Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
7



Setelah Anos memecahkan cukup banyak tembok dengan berjalan melewatinya, kami tiba disebuah ruangan yang luas menuju lantai bawah penjara bawah tanah. Sasha tampak terkejut saat mengetahui ada ruangan di sisilain dinding yang di hancurkan Anos.


Kami berjalan sebentar sampai kami tiba di ruanggan lain, yang ini diterangi cahaya alami. Langit-langit menjulang tinggi di atas kami, walau berada jauh di bawah tanah ruangan itu dipenuhi tanaman hijau subur. Terdapat jalur air mengalir melalui lanskap Sasha dan Misha dibuat terpana kerenanya.


Aku tidak terkejut dengan apa yang ada dilantai ini karena Labirin Tempest juga memiliki hutan hijau yang lebat bahkan sudah menjadi tempat tinggal untuk ras Elf dan Dryad.  Aku tertarik dengan kegunaan tempat ini yang sengaja dirancang untuk mengaktifkan lingkaran sihir alami. Kami berjalan maju menuruni tangga, meninggalkan ruang lingkaran alami.


"Kita sudah berjalan selama dua jam," rengek Sahsa." Berapa jauh lagi?"


"Lihat" Misha menunjuk kedepan. Kami bisa melihat ujung tangga. Di sini lantai bawah Sasha berlari menurunu tangga yang tersisa tetapi dia berhenti dengan bingung di depan pintu mengah, cukup besar untuk menampung raksasa.


Misha mengaktifkan mata mistiknya "Anti-sihir."


Saat Sasha dan Misha memikirkan cara untuk membuka pintu itu Anos kemudian melangkah maju, dia mendorong pintu dengan dorongan keras." Lihat? Terbuka"


Sasha menatapnya heran, dia mencoba mendorongnya sendiri tapi tentu saja tidak bergarak kemudian dia bergumam tentang level kekuatan yang dimiliki Anos sebagai darah campuran.


"Sudahlah tujuan kita ada di sana, Itu tongkat kerajaan, kan?" Kataku, sambil menunjuk pada tongkat yang tampak menyeramkan bersandar di altar membuat kami kembali pada tujuan semula kami.


"Sekarang kita dijamin mendapat nilai penuh" Sahsa dengan penuh semangat mengambil tongkat kerajaan.


"Misha, lewat sini, kau juga Rimuru" panggil Anos, kemudian menuju salah satu pintu di ruang altar.


Kami memasuki ruangan kosong Ciel mengatakan padaku jika terdapay penghalang sihir sehingga menyembunyikan apa yang ada di dalam ruangngan itu.


"Ungkapkan dirimu" Setelah Anos berucap ruang yang awalanya kosong kini dipenuhi dengan berbagai jenis pedang iblis, armor sihir dan aksesoris bahkan ada juga pakaian-pakaian yang mempesona. semua item ini seharusnya berada dikalas unik atau di atasnya.


"Pilih satu yang cocok untuk Sasha."


Jadi itulah kenapa kami kemari, dia ingin membantu Misha mencarikan hadiah ulang tahun. Tapi kenapa aku juga ikut?


Setelah beberapa saat Misha berjalan kedepan." Yang ini." dia memilih sebuah mantel merah yang indah. Aku yakin itu bukan hanya indah.


[Benar! Semua item ini berasal dari zaman mitos yang bisa memilih pemiliknya dia akan memberikan berkah bagi yang mereka anggap sebagai pemilik merekaa dan mantel ini akan membakar siapapun yang diaggap tidak layak memakinya]


Eh! B... begitu ya...kalau begitu bagaimana jika hadiah yang dipilih Misha untuk Sasha malah berakhir buruk. Membayangkan jika Sasha justru terbakar saat memakai jubah itu.


Anos mencoba memperingatinya namun Misha tetep bersikukuh dan akhirnya Anos mengalah kurasa itu bukan masalah. Misha tersenyum, dengan hati-hati menggambil Mantel Phoenix di kedua tangannya dan kembali ke ruang altar.


Dia berhenti, saat sebuah cincin menarik perhatiannya Anos sempat menawarkan cincin tersebut kepada Misha, tapi dia malah menolak. Saat Misha pergi pergi keluar aku melihat Anos mengantongi cincin itu tanpa sepengatahuan Misha. Dia kemudian menatapku.


"Ada apa?" tanyaku


"Apa kau tidak menginginkan sesuatu juga?"


"Kenapa besok bukan hari ulang tahunku." Lagi pula aku sudah memiliki bayak benda pusaka yang tidak kalah kualitasnya dengan apa yang di miliki Anos karena para pengrajin Tempest sangatlah berbakat.


"...."Sesaat  Anos terdiam mendengar jawaban dariku" Apa kau masih mencurigaiku Rimuru sehingga kau bahkan akan menolak pemberian dariku" lanjutnya dengan kecewa.


"T..Tidak! Aku tidak bermaksut begitu lagi pula aku sudah memiliki apa yang kubutuhkan bukaanya aku menolak karena belum percaya denganmu aku justru sudah menganggapmu sebagai teman ku" Aku terus bicara dengan gugup karena merasa bersalah telah menyinggungnya" itu maksutku.."


"Pffth hahah" Tiba-tiba Anos tertawa


"?!?.. Apa yang lucu?"


"Tidak ada, tak kusangka kau mengatakan teman padaku terlebih dahulu bahkan Misha belum mengakuinya sebelum aku mengatakannya terlebih dahulu apalagi sasha"


"Lalu apa kau tida suka?" Tanyaku dengan sedikit malu karena mengangapnya teman terlebih dulu.


"Tidak aku justru senang dan jika kau tidak ingin sesuatu sekarang kau bisa menginginkannya lain kali." Katanya dan berjalan berbalik menyusul Misha.


"AH" Sasha berteriak, berlari kearah kami  dengan tongkat ditangannya." kemana kalian bertiga pergi? ketika aku berbalik kalian tidak ada, jadi aku mulai khawatir."


"Maaf sudah membuatmu Kawatir Sasha"


"Baiklah jika kau sudah minta maaf Rimuru". Sasha menatap Misha yang berjalan dari belakang Anos, ketiaka dia melihat mantel Phoenix ditangan Misha, matanya melebar." apa  itu Misha?"


"aku menemukanya..."


"Di sini?"


Miasha mengangguk. "Aku ingin memberikannya padamu. Sebagai hadiah ulang tahun"


Sasha tersenyum lembut. setetes air mata berkumpul dimatanya. Dia mengatakan jika dia tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada Misha tapi berjanji akan menghargainya selamanya mata mistik kehancuran miliknya berkilau saat Sasha menatap mantel itu.


Misha tersenyum kembali.


"Bolehkah aku mencobanya?"


Misha mengaguk, menyerahkan jubah itu kepada saudara perempuannya . Sasha meraih kancing atas blusnya, lalu tersentak dan berputar ke arah Anos " Aku ingin mengganti pakaian..."


"Ah aku akan pergi kalau begitu" Anos kemudian kembali ke lemari besi


Sasha kemudian menatapku, aku tau itu dia ingin aku juga pergi keluar meninggalkan Sasha dan Misah berdua saja dan berjalan menyusul Anos.






Aku bersandar di dinding gadang harta karun, menatap kearah Rimuru yang juga menungu disini karena Sasha memintannya, bukankah tidak masalah jika di tetap tingggal disana bersama mereka.


Aku mengamatinya dengan hati-hati dia hanya diam matanya terpejam dibalik kacamata ajaibnya. Dia hanya menyamarkan warna rambut dan matanya yang unik menurutku itu cantik bahkan para dewi di zaman mitos tidak memiliki kecantikan sepertinya.


Dia datang dari jauh dan menyamar demi untuk mencari sahabatnya yang hilang, aku mutuskan untuk membantunya tapi aku sendiri belum tau banyak menganai Rimuru apa alagi teman yang dicarinya,


"Rimuru" aku berjalan mendekati Rimuru "bisakah aku bertanya mengenai temanmu?" aku memutuskan untuk mencari tau sedikit lebih banyak.


"Tentang apa?" ucap rimuru yang sedikit bingung.


"Aku belum pernah bertemu dengannya dan kau belum memberi tauku namanya juga seperti apa dia?"


Rimuru tersenyaum."Namanya Veldora, Veldora Tempest!"


"Dia temanmu tapi kalian memiliki nama belakang yang sama?" Apa mereka sebernya punya hubungan keluarga atau semacamya.


"Veldora memang sahabatku. Kau juga bisa menyebut kami kakak beradik karena kami memang berbagi nama belakang." Rimuru terlihat sangat senang saat berbicara menganai Veldora." Walau lebih tua dan perbedaan usia kami sangat jauh justru dialah yang selalu mebuat massalah terkadang dia akan mengangguku saat sedang bekerja hanya karena dia bosan." lanjutnya.


"Mendengar dari ceritamu sepertinya aku sagat menyayanginya? " Aku jadi teringat di zaman mitos saat orang-orang tidak memilik hubunga darah tapi mereka tetap menjaga ikatan mereka bagai keluarga apa hubungan Rimuru dan Veldora juga begitu.


"Tentu saja." dia tersenyum lebar kemudian "Aku ingin segera menemukannya, dan kembali pulang tapi ...." kata-kata Rimuru berubah menjadi gelihah dan takut aku bisa meliat dia menggam tangannya hingga gemetaran.


"Untuk kedua kalinya aku melakukan kesalahan yang sama, padahal kali ini dia berada tepat didepan mataku tapi lagi-lagi Veldora diambil dariku...."


Apa hal ini juga pernah terjadi? Aku berjalan lebih dekat


"Sejujurnya aku tidak ingin baik itu kau ataupun orang tuamu terlibat bahaya jadi aku meninggalkan mereka tapi.."


"Kita malah bertemu di akademi" Kau justu menghawatirkan kami dari pada dirimu.


"Hahaha...itu lucu karena kupikir kau seharusnya basih bayi bukan remaja yang membuar seluruh akademi tercengang karenanya"


Kata-katanya terdengar seperti baik-baik saja tapi aku tau jika dia selalu menahannya kesedihan dan menyalahkan disinya sendiri karena kepergian sahabatnya.


'Dasar bodoh kau tidak perlu terus menahanya'. Aku bejalan lebih dekat meraih tubuhnya dan memeluknya dengan sekuat tenaga


"A...Anos?" Rimuru mencoba memberontak tapi aku tetap menahanya.


"Sudah kubilang aku adalah Sang Pendiri, Raja Iblis Tirani. Aku akan mengabulkan keinginanmu bahkan jika itu harus mencari pelaku yang membawamu kedalam skema permainanya dan membawanya dibawah kakimu."


Dia terdiam sejenak " Kau sungguh baik padahal masih banyak yang belum aku critakan tapi kau____"


"Sudah kubilang_aku akan mengabulkan keiginanmu tidak ada yang mustahil bagiku." aku melepaskan Rimuru. Sesaat dia tampak terkejut tapi kemudian dia kembali tenang meneguhkan dirinya.


"Aku ingin bekerja sama dengan mu Raja Iblis Anos. itulah keinginanmu." Dia mengulurkan tangannya dan aku balas menjabat tangannya sebagai jawaban jika aku setuju melakukannya bahkan hingga sekarang kau tidak bersandar padaku dan hanya meminta kerja sama.


Yang berarti selama kita berjanji menjadi sekutu kau bisa meminta apa saja selama itu tidak membuat salah satu dari kita rugi buakan,


Dasar! kau memang tidak bisah diremahkan RIMURU.


"Ngomgong-ngomong terima kasih" Rimuru mengalihkan padangannya.


"Untuk apa?"


"Sudah menghiburku dan juga kau orang yang ketiga yang memelukku disaat aku sedang terpuruk aku sangat berterima kasih." Katanya sambil menggaruk pipinya aku yakin jika menggaruk bukan karena gatal


"...."Rimuru dengan wajah malu-malu terlihat lucu


Dia terlihat lucu ini pertama kalinya aku melihat dia seperti itu rupanya aku memang tidak tau banya tentangnya__ ??? ini aneh aku yakin jika dia malu tapi aku tidak melihat rona merah dipipinya seakan dia tidak memiliki pembulu darah_


"Bukankah mereka terlalu lama?" kata Rimuru yang membuyarkan lamunanku.


benar juga. Memang berapa lama waktu yang dibutuh kan untuk mengganti jubah? Aku mengetuk pintu untuk meminta mereka bergegas, tapi tidak ada jawaban dari mereka.


Kerena tidak mendapat jawaban, jadi aku membukanya. Dari sana, aku melihat ke altar. Ada seesuatu yang berbeda tentang itu.


Itu merah.


Darah menggenang ditempat Misha berlutut. Sebuah pisau mencuat dari sisi kanan dadanya. Penghalang sihir dipasang dengan hati-hati untuk mencegahnya disembuhkan.


"Oh? apa kalian datang untuk bergabung dengan kami?" Suara Sasha naik dari seberang ruangan dari altar. dia mengenakan mantel Phoenix dan menggengam tongkat di satu  tangan.