
"Jadi rencana kalian selanjutnya apa?" tanya Reihan mulai serius. Wajah mereka kembali serius setelah tadi sempat bercanda sebentar. Dan mulai membahas rencana itu lagi.
"Kami lagi butuh orang, kami lagi kekurangan anggota inti." jelas Cinta sambil ogah-ogahan. "Jadi rencana kalian apa?" tanya Zaky sekarang. Mereka hanya diam, tapi setelah itu Vina angkat bicara.
"Gue masuk ke grup kalian!" serunya yang membuat mereka menatap gadis cantik ini. "Kenapa? Gue juga punya dendam sama tuh orang kali!" tanya Vina tidak habis pikir, bukannya senang karena dia bergabung malah bingung.
"Lo seriusan?" tanya Jihan memastikan, karena melihat wajah Vina yang ragu-ragu. "Gue yakin! Nama gue Vina, salam kenal!" Vina berkenalan dengan mereka semua. Sejak awal bertemu mereka belum berkenalan.
.
.
.
Setelah sesi perkenalan selesai, mereka lanjut membahas tentang tadi. "Jadi? Kita cuma butuh satu anggota inti lagi kan?" tanya Cinta setelah salam kenal. Semua cewek mengangguk.
Putri dari tadi tidak bicara, sekarang dia yang akan menjelaskan rencananya.
"Baiklah. Jihan, Lo urus soal meretas data-data keluarganya. Cinta, Lo kirimkan mata-mata ke rumahnya dan sebar juga di sekolah. Vina, Lo yang urus rencana penyerangan kapan dan dimana." jelas Putri panjang lebar, membuat mereka yang mendengar hanya terdiam.
"Jadi? Tugas Lo apa?" cetus Zaky tiba-tiba. "Gue?" tanya Putri balik. Semua mata kembali tertuju padanya, antara bingung dan tidak. "Gue nggak tau mau jadi apa." lanjutnya.
"Udah! Lo jadi pemimpin aja! Lagian pokok dari semua rencana ini Lo kan?" usul Cinta yang disetujui semua anggota. "Jadi? Deal Putri jadi ketua?" tanya Cinta meyakinkan. Semua mengangguk, Putri hanya diam dan tersenyum sebagai balasannya.
"Bentar, kita butuh nama untuk grup ini." jeda Zaky di sela-sela keseriusan mereka. Mereka kemudian berpikir, dan dengan cepat Putri mendapatkan nama yang tepat untuk grup barunya.
"Gue tau! Gimana kalau namanya...-" omongannya terputus, dia sengaja agar membuat mereka semakin penasaran. "Cepat dong Put! Dah penasaran nih!" geram Cinta yang tidak sabar mendengarnya.
"Gimana kalau kita kasih nama Sotara?" tanya Putri mengusulkan. "Sotara? Bagus tuh kayaknya! Itu aja deh!" putus Jihan, dan semua setuju dengan ketiga inti lainnya.
"Tunggu! Kalian nggak nanya persetujuan kami?" tanya Zaky kesal karena awalnya dia yang mengusulkan untuk membuat nama. "Yang punya grup kan kami, kenapa Lo yang sewot?" geram Putri, yang punya grup dia malah Zaky yang sibuk.
"Ya yang ngusulin nama grup kan gue!" bela Zaky tak kalah. Terjadi keributan antara geng Sotara dan Leo. Hingga akhirnya dilerai oleh Vina.
"Udah! Kalian cari ribut aja! Pergi sana!" usir Vina galak, dia terlanjur kesal dengan para inti Leo. "Siapa yang mulai duluan!" sinis Zaky yang sedari tadi sibuk sendiri. "Lo yang mulai duluan ya! Jangan ngadi-ngadi balikin fakta!" senggak Putri tiba-tiba membuat mereka semua kaget lagi.
"Udah!" ucap datar dan dingin Alfino yang membuat anggota nya langsung kicep. "Lanjut!" perintah Alfino menyuruh mereka melanjutkan pembicaraan mereka. Dan mereka kembali membahasnya.
Teng...Teng...Teng...
Bel sekolah sudah berbunyi, tandanya sudah waktunya para murid untuk pulang. Sotara dan Leo sudah bergegas pulang dengan kendaraannya masing-masing.
Beda dengan Putri, dia memilih berjalan kaki saja daripada menelpon supir yang tadi mengantarnya.
"Kasian, kalau dia lagi makan terus gue nelpon nanti makannya keganggu." begitulah anggapan Putri mengira kalau supirnya sedang makan siang.
"Put! Gue pulang dulu ya. Bye..." salam Cinta yang sudah dijemput oleh supirnya, di lanjutkan dengan Vina dan Jihan.
Tinggal Putri sendiri anggota Sotara. Dia sengaja pulang paling akhir, sekalian ingin melihat si Lady.
"Mau ngapain lagi tuh anak!" sinisnya, dia mencoba masuk ke dalam gedung sekolah lagi. Tapi tangannya ditahan oleh seseorang.
"Apaan sih?" senggaknya. Ternyata orang yang menahan tangan Putri adalah Alfino. Dia memberi kode agar tidak masuk ke gedung sekolah lagi.
"Lo belum pulang?" tanya Alfino dingin.
"Sewot Lo! Terserah gue mau pulangnya kapan!" jawab Putri yang sebenarnya bukan jawaban yang diinginkan Alfino.
"Gue nanya Lo baik-baik." peringatkan Alfino dengan nada dingin dan datar.
"Terus! Bukan urusan gue! Sana Lo! Gue mau pulang!" usir Putri. Entah kenapa dia jadi kesal melihat wajah Alfino.
Putri berjalan menuju gerbang sekolah yang cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang. "Jauh juga ya? Tadi pagi padahal nggak sejauh ini." pikirnya dengan kebingungan kenapa jalannya bisa jadi sejauh ini.
Disisi lain, Alfino sudah menaiki motor sportnya menuju gerbang sekolah. Tentu Putri kalah cepat, baru beberapa langkah Alfino sudah sampai di gerbang.
.
.
.
Tak berapa menit kemudian Putri sampai di depan gerbang. Dia cukup lelah. "Mampus gue! Jalan kayak gini aja gue udah ngos-ngosan! Apalagi jalan sampek rumah!" seru Putri sambil setengah jongkok mengatur napasnya.
Vroom...Vroom...
Tak lama motor Alfino ada tepat disebelah Putri. Putri memindahkan pandangannya, melihat Alfino yang sedang menatapnya. Mereka saling tatap.
"Apa Lo!" tanya Putri ketus.
"Mau pulang?" tanya Alfino datar.
"Iya. Lo nggak pulang?" tanya Putri balik.
Alfino tiba-tiba turun dari motornya dan menarik tangan Putri sampai berdempetan dengan motor.
"Naik!" tanpa jawaban, Alfino memerintah Putri untuk naik.
"Nggak nggak! Gue mau jalan!" tolaknya lagi.
"Naik!!" perintah Alfino dengan nada tidak ingin dibantah lagi. Tapi Putri masih berusaha menolak.
"Nggak mau! Jangan maksa!" kesalnya sambil mundur dari motor Alfino.
Karena kesabaran Alfino setipis tisu, dia memberi Putri dua pilihan.
"Huff! Lo mau naik baik-baik atau gue paksa?" tanyanya masih dengan nada datar dan datar.
"Nggak keduanya! Gue bilang gue mau jalan!" tolak Putri lagi untuk yang ketiga kalinya.
Kesabaran Alfino sudah habis, dan dia meninggalkan Putri sendirian di sekolah itu.
"Kalau itu mau Lo. Gue mau cabut!" kesalnya, kemudian pergi dan tidak mempedulikannya.
"Ha? Lo pikir gue peduli!" teriak Putri yang didengar samar oleh Alfino. Kemudian Putri akhirnya pulang dengan jalan kaki.
***
Sementara itu, Alfino tidak benar-benar meninggalkan Putri pulang sendiri. Dia mengawasi Putri dari kejauhan. Karena sulit mengajaknya pulang bersama, jadi ya harus begini.
Alfino berjalan sangat pelan, di salah satu celah-celah jalan. Supaya tidak ketahuan Putri.
***
Putri juga sudah mengetahui kalau ada yang sedang mengikutinya. Tapi dia berpikir kalau orang itu tidak ingin berniat jahat padanya. Tapi tiba-tiba ada dua motor yang menghadangnya di depan.
Dua motor itu berisi 4 orang. Dengan pakaian serba hitam. Kemudian orang itu turun dari motor.
"Mau apa kalian?" tanya Putri ketus, dia tau kalau mereka bukan orang baik-baik. "Mendingan Lo nyerah aja!" beritahu orang itu tanpa menjawab pertanyaan Putri tadi. Putri hanya tersenyum, dia tidak mengatakan apapun lagi setelah itu.
"Lo tuli ya?" ejek orang itu yang bermaksud merendahkan. Tapi sedetik kemudian sebuah tendangan kuat datang dari arah belakang Putri. Orang yang mengejeknya tadi tersungkur dan tak sadarkan diri.
Sontak Putri kaget. "Al, Alfino? Lo ngapain disini?" tanya Putri kaget ketika mengetahui kalau yang menendang orang itu adalah Alfino. "Lo mau diem aja?" tanya Alfino masih dengan wajah datarnya dan sikap dingin.
Pertengkaran terjadi, dua lawan empat. Putri melawan dua orang dan Alfino melawan dua orang sisanya. Putri berhasil menumbangkan satu orang, tapi dia kalah cepat daripada Alfino. Dia sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Kok Lo cepet banget si?" tanya Putri keheranan, namun Alfino tidak membalas dan malah mengincar lawan Putri.
"Enak aja Lo! Dia bagian gue!" setelah mengatakan itu, Putri langsung membabi-buta menghajar sisanya.
Brak!
Gedebuk!
Plak!
Akhirnya lawan Putri K.O juga. Yang masih bisa bertahan mencoba kabur dengan membawa motor, tapi sebelum itu Putri sudah menghalangi.
"Eh! Mau ngapain? Gue yang ambil alih motor Lo! Nggak lama kok, cukup nganterin gue sampek depan rumah." ejek Putri. Tanpa dia sadari, salah satu dari mereka memegang pisau, dan ingin menusuk Alfino.
"Mati Lo!" teriak orang itu yang baru disadari Alfino. Dia tidak sempat mengelak, tapi Putri sudah mendorongnya. Jadi dia hanya terkena goresan saja.
Putri yang melihat tetesan darah dari lengan atas Alfino, sudah histeris. Kemudian dia pingsan. Disitulah Alfino sudah panik. Antara ingin melawan atau menolong Putri.
Tapi amarah lebih dulu menguasainya, dia menyerang membabi-buta, sehingga mereka semua tidak berdaya lagi. "Makan Lo tuh!" ejeknya merendahkan.
Sejenak dia kembali tersadar kalau Putri masih ada di sana dalam keadaan pingsan. Dia langsung berlari ke arah Putri dan memangku kepalanya.
"Kenapa dia pingsan?" tanyanya dalam hati. Tapi itu tidak penting sekarang, dia langsung memanggil supirnya untuk mengantarkan ke rumah sakit terdekat.
.
.
.
Tak lama mobilnya pun sampai. Tanpa menunggu waktu lama, Alfino langsung memasukkan Putri ke dalam mobil dan menyuruh sopirnya untuk cepat mengarah ke rumah sakit.
.
.
.
Akhirnya mereka sampai, dan Putri langsung dibaringkan di brankar dan langsung di bawa ke UGD. Entah apa yang dipikirkan Alfino sekarang. Padahal Putri tidak sakit, tapi malah dibawa ke UGD.
Mereka sudah hampir sampai ke depan pintu UGD dan Putri dimasukkan kedalam. Sedangkan suster hanya bisa bilang kepada Alfino kalau pasien sedang dalam penanganan dokter.