SOTARA

SOTARA
Episode 5



"Jadi ini gimana Put?" tanya Cinta disela-sela keseriusan mereka. "Kita harus tahan dulu, kita harus mengumpulkan banyak anggota." saran Putri yang diangguki semua orang.


"Tapi paling nggak kita punya 5 anggota inti." saran Jihan mendadak. Mereka berdua melihat ke arah Jihan bersamaan. "Siapa lagi yang mau kita cari Ji?" tanya Cinta keheranan.


Tiba-tiba Putri datang memberi penjelasan atas apa yang disampaikan Jihan tadi. "Iya, kita harus punya setidaknya 5 anggota inti. Kita harus punya mata-mata, ahli IT, pemimpin, perencana, dan orang yang memerintah anggota." jelasnya.


"Kan itu semua bisa kita lakuin sendiri Put." tolak Cinta halus. "Emang bisa, tapi konsekuensinya kalian nggak bisa tidur cepat. Paling cepat jam 12." jawabnya. "Lah kok nyambung di jam tidur sih?" cetus Jihan tiba-tiba.


"Kalau kita udah aktif nanti, pasti banyak kegiatan yang kita lakukan. Memata-matai Lady, ngeretas datanya, buat penyerangan, nggak akan cukup waktu." jelas Putri panjang lebar.


Dua orang itu hanya menganga melihat penjelasan Putri, entah mereka mengerti atau tidak. "Kalian bisa nggak cari orang yang bisa memenuhi syarat itu?" tanya Putri sopan, takut terlihat seperti memerintah.


"Bisa kok Put, nanti biar gue sama Jihan yang cari." jawab Cinta sambil merangkul pundak Putri. Kemudian mereka menghentikan pembicaraan, dan menuju ke kantin.


.


.


.


Sesampainya di kantin, mereka duduk di salah satu warung yang menjual nasi goreng. Mereka kemudian memesannya.


"Bu! Nasi gorengnya tiga ya!" pinta Cinta. Penjual nasi goreng mengangguk dan mulai menyiapkan pesanan mereka.


"Biasanya disini si Lady beraksi nih." ingatkan Putri yang pernah menjadi salah satu korban bully. Disini Lady sering mencari mangsa, tak terkecuali Putri waktu itu. Tapi sekarang Putri tidak akan dibully lagi.


"Iya nih, kita liat aja siapa korbannya." jawab Jihan. Setelah itu pesanan mereka datang dan mereka makan dengan lahap. Situasi hening sejenak.


"Aaa!!" terdengar teriakan dari dekat pintu kantin tak jauh dari mereka bertiga. Mereka langsung berhenti makan dan melihat asal suara. Tapi sayangnya asal suara tidak bisa dilihat karena dikerumuni siswa-siswi.


"Kenapa tuh? Samperin yuk!" ajak Cinta kemudian mereka langsung pergi ke sana. Mereka menerobos kerumunan siswa yang entah sedang apa. Setelah mereka sampai di kerumunan paling depan, mereka baru tau apa penyebabnya.


Ternyata itu Lady yang sedang membully murid-murid lemah dan tidak berdaya. "Lo mau gue lepasin atau gue siksa?" tanya Lady memaksa. "Le, lepasin gue." pinta murid itu lirih, dia hampir menangis.


"Boleh. Tapi ada syaratnya dong. Lo harus bayar gue tiap hari. Ya, minimal 10 ribu lah." ujarnya, tanpa belas kasihan dia memberikan syarat bayaran yang mungkin saja uang sakunya tidak cukup segitu.


"Ta, tapi uang gue mana cukup 10 ribu buat bayar Lo tiap hari." lawan gadis itu sambil menunduk. "Oo yaudah, kalau gitu Lo mau gue bully lagi hah!" bentaknya yang membuat satu kerumunan itu terkejut, tak terkecuali Putri, Jihan, dan Cinta.


Ternyata yang melihat dari kejauhan adalah gengnya Alfino. Mereka cukup melihat dari kejauhan karena pasti diberikan celah untuk melihat. Kalau mereka mendatangi kerumunan, pasti mereka akan berhenti karena para siswa ceweknya akan ribut jika melihat mereka.


"Kenapa kita nggak kesana aja, Al?" tanya Revan yang adalah salah satu anggota inti geng itu. "Lo gila ya? Kalau kita kesana yang malah cari ribut kita. Lo mau dikerubuni anak cewek?" cetus Zaky tiba-tiba.


"Heh! Diem deh Lo! Yang gue tanya itu Al, bukannya Lo!" geram Revan mendengar cetusan Zaky. "Emangnya Lo mau dikerubuni cewek-cewek?" tanya balik Zaky. Revan hanya mengangguk.


Tanpa aba-aba, Alfino langsung pergi dari mereka menuju ke tempat kerumunan. "Eh Al! Lo mau kemana?" tanya Reihan yang juga mengikuti langkah Alfino. Tapi Alfino hanya menoleh dan membalikkan kepalanya lagi.


Mereka sisanya pun mengikuti Alfino dan langsung sampai di barisan depan kerumunan. Dia melihat semua kejadian. Seketika para murid cewek ribut melihat kedatangan geng Leo di dekat mereka. "Kenapa kalian liatin kami? Lanjut aja liatin dia!" larang Reihan sambil menunjuk ke arah Lady dan korbannya. Cewek-cewek itu pun langsung diam, dan melanjutkan melihat aksinya Lady.


Sementara itu, Putri yang melihat murid diperlakukan seperti itu tidak tahan. Dia ingin maju, tapi seseorang sudah mendahuluinya. Dia menatap gadis itu dengan tatapan bingung. Tapi gadis yang dilihat tidak peduli.


***


"Maksud Lo apa nyiram gue hah! Lengket semua tau nggak?" senggak Lady tidak sabaran. "Lo pikir ini semua cukup? Ini belum separah yang Lo buat barusan!" teriak Vina yang sudah kehabisan kesabaran.


Mereka bertiga langsung ikut campur tangan melawan Lady. Terutama Putri yang sangat berambisi untuk balas dendam padanya.


***


"Lo udah pernah giniin gue kan? Sekarang gantian dong!" tanya Putri sinis melihat muka lengket Lady. "Diem Lo ya, gue nggak bilangin ini sama Lo!" bentak Lady. Putri kemudian mengelilingi Lady, Cinta, Jihan, dan Vina sambil tersenyum jahat kepada Lady.


"Sabar dong! Gue kan cuma mau balas semua yang udah Lo dan keluarga Lo buat sama keluarga gue! Kalau gini kan nggak adil. Lo juga harus menderita!" sinis Putri sambil menatap tajam Lady. Lady yang ditatap jadi hilang fokus dan menampar Putri


Plak!


Satu kerumunan terkaget melihatnya. Termasuk keempat orang itu yang juga melihatnya. Ditambah lagi geng Leo yang melihatnya, kecuali Alfino.


"Jangan main-main sama gue ya! Lo nggak tau gue siapa?" bentak Lady lagi. Putri sekarang menatap wajahnya Lady dengan tatapan yang berubah lebih dingin dan datar, namun dengan tatapan yang lebih tajam dan ganas.


"Lo pikir gue peduli Lo anak siapa! Apa jabatan bokap Lo! Gue nggak peduli!" teriak Putri yang memenuhi langit-langit kantin. Lady hanya terdiam mendengar perkataan Putri barusan.


"Gue anak dari Hendra Agung! Perwira tinggi yang sangat dihormati! Kalau Lo nggak baik-baik sama gue, habis Lo sama bokap gue!" peringatan dari Lady. Dia tidak tau saja Putri tidak takut ancaman seperti itu.


"Gue udah bilang tadi, gue nggak peduli! Yang gue peduli cuma kehancuran Lo! Lo harus hancur! Lo harus terpuruk!" jelasnya dengan nada mengharuskan.


Terjadi perdebatan panjang antara Lady dan Putri. Hingga akhirnya mereka dipisahkan oleh kelompok geng Leo. Mereka berlima ikut turun tangan. "Udah-udah! Jangan cari ribut lagi!" peringat Reihan mewakili mereka berlima. Putri hanya menatap dengan tatapan penuh kesal. Hingga mereka yang ditatap menjadi merinding.


"Diem Lo! Ini bukan urusan Lo!" elak Putri dengan tatapan sangarnya. Reihan sedikit merinding melihat tatapan dingin, dan tajam seperti ini, hampir menyerupai bos mereka. Karena Putri juga tidak mau dibujuk berhenti oleh teman-temannya juga, akhirnya Alfino yang ikut turun tangan juga.


"Ayo!" ujarnya singkat pada Putri sambil menarik tangannya keluar dari kerumunan. Mereka sisanya pun mengikuti dua orang itu, Cinta juga mengajak Vina dengan menarik tangannya.


.


.


.


Mereka sampai di taman belakang sekolah, Putri dan Alfino yang duluan sampai, sisanya tak lama kemudian. Putri langsung menghempaskan tangan Alfino. "Apa sih maksud Lo!" geram Putri, dia tadi padahal sangat emosi.


"Lo mau dipanggil sama OSIS?!" tanya Alfino dingin, yang membuat amarah Putri sedikit mereda. "Ini bukan urusan Lo!" ujar Putri yang duduk di salah satu bangku taman. Diikuti dengan Alfino yang duduk di sampingnya, tapi agak berjauhan.


"Lagian kenapa Lo peduli sama gue? Mau gue dipanggil OSIS juga bukan urusan Lo!" ujarnya yang sebenarnya benar adanya. Tapi Alfino diam saja tidak menanggapi ucapan Putri tadi. Putri jadi kesal sendiri.


Tak lama mereka datang juga, tapi langkah mereka berhenti melihat sepasang wajah sangar itu duduk bersampingan. "Caelah! Malah beduaan!" ucap Zaky yang sengaja dikuatkan agar mereka berdua bisa dengar. Tapi hanya Putri yang berdiri.


"Nggak kok! Asal aja!" sewot Putri yang sebenarnya juga tidak terlalu di pentingkan. Mereka kemudian mendatangi Alfino dan membahas kejadian tadi. Putri juga kembali duduk ditempatnya tadi. Sedangkan yang lainnya berdiri mengerumuni mereka.


"Jadi maksud Lo apa ngomong kayak gitu tadi?" tanya Reihan mencoba membuka topik. Putri hanya diam, kemudian dia menjawabnya. "Ya, gue punya dendam aja sama dia!" ujarnya dingin. "Dendam? Dendam apa?" tanya Zaky kepo, tapi di senggol oleh Reihan. Zaky hanya memasang wajah tidak tau apa-apa.