
***
Akhirnya istirahat juga tiba. Semua murid berhamburan ke luar kelas. Tak terkecuali Rani. Mereka langsung pergi ke kantin.
.
.
.
"Put, eh Rani. Lo beneran namanya Arani?" tanya Cinta saat mereka berempat sudah sampai di kantin. "Hmmm." dijawab deheman oleh Rani.
"Lo kok baru bilang sekarang sih. Kita kan jadi gimana gitu." protes Jihan yang juga sedikit kesal dengan Rani.
"Iya, maaf. Soalnya yang ngasih panggilan gue Putri itu nyokap gue, dan sekarang yang manggil nama asli gue juga nyokap gue. Jadi gue bingung." jelas Rani panjang lebar.
Mereka mengangguk dan melanjutkan makan. Mereka juga membahas sedikit tentang kejadian sebelum bel masuk tadi.
"Kaget banget tuh si Lady kalau Lo itu keturunan Arya. Setidaknya lebih tinggi dari dia." sinis Vina, dia juga jengkel.
"Sebenernya gue nggak mau bawa-bawa nama keluarga gue. Tapi dia yang minta kenapa enggak." ledek Rani, kemudian mereka tertawa bersama.
"Oh iya, Ra. Lo seminggu ini kemana aja sih? Dari Minggu lalu nggak dateng-dateng." khawatir Jihan yang tiba-tiba ingat tentang kehadiran Rani.
"Iya, gue izin." jawab Rani singkat. Dijawab oh oleh mereka. Mereka kembali melanjutkan makan. Diselingi mengobrol. Dan sesekali tertawa.
***
Disisi lain, Lady sudah kesal bercampur malu. "Rani sialan! Gara-gara Lo gue jadi malu!" teriak Lady yang berada di ruangan khususnya. Ya, ruangannya sama satu gengnya.
"Kenapa sih Lo Lad?" tanya seorang gadis melihat tingkah temannya. "Ini loh Kil, gara-gara si Rani gue jadi malu." adu Lady pada Kila, teman satu gengnya.
"Siapa yang salah coba?" tanya Kila tidak memihak siapapun. "Nggak tau ah gue! Bodoh amat." gerutunya kemudian keluar dari ruangan.
"Lah, ditanya malah nggak tau." heran Kila, dia juga ikut keluar bersama Lady. Ternyata mereka juga pergi ke kantin. Mereka duduk tidak jauh dari rombongan Rani.
***
"Eh, Ra! Liat itu orang Lady ada disana." tunjuk Cinta kepada rombongan Lady dan gengnya. "Terus? Mau diapain?" tanya Rani pura-pura tidak tau.
"Ya nggak ada sih. Cuma ngasih tau." Cinta berhenti karena tanggapan Rani beda dari apa yang dipikirkannya.
"Yaudah, yuk. Bentar lagi mau masuk." ajak Rani yang sudah menarik tangan Cinta. "Iya bentar, gue bayar dulu." tahan Vina suruh menunggu dirinya. Mereka iya iya saja.
.
Setelah selesai, mereka berjalan keluar menuju kelas. Belum juga keluar kantin, sudah terdengar bisik-bisik sinis dari bangku yang diduduki Lady.
"ADUH! ADUH! KOK BERANINYA KEROYOKAN." sirik Lady menekan setiap kayanya. "Diem aja, dia cuma mau manas-manasin Lo aja." tahan Vina yang melihat wajah Rani sudah agak berubah.
Mereka melanjutkan jalan menuju kelas. "Nanti aja ya kita ngumpulnya, pas pulang sekolah aja. Di cafe ya." suruh Rani dan masuk ke dalam kelas, bersamaan dengan itu, bel berbunyi.
Teng! Teng! Teng!
Semua murid masuk, lorong dipenuhi siswa-siswi yang berebut masuk. Tapi tidak dipedulikan oleh Rani. Toh dia juga tidak disana.
Setelah depan kelas sunyi, Alfino, Zaky, dan Reihan ikut masuk sebagai orang terakhir. Rani hanya menatap mereka malas, kemudian membaca buku.Tak lama Bu guru datang, dan pelajaran dimulai.
Teng! Teng! Teng!
Sudah pukul satu, murid-murid keluar kelas. Seperti biasa, Rani pulang paling akhir. Sementara teman-temannya sudah menunggu di parkiran.
Setelah dirasa sunyi, Rani kemudian beranjak dari sana. Belum lagi dia keluar kelas, satu tangan sudah menariknya. Dan itu adalah ulah Alfino.
"Al! Apaan sih?" berontak Rani melepaskan genggaman tangan. "Lepasin nggak!" suruh Rani, masih tetap memberontak.
Tapi tetap saja dia masih kalah kuat. "Tolong!!!" pekik Rani, sekuat-kuatnya. Membuat Alfino terkejut.
"Maksud Lo apa?" tanya Alfino setelah keluar dari pintu gedung sekolah. "Lepasin!" suruh Rani masih tetap kekeh pada permintaannya.
"Nggak!"
"Lepasin nggak!"
"Diem!"
"Nggak mau!"
Mereka masih berdebat sepanjang jalan menuju parkiran. Hingga sampai di parkiran pun, Rani masih terus ngomel.
"Gue punya kaki kali! Bukan mobil truk oleng! Nggak usah tarik-tarik!" omelnya setelah sampai di parkiran bersama teman-temannya.
Vina, Cinta, dan Jihan hanya tertawa melihat Omelan Rani. Dia kesal diperlakukan seperti itu oleh Alfino. Terlihat dari wajahnya.
"Lo enak nggak capek." protes Alfino, baru kali ini dia protes dengan perempuan. "Emang siapa yang nyuruh Lo buat narik gue hah!" bantah Rani tak mau kalah.
"Lagian gue masih jalan, yang ada tambah capek tau nggak!" lanjutnya, mereka semua yang mendengar tertawa mendengar perdebatan teman-teman mereka.
"Diem aja Al, ngalah aja sama cewek. Gue aja digituin sama dia." tunjuk Reihan pada Vina, mereka juga selalu kesal-kesalan jika bertemu.
"Loh! Kok jadi gue?" bantah Vina.
"Setiap gue nyapa Lo, selalu aja Lo jawab ketus." jawabnya.
"Siapa suruh Lo nyapa gue!" omelnya, yang lain hanya diam, termasuk Reihan sendiri. Dia memilih diam dari pada harus ribut lagi.
"Udah-udah, pulang! Malah ribut!" kerai Revan yang sedari tadi mendengar perdebatan mereka. Walaupun dia juga menikmati perdebatan mereka.
"Diem Lo! Lo dari tadi ketawa terus ya!" geram Rani, dia menatap tajam Revan yang langsung bergidik ngeri. "Ampun!" pintanya sambil menyatukan tangan.
Yang tidak takut dengan tatapan Alfino adalah perempuan, kecuali Cinta. Dia selalu ketar-ketir kalau sudah berhadapan sama ketua Leo yang satu ini.
"Udah pulang! Orang gini diurusin." cetus Rani juga, mereka akhirnya pulang. Tapi, untuk anggota Sotara, mereka nanti akan kumpul lagi di cafe.
.
.
.
Rani sampai di rumah, tentunya dijemput oleh sang Ayah. Setelah perdebatan tadi, tak lama Ayahnya datang. Jadi dia langsung bisa pulang tanpa harus menunggu lagi.
"Ibu! Rani pulang!!" teriaknya yang terdengar oleh sang Ibu hingga dapur. "Eh anak Ibu, gimana sekolahnya?"
"Baik Bu! Baik banget!" jawab Rani dengan gembira. "Yaudah! Sekarang kamu ganti baju, habis itu langsung turun ya." suruh Ibunya, Rani pun mengangguk.
"Yaudah, Rani naik dulu ya."
"Iya."
Rani naik menuju kamarnya. Ganti baju, beres-beres. Setalah itu, dia kembali turun ke meja makan. Sudah terdapat Ayah dan Ibunya yang sedang menunggunya.
"Sini nak..!" panggil Ibunya menyuruh duduk disampingnya. "Iya Bu, bentar." Rani mengambil ponselnya, lalu duduk bersama mereka.
Mereka pun makan siang bersama, mereka makan dalam diam. Asik dengan lauknya masing-masing. Rani melihat ke ponselnya, ternyata grupnya sudah ribut.
"(Kita mau kemana?)" chat dari Vina.
"(Nggak tau tuh. Tanya aja si Rani.)" balas Cinta.
"(Di cafe xx aja. Biara cepet.)" balas Rani.
"(Oh, oke.)" balas teman-temannya.
"(Gue siap-siap dulu.)" pesan dari Jihan.
.
.
.
Mereka selesai makan siang, piring juga sudah dibereskan oleh pembantu yang bertugas di dapur. Mereka beranjak ke ruangan keluarga dan menonton TV.
"Bu, Yah! Rani keluar sebentar ya." izin Rani sambil berdiri dihadapan kedua orang tuanya yang menonton TV.
"Ngapain nak?" tanya Ibunya.
"Mau ngumpul sama temen-temen." jawabnya.
"Oh yaudah, jangan lama-lama ya. Sebelum jam lima udah pulang." pesan sang Ayah, lalu diangguki oleh Rani. Kemudian dia bersiap.
.
Dia pergi diantar supir. Setelah sampai, dia menyuruh supir menunggu disini. "Pak, bisa nggak tungguin disini aja?" tanya Rani sopan.
"Oh bisa non!" jawab supir itu. "Makasih ya, Pak. Bentar doang kok Pak." jelasnya. Kemudian dia masuk.
Didalam sudah ada Vina dan Cinta yang menunggu. Rani juga ikutan duduk, di samping Vina.
"Jihan mana?" Rani bertanya melihat Jihan belum datang. Tak lama, Jihan datang juga. "Panjang umur Lo! Baru juga ditanyain sama Rani." cetus Cinta yang lagi memegang lembar menu.
"Iya, biasalah. Agak debat dikit sama Mama." jelas Jihan, kemudian dia duduk di samping Cinta. "Jadi kita mau bahas apa?" tanya Rani, dia masih tidak tau mau bahas apa.
"Gini loh Ra, anggota kita udah banyak loh. Udah lima puluhan gitu deh." jelas Vina, karena yang mengatur tentang ini memang dia.
"Banyak? Siapa aja?" tanya Rani penasaran. "Ya perempuan semua sih. Tapi jago-jago berantem tentunya." jawab Vina.
"Berarti kita udah perlu markas nih kayaknya." timpal Jihan yang kesenangan. "Yaudah, nanti gue cari. Terus kita patungan bayarnya." jelas Rani, diangguki semuanya.
"Gue juga dapet info nih, si Lady punya temen yang namanya Kila. Gue liat sih mereka kayaknya baru kenal pas di SMP ini." jelas Jihan si ahli IT.
"Iya. Eh gue juga mau kasih tau, si Kila itu beda kelas sama dia. Kayaknya dia di kelas ujung deh." timpal Cinta yang memiliki banyak kenalan di setiap kelas.
"Berguna juga ya Lo punya banyak d teman di setiap kelas. Sekalian nambah info." cetus Jihan, mereka kemudian tertawa.
Tiba-tiba pelayan datang dan menanyakan pesanan. "Permisi, mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Saya milky drink satu." pesan Jihan.
"Saya Orange Juice satu juga ya mbak." pesan Cinta.
"Cappucino cincau nya satu." pesan Vina.
"Matcha Jelly Ice Cream satu." pesan Rani yang terakhir.
"Baik, silahkan ditunggu." pesan pelayan itu, kemudian kembali ke dalam dapur. Mereka diam sebentar.
"Eh, gimana kalau kita buat sosmed Sotara aja." usul Cinta tiba-tiba di balik keheningan antara mereka.
"Buat apa Cin? Untuk apa?" tanya Jihan tidak habis pikir tentang usul Cinta. "Ya, untuk mereka yang mau main-main sama kita, nggak tau aja udah berapa pasukannya." sombong Cinta.
"Sekalian kalau ada yang berminat bergabung, bisa DM aja." lanjutnya. "Boleh juga tuh!" cetus Rani tiba-tiba.
"Yaudah, mau bilang apa lagi. Ketua udah bilang boleh yaudah." pasrah Vina, semuanya kembali tertawa.