
Keesokan harinya, Putri bangun dengan segar. Walaupun kepalanya masih dipenuhi pikiran tentang Lady, tapi dia berusaha untuk melupakannya di depan Ibunya. Dia kemudian beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Putri langsung turun ke lantai satu menuju dapur. Di sepanjang tangga dia hanya berpikir. "Kalau sekali ini gue lawan dia, apa dia akan jera ya?" pikiran Putri yang terus berulang-ulang. Tak terasa dia sampai di dapur.
"Eh, putri Ibu. Udah selesai mandi?" tanya Ibunya lembut. "Udah kok Bu, udah wangi nih Putri." jawab Putri dengan nada lembut. Ibunya kemudian membawa anaknya duduk di meja makan.
"Ibu hari ini nggak masak?" Putri bertanya karena melihat pelayan yang sibuk di dapur. "Enggak, hari ini Ibu lagi males. Jadi Ibu suruh aja deh para pelayan untuk masak." jelas Ibunya sambil memperlihatkan wajah lebaynya.
Setelah itu, mereka makan bersama. Perasaan Putri sebenarnya sudah campur aduk. Antara ingin marah pada Ibunya atau tidak. Kemudian dia memberanikan dirinya untuk bertanya pada Ibunya.
"Bu, kenapa sih Ibu nggak bilang dari awal kalau Ibu pernah dibully?" tanya Putri to the point. Ibunya yang sedang asyik bermain ponsel, seketika menghentikan aktivitasnya tersebut dan menatap putrinya.
"Kenapa Bu?" tanya Putri sekali lagi. Ibunya kelihatan bingung ingin menjawab apa. Tapi dia berusaha menjawab sebisanya. "Ya, karena kamu nggak nanya." jawab Ibunya mengasal. Putri merubah tatapannya menjadi seperti kemarin malam. Yang membuat Ibunya menjadi takut.
"Ibu jujur sama Putri, kenapa?" tanya Putri sekali lagi tapi dengan nada yang lebih datar dan dingin. Ibunya gelagapan ingin menjawabnya, sampai akhirnya Ibunya jujur.
"Ibu nggak mau ngasih tau karena waktu itu kamu masih kecil. Lagian kenapa juga Ibu ngasih tau kamu? Itu semua udah lewat." jelas Ibunya sambil memegang pundak Putri.
"Jadi? Ibu pikir orang tua dari Lady itu hanya masa lalu Ibu?" tanya Putri lagi. Ibunya hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu. "Ibu nggak tau kalau anak merekalah yang menjadi masa depan kelam bagi Putri!" jelas Putri yang seperti ingin marah kepada Ibunya.
"Benarkah? Lady?!" tanya Ibunya kaget. Putri hanya diam saja, dia tidak menanggapi apapun. Kemudian dia pergi dari meja makan menuju kamarnya yang disusul oleh teriakan Ibunya.
"Putri kamu mau kemana nak?" tanya Ibunya kaget. "Ke kamar!!" jawab Putri yang setengah berteriak. Ibunya hanya menggelengkan kepalanya. Putri tidak mempedulikan respon Ibunya, dia hanya melanjutkan langkahnya ke dalam kamar.
Dia membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian berdandan, menyisir rambut, dan setelah itu turun ke lantai satu lagi.
Ibunya hanya diam, tidak membahas apapun lagi. Dia juga masih bingung dengan perkataan putrinya tadi, tapi dia memilih untuk menunggu waktu yang tepat. Dia mengikuti putrinya sampai di depan pintu Mension itu.
"Bu, Putri berangkat dulu ya." salam Putri datar. Ibunya hanya mengangguk sebagai balasan. Dia masih berpikiran kalau putrinya masih marah dengannya. Setelah itu, Putri masuk ke mobil.
***
"Mah! Jihan berangkat dulu ya." salam Jihan yang berada di pintu depan sebuah Mension. "Iya nak, hati-hati di jalan ya." sahut Mamanya entah dari mana. Kemudian Jihan naik ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.
***
Setelah 10 menit menempuh perjalanan, akhirnya Putri sampai. Dia kemudian turun dan meninggalkan mobil itu. Disaat itu juga, mobil yang dinaiki Jihan juga berhenti ditempat yang sama.
"Mungkin dia satu sekolah sama gue ya?" tanya Putri dalam hati, kemudian dia melanjutkan perjalanannya. Dia jalan beriringan dengan Jihan. Tapi sepertinya mereka tidak saling kenal.
"Aduh!" terdengar suara meringis dari gadis yang jatuh tak jauh dari mereka. Sontak Putri dan Jihan menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata ada seorang gadis yang terjatuh tak jauh dari mereka.
Mereka berdua yang memiliki tipe tidak peduli siapapun itu, langsung mendekati gadis itu entah kenapa. "Lo kenapa?" tanya Jihan melihat gadis yang sedang memegangi lututnya yang lecet.
Putri sedikit melirik ke arah depan Cinta, terdapat lima orang siswa laki-laki berpenampilan keren. "Heh! Kalian apain dia?" senggak Putri sambil menunjuk salah satu dari mereka yang sepertinya ketua dari kumpulan mereka.
"Woi! Bisa nggak nggak usah nunjuk-nunjuk orang?!" senggak salah satu dari mereka. Mereka saling tatap, tapi tatapan mereka kalah ganas dibandingkan dengan tatapan Putri. Dibalik mata manis milik Putri, juga terdapat mata iblis yang dapat membuat orang sesak saat ditatap tajam olehnya.
"Iya! Kalian kan yang buat ini?!" cetus Jihan tak berapa lama. Laki-laki ini saling bertatap, mereka kebingungan. Kecuali satu lagi yang ada depan mereka. Tatapannya hanya datar saja, tidak memiliki ekspresi apapun.
"Udah! Ayok!" ajak Putri sambil membantu Cinta berdiri. "Lo bisa jalan, kan?" tanyanya lagi memastikan. "Bisa kok. Cuma lecet doang." jawab Cinta sambil berusaha berdiri tegak. Setelah itu mereka masuk ke dalam kelas.
"Baru juga ketemu, udah main marah-marah aja!" geram salah satu dari mereka yang bernama Reihan. Lalu mereka juga masuk ke dalam kelas.
Betapa terkejutnya Putri, ketika melihat tiga orang dari mereka masuk ke dalam kelas yang sama. Putri hanya bengong melihat salah satu dari mereka, yang berada di paling depan. Ya, namanya adalah Alfino.
"Apa Lo liatin kita hah?!" senggak salah satu dari mereka, kecuali Alfino. "Kenapa? Nggak suka?" jawab Putri datar dengan nada tidak bersahabat. Seketika nyali mereka menciut mendengar jawaban dari Putri.
"Karena Lo cewek gue nggak mau lawan. Kalau Lo...-" omongan Reihan terpotong saat ingin melanjutkan perkataannya, karena Putri menyela perkataannya. "Kalau apa? Gue cowok gitu?!" senggak Putri kemudian. "Enggak! Gue nggak bilang gitu." elaknya.
Bersamaan dengan itu, sang ketua kelas sudah masuk ke dalam kelas. Putri hanya menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, wajahnya sudah berubah. Lady yang ditatap hanya balas menatap layas Putri.
"Apa Lo liatin gue terus?! Gue cantik?" tanya Lady sok cantik. Sebenarnya satu kelas benci dengannya, tapi karena mereka takut jadi mereka hanya diam.
"Heh! Jawab!" bentak Lady. Ketiga cowok yang duduk di pojok itu hanya melihat Putri di bentak oleh Lady, tapi mereka diam.
Plak!!
Terdengar suara gebrakan meja di tempat yang diduduki oleh Putri. Ya, ternyata dia adalah Putri yang sedang emosi. Dia menatap Lady dengan penuh rasa dendam. Lady yang dibegitukan hanya balik menatap agak ragu.
"Kenapa? Lo berani ngelawan gue?" senggak ya sambil memegang kerah baju Putri. Putri hanya melihat, kemudian menatap matanya dengan tajam.
"Lo siap jadiin orang tua Lo jadi tumbal?" tanya Putri dingin dengan suara yang agak serak. Seketika Lady terdiam dan melepaskan genggamannya itu. "Maksud Lo apa, hah!" bentaknya lagi.
Putri hanya tersenyum, sekarang sudah tidak ada Putri yang dulu lagi. Jadi dia tidak akan bisa mengganggunya lagi. 'Maksud gue? Gue pengen Lo menderita!" jawabnya to the point. Lady kembali terdiam sejenak.
"Emangnya apa hubungannya Lo dengan orang tua gue hah!" lanjutnya dengan nada tinggi. Putri berjalan keluar mejanya, mengelilingi Lady. Dan sesekali tertawa kecil.
"Gue akan membuat Lo dan semua yang berhubungan dengan Lo menderita. Lo pasti nggak tau apa yang orang tua Lo perbuat waktu mereka masih sekolah!" ujar Putri dingin dan datar.
"Jangan coba-coba ganggu orang tua gue!" larang Lady yang tentu saja akan dilanggar Putri. "Emangnya Lo siapa? Lo nggak bisa bully gue lagi, gue nggak seperti Putri yang lemah seperti dulu! Kali ini Lo nggak bakal bisa lolos dari gue!" peringat Putri untuk Lady.
Setelah terjadi hal singkat itu, Lady keluar dari kelas. Sedangkan semua murid kembali pada aktivitas masing-masing.
"Liat aja Lo, Lad! Gue nggak bakalan biarin hidup Lo bahagia terus!"