
***
Saat ini, operasi Rani sudah selesai. Rani sudah dipindahkan di ruang rawat intensif, Ayahnya yang meminta.
Rani masih belum sadar setelah operasi. Mungkin karena pengaruh obat biusnya. "Pasien akan sadar kurang dari satu jam lagi." beritahu dokter yang mengoperasi Rani.
"Jadi dok, apakah penyakit anak saya sudah sembuh?" tanya Diana khawatir. "Penyakitnya mungkin sudah, Bu. Tapi pastikan pasien harus sering-sering cek up untuk periksa perkembangannya." jelas dokter itu. Diana mengangguk.
"Kalau begitu terima kasih ya dok." ucap tuan Rian sambil menyalam dokter yang ingin keluar ruangan. "Iya pak, kalau ada apa-apa panggil saya saja." sahut dokter itu sambil tersenyum.
Kemudian mereka berdua duduk di sofa pojok ruangan rawat intensif milik Rani. Ruangan ini memang khusus karena hanya terdapat satu ranjang untuk satu pasien yang baru selesai operasi.
"Kamu tidur dulu aja. Mas mau ke luar sebentar." suruh tuan Rian kepada Diana. "Emangnya Mas mau kemana?" Diana tak lupa bertanya.
"Mas mau ke kantor bentar."
"Tapi ini kan udah malam Mas."
"Bentar aja kok. Nanti juga pulang."
"Oh yaudah, hati-hati ya Mas."
"Iya."
Tuan Rian pun keluar ruangan dan pergi ke kantor.
"Padahal udah mau jam sembilan." bisik Diana setelah tuan Rian pergi. Setelah itu dia tertidur.
***
Jihan saat ini berada di dalam kamarnya. Entah apa yang dia kerjakan sekarang, sepertinya sangat penting.
"Gue nggak boleh lengah. Kayaknya pasukannya Lady udah mulai." bisiknya dalam hati, sambil menatap layar komputer.
Apalagi kalau bukan meretas, dia selalu melakukannya setiap malam. Tapi selalu saja gagal. "Ck! Semalam gagal! Masa sekarang mau gagal lagi?" kesal Jihan karena tidak bisa meretas data keluarga Lady.
Dia terus mengotak-atik komputernya. Setelah beberapa menit, dia mendapatkan info tentang keluarga Lady.
"Oh! Jadi dia keturunan Agung, pantes aja gayanya sok agung." celoteh Jihan merutuki marga keluarga Lady. Dia masih tetap fokus ke komputernya.
.
.
.
"Huah! Gue ngantuk. Besok lagi deh gue lanjut." gumamnya, kemudian dia mematikan komputer dan beranjak dari kursinya menuju ranjang.
"Hmmm. Put, Lo kemana sih? Gue pengen ceritain sesuatu ke Lo." Jihan bergumam dan tak lama dia tertidur lelap.
***
Pukul sepuluh malam, Rani terbangun. Dia tidak bisa bergerak, mungkin karena efek operasi tadi.
"Aduh! Rasanya gue rapuh banget. Pegel-pegel semua lagi." adunya, dia berusaha bangkit tapi tetap tidak bisa.
"Ibu udah tidur lagi, gue belum ngantuk. Baru juga bangun." kesalnya, kenapa dia bangun sekarang. Kenapa nggak besok aja, pikirnya.
"Apa gue bilang ke Ibu aja ya? Gue laper juga." pikir Rani untuk membangunkan atau tidak sang Ibu. "Hmmm. Yaudah deh, gue bangunin aja." putusnya kemudian bersiap memanggil sang Ibu.
"Bu! Ibu!" panggilnya, Ibunya menggeliat dan belum terbangun. "Ck! Ibu! Bangun!" lanjutnya lagi. Kemudian Ibunya bangun dan duduk.
"Rani! Kamu sudah bangun?" Ibunya langsung berdiri dan mendekat ke arah Rani. "Iya Bu, baru aja." jawab Rani singkat. Mereka tersenyum bersama.
"Bu, Rani laper." Rani mengadu pada Ibunya, kalau perutnya lapar. "Yaudah, kamu mau makan apa?" tanya Ibunya.
"Yang bisa dimakan lah Bu, Rani nggak tau. Lagian Rani kan abis operasi, nggak boleh makan sembarangan." beritahu Rani yang diangguki Ibunya.
"Yaudah, Ibu beliin kamu bubur ayam aja ya."
"Iya Bu, itu aja."
"Kamu mau teh atau air putih?"
"Air putih aja Bu."
"Yaudah."
Ibunya keluar ruangan untuk membeli bubur pesanan Rani, lebih tepatnya request Ibunya, karena Rani tidak pemilih untuk makan.
Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan dari luar ruangan. Rani yang mendengarnya mengira itu Ibunya.
"Perasaan Ibu baru keluar deh, kok masuk lagi." bertanya dalam hati, tapi tidak dia pedulikan. Dia menyuruh masuk orang itu.
Krek...!
"L, Lo!" pekik Rani terkejut dengan siapa orang yang ada di depannya. "Kenapa Lo kesini?" tanya Rani masih kaget pada orang itu.
"Kenapa? Nggak boleh!" balik tanya orang itu. "Bo, Boleh sih. Tapi," omongannya terputus setelah Alfino memberinya makanan. Ya, orang itu adalah Alfino.
"Ini untuk apa?" tanya Rani polos, tidak tau kalah di dalam bungkusan itu makanan.
"Makanan, Lo makan." suruh Alfino sambil memberikan bungkusan kepada Rani.
"Tapi tadi nyokap gue baru keluar beliin gue makanan." beritahu Rani pada Alfino, sambil mendorong bungkusan itu.
"Makan!"
Rani tidak berkata-kata lagi, dia menerima bungkusan dan menaruhnya di laci samping ranjang.
"Gimana operasi Lo?" tanya Alfino memulai pembicaraan.
"Baik, nggak ada masalah." jawabnya. Mereka diam, kemudian terdengar suara pintu dari luar.
Krek...!
Ibunya masuk dan terkejut dengan kedatangan Alfino. "Loh, Al! Kok nggak bilang mau dateng?" tanya Diana mendekat ke arah mereka.
"Tadi singgah Tante. Habis jenguk temen." jawab Alfino berbohong. Diana hanya mengangguk, tidak bertanya lagi.
"Ini, kamu makan dulu buburnya. Keburu dingin nanti." Diana menaruh bubur ke mangkuk yang tersedia, kemudian memberikannya kepada Rani.
"Iya, Bu." kemudian Rani meraih sendok dan ingin menyuapkannya ke mulutnya.
"Aduh!" Rani merasa kesakitan dengan tangannya yang diinfus. "Kenapa nak?" tanya Ibunya khawatir. "Kamu nggak bisa nyuap sendiri?" lanjutnya.
"Bi, Bisa kok Bu." elaknya, kemudian berusaha lagi. Dan hasilnya sama seperti yang pertama. Dia merasa kesakitan lagi.
"Yaudah, biar Ibu suapin ya." bantu Ibunya yang sudah mau mengambil mangkuk dari tangan Rani.
"Al aja Tante." rebut Alfino dari ibu Rani dan mengambil mangkuk dari tangannya. "Nggak ngerepotin kan Al?" tanya Diana memastikan. "Enggak kok Tan." jawabnya datar.
Alfino pun menyuapi Rani dengan sabar, walaupun wajah Rani kelihatan malu. "Kamu kenapa malu nak? Santai aja." goda Ibunya yang semakin membuatnya malu.
"Itu muka kamu merah."
"Enggak kok!"
"Yaudah! Lanjutin makannya."
"Iya."
Rani kembali memakan bubur yang disuapi Alfino. Sejak tadi Alfino hanya diam melihat Rani dan ibunya ribut. Tidak menanggapi apapun.
.
Krek...!
Pintu terbuka, tuan Rian datang. Dia sudah selesai dengan urusan kantornya.
"Loh, Mas. Udah selesai?" tanya Diana.
"Iya, udah. Siapa itu?" tanya balik tuan Rian melihat Alfino.
"Itu, Alfino. Temennya Rani."
"Uhuk! Uhuk! Temen?" kaget Rani, dia sampai tersedak dan terbatuk. "Iya, emang siapa?" tanya Ibunya kebingungan.
"Bukan temen juga Bu." kesal Rani, seumur-umur dia belum pernah berteman dengan laki-laki.
"Jadi kalau bukan temen, pacar?" tanya Ayahnya yang semakin membuat Rani kesal. "Bukan, Yah!" kesalnya, kemudian Ayah dan Ibunya tertawa puas.
"Kok malah ketawa sih?"
"Abisnya muka kamu nak, kesel-kesel tapi lucu!" jelas Ibunya masih dengan sisa tawanya.
"Lucu apanya, orang kesel juga." omel Rani masih dengan nada kesal.
"Loh Al, kamu kok diem aja?" tanya tuan Rian yang sedari tadi memperhatikan Alfino. "Enggak kok om. Al pamit ya." pamit Alfino dan menyalami Diana dan tuan Rian.
"Cepet banget om baru pulang juga." tahan tuan Rian. "Iya om, nanti Mama nyariin." jelas Alfino dan pamit dari sana.
"Yaudah hati-hati. Makasih juga udah mau nyuapin Rani." ledek Diana. Rani masih kesal.
"Hmmm." kemudian Alfino pamit dan keluar dari ruangan. "Kamu sejak kapan kenal sama dia nak?" tanya Ayahnya setelah Alfino pergi.
"Nggak tau, kayaknya nggak pernah kenal." jawab Rani ketus, masih saja kesal. Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang putri.
"Yaudah, kamu tidur ya. Udah tengah malem nih." suruh Ibunya yang diangguki Rani, kemudian dia tidur. Yang lain juga tidur dengan pulas.
***
Berbeda dengan Rani, Vina masih nonton TV sampai semalam ini, dia belum merasa ngantuk sedikit pun. Menguap saja tidak.
"Gue bosen, tapi gue nggak mau tidur!" gumamnya dalam hati. Tiba-tiba seseorang menelponnya. Nomornya baru dan tidak tertera namanya.
"Siapa sih ini!" kesalnya, kemudian dia angkat. "Halo!" salamnya, kemudian dibalas oleh orang seberang. "Halo!"
"L, Lo lagi!" Vina kembali kesal begitu mengetahui kalau yang menelpon itu Reihan. "Mau apa lagi sih Lo!" kesalnya dengan nada ketus.
"Emang nggak boleh kalau nelpon doang." balas Reihan tak kalah kesal. Tadi dia biasa-biasa saja, tapi sekarang suasana hatinya berubah.
"Mau apa sih Lo?" tanya Vina to the point. "Save nomor gue ya." suruhnya, kemudian dia mematikan sambungan.
Tut!
"Apaan sih? Nggak jelas!" omel Vina, tapi tetap di save olehnya. Kemudian dia mengantuk, dia mematikan TV dan pergi menuju kamarnya dan tidur.
***
Drrrt! Drrrt!
Terdengar suara alarm dari ponsel Rani, dia terbangun dan hari sudah pagi. Dia melihat ponsel dan melihat jam sudah pukul tujuh.
"Gue ini sekolah apa nggak sih? Keterangannya juga apa?" tanya Rani penasaran sekaligus khawatir tentang kehadirannya dibuat apa.
Tak lama setelah itu, sebuah nomor menghubungi Rani. Nomornya baru, juga tidak ada namanya.
"Halo." sahut Rani duluan. "Hmmm." jawab orang yang diseberang. "Ini siapa ya?" tanya Rani tidak tau siapa dia.
"Orang yang nyuapin Lo semalem." beritahu orang itu. "Alfino!" pekik Rani dan membuat terkejut tuan Rian dan Diana.
"Ya ampun nak, kenapa?" tanya Ibunya panik mendengar pekikan Rani. "Eh, enggak kok Bu. Temen aja." Rani memberi tau dengan sedikit tertawa.
"Kirain apa tadi." pikir Ibunya.
"Ibu sama Ayah lanjut tidur aja." suruh Rani.
"Enggak! Udah nggak ngantuk!" jawab mereka bersamaan.
"Yaudah." pasrah Rani, melihat mereka memainkan ponsel masing-masing.
"Lo kenapa nelpon gue sih?" tanya Rani kesal. "Kenapa? Nggak boleh?" tanya balik Alfino.
"Gue nanya Lo, kenapa Lo nanya balik?"
"Hmmm." jawabnya singkat, padat, nggak jelas.
"Lo telponin gue pagi-pagi kayak gini emangnya Lo nggak sekolah?" tanya Rani dengan nada lebih rendah.
"Hmmm, ini juga lagi siap-siap." beritahu nya.
"Yaudah sana Lo berangkat." suruh Rani yang sudah tidak sabaran. "Kok ngatur?" cetus Alfino.
"Ngatur lah! Gue masih ngantuk!" balasnya. Kemudian mereka saling diam, saling menunggu siapa yang mau bicara.
Hingga akhirnya Alfino yang bertanya duluan.
"Lo kapan sekolah?"
"Apa? Kenapa Lo nanya itu?" tanya Rani balik.
"Gue nanya aja!" balasnya datar.
"Ya nggak tau lah! Tunggu perintah dokter aja." beritahu Rani.
"Emangnya kenapa kalau gue nggak sekolah?" sewot Rani menanyai yang begituan.
"Hmmm, nggak papa."
"Yaudah, gue berangkat sekolah dulu."
Tut!
Telepon dimatikan sepihak. "Ck! Apaan sih?" kesal Rani lagi, dia kemudian berbaring lagi. Dan tak lama, dia tertidur lagi.