Sorry and Please, Love Me Again

Sorry and Please, Love Me Again
Part 4 - Ketegasan Nyonya Besar Jovanka



...<<< Sorry and Please Love Me Again >>>...


.......


.......


...Aku ingin bertemu (dia) yang aku cintai....


...Krishtian...


.......


.......


Empat hari menjelang pernikahan di kediaman keluarga Jovanka, Anna mengajak Krishtian dan Zoya untuk menyesuaikan pakaian pengantin mereka. Anna memberi beberapa gaun dan jas pada Krishtian dan Zoya.


Krishtian selalu mendengus dan Zoya melihat itu, hingga Zoya bosan melihat Krishtian nendengus untuk kesekian kalinya. Alhasil Zoya menghentikan aktivitas Anna yang memilih-milih pakaian pengantin mereka.


"Mom" panggil Zoya.


"Iya, Sayang! Ada apa?" tanya Anna menoleh ke arah Zoya yang duduk berdampingan dengan Krishtian.


"Boleh Zoya jujur?" Zoya ingin mengungkap sedikit perasaan yang ia pendam selama ini. Dan untungnya Anna mengangguk, mempersilahkan Zoya untuk bicara.


"Dua sahabat yang ingin mempererat hubungan mereka dengan menjodohkan anak mereka, bukan hal yang mudah bagi aku dan Krishtian untuk menerimanya, Mom!" ucap Zoya membuat Anna terkejut, Anna tahu maksud ucapan Zoya yang mengatakan tidak ada cinta di antara keduanya.


"Aku bukan mau membatalkan perjodohan ini, tapi aku dan Krishtian memang tidak saling mencintai. Jadi bisakah pernikahan kami tidak di megahkan? Em! Alangkah baiknya lagi sebelum aku dan Krishtian memulai tahap hubungan kami yang akan mengenal satu sama lain dan mungkin akan saling mencintai, bagaimana jika hubungan kami di sembunyikan terlebih dahulu, Mom!" pinta Zoya tidak ingin dunia tahu bahwa dirinya adalah istri dari si kutub Krish Jovanka, karena jika dunia sampai tahu itu, tidak akan ada yang bisa melindungi dirinya dari para fans-fans wanita Krishtian.


Anna bernapas lega ketika Zoya bukan mau membatalkan perjodohan tapi malah meminta kesederhanaan pernikahannya, "Apa kau sudah mendiskusikannya dengan Krishtian?" tanya Anna menatap Krishtian.


Mendengar sang mommy menyebut namanya, sontak Krishtian langsung menatap sang mommy lalu dengan cepat Krishtian mengangguk kecil.


"Baiklah, jika itu yang terbaik untuk kalian maka kalian akan menikah di gereja dengan para tamu kerabat-kerabat kita saja." ucap Anna sungguh membuat Zoya berbahagia, begitu juga Krishtian yang senang karena dunia tidak akan tahu bahwa dirinya sudah memiliki istri.


Beberapa jam berlalu, jas dan gaun yang akan di kenakan Krishtian dan Zoya sudah di tentukan oleh mommy Anna.


Setelah mommy Anna pergi meninggalkan Krishtian dan Zoya sendirian di ruang tengah, Zoya menghiraukan Krishtian dengan menggeser-geser handphonenya.


"Ternyata kau pintar," ucap Krishtian entah pada siapa.


"Terima kasih pujiannya," tiba-tiba Zoya merasa sedang di puji oleh Krishtian. Krishtian memelotot ke arah Zoya namun sayangnya Zoya lebih memilih fokus dengan handphonenya jadi Zoya tidak tahu Krishtian sedang menatap tajam dirinya.


Yang menatap tajam'pun langsung membuang mukanya, "Pintar berbohong! Ck, drama queen." dersis Krishtian membuat Zoya menganga karena ternyata Krishtian sedang mengejek dirinya.


"Kau ....!" bentakan Zoya berhenti.


"Apa?" Krishtian memotong perkataan Zoya dengan langsung memelotot ke arahnya.


Zoya benci tatapan membunuh Krishtian, jiwanya akan menciut ketika Krishtian memelototinya. Walau kenyataan Zoya sedikit takut dengan Krishtian tapi sebenarnya Zoya sangat benci dirinya yang lemah di depan Krishtian.


...~•~••~•~...


Ketika Zoya sudah di antar pulang oleh supir sang mommy, kini Krishtian telah berada di kamarnya. Krishtian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai Krishtian menggapai handphonenya di atas nakas lalu Krishtian mencari kontak kekasih yang sangat ia cintai.


Dengar, Krishtian sangat mencintai kekasihnya jadi satu jam saja tidak menghubunginya, maka akan sangat berat bagi Krishtian tidak mendengar suara kekasihnya itu.


"Good evening, Honey!" sudah menjadi kebiadaban Krishtian menyapa Fika dengan lembut.


"Yeah, malam." sahut Fika singkat.


"Sedang apa sekarang?" tanya Krishtian.


"Aku bekerja sampai malam hari jadi aku ingin istirahat," sahut Fika dengan suara anak-anak. Entah itu rayuan agar Krishtian memanjakannya atau rayuan agar Krishtian mematikan teleponnya, yang jelas Fika sudah merubah nada bicaranya sekarang.


"Padahal aku sangat merindukanmu, Honey!" Krishtian menghela napas berat ketika sang kekasih ternyata sedang ingin istirahat.


"Aku sangat lelah, Krish. Tapi jika kau masih ingin ...."


"Tidak, Sayang. Dirimu lebih penting dari segalanya jadi sekarang kau istirahat saja ya," potong Krishtian sangat beda ketika bicara dengan Zoya, kini Krishtian terus saja memberikan kelembutan pada sang kekasih tercinta.


"Terima kasih. Aku mencintaimu!" ucap Fika sumringah dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Aku juga mencintaimu, Honey!" ketika Fika sudah mematikan sambungan telepon, Krishtian hanya tersenyum memaklumi kekasihnya yang pasti ingin cepat-cepat istirahat karena kelelahan.


"Kau segalanya bagiku, Fika. Aku sangat mencintaimu sejak kita sekolah menengah atas hingga sekarang aku masih sangat mencintaimu." dersis Krishtian senyum-senyum sendiri menatap foto dirinya dan Fika.


"Wanita manapun tidak akan bisa menggantikanmu, Sayang." raut wajah Krishtian berubah menjadi datar ketika ia mengingat Zoya akan menjadi istrinya.


...~•~••~••~...


Ketika Fika mematikan sambungan teleponnya, Fika langsung melempar handphonenya ke sembarang tempat.


"Mengganggu saja," dersis Fika.


"Krishtian," sahut Fika dengan entengnya, wajah laki-laki itu tampak menahan amarah karena kekasihnya Fika masih berhubungan dengan orang yang sangat ia benci.


Fika sadar kekasihnya itu sedang menahan amarah akibat dirinya yang masih menjalin hubungan dengan Krishtian.


"Sayang, kau jangan khawatir. Aku hanya mengincar hartanya bukan dirinya." ucap Fika dengan suara s****nya, Fika meraba dada bidang sang kekasih dengan intens.


"Ayo lanjutkan permainannya," bisik Fika tepat di daun telinga sang kekasih.


"Aku tidak akan mungkin mencintai dia yang tidak bisa memuaskan hasratku Sayang," bisik Fika lagi, dan kini Fiks men****** daun telinga kekasihnya itu, hingga tanpa fikir panjang sang kekasih langsung melanjutkan aktivitas malam mereka.


Fika ******** keras kala kekasihnya itu tidak memberi aba-aba dan malah langsung menghentakan dengan kasar.


...~•~••~•~...


Ke esokan harinya Zoya dan Reno di ajak Josh untuk breakfast bersama dan tentunya Reno tidak menolak, sedangkan Zoya. Dia sangat malas harus bertemu iceberg Krish Jovanka.


Namun apalah daya, anak yang berbakti kepada orang tua. Zoya harus pasrah mengikuti kemauan sang ayah yang memaksanya untuk ikut breakfast bersama dengan keluarga Jovanka.


"Aku mohon Mom," Krishtian.


Zoya mendengar suara Krishtian yang sedang merengek kepada mommy Anna.


Ketika itu juga Reno ingin langsung masuk ke dalam rumah namun tiba-tiba Zoya menggenggam tangan sang ayah, hingga Reno tersentak lalu Reno menoleh ke arah Zoya.


"Ada apa, Zoy?" tanya Reno.


"Sepertinya di dalam Krishtian sedang membicarakan hal penting jadi alangkah baiknya jika kita menunggu sebentar lagi ya, Yah." ucap Zoya dan Reno mengangguk mengerti.


Zoya mendengar Krishtian bicara dengan nada anak kecil jadi Zoya penasaran dan ingin tahu apa yang ingin di bicarakan oleh iceberg Krish Jovanka.


"Oh come on! Pernikahan Krishtian tiga hari lagi, jadi biarkan Krishtian pergi ke kota Kenya besok, Mom." rengek Krishtian memohon pada sang mommy agar di izinkan untuk pergi besok.


"Jangan gila Krish, penerbangan ke kota kenya butuh waktu 20 jam. Mommy menolak permintaanmu," ketus Anna tidak mau anaknya itu pergi ke manapun.


"Krish janji akan pulang tepat waktu di hari pernikahan nanti," ucap Krishtian.


"Duduklah di tempatmu, calon istrimu dan ayah mertuamu akan datang sebentar lagi." ucap Anna tersenyum pada anaknya Krishtian.


"Kemarilah Krish," ajak Bima yang sudah duduk di kursi ruang makan.


"Tidak," tolak Krishtian.


"Ayolah, Mom! Krish janji tidak akan telat." pinta Krishtian mengatupkan kedua tangannya.


"Tidak, Sayang!" tolak Anna hendak pergi ke kursi meja makan namun Krishtian menggenggam tangan Anna agar tidak pergi dulu.


"Please, Mom!" Krishtian tidak menyerah, dirinya sangat ingin bertemu dengan sang kekasih jadi bagaimanapun caranya Krishtian harus bisa mendapat izin dari sang mommy.


Lagi pula sejak tadi Anna selalu menolak keinginan Krishtian dengan penuh kasih sayang, jadi hanya butuh sedikit usaha lebih lagi agar Anna bisa luluh akan permohonan dari Krishtian.


Anna menghela napas, "Pergilah," Anna mengizinkan Krishtian pergi, dengan penuh semangat Krishtian langsung memeluk sang mommy.


"Thank you, Mom!" ucap Krishtian berlari menaiki tangga untuk mengemasi pakaiannya namun baru saja menaiki tangga ke tiga, langkah Krishtian seketika langsung berhenti.


"Dan jangan kembali lagi," ucapan yang keluar dari mulut mommy Anna membuat Krishtian terdiam di tempatnya.


Krishtian, Bima maupun Josh sangat paham bagaimana Anna telah mengambil keputusan, tidak akan ada seorangpun yang berani menentangnya. Jika ada yang menantangnya, maka jangan harap Anna akan berbelas kasihan.


Tidak perduli itu adalah anaknya atau suaminya, Anna akan menjadi wanita kejam yang mengusir bahkan tidak menganggap mereka keluarga karena sudah berani menentang perintahnya.


"Mom ...."


Bima yang ingin bicara langsung bungkam karena Anna lengsung mengangkat tangannya.


"Pergilah," bentak Anna membuat sekujur tubuh Krishtian bergetar kuat.


Krishtian turun dari tangga menuju kursi ruang makan, Krishtian mengurungkan niatnya karena sang mommy sudah memantapkan keputusan yang di mana itu tidak bisa di ganggu gugat lagi.


Di sisi luar rumah keluarga Jovanka, Zoya sudah puas mendengar rengekkan Krishtian dan bentakan mommy Anna.


"Sepertinya kita harus masuk sekarang, Ayah!" Zoya langsung mengajak sang ayah untuk masuk ke dalam.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...