Sorry and Please, Love Me Again

Sorry and Please, Love Me Again
Part 13 - Demam



...<<< Sorry and Please Love Me Again >>>...


.......


.......


...Kebaikan yang di salah artikan...


...Zoya...


.......


.......


Saat Krishtian dan Zoya masuk ke dalam kamar, Zoya menatap tajam ke arah Krishtian, malam ini adalah malam yang sangat menjengkelkan karena Krishtian selalu menyindir dirinya di depan keluarga pria itu.


"Apa maksudmu ada seorang wanita yang berbuat licik dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan dalam hidupmu, Krish?" tanya Zoya duduk di sofa sedangkan Krishtian duduk di pinggiran ranjang.


"Kau masih menganggap aku sebagai wanita licik?" tanya Zoya menyipitkan matanya tidak suka.


"Ck! Berisik," ucap Krishtian mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.


"Hallo Honey!" ucap Krishtian ketika sudah meletakkan layar handphonenya di daun telinga kanannya, ah Zoya tahu siapa itu.


Beranikan dirimu untuk mengejek Zoya! – batin Zoya mengatur helaan napasnya terlebih dahulu sebelum berkata.


"Mari kita lihat, berapa uang yang akan ia berikan pada kekasihnya." ucap Zoya menatap Krishtian dengan senyum mengejek.


Beberapa menit kemudian Krishtian mengerutkan dahinya seraya melirik ke arah Zoya sekilas, "Memangnya barapa biaya yang kau butuhkan, Darling?" tanya Krishtian membuat Zoya tersenyum sinis, dugaannya benar.


"Tujuh puluh lima juta dollar?!" ucap Krishtian mengulang apa yang di katakan kekasihnya.


What !!!– Zoya sedikit terkejut kala mendengar jumlah uang yang di minta kekasih suaminya itu.


"Aku akan menyuruh asisten pribadiku untuk mengirimkannya malam ini," ucap Krishtian segampang itu memberikannya pada wanita itu, Zoya menggeleng kepala tak percaya akan jalan fikiran Krishtian.


"Alright! Good night baby!" ucap Krishtian sungguh malang karena kekasihnya meminta untuk mengakhiri panggilan mereka.


"Kali ini alasan apa yang ia berikan, Krishtian Jovanka?" tanya Zoya tersenyum lebar namun lebih ke senyuman mengejek.


"Tutup mulutmu!" bentak Krishtian memelototi Zoya sebelum membaringkan tubuhnya, Zoya tersentak kaget lalu dirinya menyipitkan matanya tidak suka. Sebegitu bencinya kah Krishtian kepadanya!?


"Aku harap kau bisa secepatnya sadar, wanita yang selalu meminta uang patut di curigai apakah dia benar-benar mencintaimu dengan tulus atau malah mencintai uangmu saja." ucap Zoya memejamkan matanya. Detak jantung wanita itu berdetak sangat cepat karena ulah Krishtian yang membentaknya tadi.


Wanita ini sedang memberitahu niat busuknya sendiri – batin Krishtian menuduh Zoya adalah wanita gila uang.


.........


Tiga hari telah berlalu, selama itu juga Krishtian menginap di kantornya hingga saat malam hari Josh dan Anna akan pergi ke Singapura untuk urusan bisnis selama satu bulan ke depan, Krishtian di suruh Anna untuk pulang.


Namun setelah semalam Josh dan Anna pergi, hari ini Krishtian ingin kembali ke kantor lagi, Zoya merasa pria itu terlalu berlebihan dalam urusan kantor namun mau bagaimana lagi. Dia adalah Krishtian, si gunung es yang selalu mengutamakan pekerjaan.


"Malam ini aku tidak bisa pulang ke rumah karena malam ini aku akan menginap di apartemenku," ucap Bima di sela-sela sarapan pagi mereka bertiga.


"Apa? Kenapa ?" tanya Zoya menghentikan sarapannya sejenak, sedangkan Krishtian terlihat acuh.


"Aku syuting sampai pagi dan lokasinya juga lebih dekat dengan apartemen pribadiku," ucap Bima membuat wajah Zoya memelas, wanita itu pasti akan merasa kesepian.


"Aku akan merasa kesepian," ucap Zoya melanjutkan sarapannya.


"Bagaimana jika kau ikut denganku?" tawar Bima menaik turunkan alisnya.


Zoya menatap Bima sekilas sebelum dirinya tersenyum, Aku sangat ingin tapi itu tidak mungkin karena semalam mommy Anna berpesan kepadaku untuk merawat si manja ini! – batin Zoya melirikkan matanya ke arah Krishtian.


"Apa itu artinya aku harus meninggalkan suamiku sendirian di rumah?" tanya Zoya membuat Krishtian mengerutkan dahinya tidak suka.


Apa yang aku katakan tadi? Suami? Ck! – batin Zoya baru sadar dengan kata-katanya yang sangat menggelikan itu.


"Kau pasti sibuk di sana, jadi biarkan aku tetap di sini mengurus adikmu." ucap Zoya tersenyum lebar meralat panggilannya dari 'suamiku' menjadi 'adikmu'


"Baiklah! Istrimu menunggumu di rumah, kau seharusnya tidak akan menginap lagi di kantormu, Krish." ucap Bima menatap Krishtian yang terlihat acuh tak acuh.


Setelah selesai sarapan, Krishtian hendak pergi ke kantornya namun dengan capat Zoya menghampiri Krishtian.


"Krish!" panggil Zoya sedikit berteriak, Krishtian membalikkan badannya menghadap Zoya, alisnya terangkat sebelah seperti sedang bertanya 'ada apa?'


Zoya menelan salivanya kasar sebelum menggapai tangan kanan Krishtian dengan ragu untuk ia cium, "Hati-hati di jalan!" ucap Zoya berhasil membuat Krishtian tertegun, sedangkan asisten pribadi sekaligus sahabat masa kecil Krishtian sedikit tersentak kaget pasalnya pria itu tidak pernah melihat bosnya di perlakukan seperti itu. Sebut saja namanya Lerrizone Hirlandio atau Lerri.


Saat pertama kali Krishtian pergi ke kantor, Zoya bangun kesiangan jadi dirinya tidak sempat menyalami Krishtian namun tidak untuk hari ini dan seterusnya.


"Jangan salah paham, ini sudah menjadi kebiasaanku ketika Ayah pergi ke kantor dan sekarang kau adalah suamiku jadi aku akan melakukan hal yang sama denganmu di setiap harinya." ucap Zoya cepat-cepat menjelaskan agar Krishtian tidak berfikiran macam-macam.


Tanpa mengatakan apapun, Krishtian langsung pergi dari rumah bersama asisten pribadinya.


.........


"Zoya, apa yang sedang kau fikirkan?" Bima datang di saat Zoya sedang melamun di ayunan dekat kolam berenang.


Zoya tersentak lalu dirinya menggelengkan kepalanya pelan, "Aku hanya merindukan Ayah." sahut Zoya tersenyum tipis, lalu Bima ikut duduk di ayunan berhadapan dengan Zoya.


"You're lying, sweety. I know it." ucap Bima kala bisa menatap dari mata Zoya yang tidak menatapnya barusan. Zoya menghela napas gusar, entah kenapa dirinya ingin berkata jujur dengan idolanya sekaligus kakak iparnya itu.


"May i ask you something about Krishtian?" tanya Zoya merasa lelah harus memendam segalanya sendirian, mungkin memang Zoya harus memiliki teman curhat.


"Tanyakan apa yang ingin kau ketahui tentang Krishtian, aku akan menjawab semuanya agar kau bisa memahami dirinya walau hanya sedikit." ucap Bima dengan raut wajah serius.


"Apa Kak Bim tahu semua tentang Krishtian?" tanya Zoya dan Bima menganggukkan kepalanya saja.


"T-termasuk kekasih Krishtian yang ada di Kenya?" tanya Zoya ragu dan Bima sempat terkejut karena Zoya mengetahui tentang Krishtian yang memiliki kekasih.


"Dia pasti memberitahumu tentang kekasihnya, dasar pria yang tidak berperasaan." umpat Bima pada adiknya sendiri, Zoya menganggukkan kepalanya lemah.


"Krishtian memang punya kekasih, Sweety." Bima membenarkan bahwa adiknya itu memang sudah memiliki kekasih.


"Kau tahu itu tapi kenapa kau masih membiarkan aku menikah dengan adikmu?" tanya Zoya mengerutkan dahinya lirih.


Bima tersenyum tipis, "Karena kau adalah jodoh yang tepat untuknya," ucap Bima membuat Zoya semakin mengerutkan dahinya.


"Sedangkan kekasih Krishtian terlalu buruk untuk menjadi bagian keluarga Jovanka, Zoya." ucap Bima.


"How can be like that?" tanya Zoya penasaran.


"Saat masih sekolah menengah atas, wanita itu selalu bersikap acuh di depan semua laki-laki tapi tidak di depan Krishtian. Wanita itu akan tersenyum lebar jika sudah bertemu Krishtian!" ucap Bima.


"Singkat cerita Krishtian mengajak wanita itu untuk berpacaran dan entah apa yang di lakukan wanita itu, Krishtian sampai bertahan menjalin hubungan dengannya hingga dua tahun. That is a long period of time karena biasanya Krishtian akan menjalin hubungan paling lama satu minggu saja." ucap Bima lagi.


"Playboy!" gumam Zoya membuat Bima terkekeh, Zoya adalah wanita pertama yang mengatai Krishtian playboy.


"Sebenarnya Krishtian ingin melanjutkan pendidikkannya di Amerika Serikat tapi karena kekasihnya tidak mau menjalin hubungan jarak jauh, Krishtian melanjutkan pendidikannya di sini." ucap Bima melanjutkan ceritanya.


"Dia sangat setia rupanya," ucap Zoya tersenyum lebar, Bima sedikit mengerutkan dahinya, apakah Zoya tidak merasa sedih? Fikir Bima.


"Hingga setahun kemudian giliran kekasihnya Krishtian lulus sekolah menengah atas, wanita itu malah meminta untuk mengakhiri hubungan mereka dengan alasan dirinya ingin melanjutkan pendidikannya di Indonesia. Tapi setelah kurang lebih empat tahun berpisah, wanita itu datang ke Spanyol untuk kembali menjadi kekasih Krishtian lagi." ucap Bima.


"Dan pria itu mau?" tanya Zoya dan Bima menganggukkan kepalanya.


"Itu bukan cinta tapi itu obsesi! Hanya karena kebaikkan dan kelembutan wanita itu, Krishtian menjadi terbuai olehnya." ucap Bima.


"He's stupid!" sahut Zoya.


"Sweety girl, wanita itu sudah banyak di sentuh oleh puluhan bahkan mungkin ratusan pria." ucap Bima tiba-tiba membuat Zoya membulatkan matanya kaget.


Eew!! – batin Zoya merasa geli.


"Aku tahu itu saat aku syuting di Indonesia tujuh tahun yang lalu," tambah Bima.


"Aku sudah memberitahu Krishtian tapi Krishtian tidak mempercayaiku, aku menunjukkan beberapa bukti lewat foto tapi Krishtian tetap menyangkal bahwa foto itu hanyalah editan semata." Bima memejamkan matanya lemah.


"A-apakah Krishtian pernah tidur dengan kekasihnya?" tanya Zoya ragu namun dirinya penasaran.


"Tentu saja tidak, Krishtian sangat menyayangi Mommy jadi dia pasti akan menjaga kehormatan wanita dengan baik." ucap Bima membuat Zoya bernapas lega, itu artinya wanita pertama yang di sentuh Krishtian adalah Zoya.


.........


Ketika Krishtian baru saja pulang dari kantor, Zoya berlari kecil dari dapur menuju pintu untuk menyambut kedatangan Krishtian.


Zoya menyalami suaminya seperti yang ia lakukan saat Krishtian akan berangkat kerja tadi pagi tapi Zoya merasa aneh dengan tangan suaminya yang begitu panas saat ia pegang. Zoya mendongakkan kepalanya menatap Krishtian, wajah pria itu menampilkan tampang datar namun bisa ia lihat wajah pria itu terlihat sedikit pucat. Tidak mungkin 'kan pria itu sakit, atau mungkin memang sedang sakit? Fikir Zoya.


"Berikan tas dan jasmu, aku akan meletakkannya di kamar." ucap Zoya tanpa ragu, wanita itu hanya ingin berbakti pada suaminya jika suaminya mau.


"Tidak perlu," sahut Krishtian membawa sendiri tas dan juga jasnya ke kamar, Zoya memutar bola mata malas lalu dirinya berjalan menuju dapur.


"Tidak perduli dia akan meminumnya atau tidak, yang jelas aku sudah membuatkannya dengan suka rela tanpa paksaan." gumam Zoya ketika sudah selesai membuatkan teh untuk Krishtian kemudian Zoya bawa cangkir tehnya ke kamar.


Pria itu sedang berdiri di depan jendela, "Krish!" panggil Zoya pelan hingga pria itu membalikkan badannya menatap Zoya.


"Aku membuatkanmu teh," ucap Zoya namun tidak ada respon apapun oleh pria gunung es itu.


"Tidak ada racun di dalamnya, jika kau ragu untuk meminumnya." ucap Zoya dengan malas lalu wanita itu keluar dari kamar.


Krishtian mengabaikan teh buatan Zoya, dirinya lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi karena ingin membersihkan dirinya namun tanpa di duga Zoya sudah menyiapkan air hangat untuk Krishtian.


Pria itu menyipitkan matanya curiga namun tak urung dirinya berendam juga di air hangat yang sudah di siapkan istrinya itu.


Malam yang begitu sepi bagi Zoya, wanita itu suka sekali keramaian yang membuat suasana rumah menjadi hangat tapi kini ibu dan ayah mertuanya tidak ada, begitu pula dengan kakak iparnya.


Zoya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan angka delapan lewat namun dirinya duduk di kursi ruang makan sendirian sejak satu jam yang lalu dirinya beberapa kali mengajak Krishtian untuk makan malam. Tapi sialnya pria itu tidak keluar dari kamarnya.


"Astaga! Perutku sudah berteriak di dalam sini." gumam Zoya dengan wajah masam, wanita itu sangat lapar sekarang namun di mana batang hidung Krishtian? Apakah pria itu tidak merasa lapar? Atau mungkin pria itu sedang asik menghubungi kekasih gila uangnya itu? Zoya merasa muak bertanya pada dirinya sendiri.


"Baiklah! Aku akan mengajaknya untuk yang terakhir kali." gumam Zoya bangkit dari tepat duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Krishtian.


"Krish?!" panggil Zoya mengerutkan dahinya saat melihat pria itu berbaring di kasur dengan raut wajah yang pucat.


Zoya mengangkat tangannya untuk memeriksa kening Krishtian tanpa rasa ragu. Panas! Zoya langsung menarik tangannya kembali, ternyata kecurigaan saat Krishtian pulang dari kantor tadi sore tidak salah. Pria itu sedang sakit.


"Ck! Ternyata dia bisa sakit juga!" gumam Zoya, dengan cepat Zoya mengatur suhu AC agar menjadi lebih dingin sedikit lalu setelah itu dirinya berjalan keluar menuju dapur.


"Merepotkan," gerutu Zoya mencelupkan handuk kecil ke dalam baskom air hangat lalu ia peras handuk itu dan di letakkannya ke kening Krishtian selama kurang lebih 10 menit.


Zoya menatap lekat wajah tenang Krishtian saat tidur, tidak bisa di pungkiri karisma seorang Krishtian Jovanka itu memang sangatlah luar biasa, jika Zoya adalah wanita yang hanya memandang fisik maka Zoya pasti akan langsung jatuh cinta dengan Krishtian.


"Kau tampan dan juga mempesona tapi bagiku percumah memiliki wajah malaikat jika sikapmu saja seperti iblis yang menyeramkan!" umpat Zoya masih merasa jengkel dengan pria yang selalu menuduhnya itu.


Setelah selesai, Zoya mengambil handuk kecil itu dari kening Krishtian lalu dirinya memeriksa kening Krishtian dengan menggunakan keningnya, pasalnya tangannya terasa hangat jadi dirinya tidak bisa memastikan apakah demam Krishtian sudah mendingan atau belum lewat tangannya.


"Ck! Masih panas!" gumam Zoya setelah mengangkat kepalanya.


Zoya kembali mencelupkan handuk kecil iti ke baskom lalu ia letakkan lagi ke kening Krishtian.


.........


Ke esokkan harinya, seorang pria perlahan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangannya hingga pada saat dirinya mengambil posisi duduk, handuk yang ada di keningnya jatuh di depannya.


Krishtian mengernyitkan dahinya lalu matanya menoleh ke arah samping, di mana seorang wanita sedang tidur dalam keadaan duduk di kursi dengan tangan menjadi tumpuan kepalanya di atas nakas. Zoya tertidur menghadap Krishtian membuat Krishtian semakin mengerutkan dahinya.


Di ambilnya handuk kecil itu, "Dia ...."


"Kau masih hidup?" tanya Zoya dengan mata yang sipit, khas orang baru bangun tidur. Krishtian memelototi wanita itu karena berani melontarkan pertanyaan kasar kepadanya.


"M-maksudku kau sudah bangun?" Zoya meralat pertanyaannya yang kasar kala melihat mata Krishtian hampir lepas dari tempatnya.


"Apa demammu sudah turun?" tanya Zoya lagi lalu tanpa izin tangan mungil wanita itu menyentuh kening Krishtian.


"Menurun sedikit!" gumam Zoya kemudian dirinya mengambil handuk kecil itu dari tangan Krishtian dengan baskom yang ada di lantai juga.


"Aku akan membawakan sarapan untukmu," ucap Zoya sebelum berjalan keluar dari kamar namun saat sampai di depan pintu Zoya membalikkan badannya menatap Krishtian.


"Jika kau ingin mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." ucap Zoya kemudian keluar dari kamar.


Krishtian mengerutkan dahinya, jika Zoya sudah menyiapkan air hangat. Apakah wanita itu tidak tidur semalaman dan baru saja tertidur pagi ini? Krishtian menggeleng keras kepalanya, apa perdulinya dengan Zoya. Lebih baik dirinya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Zoya kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk sup sekaligus air mineral untuk Krishtian.


"Kau mau ke kantor?" tanya Zoya mengernyit kala Krishtian memakai kemeja kantornya. Namun Krishtian tidak menjawab dan sibuk mengancing kemejanya.


"Tubuhmu masih belum stabil, seharusnya kau istirahat dulu di rumah, Krish." ucap Zoya pelan namun dirinya tahu, pria gunung es itu tidak akan menjawabnya.


"Ini sup untukmu! Dasar pria keras kepala." umpat Zoya meninggalkan sup itu di meja lalu dirinya berjalan menuju kamar mandi namun sebelum melangkah masuk, suara Krishtian seketika menghentikan pergerakan Zoya.


"What do you want? My money?" tanya Krishtian tanpa menatap Zoya, sedangkan Zoya langsung membalikkan badannya menatap Krishtian dengan tanda tanya.


"What do you mean?" tanya Zoya tidak paham akan pertanyaan Krishtian, apakah pria itu sedang menawarkan sesuatu seperti berbaik hati ingin memberikan uang kepadanya? Ck ingin berlagak menjadi suami yang baik rupanya! Fikir Zoya mencemo'oh.


Krishtian menolehkan kepalanya menatap Zoya dengan malas, "Tidak mungkin kau mau merawatku jika bukan ada kemauan di dalamnya," ucap Krishtian menganggap Zoya terpaksa merawat dirinya semalam.


Zoya mengepal tangannya dengan menggertakkan giginya kesal, pria ini selalu saja menuduh dirinya yang tidak-tidak, seperti saat ini kebaikkan yang ia lakukan malah di salah artikan oleh Krishtian.


"Tentu saja aku terpaksa merawatmu, itu karena aku belum siap untuk menjadi janda," ucap Zoya manaikkan sebelah sudut bibirnya sinis lalu dirinya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Krishtian mengeraskan rahangnya marah, wanita itu sedang menganggap dirinya lemah hanya karena demam biasa, dirinya tidak akan mungkin bisa mati secepat itu.


"Secepatnya aku akan menceraikanmu, wanita pemberang!" umpat Krishtian mengambil tas kerjanya lalu keluar dari kamar.


Zoya yang tidak menutup rapat pintu kamar mandi, bisa mendengar dengan jelas umpatan Krishtian barusan. Wanita itu memejamkan matanya lemah, perlahan tubuh wanita itu merosot turum hingga terduduk di lantai.


"Lima puluh lima hari lagi, aku akan berusaha membuatmu mencintaiku." gumam Zoya bertekad untuk membuat Krishtian mencintainya dalam waktu dua bulan tiga hari.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...