
Tak terasa satu Minggu sudah terlewat. Rani sudah bisa pulang dan dirawat di rumah, dia juga sudah bosan di rumah sakit.
"Rani, beneran kamu udah bisa pulang?" tanya Ibunya memastikan.
"Udah Bu, lagian Rani juga udah bosan disini." yakinkan Rani.
"Yaudah, sampai rumah nanti langsung istirahat." pesan Ibunya yang diangguki Rani.
Mereka membereskan barang-barang, termasuk Ibunya. Selama Rani dirawat, Diana selalu tinggal di rumah sakit, dia tidak ingin meninggalkan anaknya. Jadi barang bawaannya banyak.
"Mas, udah bilang kan sama sopir untuk bawa mobil bak." tanya Diana, sengaja dilakukan untuk menampung semua barang mereka.
"Iya, ini lagi mau ditelpon." jawab tuan Rian sambil menelpon. "Tolong bawakan mobil bak kesini, sama satu mobil pribadi." perintah tuan Rian pada bawahannya di telpon.
("Baik tuan!") jawab bawahannya di dalam telpon. Kemudian dia mematikan telpon. Dan tuan Rian kembali bersama Rani.
"Sayang, kamu beneran nggak kenapa-napa lagi kan?" tanya tuan Rian sedikit khawatir. "Nggak kok Yah, Rani kan kuat." jawab Rani diselingi dengan candaan. Kemudian mereka tertawa bersama.
.
.
.
Semua barang sudah selesai dibereskan, mobil juga sudah datang. Mereka tinggal memindahkan barang-barang saja.
"Rani, kamu naik kursi roda aja ya. Nanti kamu capek." pinta Ibunya kepada Rani.
"Rani nggak papa Bu, bisa jalan kok. Lagian nanti di dalem Rani juga duduk. Kan cuma mau ke mobil aja Rani jalannya, sama pas mau masuk rumah." jelas Rani panjang lebar. Ibunya hanya mengiyakan saja, sudah pasrah.
"Udah, ayok." suruh tuan Rian kepada Rani dan istrinya. Rani duduk di bangku belakang pengemudi, tuan Rian duduk di sebelah pengemudi, sedangkan Diana duduk di samping Rani.
"Rani udah bolos berapa hari ya?" cetus Rani di tengah perjalanan. Kebetulan Ibunya mendengar cetusannya itu.
"Tenang, udah Ayah urus. Dia bilang sama kepala sekolah kalau kamu izin dulu." jelas sang Ibu sambil mengusap lembut rambut sang putri.
"Iya, Ayah juga udah bilang sama kepada sekolah untuk tutup mulut. Walaupun nggak mungkin juga dia ngomong." timpal Ayahnya yang juga mendengarkan.
.
.
.
Akhirnya mereka sampai di Mension, mereka menurunkan barang-barang dan menyusunnya di dalam.
"Rani, kamu sana ke kamar. Istirahat, pasti capek." suruh sang Ibu, mendorong pelan Rani untuk naik tangga. "Tapi Rani nggak ngantuk Bu." tolak Rani.
"Udah sana, biar Ibu sama Ayah aja yang urus." lanjut Ibunya tidak mau dibantah. "Lagian kamu bilang pas masuk rumah aja kan jalan. Ini udah didalam, kamu tidur sana." ingatkan Ibunya tentang perkataan Rani tadi.
"Ck! Iya iya!" akhirnya Rani mengalah dan naik menuju kamarnya. Entah kesal atau apa, tapi dia tidak marah pada Ibunya.
Ceklek!
Rani membuka pintu kamar, melihat-lihat sekitarnya. Matanya tertuju pada satu objek, dan menatapnya dengan tajam.
Dia berjalan menuju benda itu, ternyata foto yang pernah Rani banting waktu itu. "Enak ya Lo Lady, bebas selama satu Minggu ini." sinisnya, ingin sekali merobek foto itu.
"Mulai besok, Lo nggak bisa santai-santai lagi! Liat aja!" geramnya, kemudian dia berjalan menuju ranjangnya. Dan membaringkan tubuhnya.
Tak lama dia sudah tertidur lelap. Benar omongan Ibunya, dia sudah mengantuk. Karena gengsi dia tahan. Malah ketiduran.
***
Cinta sekarang berada di kamarnya, bermain ponsel. Hari ini adalah hari Minggu, jadi dia bebas. Dia memilih untuk tidak kemana-mana sekarang.
"PUTRI!! Kemana sih Lo? Gue cariin tau!" teriak Cinta yang tidak mempunyai kabar tentang Rani. Dia jadi kesal sendiri.
"Mana gue nggak punya nomor HP nya. Gimana mau tau coba?" lanjutnya lagi semakin kesal.
"Pokoknya Lo besok sekolah Putri, gue mau nanya banyak sama Lo!" putus Cinta, setelah itu dia tidur siang. Tidak tau sampai kapan dia tertidur.
***
Sementara Vina, bolak-balik dia ditelpon sama Reihan. Tapi dia tidak mengangkatnya. Dia sudah jengah melihat tingkah anggota Leo ini.
"Sempet Lo nelpon gue lagi! Habis besok!" geramnya, memohon untuk tidak menelpon lagi. Berisik menurutnya.
Drrrt!
Drrrt!
"DIAM!!" marah Vina kemudian membanting ponselnya ke lantai. Untung saja tidak pecah ataupun mati. Dia langsung sadar dan mengambil ponselnya.
"Ponsel gue! REIHAN!!!" kesalnya lagi, gara-gara dia ponselnya jadi begini. "Gue blokir Lo! Titik!!" putus Vina, kemudian membuka ponsel. Dan memblokir nomor Reihan.
"Makan tuh! Kesel banget!" puas Vina, tidak peduli apa yang akan dilakukan Reihan besok. "Peduli amat gue dia marah atau nggak! Emang dia siapa?" lanjutnya.
.
.
.
Dia kemudian tertidur bersama buku novel yang dia pegang. Dia sedang membaca, eh malah ketiduran.
***
Pukul setengah lima sore, Rani terbangun. Dia mengecek ponselnya, melihat notifikasinya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Dia mandi, beberapa menit kemudian dia keluar sudah segar. Tapi belum pakai baju, karena dia biasa pakai baju di kamar. Kalau di kamar mandi, dia jadi geli.
"Pas operasi itu, mereka bedah bagian mana ya? Kok nggak ada bekasnya?" Rani bertanya-tanya dalam hati.
Kemudian dia menatap dirinya di cermin. Entah sadar atau tidak, dia terlihat syok. Lalu dia berteriak.
"Aaa!!"
Tok...Tok...Tok...
"Rani! Ada apa nak?" panik sang Ibu, dia sudah menggedor pintu.
"Rani!" panggil Ibunya lagi sekali lagi.
Cklek!
Pintu dibuka, terlihat muka Rani sudah biasa-biasa saja.
"Nak, kamu kenapa teriak tadi?" tanya Ibunya cepat, berharap tidak terjadi apa-apa. "Bu, pas operasi yang kemarin...," omongannya diputus, membuat kedua orang tua ini penasaran.
"Kenapa operasinya nak?" tanya sang Ayah tak kalah penasaran. Mereka menatap serius sang putri yang menunduk.
"Me, Mereka ngoperasinya di bagian mana?" tanya Rani malu. Kedua orang tua itu menganga mendengarnya. "Jadi karena itu kamu teriak!" tanya tuan Rian memastikan.
Rani mengangguk, dia kelihatan malu. "Kenapa? Malu? Nggak disitu kok." jelas sang Ayah, kasihan juga melihat anaknya seperti itu.
"Jadi? Dimana Yah?" tanya Rani lagi, dia sudah tidak malu lagi. "Ayah juga nggak tau. Tapi yang pasti nggak disitu, Ayah yang larang. Kan itu privasi kamu." jelas Ayahnya lagi. Membuat Rani lega.
"Syukurlah. Makasih ya Yah." Rani memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Mereka juga membalas pelukan Rani dengan hangat.
***
Keesokan harinya, Rani sudah bisa sekolah. Kondisinya juga udah normal. Jadi dia bisa sekolah setelah biasa.
Rani sudah selesai beres-beres, dia turun dan pergi ke meja makan. Sudah terdapat Ayah dan Ibunya disana.
"Udah lama nunggu, Bu, Yah?" tanya Rani.
"Enggak kok. Baru juga turun." jawab mereka bersamaan. Rani tersenyum, dan ikut duduk disamping mereka.
Mereka sarapan dalam diam, tidak ada yang bicara. Sarapan mereka tenang dan harmonis, walaupun tidak bercanda tawa.
.
.
.
Setelah selesai sarapan, Rani langsung naik ke atas untuk mengambil tasnya. Kemudian dia kembali turun untuk pasang sepatu.
Ayahnya juga sudah menunggu di luar, hari ini dia yang antar. Rani memasang sepatunya, satu per satu.
.
"Bu, Rani berangkat dulu ya." salam Rani kepada Ibunya.
"Iya, hati-hati. Jangan kecapekan."
"Hmmm."
Kemudian mereka berangkat. Masih pagi, jadi tidak macet. Jadi Rani bisa datang lebih cepat.
.
.
Rani sampai ke sekolahnya. Dia menyalam sang Ayah. "Nanti Ayah jemput ya. Kamu jangan pulang sendiri." pesan tuan Rian kepada Rani. "Iya Yah, hati-hati ya." pesan Rani balik.
Lalu mereka berpisah, Rani berjalan menuju kelasnya. Lapangan masih sunyi, masih pukul setengah tujuh. Biasanya sekolah mulai ramai pada pukul tujuh.
.
.
Rani sampai di kelasnya, menaruh tasnya. Dia tak sengaja melihat Alfino yang sudah duduk di salah satu bangku sambil bermain ponsel.
"A, Al?" sapa Rani agak canggung. Karena dikelas cuma mereka berdua. "Hmmm." jawabnya.
"Tumben Lo datang cepet." basa-basi Rani, dia juga tidak berharap dibalas. "Lo?" balik Alfino bertanya.
"Ya, Ya nggak papa." jawab Rani gelagapan. Dia berusaha secepat mungkin keluar kelas. Tiba-tiba tangan seseorang menahannya.
"Kapan Lo pulang?" tanya Alfino, ya dia yang menahan Rani. "Se, Semalem. Kenapa?" tanya Rani balik.
"Nggak papa." jawab Alfino, kemudian dia melepaskan genggamannya. "Ck! Kirain ada apa?" kesal Rani, dengan cepat dia keluar kelas.
Gedebuk!
"Aduh!" ringis orang yang ditabrak Rani, mereka tabrakan. Rani masih berdiri, tapi satu lagi terjatuh.
"Cinta! Lo nggak papa?" tanya Rani khawatir. "Nggak! Gue...," omongan Cinta terputus. "PUTRI!!" pekiknya, dia kaget kalau yang ada di depannya Rani.
"Akhirnya Lo pulang juga Put, gue khawatir tau nggak dapat Jabar dari Lo. Satu Minggu lagi." adu Cinta sambil menaruh tasnya.
"Iya, gue izin. Jadi nggak masuk deh." bohong Rani, karena Ayahnya yang menyuruh.
Flashback
"Nak, nanti kalau kamu ditanya sama temen kamu kenapa nggak datang. Bilang aja kalau kamu izin." suruh Ayahnya.
"Kenapa Yah? Kan tinggal bilang Rani operasi." tanya Rani polos, dia memang tidak tau apa maksud Ayahnya.
"Kamu emangnya mau buat temen-temen kamu khawatir?" tanya Ayahnya lagi. "Eng, Enggak sih. Yaudah deh." putus Rani, kemudian mereka bercanda bersama.
Flashback off
"Yaudah, yuk kita ke kantin." ajak Cinta, Rani hanya mengangguk. Dan ikut Cinta saja. Dia juga tidak lapar, tapi ya sudahlah.
Deg
Belum lagi beberapa langkah dari kelas, mereka berhadapan dengan si pembully sekaligus ketua kelas. Siapa lagi kalau bukan Lady.
Raut wajah Rani sudah berubah, dia jadi datar dan dingin. Mereka saling pandang, yang dipandang juga tak kalah ganas menatap lawannya.