Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
1



Tempest ibukota Rimuru


*Grroaa


Suara raungan menggelagar dari labirin terbawah Tempest hingga membuat ibukota Rimuru bergetar karenanya.


"A..apa yang terjadi? dan barusan bukankah itu suara Veldora."


[Lapor,


saat ini saya mendeteksi ketidak setabilan pada individu Veldora.] Ciel dengan cepat melaporkan situasi


'Tidak setabil? apa maksutmu Ciel?.'


[Saya mendeteksi saat ini Veldora sedang bersama dengan individu asing.]


"Cih... sebenarnya apa yang terjadi?


Mendengar jawaban Ciel membuatku khawatir dengan keadaan Veldora, sebaiknya aku melihatnya sendiri. Saat aku akan pergi menuju labirin, datang Shuna dan Rigurd yang terlihat khawatir.


"Rimuru-sama!!" panggil mereka


"Raungan barausan bukankah itu milik Veldora-sama, apa yang terjadi dengan Veldora-sama." tanya Rigur yang sangat khawatir.


"Aku akan memeriksanya sendiri, kalian tenangkan para penduduk!" Kataku


"Rimuru-sama biarkan kami mendampingimu?" Shuna menawarkan diri untuk mengawalku, sepertinya dia sangat khawatir. Tapi...


"Tidak perlu, karena aku hanya ingin melihat keadaan temanku itu saja" Tenyum kecil mengembang diwajahku Walau aku sebenarnya sangat kawatir. bayangan kejadian saat Veldora diambil dariku dalam perang dengan Kekaisaran tiba tiba muncul.


Kekhawatiranku terbukti benar, saat tiba di lantai terbawah labirin aku mendapati seseorang dengan jubah bersama Veldora. Aku sempat menduga jika ada penantang yang mencapai laintai ini namun dugaan itu dipatahkan saat lingkaran sihir muncul kemudiaan Veldora dan orang misterius itu menghilang.


"...Vel...dora...?"


.


.


.


.


.


.


.


.


____________________________________________________________________________________________


Enam bulan berlalu setelah kejadian itu


*Mmmn...


Menikmati teh saat waktu senggang seperti ini memang mantap. Ngomong-ngomong waktu berlalu begitu cepat,


setelah tiba di dunia ini, aku mengikuti jejak Veldora hingga ke dunia ini dan kemudian kehilangan jejaknya. Tapi, aku putuskan jika aku akan menetap di dunia ini untuk sementara karena instingku mengatakan Veldora ada disuatu tempat di multivers ini.


Dan juga, aku menemukan fakta yang menarik dengan bantuan Ciel.


Pertama, dunia ini dibagi menjadi empat alam dan dipisahkan oleh tembok: Alam Manusia, Alam Iblis, Alam Roh, Alam Ilahi. Saat ini aku berada di Alam Iblis.


Kedua, di Alam Iblis diskriminasi oleh darah keturunan bangsawan dan darah campuran sangat jelas,


Ketiga, setelah tiba di dunia ini aku bertemu dengan seorang pandai besi dan bernama Gusta Raezeo dan istrinya.  Mereka sempat menawariku untuk tinggal bersama, tapi aku memilih untuk tinggal sendiri. Mereka pasangan yang baik dan aku tidak ingin melibatkan mereka kedalam bahaya. Terlebih bagi  saat itu Isabela akan melahirkan anak pertama mereka.


dan yang keempat, di dunia ini juga terdapat Raja Iblis. Saat aku sedang merenung apa yang terjadi selama 6 bulan aku mendeteksi gelombang sihir yang datang.


*Berjalan membuka jendela, seekor burung hantu terbang ke arahku dan menjatuhkan surat. Itu adalah undangan ke-


"Akademi Raja Iblis Delsgade..?"


Sementara aku merenungkan pertanyaan itu, burung hantu membuka paruhnya dan mulai menjelaskan mengenai Akademi  Raja Iblis.


"Ini dikatakan sebagai tahun pendiri akan dilahirkan kembali."


"Banyak dari siswa yang mendaftar tahun ini sangat menjanjikan, mereka dijuluki kelompok kekacauan. Ada harapan besar bahwa reinkarnasi sang pendiri ada diantara mereka."


Aku mengerti, dengan kata lain Akademi Raja Iblis ada untuk menemukan sang pendiri mereka yang bereinkarnasi. Tapi, kenapa aku mendapatkan undangan? aku tidak memiliki hubungan dengan sang pendiri itu.


[ Lapor


kemungkinan ini adalah rencana seseorang untuk menjebak master kedalam sebuah sekema permainan. ]


'Mungkin saja begitu....'


Mmm.. kalau dipikir-pikir ini memang mencurigakan, Veldora menghilang, keberadaan terakhir yang diketahui adalah dunia ini dan sekarang undangan ke Akademi, Ini bukan kebetulan yang biasa sepertinya ini memang sudah direncanakan.


"Aku menerimanya"


"Akademi dengan sabar menunggu kehadiranmu" burung hantu itu terbang.


Aku harus menyelidiki tujuan dari orang yang merencanakan semuanya.


"Ciel tolong urus keperluaku!


[ Dimengerti ]


Dengan begitu akupun berangkat menuju Delsgade.







Gerbang depan sebuah kastil dengan stuktur yang unik seakan dibangun sebagai lingkaran sihir tiga dimensi.


Saat hendak melewati gerbang aku mendapati keributan di depan, terlihat seorang pria berkulit gelap berambut putih sedang menggertak seorang gadis berambut platinum pendek dan pria berambut hitam.


Kerumunan disekitar mereka mulai bergerak.


"Ah... ini buruk. zepes telah mengarahkan pandangannya pada mereka. mereka tidak akan lolos dari bajingan itu dalam keadaan utuh." bisik seseorang.


Tampaknya dia memeiliki reputasi buruk.


'Haruskah aku membantunya?'


[Saya sarankan itu tudak perlu master]


'Kau benar, akan sulit jika kita terlalu mencolok'


Lagi pula pria berambut hitam bukan orang sembarangan. Jika diperhatikan lebih dalam dia... sangat kuat, aku harus waspada.


"??"


Pria itu menoleh kearah ku, rupanya tanpa kusadari aku terlalu terang-terangan memperhatikannya. Bagaimana jika dia berpikir aku memiliki maksut buruk, Sebaiknya aku pergi. Aku tidak perlu terlibat dengannya.




*


"Mmm.."


Rasanya ada yang memperhatikanku tapi saat aku menoleh aku tidak mendapatinya, apa hanya perasaanku.


"Ada apa?" tanya misha penasaran.


"Tidak aku hanya merasa seperti diperhatikan, ayo pergi!" kami pun berbelok ke kanan, mengikuti garis.


"Hai! aku berbicara padamu brengsek!"


Suara itu sangat bising, aku berbalik. Pria dari sebelumnya memelototiku.


"Mmph. Akhirnya kau manghadap kesini yaa?"


Astaga, keturunanku tidak punya sopan santun. Mungkin sedikit disiplin diperlukan.


.


.


.


.


*


Garis terbelah di depan arena dan petung-patung kesatria berdiri berjajaar di dekatnya.


"Silakan berbaris dalam kelompok seperti yang tertulis pada undangan anda" Kata seekor burung hantu.


Aku melihat undangnaku ada sebuah huruf diatasnya. Mungkin ini akan menentukan siapa yang akan menjadi lawanku.


Itu pertarungan yang singkat aku hampir tidak menngunakan kekuatanku tapi semua lawanku kalah dalam satu pukulan. Mungkin aku terlalu berlebihan. Bahkan setelah pertarungan aku masih sempat menyaksikan pertarungan peserta lain. Kebetulan peserta yang kumaksut adalah dua pria yang sebelumnya membuat keributan di gerbang depan. Dari pada disebut pertarungan ini justru lebih mirip pembantaian, dia membunuh dan menghidupkan lawanya begitu saja.


"Astaga apa-apa pria itu, sebelumnya aku khawatir akan menjadi terlalu mencolok. Tapi itu tidak perlu karena perhatian hanya akan tertuju padanya atas apa yang dia lakukan saat ini."


Mantra untuk menghidupkan kembali zepes adalah '*Ingal'* aku ingin mempelajarinya walau aku juga bisa menghidupkan orang mati. Tapi aku tertarik untuk mempelajari sihir yang baru.


[....]


'Sepertinya kau juga tertarik rekan?'


[ Benar ]


Pertarungan mereka dimenangan oleh Anos. Tapi, sepertinya ada penantang lain yang menantangnya dan hasilnya sudah jelas. Pria bernama leorg mengambil keputusan yang salah. Saat akan kalah leorg menyodorkan lengannya yang tak bernyawa. Sebuah lingkaran sihir muncul di telapak tangannya.


'Apa itu.. apa itu sejenis sihir terlarang?'


[ Lapor kekuatan sihir melebihi standar, penghalang sihir dan medan anti-sisir yang menelilingi arena tidak dapat menahannya ]


Kurang lebih sama dengan yang dikatakan ciel seekor burung hantu juga mengumumkan hal yang sama dari atas. Jeritan terdengar dari tribun.


"Oh tidak lord leorg menggunakan mantra itu!"


"Semuanya lari Anti-sihir tidak dapat menahanya"


Disaat para hadirin mencoba menyelamatkan diri aku tetap diam ditempat menyaksikan pertarungan yang masih terus berjalan.


Petir hitam berderak disekitar tangan leorg. Percikan api berlipat ganda sampai dia tertutup kubah setebal satu meter, lalu meledak hingga setengah arena tertutup baut. Bahkan Medan Anti-sihir ikut terkena dampaknya.


Kemudian dia mengayunkannya ke arah Anos.


"Sihir Asal: Jirasd"


Petir hitam meluas beberapa ratus kali lipat berputar menjadi topan dan menghancurkan segala sesuatu di arena. Aku mengaktifkan satu lapis bariar untuk menghalau pecahan puing yang berjatuhan dari atasagar tidak mengenaiku.


Perlahan-lahan, awan debu menghilang memperlihatkan leorg yang kelelahan dan anos yang terlihat baik-baik saja. Mengetahui itu Leorg terkejut dan mencoba menyangkal dengan apa yang dilihatnya. Tapi kebeneran adalah kebenaran, pemenanya adalah Anos Volgoad yang mangaku sebagai Sang Pendiri.


Itu menarik perhatianku.


Ujian berikutnya adalah tes bakat aku bisa melewatinya dengan bantuan ciel yang mencari informasi terkait Raja Iblis.


Sekitar setengah jam kemudian tes bakat akhirnya selesai dan aku mendengarkan burung hantu yang menjelaskan proses penerimaan. Saat mendengarkan burung hantu, aku mendapati Anos pergi meninggalkan ruangan begitu saja. Aku teringat dengan pernyataan Anos saat ujian jika ialah sang pendiri dan juga sang pendiri yang dikenal oleh delhegia. Tapi aku tidak bisa mempercayai siapa pendiri yang sebenarnya apakah itu kau Anos Voldigoad atau Avos dilhevia karena sejatinya aku tidak pernah bertemu Sang Pendiri itu sendiri.