SOTARA

SOTARA
Episode 7



Alfino menunggu dokter yang sedang memeriksa Putri sampai keluar. Tak berapa lama, pintu ruangan di buka dan dokter keluar dari ruangan itu.


Alfino bergegas menghampiri dokter dan bertanya keadaan Putri.


"Gimana keadaannya dok?" tanya Alfino kelihatan panik. Antara panik apa dia juga tidak tau panik karena apa.


"Tuan tenang saja. Pasien baik-baik saja, dia hanya syok melihat sesuatu. Sebentar lagi pasien akan sadar. Kalau begitu saya pergi dulu. Kalau ada apa-apa bisa panggil saya." kemudian dokter itu pergi dari ruangan UGD.


Setelah melihat dokter menghilang dibalik lika-liku tembok rumah sakit, Alfino pun masuk ke dalam ruangan UGD. Dia melihat tubuh pucat Putri, sejenak dia merasa khawatir.


"Apa yang gue khawatirkan ya? Dia juga bukan siapa-siapa!" teringatnya, dia juga tidak berteman dengan Putri. Jadi kenapa dia khawatir?


Tak berapa lama, Putri mulai menggeliat dan membuka matanya sedikit-sedikit. Dia menatap langit-langit ruangan yang terasa asing.


"Dimana gue?" tanyanya dengan suara serak dan tidak bertenaga.


"Lo di rumah sakit. Tadi Lo pingsan." Alfino menjelaskan tapi terkesan cuek.


"Siapa yang bawa gue kesini?"


"Gue lah!" angkuhnya, lalu dia berbalik menuju pintu.


Putri berusaha bangkit, tapi dia merasakan kalau dadanya sakit.


"Aduh!" gumam Putri sambil memegangi dada kirinya. Untungnya Alfino mendengarnya, jadi bisa ditangani.


"Lo kenapa?" tanya Alfino kembali setelah mendengar ringisan Putri tadi.


Putri diam sebentar, kemudian dia menatap Alfino penuh penghargaan.


"Makasih udah mau bantuin gue." dia berterima kasih dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar.


Setelah mengucapkan itu, Putri kembali jatuh pingsan. Seketika Alfino panik lagi dan memanggil dokter untuk memeriksa Putri lagi.


.


.


Tak lama dokter pun datang bersama beberapa suster.


"Maaf tuan, tuan harus menunggu dulu di luar. Biar kami tangani ini dulu." ujar salah satu suster yang menarik Alfino keluar dari UGD. Kemudian pintu ditutup.


Alfino saja masih bingung sekarang, kenapa jadi begini? Padahal tadi juga bukan masalah serius. Dia baru teringat sesuatu, kalau dia sempat mengambil ponsel Putri saat Putri pingsan tadi.


"Gue telpon aja keluarganya." gumamnya dalam hati sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Kemudian menghubungi Ibunya Putri.


***


Sementara itu, Ibunya Putri masih bersiap-siapa untuk makan malam. Karena pelayan juga sudah mulai memasak. Tiba-tiba, terdengar dering telepon. Ibunya pun langsung mengangkatnya.


"Halo." sapa Ibu Putri yang belum tau apa-apa.


"..." gumam orang itu yang tak lain adalah Alfino. Dia menceritakan Putri yang sedang berada di rumah sakit.


"A, Apa?" teriak Ibunya syok. Dia kemudian menjatuhkan ponselnya tanpa sadar. Kebetulan suaminya sedang berada tak jauh dari sang istri. Karena mendengar suara benda jatuh, ia langsung menghampiri sang istri.


"Kenapa Bu?" tanya sang suami khawatir. "Itu, yah! Putri!" dia belum sempat melanjutkan kalimatnya, tapi sudah menangis tersedu-sedu.


"Kenapa Bu? Putri kenapa?" tanya suaminya lagi karena penasaran sekaligus khawatir dengan sang putri. "Putri, dia. masuk rumah sakit Yah!" tangis wanita paruh baya itu pecah setelah sampai pada inti kalimatnya.


Sang suami hanya terdiam, tanpa berlama-lama dia menyuruh pelayang membawa pakaian Putri sebagian dan menyiapkan sopir untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Setelah itu mereka langsung berangkat ke rumah sakit.


.


.


.


Setelah satu jam di perjalanan, mereka akhirnya sampai. Mereka langsung berlari menuju UGD tempat Putri berada.


"Dimana anak saya!" teriak histeris sang Ibu yang ingin menerobos pintu ruangan. "Sabar Bu! Sabar!" tahan sang suami agar istrinya tidak membabi-buta. Tetapi sang istri masih terus histeris sampai akhirnya Alfino datang menghampiri mereka.


"Tante tenang aja. Putri masih diperiksa." ujarnya datar untuk menenangkan Ibunya Putri. "Tapi anak saya kenapa?" tanya sang ibu lirih saat sudah mulai tenang.


"Saya juga nggak tau Tan. Mendingan kita tunggu kabar dari dokter aja." simpul Alfino yang diangguki Ayah Putri. Lalu mereka duduk di kursi yang tersedia.


***


Sementara itu, keadaan Putri masih sama. Wajahnya pucat, bibirnya juga kering. Tapi dia sudah diinfus. Dokter memeriksa detak jantungnya.


"Hmmm. Sepertinya ada sesuatu." gumam dokter itu tapi terdengar oleh para suster. "Ada apa dok?" tanya suster itu bersamaan. Dokter itu diam sebentar, menaruh stetoskopnya dan bergerak menuju seberang.


"Sepertinya pasien terkena penyakit jantung." jelas dokter sambil menghela napas panjang. "Tapi untunglah masih ringan. Jadi kita bisa memberikan penanganan lebih lanjut." lanjutnya.


Kemudian mereka keluar dari UGD dan menyampaikan kepada Ayah dan Ibunya Putri.


***


Ceklek!


"Dokter, gimana keadaan anak saya dok?" histeris Diana. Ya, ibu Putri bernama Diana. Sedangkan suaminya bernama Rian Arya. Dokter hanya diam, sampai akhirnya dokter memberikan beritanya.


"Maaf, Pak, Bu. Putri anda terkena penyakit jantung. Kita harus segera melakukan operasi." jelasnya singkat. Seketika itu, Diana langsung kaget dan menangis histeris, dia oleng dan untung saja ditahan oleh tuan Rian.


"Nggak!! Saya mau ketemu anak saya!" berontak Diana, tapi masih tetap ditahan oleh tuan Rian.


"Bu, Putri istirahat dulu." larang tuang Rian.


"Tapi aku mau ketemu Putri, Yah!" mohon Diana. Tapi itu tidak mengubah larangan tuan Rian. Dia tetap kekeh untuk menunggu hingga Putri sadar.


"Pak, Bu. Kalau pasien sudah sadar, bisa kalian jenguk. Dan setelah sadar nanti, harap bapak datang ke ruangan saya." suruh dokter itu yang langsung diangguki tuan Rian. Kemudian dokter itu pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Yah! Anak kita gimana?" cemas Diana lirih. Sebenarnya tuan Rian juga tidak sampai hati membiarkan sang istri sampai seperti ini. Tapi melihat keadaan Putri masih seperti itu, dia hanya bisa menenangkannya.


"Nanti, Bu. Kalau Putri udah sadar, kita jenguk ya?" tawar tuan Rian, lalu diangguk Diana. Mereka kemudian menunggu, sampai jam 7 malam.


Alfino berdiri dari duduknya, berniat ingin pamit pulang. "Om, Tante. Al pamit pulang dulu." Alfino menyalam tuan Rian dan Diana. "Iya nak, makasih yah." balas tuan Rian sambil menyalam Alfino. "Kalau gitu, Al pulang dulu." pamitnya, kemudian pergi dari sana.


Tak berapa lama, belum lagi Alfino berjalan menuruni tangga, tangis Diana pecah lagi mengingat keadaan Putri.


"Yah! Ibu nggak mau kehilangan putri Ibu lagi!" histeris Diana, dia masih sangat terpukul mendengar kabar tadi. "Iya Bu, Ayah juga nggak mau." sahut tuan Rian, kemudian menenangkan sang istri.


"Udah cukup, Yah. Ibu nggak sanggup melihat Rani menyusul Putri!" jelas Diana. Ternyata selama ini Putri memakai nama mendiang kakaknya yang sudah meninggal 5 tahun lalu. Nama aslinya sebenarnya Rani Arya.


"Iya Bu, Ayah juga. Kita harus berdoa yang terbaik buat Rani." timpal tuan Rian. Kemudian mereka berdoa.


Sedangkan disisi lain, Alfino sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


"Jadi? Namanya bukan Putri? Tapi Rani?" Alfino bertanya-tanya dalam hati, antara tidak percaya dan bingung. "Mending gue urus itu nanti." kemudian Alfino keluar dari rumah sakit diantar oleh sopir menuju ke rumah.


.


.


.


Sekitar pukul sembilan, akhirnya Rani sadar juga. Ibunya langsung menjenguk Rani bercampur sedih dan haru akhirnya putrinya itu sudah sadar. Dan kemudian memeluk Rani.


"Nak! Kamu nggak papa?" tanya Diana khawatir, dia memegang tangan Rani dengan erat. "Nggak papa kok Bu, udah sehat." ujar Rani masih belum sadar kalau dia dipanggil Rani. Beberapa menit kemudian dia baru sadar.


"Tadi Ibu manggil Rani?" spontan Rani menatap wajah sang Ibu dengan penuh tanda tanya. Pasalnya yang memanggilnya Putri adalah Ibunya, dan sekarang yang memanggilnya Rani adalah Ibunya juga.


"Kenapa? Nama kamu kan Rani nak." Ibunya mengelus rambut Rani pelan, masih tidak percaya kalau Ibunya memanggil nama aslinya. Dia masih menatap bingung Ibunya itu.


"Ta, Tapi biasanya Ibu manggilnya Putri." Rani masih sedikit ragu-ragu mengingat tentang sang kakak. Namun Ibunya menggeleng dan menepuk lembut pundak Rani.


"Iya, tapi nama kamu kan Rani. Mana mungkin Ibu terus menyamakan kamu dengan mendiang kakak kamu." jelas Ibunya, Rani hanya diam kemudian mengangguk. Kemudian setelahnya mereka mengobrol santai.


Tak terasa sudah pukul setengah sepuluh malam. Rani harus istirahat, belum lagi Ayahnya harus datang ke ruangan dokter tadi tapi dia kelupaan. "Rani, kamu istirahat dulu ya. Kamu pasti capek." Ibunya merebahkan badan Rani dan menyelimutinya. Kemudian dia mencium kening putrinya itu.


"Tidur yang nyenyak anak Ibu. Kalau ada apa-apa, bilang sama Ibu aja. Ibu ada di sofa sana nanti." ingatkan Ibunya yang sedang mengelus rambut halus sang putri. Tak lama kemudian Rani tertidur pulas sambil menggenggam tangan sang Ibu.


Setelah itu, Ibunya berniat ingin pindah ke sofa. Tapi sang suami sudah lebih dulu menghampirinya. "Bu, Ayah pergi ke ruangan dokter tadi ya. Kelupaan." ingat sang suami kalau saat Rani bangun, harus ke ruangannya. Tapi malah keasyikan mengobrol. "Yaudah, Yah. Pergi aja. Mama temenin Put, eh Rani tidur aja." ujar Diana sambil menyelimuti dirinya. "Yaudah, Ayah kesana dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi." pesan Rian yang berjalan menuju pintu keluar ruang rawat.


.


.


.


Ayahnya sampai di ruangan dokter yang tadi memeriksa Rani.


Tok...Tok...


"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan. Karena sudah dipersilahkan, tuan Rian langsung masuk dan duduk di seberang dokter itu. Mereka saling tersenyum sebagai pembukaan.


"Kenapa dengan anak saya dok?" tanya tuan Rian to the point. Wajahnya sudah berubah menjadi serius, menunggu jawaban dari dokter yang ada di depannya. Dokter itu berpikir sebentar, kemudian mengeluarkan selembar kertas yang berisi sesuatu yang tidak diketahui oleh tuan Rian.


"Ini apa ya dok?" tanya tuan Rian menunjuk selembar kertas itu. "Begini pak, putri bapak terkena penyakit jantung. Untung saja penyakitnya belum separah itu, jadi bila bapak berkenan kita bisa melakukan operasi secepatnya." jelas dokter itu sambil menunjuk maksud lembar kertas itu.


"Ja, Jadi bener dok anak saya terkena penyakit jantung?" tanya tuan Rian lagi untuk memastikan, walaupun dia tau jawabannya akan sama. "Iya pak." jawab dokter itu sambil mengangguk. Sekarang tuan Rian hanya diam, antara bingung dan sedih.


"Kalau begitu saya pergi dulu ya dok." pamit tuan Rian dan bersalaman dengan dokter itu. Kemudian dia berjalan meraih gagang pintu.


Cklek!


Tuan Rian keluar dari ruangan dokter. Seketika semua kekuatannya hilang, dia merasa tidak bisa berdiri. Dia terduduk tepat di depan pintu ruangan dokter. Dia memegangi kepalanya.


"Gimana ini? Kalau kasih tau ke Ibu pasti dia syok lagi." bingung tuan Rian, dia harus melakukan apa? Dia masih duduk di depan pintu, masih berusaha menjernihkan pikirannya. Tak lama kemudian Rani datang kearahnya.


"Yah!" sapa Rani bingung kenapa ayahnya ada disini jam segini. Ayahnya sontak kaget dan berdiri, melihat itu putrinya, dia langsung berusaha bersikap senormal mungkin.


"Rani! Kamu kok belum tidur nak?" tanya tuan Rian bingung, padahal saat dia meninggalkan ruang inap Rani sudah tidur. "Tiba-tiba Rani kebangun Yah, jadi mau ke kantin bentar." alasan Rani. Sebenarnya dia tau kalau sang Ayah menyembunyikan sesuatu.


"Kita balik aja ya nak. Udah malem juga." ajak sang Ayah yang ditahan oleh Rani. Seketika aura dingin berada diantara mereka. "Ke, Kenapa nak?" tanya tuan Rian kebingungan. Namun tak ada jawaban dari sang putri.


"Rani tau kalau Ayah tadi bahas tentang penyakit Rani." akui Rani to the point. Ayahnya langsung terdiam mematung. Memandangi putri semata wayangnya itu. Entah pikiran apa yang ada dalam otaknya sekarang.