
"Lo udah pulang Put, selama ini kemana aja? Takut sama gue?" sinis Lady yang duluan memulai berbicara.
"Bukan takut sih, gue cuma ngasih Lo waktu untuk bersiap-siap. Setelah ini Lo nggak bisa tenang-tenang lagi." jelas Rani dengan sedikit melebarkan matanya.
"Huh! Lo pikir gue takut?" sombong Lady, dia sedikit menyenggol Rani di bagian bahu kirinya.
"Maksud Lo?" tanya Rani semakin memanas-manasi si ketua kelas. Bertepatan dengan itu, Jihan dan Vina datang. Disusul dengan keempat anggota Leo.
"Ada apa ini?" tanya Vina saat sampai kepada mereka. "Hmmm." balas Rani, saat ini dia sudah dalam mode diam dan datar disertai dingin.
Mereka saling tatap, tersenyum miring. Sedangkan Alfino sudah melirik ke luar kelas, mewanti-wanti kalau terjadi sesuatu.
"Udah? Gue mau makan! Lo nggak usah ganggu gue!" kesal Rani, kemudian dia menarik tangan seseorang. Dia tidak melihat kebelakang.
"Putri!!" teriak Cinta yang tertinggal di belakangnya. Siapa yang dia tarik?
.
.
.
Rani sudah sampai di kantin, dia merasa aneh kalau dari tadi Cinta tidak berbicara apapun. Tidak tau saja kalau dia salah bawa orang.
"Lo nggak nyadar bawa siapa?" tanya Alfino datar, ya orang itu adalah Alfino.
"L, Lo? Ngapain kesini?" tanya Rani kaget kalau orang yang dia bawa salah.
"Lo nggak nyadar yang narik itu Lo!" tanya Alfino balik.
"Gu, Gue nggak tau. Dimana Cinta?" tanya Rani lagi tanpa menjawab pertanyaan Alfino.
Alfino tidak menanggapi dan berjalan menuju kelas kembali. Dia seolah tidak peduli.
Di sisi lain, Rani malu sendiri atas kecerobohannya. "Ck! Bodoh banget gue!" gumamnya dalam hati merutuki dirinya sendiri.
"Put!!" teriak Cinta yang sudah menyusulnya disertai anggota Leo, Vina dan Jihan. Rani juga ikut menyusul mereka.
"Lo nggak nyadar Lo narik Alfino?" tanya Cinta yang sudah terlihat ingin menggoda Rani. "Udahlah! Nggak usah dibahas lagi!" sewot Rani, mereka yang mendengar tertawa.
"Vin!" panggil seseorang kepada Vina, tenyata orang itu adalah Reihan. "Hmmm." jawab Vina yang sudah bad mood.
"Cie! Ada apa nih!" goda Jihan yang sudah melihat mereka seperti saling kesal. "Ck! Apaan sih!" kesal Vina, kemudian dia berbalik ke arah Reihan.
"Apa?" tanya Vina ketus. "Lo kenapa sih kesel mulu liat gue?" tanya Reihan tak habis pikir. Vina kemudian melotot dan menjawab semua pertanyaan Reihan.
"Gimana gue nggak kesel sama Lo kalau Lo semalam telponin gue terus! Sampek tiga kali! Hp gue rusak ya karena Lo!" kesal Vina menjelaskan panjang lebar.
"Lo juga ngapain blokir nomor gue?" tanya Reihan lagi. "Gue udah kesel!" jawabnya singkat.
Mereka saling diam, kemudian mereka berbalik. "Tau ah! Balik yuk!" ajak Vina yang sudah kadung kesal.
"Ck! Lo nggak usah balik. Gue aja!" larang Reihan, kemudian dia kembali ke kelas bersama rombongannya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke kantin.
***
Lady saat ini masih berada di kelas. Dia masih kesal dengan perlakuannya Rani tadi padanya. Di terduduk kesal.
"Arrgh! Putri sialan! Awas aja Lo!" kesalnya. Padahal baru hari ini Rani masuk, tapi sudah membuat Lady kesal dan malu.
"Gue kasih pelajaran aja tuh anak! Biar nggak berani macem-macem sama gue lagi!" geram Lady, dia mencari sesuatu yang bisa dijadikannya di bahan untuk berbuat jahat pada Rani.
"Hah! Gue sembunyiin aja tasnya. Pasti dia kecarian." tawa Lady, tanpa lama dia menyembunyikan tas Rani.
"Udah! Tinggal tunggu aja." ujarnya, setelah itu dia pergi ke kantin. Sekarang sudah pukul tujuh, jadi sekolah sudah ramai. Tiga puluh menit lagi bel akan berbunyi.
***
"Vin, Lo beneran marah saja si Reihan." tanya Cinta yang melihat Vina dari tadi hanya diam. "Enggak kok! Gue cuma kesel doang." elak Vina.
Padahal yang dikatakan Cinta benar, tapi Vina berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Beneran?"
"Ck! Iya!"
Mereka kembali makan. Dan lima belas kemudian mereka selesai makan, dan berniat kembali ke kelas.
"Udah, yuk. Bentar lagi bel bunyi." ajak Rani seraya berdiri, dan kemudian membayar makanan yang dia makan.
"Iya, masuk yuk." timpal Jihan yang juga sudah selesai membayar makanan. Lalu mereka berjalan bersama menuju kelas.
.
.
.
Di lorong menuju kelas, mereka berpapasan dengan anggota Leo. Vina juga terlihat kesal lagi begitu melihat wajah Reihan berada di salah satu antara mereka berlima.
*Ssst! Gue pindah samping Lo ya?" tanya Vina menyenggol tangan Rani. "Kenapa?" tanya Rani. Vina tidak menjawab, tapi dia memberi kode kalau dia tidak ingin berpapasan dengan Reihan.
"Oh, yaudah. Sini." ajak Rani yang sudah mengerti, diangguki oleh Vina juga. Anggota Leo berjalan di sebelah kiri mereka, jadi Vina berusaha berada di paling kanan.
.
.
.
Rani mau duduk di kursinya, tapi dia berhenti melihat tasnya tidak berada di tempatnya. "Kemana tas gue?" tanyanya dalam hati.
"Kemana tas gue?" tanya Rani kepada teman-temannya, tapi mereka tidak tau.
"Nggak tau, Put." jawab Cinta yang tidak melihat tas Rani. "Apa jangan-jangan..." omongannya terhenti, melihat ke arah tong sampah.
Dan benar saja, tas nya ada di tong sampah. Lady kebetulan baru masuk. Dan dia tersenyum puas melihat wajah merah Rani, entah marah atau malu.
Dia mengambil tasnya, lalu menaruhnya ketempat semula. Lady juga sudah duduk, menatap sinis Rani yang masih berdiri menatapnya tajam.
"Kenapa? Bukan gue kok pelakunya." belas Lady, dia berbohong. Dia juga sedikit merinding menatap wajah Rani.
"Emangnya siapa yang nuduh Lo?" jawab Rani yang sudah mengubah pandangannya. "Kalau Lo ngomong gitu berarti Lo yang buat kan?" ujar Rani lagi memanas-manasi.
"Enggak kok! Lo jangan asal nuduh ya!" bentak Lady yang sudah emosi. Padahal dia yang meletakkan tas Rani ke tong sampah. Malah merasa nggak bersalah dan nyolot nggak melakukan apa-apa.
"Hmmm." jawab Rani, seperti biasa Rani sudah berubah mode lebih datar dan dingin lagi. Entah kenapa suhu di kelas menjadi dingin juga. Dia mendekati Lady yang sudah melotot.
"Apa?!" sewot Lady, tidak tau saja kalau dia yang akan jadi korbannya. "Lo mau minta maaf atau gue bunuh?" ancam Rani dengan berbisik. Tentu saja hanya bercanda, mana mungkin dia akan mengakhiri Lady begitu saja. Dia masih mau bermain lebih lama, dan membuatnya hancur sedikit demi sedikit.
"Apaan sih orang gue nggak salah juga!" kekeh Lady masih menatap sinis Rani dan tidak mau meminta maaf.
"Ini orang ngapain ribet banget sih?" kesal Cinta yang ikut berkomentar melihat kelakuan Lady. "Kalau gue langsung gue bonyokin tuh mukanya." timpal Vina.
"Jadi?" Rani masih menunggu jawaban Lady. "Denger ya! Sampai kapan pun gue nggak akan pernah minta maaf sama Lo! Ti..."
Plak!!
Belum habis kata terakhir, Rani sudah menamparnya dengan keras hingga pipi kanan Lady memerah. Satu kelas terkejut melihat kesadisan Rani.
"Brengsek Lo Putri!!" murka Lady, dia berniat balik menamparnya. Tapi satu tangan sudah menahannya dan menggenggamnya dengan keras.
"Aduh! Sa...kit! Le...pasin!" rintih Lady. Ternyata itu perbuatan Alfino. "Lo ngapain?" tanya Rani kaget dengan kehadiran Alfino.
"Lo mau muka Lo kayak dia?" tanya Alfino balik, sekarang sudah melepas genggamannya dari Lady. Kalau dia teruskan, tangan Lady bisa patah.
"A...duh!" rintihnya, Rani hanya tersenyum jahat kepada ketua kelasnya. "Enak? Masih belum kapok? Biar gue lanjutin!" tawarnya yang langsung ditatap tajam oleh Lady.
"Sekali lagi, gue nggak sudi tangan Lo nyentuh gue!" jijik Lady, dia sudah kadung marah, jadi dia lampiaskan saja.
"Lo nggak tau gue siapa?" tanya Lady angkuh.
"Bukannya Lo pernah bilang ya?" tanya Rani balik.
"Gue Lady Pratiwi Agung! Anak dari Hendra Agung! Kalau Lo main-main sama gue, habis Lo!" sombong Lady, dia kira jabatan orang tuanya sudah tinggi.
"Jadi Lo mau banding-bandingin jabatan orang tua. Boleh, jadi boleh gue perkenalkan diri gue?" tanya Rani balik, tapi wajahnya sudah tersenyum miring.
"Silahkan, pasti lebih rendah dari jabatan bokap gue." remeh Lady, mulai terdengar bisik-bisik di dalam kelas, "Diam!" bentak Lady, dan semua langsung diam.
"Lanjut! Lo malu sama jabatan bokap Lo?" tanya Lady lagi meremehkan. Dia duduk dengan posisi kaki menyilang, dan memandang rendah Rani.
"Sebelumnya, nama gue Rani. Jadi jangan ada yang manggil gue Putri lagi." perkenalan awal Rani, "Huh! Cuma nama, pengecut." ejek Lady.
"Nama gue Arani Arya. Gue anak dari Rian Arya." perkenalan Rani yang membuat kaget satu kelas.
"Huh! Nggak mungkin, Lo anak dari pengusaha ternama mancanegara." remeh Lady yang masih belum percaya.
"Lo nggak percaya? Sebenernya gue juga nggak peduli sih." timpal Rani, dia juga tidak pernah membawa-bawa nama orang tuannya.
"Coba Lo telpon kalau bener dia bokap Lo!" suruh Lady, yang pasti dilakukan Rani. Dia mengeluarkan ponselnya. "Jangan nipu Lo ya!" Lady memperingati Rani.
Tut...Tut...Tut...
Ponsel Rani masih berbunyi tanda belum diangkat, tapi tulisannya berdering. "Cepetan..!" buru Lady, dia sudah ketar-ketir kalau memang itu Ayahnya Rani.
Tut!
Telpon terbuka, suara Ayahnya yang duluan terdengar.
"Nak, ada apa?" tanya tuan Arya.
"Nggak Yah, Rani cuma mau kenalin Ayah sama temen Rani." sinis Rani menatap Lady, didalam hati, Rani sudah tertawa melihat wajahnya yang panik.
"Udah dulu ya, nak. Ayah lagi dijalan. Nanti kita lanjut ngobrol dirumah." pesan Ayahnya.
"Iya, Yah. Hati-hati."
"Iya."
Tut!
Telepon dimatikan oleh Rani. "Sekarang? Lo puas?" tanya Rani mengejek. "Sialan Lo Putri!" marah Lady, tapi sudah keduluanan mulutnya ditahan oleh Rani.
"Nama gue Rani, Lo nggak tuli kan?" bisiknya yang membuat Lady merinding.
Teng! Teng! Teng!
Bel sekolah berbunyi, terpaksa perdebatan dihentikan. Padahal lagi seru-serunya, tapi guru juga sudah mau datang.
"Yaudah, Put eh Rani. Kami pergi dulu ya." ujar Jihan yang diangguki oleh Vina juga. "Yaudah, nanti pas istirahat ngumpul tempat biasa ya."
"Iya." Mereka bubar, dan di kelas hanya tinggal Rani dan Cinta dari kelompok Sotara. Sedangkan kelompok Leo, hanya Alfino, Reihan dan Zaky.