
...<<< Sorry and Please Love Me Again >>>...
.......
.......
...Mengapa harus (dia)?...
...Zoya...
.......
.......
Setelah makan malam, semua berkumpul di ruang tengah kediaman Jovanka. Selama berjam-jam ruangan itu di penuhi cerita masa muda Josh dan Anna lalu masa muda Reno dan Jingga hingga masa-masa kecil Bima, Krishtian dan Zoya pun mereka ceritakan semua.
Sembari mengobrol dan tertawa Bima terus saja melihat Krishtian yang diam dan tidak tersenyum sedikitpun, lain halnya dengan Zoya yang sangat menikmati suasana canda tawa di ruangan itu.
"Ehem, bagaimana menurutmu? Zoya sangat cantik bukan?" goda Bima berbisik, namun Krishtian tidak menjawab.
Anna menghentikan candaanya kala melihat Bima berbisik-bisik pada Krishtian, "Krish," panggil Anna dan Krishtian langsung menoleh menatap sang mommy.
"Jangan diam saja, ajak Zoya mengobrol sekarang." suruh Anna.
Krishtian tidak bisa bersikap dingin dengan sang mommy namun sekarang di tengah-tengah keluarga mereka ada orang asing bagi Krishtian, tidak mungkin Krishtian akan merengek seperti anak kecil di depan orang asing. Jika itu terjadi maka image seorang CEO Krish Jovanka akan rusak seketika.
"Baiklah, Mom." sahut Krishtian menatap Zoya. Zoya membalas tatapan Krishtian tapi Zoya langsung mengalihkan tatapannya ke arah Anna.
"Pergilah mengobrol dengan calon suamimu, Sayang." ucap Anna lembut.
Dengan berat hati Zoya berdiri dari tempat duduknya lalu pergi bersama Krishtian menuju kolam renang.
Hening ....
Apa ini di namakan mengobrol? Fikir Zoya merasa jenuh karena Krishtian tak kunjung bicara.
Krishtian maupun Zoya tidak mau angkat bicara, sampai Zoya benar-benar merasa bosan. Tanpa pamit, Zoya hendak pergi meninggalkan Krishtian.
"Batalkan perjodohan ini," suara Krishtian membuat Zoya menghentikan langkahnya.
Zoye berbalik menatap punggung Krishtian, "Kau bicarlah pada Mommy maka perjodohan ini akan batal sesuai keinginanmu," sahut Zoya pelan namun di telinga Krishtian Zoya seperti melawan dirinya.
Krishtian melebarkan matanya, dalam hidup Krishtian tidak ada satu wanitapun berani menentang perintahnya namun kali ini Zoya bukan hanya menentangnya tapi Zoya juga berani memerintah dirinya.
Krishtian membalikan badannya, aura membunuh ia pancaran ke pada Zoya. Namun anehnya Zoya tidak merasa takut dan malah membalas tatapan Krishtian.
"Aku memiliki kekasih," sengit Krishtian menekankan bahwa dirinya tidak suka dengan perjodohan ini.
Glukk ....
Krishtian sudah memiliki kekasih? batin Zoya terkejut.
"Baiklah, aku akan bicara pada Mommy sekarang." ucap Zoya hendak pergi namun Krishtian menghentikannya.
"Kau mau mengatakan apa?" tanya Krishtian datar.
"Tentu membatalkan perjodohan ini, aku ingin bicara pada Mommy karena kau mengatakan kau memiliki kekasih bukan." ucap Zoya dengan entengnya tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi pada Krishtian nantinya.
Gila, wanita ini benar-benar gila! batin Krishtian menggertakkan giginya.
"Aku tidak akan mengecewakan Bundaku dan Mommy Anna, tapi aku bisa mewakili dirimu untuk mengecewakan mereka." sengit Zoya tidak mau disalahkan dalam urusan pembatalan perjodohan mereka.
Krishtian sangat paham dengan apa yang di katakan oleh Zoya, jika Zoya mengatakan dia ingin membatalkan perjodohan ini karena Krishtian. Maka sudah bisa di tebak penyebab pembatalan perjodohan ini adalah Krishtian dan jika itu terjadi sang mommy pasti tidak akan pernah memaafkan dirinya.
Ini bukan hanya menyangkut harga diri saja tapi pembatalan perjodohan ini juga akan menghancurkan perjanjian antar dua sahabat yaitu Anna dan Jingga.
"Bod*h, kamu mau menikah dengan pria yang sudah memiliki kekasih?" ucap Krishtian mengejek Zoya.
Zoya membalikan tubuhnya untuk bisa menatap Krishtian, "Jika kau sudah memiliki kekasih, lalu kenapa bukan kau saja yang membatalkan perjodohan ini." sengit Zoya menyipitkan matanya.
"Ck! Kau juga tidak mau di salahkan bukan, jadi lebih baik diam dan ikuti saja kemauan orang tua kita," ucap Zoya berlalu pergi meninggalkan Krishtian.
Malam panjang telah berlalu, kini Zoya dan Reno telah pulang ke apartemen.
Di dalam kamar Zoya mengingat obrolan singkatnya dengan Krishtian tadi, Zoya berfikir bagaimana dirinya berpura-pura kuat melawan Krishtian padahal di dalam hatinya ia merasa sangat gerogi tadi.
Zoya mengatakan 'Ikuti saja kemauan orang tua mereka' konyol sekali, Zoya seperti sudah pasrah akan jalan hidupnya di masa depan.
Zoya memang bukan wanita cengeng tapi Zoya tidak akan tahan jika harus berhadapan dengan manusia es seperti Krishtian. Hatinya akan sakit juga jika sewaktu-waktu Krishtian mengacuhkan dirinya.
"Maaf aku berbohong kak Bim," dersis Zoya merasa tidak enak telah menolak ajakan sang idola superstarnya.
Tak lama Zoya masih berkutat di kamar, suara ketukan pintu yang begitu kasar di telinga Zoya membuat Zoya harus bangun menghampirinya.
"Why you ...." Zoya tidak dapat menyelesaikan perkataannya ketika yang ia kira adalah ayahnya ternyata Krishtian.
"Kau ...." tunjuk Zoya langsung bungkam karena Krishtian menerobos masuk kamar Zoya.
"Hei, bagaimana bisa kau datang ke kamarku ... stt, maksudku mau apa kau datang ke apartemenku dan dengan secara tidak sopan kau langsung masuk ke kamarku?" celoteh Zoya bertanya.
Krishtian menatap heran ke arah Zoya, Krishtian memandang tubuh Zoya dari atas sampai bawah lalu balik lagi dari bawah sampai ke atas.
Melihat tatapan nakal dari Krishtian, Zoya sontak menyilangkan kedua tangannya di dada. Situasi bahaya sedang mengancam dirinya, itulah yang di fikirkan Zoya.
"Kenapa kau memandangi tubuhku! Hah?" sentak Zoya memelotot.
Krishtian mendekati Zoya hingga Zoya mundur untuk menghindari Krishtian, namun Krishtian tidak berhenti dan terus saja berjalan maju mendekati Zoya hingga langkah Zoya berhenti kala punggungnya sudah bertemu dengan pintu.
Pintu sialan! batin Zoya.
"Krishtian, aku katakan jangan mendekat." pekik Zoya memerintah Krishtian namun Krishtian seperti tuli dan malah tersenyum miring menatap intens mata Zoya.
Deg ... deg ... deg ....
Zoya menjadi gelisah, tubuhnya bergetar kuat, "Krishtian berhenti atau aku akan bertetiak sekarang." peringatan Zoya penuh penekanan, namun itu tidak membuat Krishtian berhenti juga.
Jarak mereka semakin dekat, hanya tinggal dua langkah saja Krishtian bisa bersentuhan dengan tubuh Zoya, "Krishtian ber ... hempp ...." Zoya melebarkan matanya ketika bibir Krishtian menyentuh bibirnya.
Krishtian memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir Zoya namun lain halnya dengan Zoya yang marah dan langsung mendorong tubuh Krishtian hingga Krishtian mundur beberapa langkah.
"Dasar pria cabul," pekik Zoya mengelap-elap bibirnya sendiri.
"Brengs*k kau,"
"Pria mesum,"
"Pergi kau dari sini,"
"Pergi,"
"Pergi,"
Zoya terus saja bertetiak tak karuan, kamar itu di penuhi pekikan Zoya yang sangat memekakkan telinga siapapun jika ada di sekitarnya.
"Zoya," suara yang memanggil Zoya membuat teriakan histeris Zoya semakin memenuhi kamar itu.
"Pergi kau, aku tidak mau melihat wajahmu."
"Pergi,"
"Pergi,"
"Zoya bangun, Nak." suara itu terdengar mengkhawatirkan dirinya. Namun Zoya masih saja bertetiak mengusir Krishtian dari hadapannya.
Byurr ....
Zoya membuka matanya ketika di rasa wajahnya di basahi air yang sangat banyak, deru napas Zoya tidak beraturan. Zoya bangkit dari tempat tidurnya lalu di lihatnya siapa orang yang berani menyiram dirinya dengan air.
"Ayah?!" panggil Zoya terkejut karena ternyata semua yang terjadi tadi hanya mimpi semata.
"Ada apa dengan dirimu, Zoy. Kenapa kau terus saja berteriak mengusir seseorang tadi?" tanya Reno duduk di tepi ranjang.
"Zoya mimpi buruk," dersis Zoya dengan wajah memelas karena tidak menyangka dirinya bisa bermimpi hal menyeramkan yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam hidup seorang Zoya Shezan.
"Mimpi buruk apa yang kau alami hingga membuatmu menjadi seperti ini! Hem?" tanya Reno mengelus puncak kepala Zoya, Reno sangat khawatir melihat Zoya berteriak mengusir seseorang dalam mimpinya.
"Kenapa harus dia? Kenapa bukan idolaku, Tuhan?" wajah Zoya semakin memelas, hingga Reno di buat bingung oleh tingkah sang anak kesayangannya itu.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung...