
Rani kemudian menarik ayahnya untuk duduk di kursi depan pintu ruangan dokter. Ayahnya hanya mengikuti saja, masih bingung dengan semua yang barusan terjadi.
"Nak, kamu sudah tau kalau kamu sakit?" tanya tuan Rian ragu-ragu, apakah itu benar atau tidak. Rani membalasnya hanya dengan anggukan saja. Dia memperbaiki posisi duduknya dan menatap lembut ayahnya.
"Yah, sebenarnya Rani udah tau dari dulu tentang penyakit Rani." jujurnya, sedikit membungkuk. Ayahnya yang mendengarnya tambah kebingungan.
"Dari dulu? Sejak kapan?" tanya ayahnya lagi. Rani hanya diam sebentar, kemudian dia meneteskan air matanya. Di sela-sela isak tangisnya, dia berusaha bercerita.
"Lima tahun yang lalu, Yah. Tepat saat kakak pergi. Rani mau ngasih tau, tapi liat kondisi kalian lagi seperti itu Rani nggak mau nambah beban kalian. Makanya sampai sekarang Rani berusaha nyembunyiin." jujurnya dengan berlinangan air mata.
"Nak! Kamu tau kan akibatnya kalau telat ditangani?" sebenarnya sang ayah marah karena putrinya baru jujur sekarang. Tapi benar juga yang dikatakan Rani, jika saat itu Rani jujur malah akan bertambah buruk. Sedangkan disisi lain kondisi Rani akan bertambah buruk.
"Iya, Rani tau. Rani juga baru kerasa sakit baru tadi. Sebelumnya nggak pernah." ingat Rani, mungkin karena sudah terlalu lama tidak diobati. Tandanya penyakitnya sudah lumayan parah.
"Jadi, kamu mau dioperasi kan?" tanya sang ayah pelan. Rani menunduk, tak lama dia mengangguk tanda setuju. Kemudian mereka berpelukan.
"Yaudah, jangan sedih lagi. Kita balik ke ruangan kamu ya." ajak sang ayah diikuti oleh Rani. Kemudian mereka berjalan bersama. Hingga sampai di ruang inap Rani.
Cklek!
Mereka masuk, hanya tersisa ibunya yang tertidur lelap berbalut selimut. "Tuh, ibu kamu aja udah tidur." cetus tuan Rian melihat Rani yang bangun hampir tengah malam. Sedangkan Rani hanya menyengir dan berjalan menuju ranjangnya. "Yaudah yaudah, Rani tidur." ujar Rani sambil memasang selimut. "Selamat malam, yah." salam Rani, kemudian dia jatuh terlelap.
Sedangkan sang ayah masih sangat sedih tentang kejujuran sang putri tadi. Dia berusaha menahannya agar sang putri tetap kuat. Nyatanya dia yang tidak kuat.
"Nak, ayah janji akan sembuhin penyakit kamu. Ayah nggak mau lagi kehilangan anak ayah." sedih ayahnya, dia tidak ingin lagi kehilangan putri yang dia sayangi. Kemudian dia juga tidur, dibawah sofa tempat istrinya tidur.
***
Alfino masih berada di luar, sepertinya dia. berada di arena balapan. Terlihat juga empat temannya yang lain, yang sedang bersiap-siap melintas.
"Bos, tumben bos tadi ke markasnya lama banget." tanya Zaky, karena dia memang terlambat datang ke markas tadi siang. Mungkin bisa dibilang tidak datang karena dia langsung pergi ke arena.
"Ada urusan." jawab Alfino, Zaky iya iya saja. Padahal dibalik helm, Zaky sudah mengomeli Alfino. "Dasar! Kalau ngomong berasa nggak ngomong!" omelnya dalam hati.
Tak lama lagi perlombaan akan dimulai. Alfino, Reihan, Zaky, Revan, dan Riko sudah bersiap. Gadis cantik didepan sudah mengayunkan benderanya. "Pritttt!" belasan motor langsung melaju di arena dengan cepat. Tak kenal siapa-siapa yang berada diantara mereka.
"Al! Gue duluan ya." cetus Zaky yang berada di samping Alfino. Alfino hanya menggeleng tanda tidak setuju. Bagaimana mungkin, dia adalah raja balapan disini, dia tidak akan membiarkan siapapun bisa berada di diposisi paling depan.
Tanpa aba-aba, Alfino sudah menyalip dua motor. "Woi!" teriakan salah satu pengemudi motor yang disalip Alfino. Sedangkan Alfino nya sendiri hanya memasang wajah datar dan dingin dibalik helm.
.
.
.
Balapan sebentar lagi akan berakhir, seperti biasa Alfino berada di urutan paling depan. Di setiap perlombaan dia menjadi juara satu. "Pritttt!" suara menandakan pertandingan selesai.
Pemenang pertama diambil oleh Alfino, pemenang kedua diambil oleh Riko, dan pemenang ketiga diambil oleh Zaky. Mereka berkumpul di tongkrongan yang sudah disediakan.
"Mana, Zak? Katanya Lo mau jadi yang pertama?" ejek Revan, dia ternyata juga mendengar percakapan singkat antara Alfino dan Zaky tadi.
"Gimana mau menang. Di depan aja nggak dibolehin." kesal Zaky, padahal tanpa bertanya pun dia sudah bisa melaju kedepan. Tapi juga nantinya dia akan tersingkir.
"Yaudah. Yuk kita pulang, nyokap gue juga udah nanyain nih." ajak Reihan, dia yang dari tadi kalem-kalem saja. Semua mengangguk dan menaiki motor masing-masing. Kemudian pulang kerumah masing-masing.
***
Pagi hari menyingsing, Rani masih belum bangun. Ibunya sudah bersiap-siap, ayahnya juga sudah berpakaian rapi untuk pergi bekerja.
"Yah, ayah mau kerja?" tanya Diana kepada sang suami melihat sudah berpakaian rapi. "Iya, nanti jadwal operasi Rani jam empat sore. Nanti Mas akan pulang jam dua." pesan tuan Rian, diangguki oleh Diana.
"Yaudah, Mas buruan. Nanti telat lagi." suruh Diana sambil mendorong pelan sang suami sampai ke ambang pintu. "Yaudah, Mas kerja dulu. Kalau terjadi apa-apa sama Rani, telpon aja." pesan tuan Rian yang diangguki lagi oleh sang istri.
Tuan Rian mencium kening sang istri dan beranjak meninggalkan ruangan mereka. Diana kembali ke dalam, melihat Rani sudah bangun. "Kamu sudah bangun nak?" sapa sang ibu sambil melipat selimut Rani.
"Udah Bu." jawab Rani singkat, biasanya kalau lagi gini dia masih belum seratus persen sadar. "Udah, ibu ke kantin dulu ya. Mau beliin kamu sarapan. Kamu mau sarapan apa?" tanya Ibunya.
"Yaudah, kamu tunggu disini ya. Jangan kemana-mana." ingatkan sang ibu, yang diangguki oleh Rani. Kemudian ibunya pergi keluar untuk membeli makanan di kantin.
.
.
.
Ibunya sudah kembali, Rani juga sudah menunggu. "Ini, kamu udah laper banget ya?" tanya Ibunya khawatir, karena melihat sang putri antusias melihat kedatangannya.
"Iya Bu, Rani udah laper." adunya.
"Yaudah. Ini, kamu makan ya." suruh sang ibu.
Rani mengangguk, dan segera melahap nasi goreng pesanannya. Tak lama pun nasi gorengnya habis. Ibunya membereskan makanan dan membuangnya ke tong sampah.
Rani bermain ponsel, melihat-lihat chat di grupnya.
("Putri kemana woi! Gue dari kemaren nggak liat.") khawatir Cinta di chat.
("Mana gue tau, gue aja dari pulang sekolah semalem dirumah terus!") jawab Vina, kemudian chat berakhir.
"Kayaknya mereka khawatirin gue. Gue harus bisa cepet sembuh!" tekad Rani, dia juga sudah bosan disini, padahal baru sehari. Tak lama pintu dibuka, dan dokter datang menuju ranjang Rani.
"Bagaimana keadaan anda?" tanya dokter itu. "Udah mendingan dok." jawab Rani singkat. "Ya sudah, nanti kita akan melakukan operasi kamu jam empat sore. Ayah kamu sudah melakukan penjadwalan." ingat sang dokter. Rani hanya mengangguk.
"Putri saya bisa sembuh kan dok?" cetus Diana tiba-tiba kepada dokter. "Mudah-mudahan saja Bu, kami akan berusaha yang terbaik." jawab dokter itu sambil tersenyum meyakinkan. Ibunya pun merasa lega. Kemudian dokter meninggalkan ruangan mereka.
"Kamu harus kuat, Rani. Kamu mau sembuh kan?" tanya Ibunya meyakinkan. "Mau dong Bu, Rani kan mau kesekolah lagi." semangat Rani. Lalu mereka mengobrol santai dan sesekali tertawa.
***
Di sekolah, Cinta, Jihan, dan Vina sudah gelagapan mencari Rani entah dimana. "Lo tau nggak keadaan Putri sekarang dimana?" tanya Cinta pada Jihan, Jihan hanya mengangkat bahu tanda tak tau.
"Aaaaa! Leo!!!" terdengar teriakan dari lorong, meneriakki nama Leo. "Mungkin itu kelompoknya si Alfino." pikir Vina, dia juga sudah tau kalau Alfino punya geng yang berpengaruh disekolahnya.
"Yaudah, yuk. Buat apa juga kita terus-menerus disini, nanti jadi sasaran lagi." cemas Vina. dan menarik tangan kedua sahabatnya.
Belum genap dua langkah mereka berjalan, tangan Vina sudah ditahan oleh seseorang. Ternyata dia Reihan, semua murid cewek langsung ribut melihatnya.
"Apa!" ketus Vina, dia tidak senang bertemu mereka. "Baru juga ketemu, udah kesel aja." balas Reihan balik, kesal melihat tingkah Vina.
"Kalau nggak penting mendingan kami pergi aja." kemudian mereka berniat pergi lagi dari sana. "Berhenti!" terdengar suara datar disertai aura dingin. Mereka menjadi merinding.
"Vin, berenti nggak nih?" tanya Cinta yang kelihatan ragu-ragu. Mereka berusaha terus berjalan, tapi auranya mencekam sekali. Mereka saja sulit bernapas. "Huh! Balik kanan." perintah Vina menyuruh kedua temannya berbalik badan.
"Takut juga kan Lo!" ejek Reihan, dibalas tatapan kesal Vina. Seketika dia menjadi ikutan merinding. "Apa?" tanya Vina lagi dengan nada ketus, dia sekarang sudah cukup kesal.
"Ketua kalian dimana?" tanya Alfino to the point, karena tidak melihat Rani bersama mereka. "Ketua? Putri, gue nggak tau." jawab Vina singkat, mana dia tau orang habis pulang sekolah saja mereka susah berpisah.
"Lagian yang pulang terakhir kemarin kan Lo sama Putri. Kenapa nanya gue sih?" lanjut Vina dengan nada kesal. Sedangkan dua orang dibelakangnya sudah ketar-ketir.
Tanpa basa-basi, Alfino berbalik badan dan menjauh dari mereka. Diikuti oleh empat anggota lainnya. Vina hanya ternganga melihat tingkah mereka. "Dasar!" teriak Vina, didengar oleh Reihan, dia hanya tertawa kecil.
Teng...Teng...Teng...
Bel sekolah berbunyi, mereka semua masuk ke dalam kelas masing-masing.
***
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, Rani sudah waktunya dioperasi. Dia dipindahkan ke ruang operasi. Ibunya hanya menangis melihat putrinya tersebut.
"Anak ibu, bertahan ya. Jangan menyerah." ibunya memberi semangat kepada sang putri. "Iya Bu, Rani kan berusaha bertahan. Ibu tenang aja." balasnya untuk menenangkan sang Ibu. Kemudian dia dimasukkan ke ruang operasi.