Begitu kagetnya Ibunya melihat kondisi sang anak semata wayangnya itu. "Putri!" teriak histeris Ibunya. Dia langsung memeluk putrinya sambil berlinangan air mata.
"Maafin Ibu, nak. Kalau aja Ibu nggak jujur, kamu pasti nggak terluka. Hiks...hisk..." ujar Ibunya terisak. Putri hanya menatap Ibunya dengan penuh arti. "Bu, Putri janji bakalan balas semua yang udah mereka lakuin ke Ibu." yakinkan Putri kepada Ibunya yang masih syok. Ibunya hanya mengangguk tanpa bicara apapun lagi.
"Ibu balik aja ke kamar, biar Putri yang urus ini semua." pinta Putri dengan lembut, kini suasana hatinya sudah jauh lebih baik. Dia membersihkan kamarnya yang berantakan.
Sesekali dia menatap foto Lady yang ada di bingkai foto itu.
"Lo liat aja, Lady! Ini semua akan menjadi akhir bagi kejahatan Lo!" bisik Putri dengan penuh rasa dendam. Dia akan membuat semuanya berubah besok, dia pasti bisa melakukannya.