Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
3



Haaah, benar-benar kenapa ini bisa terjadi?. Saat ini aku sedang duduk di ruang keluarga sambil memengang album foto yang diberikan oleh Izabela. Saat makan malam Gusta dan Izabela memperkenalkanku dengan Anos kami membicarakan banyak hal, semua berjalan lancar hingga Izabele dan Gusta pergi kebelakang dan belum kembali hingga sekarang.


'Ini membuatku tidak nyaman.'


Aku tau itu mereka pasti merencanakan sesuatu!. Lihat saja senyum tanpa dosa mereka saat pergi dan lagi saat akan pergi Gusta mengatakan semangat kepada putranya yang berusia 1 bulan. Aku melirik kearah Anos dan sepertinya ia juga berpikir apa yang aku pikirkan.


'Ini benar-benar canggung.' Haruskah aku memulai pembicaraan.


"Rimuru apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Anos yang lebih dulu memulai pembicaraan.


"Bukankah ini pertamakalinya." Jawabku seadanya. Sejujurnya aku tahu arah pembicaraan ini jika memungkinkan aku tak ingin menghadapi keadaan yang mengharuskan aku berselisih dengan Anos.


"Benarkah? Tapi aku merasa kita pernah bertemu di suatu tempat mungkin di Akademi Delsgade." Anos menjadi waspada dari cara bicaranya ia seperti ingin memancingku.


"Fumu... apa karena wajahku pasaran makanya kau berbikir begitu."


[....]


"Hahaha...rupanya kau orang yang menarik mungkin karena itu orangtuaku menyukaimu, aku bahkan berani bertaruh jika di seluruh Laut Perak aku tidak akan menemukan wanita berparas cantik dengan rambut perak kebiruan dan mata emas yang bisa memblokir mata mistikku."


Mendengarnya aku juga sedikit senang karena aku tahu Sizue-san memang wanita yang sangat cantik.


[Haa...] Aku merasa Ciel seperti menghela nafas.


[Tidak! Hanya perasaan master] E...ek begitu.


"Saat di Akademi aku melihat namamu juga tertulis di papan buleten dan bahkan berada di kelas yang sama denganku."


"Bagaimana jika aku bilang itu kebetulan." Kataku dengan tenang aku ingin sedikit bermain detektif denganya.


"Pagi ini seorang gadis yang duduk tepat di depanku, aku mencoba melihat ke dalam dirinya tapi diblokir dan saat ini aku juga melakukan tapi hasilnya juga sama. Siswi yang kulihat di akademi adalah kau Rimuru." lanjutnya


Hebat dia bisa mengetahuinya padahal selain menyamarkan warna rambut dan mataku aku juga menyamarkan keberadaanku. Anos dia memang tidak boleh diremehkan.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" Sekarang giliranku bertanya.


"Apa tujuanmu?"


'Apa hanya itu?'


"...." Anos terdiam seakan menunggu jawabanku.


"Aku tidak bermaksud buruk aku hanya ingin menemukan temanku yang sangat berhaga." kataku


"Teman?"


"Benar, dia adalah teman pertamaku saat aku tiba di dunia baru." Aku jadi teringat pertemuanku dengan Veldora dulu di gua segel.


"Apa yang terjadi pada 'teman' mu?" Tanya Anos yang sedikit penasaaran.


"Dia tiba-tiba pergi begitu saja dari kampung halaman kami, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Hanya itu yang bisa kuberi tahu padamu saat ini." Aku belum bisa mengatakan dari mana aku sebenarnya aku tidak ingin  melibatkan orang luar lebih jauh lagi.


"Hmm kau mencurigaiku?" Kata Anos sambil menyeringai.


"Tentu saja, apa kau tau Anos jika yang bisa memasuki Akademi hanya mereka yang memiliki hubungan darah dengan Sang Pendiri." Kataku, mendengarnya Anos sedikit terkejut


"Jangan-jangan kau?"


Benar, aku tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaannya.




*


Hmm... ini lebih menarik dari yang kuduga, tidak hanya mengenal orang tuaku dia juga masuk di Akademi Delsgade padahal tidak memiliki hubungan darah denganku.


"Ngomong-ngomong Rimuru aku ingin melakukan penawaraan denganmu apa kau tertarik?"


"Penawaran?"


"Minggu depan akan ada ujian tim aku ingin kau juga bergabung dengan timku?"


"Mengapa harus aku Raja Iblis Tirani?" Dia tersenyum dengan sejuta makna. Sepertinya dia tipe yang sangat teliti. Menarik!


"Tidak ada alasan khusus aku melihat kau memiliki potensi itu saja." Mungkin lebih baik jika dia tetap dalam pengawasanku.


Benar juga dia bisa masuk ke Akademi mungkin karena ada orang dalam yang ikut campur. Wajar jika dia juga mencurigaiku. Hmm tunggu sebentar mungkin saja dalang yang di cari Rimuru dan Avos Dilhefia memiliki hubungan.


"Kau juga berpikir jika Avos ikut campur dalam hal ini bukan?"  Dia berkata tepat seperti apa yang aku pikirkan.


"Aku tidak tau apa yang diinginkan si palsu tapi mungkin lebih baik untuk pencegahan."


"Fumu jadi kau mengakui dirimulah Raja Iblis sesungguhnya." Rimuru berkata dengan nada seakan tidak peduli jika aku atau Avos adalah Raja Iblis.


"Apa kau tidak percaya?"


"Entahlah aku tidak mengenal siapa itu Avos Dilhevia dan siapa itu Sang Pendiri yang sebenarnya." Dia berkata acuh tak acuh.


"Aku penasaran di mana kampung halamanmu itu Rimuru." Aku mencoba mengintimidasinya namun.


"Letaknya sangat jauh." Dia justu tidak terpengaruh dan malah membalas mengintimidasiku.


'Menarik' pikirku. Sepertinya dia tidak ingin memberitahuku dari mana dia berasal.


"Tapi, menurutku itu bukan tawaran yang buruk mengenai bergabung ke dalam timmu."


"Benar lagi pula kau tidak akan melakukan apapun sebagai jaminan bagaimana jika kita melakukan 'zecht'." Aku menawarkan kepada Rimuru untuk menjadi sekutu dari pada menjadi musuh.


"...Baiklah aku terima"


Aku melemparkan lingkaran sihir untuk Zecht. Rune ajaibnya mencantumkan ketentuan kontrak kami. Dengan begitu selama ada kontrak ini aku dan Rimuru bukalah musuh melainkan sekutu. Tanpa kesepakatan bersama, kontrak tidak bisa membatalkannya, karena kontrak ini mutlak.


Setelah itu ibu dan ayah keluar dengan kegirangan apa mereka mendangar pembicaraan kami? Itu tidak mungkin aku sudah memasang sihir agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraanku dengan Rimuru jadi mengapa mereka begitu. Aku melirik kearah Rimuru dia juga melihat kearah ku dengan wajah yang mengatakan 'Apa yang terjadi?'


"Luar biasa Anos kau sungguh pria sejati ayah bangga padamu." Ayah bicara dengan terharu.


"Kyaaa Anos-chan kau sungguh berani sekali." Ibu yang tak ketinggalan juga membuat kami semakin kebingungan.


"Anu.. Izabela apa maksutnya ini." Tanya Rimuru pada ibuku ingin meminta jawaban. Namun ibu justru memegang kedua tangan Rimuru dan berkata sambil tersenyum.


"Moo... Rimuru-chan kau seharusnya tidak memanggilku dengan namaku." Jawaban ibu justru membuat kami semakin bingung.


"A..apa maksutnya ini Anos" Dia bertanya kepadaku, sayangnya aku tak bisa memberinya jawaban karena aku sendiri juga bingung.


"Ibu kau haru menjelaskan denngan benar" Aku pun bertanya kepada ibu.


"Moo... Anos-chan rupanya bisa bercanda. Maksutku Rimuru-chan harus memanggilku dengan sebutan I-B-U. Kerena kalian sudah menjadi P-A-S-A-N-G-A-N Kyaaa."


"...."


"...."


'''APA''' Aku dan Rimuru sama-sama terkejut mendengarnya.


"Benar kau juga harus memanggilku ayah Rimuru." kata ayah yang tidak mau ketinggalan.


"Kenapa" jawab Rimuru terlihat jelas jika dia saangat terkejut.


"Tentu saja karena kalian baru saja menikah bukan, ibu melihatnya kalian nmelakukan dengan sihir sebagai sumpah itu sangat romantis." Sepertinya ibu salah paham. Sebelunya ibu mengklaim jika Misha adalah pacarku dan sekarang ibu juga mengira jika Rimuru dan aku adalah pasangan hanya karena kami melakukan Zecht.


"Hiks.. hiks.. tak kusangka hari dimada Anos akan menikah, terlebih dengan peyelamat kami."  Wahai ayah kenapa engkau juga begitu.


"Tu...tunggu dulu itu bukan seperti yang kalian pikirkan aku dan Anos hanya melakukan kontrak itu bukan janji pernikahan atau semacamnya." Rimuru mencoba meluruskan kesalahpahaman tapi ibuku masih keras kepala.


"Bukankah perjanjian ada karena dua belah pihak setuju?" kata ibu kepada Rimuru.


"B...benar"


"Dan pernikahan terjadi kaena dua belah pihak setuju?" lanjutnya lagi. Entah kenapa perkataan ibu ada benarnya tapi entah kenapa juga tidak terasa benar.


"B..benar juga sihh.." Jawab Rimuru dengan ragu-ragu.


"Berarti yang kalian lakukan juga termasuk pernikahan kerena kalian berdua setuju melakukannya." Sudah!! Ibu dan ayah sudah tidak akan mendengarkan siapapun aku melihat kearah Rimuru dia seperti meminta penjelasan dengan situasi ini namun ibu justru menyeret Rimuru pergi. "Saaa Rimuru-chan saatnya bersiap"


"Be...bersiap untuk apa?"


"Hahaha" Ibu hanya tersenyum.


"Katakan sesuatu Anos!" Rimuru berteriak padaku. Aku jadi merasa bersalah karena menyeretnya dalam situasi ini.