Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
11



Partikel hitam muncul dan berkumpul di kakiku membentuk bayangan pedang. Ketika aku mengulurkan tanganku, bayangan perlahan naik dari tanah. Aku meraih gagangnya. Kemudian bayangan itu terbalik dan berubah menjadi pedang panjang yang gelap.


"Kau bilang itu takdir". kataku menurunkan pedang. "Dengan kekuatan Eugo La Raviaz di tubuhmu, kau telah menjadi abadi."


"Aku telah memperoleh kekuatan dewa... Aku adalah dewa."


Penggunaan kekuasaan yang berlebihan telah membawa kesadaran Eugo La Raviaz ke permukaan pikirannya.


"Aku adalah pemeliharaan ilahi. Dengan kekuatan takdir, aku abadi..."


Tidak, ini_perpaduan keduanya? setelah menyatu dengan Sabit Pencatat Waktu, pikiran Ivis menyatu dengan pikiran Eugo La Raviaz.


Lengan kanan Ivis berubah menjadi sabit besar. Jumlah sihir yang tak masuk akal mengalir dalam dirinya.


"Keajaiban tidak ada. itu semua pekerjaan para dewa_ dua iblis lemah yang baru berusia lima belas tahun tidak akan pernah menerima berkah seperti itu." kata Ivis dan Eugo La Raviaz bersama-sama.


"Takdir? Penyediaan? Keajaiban? Aha... Aha ha ha ha!" tawaku meledak. "Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa? Ketahuilah tempatmu, mahluk yang lebih rendah."


Aku mengambil langkah maju." Sasha bilang dia akan menghancurkan takdir ini. Misha mengatakan dua keajaiban terjadi dalam hidupnya dan Rimuru mengatakan jika Keajaiban itu lebih indah dari apapun."


"Ini adalah kata-kata tulus yang diucapkan oleh pengikut dan rekanku yang sangat mengagumkan. Aku tidak akan diam melihatmu mengejek mereka." Aku terus berjalan perlahan menuju Ivis.


"Dasar bodoh_ kukira kau masih menganggap dirimu sebagai Raja Iblis, pendiri yang bodoh? Ketika tidak ada yang akan mempercayaimu, kau akan membusuk dalam kesendirian!"


Sabit raksasa itu mengayun ke arahku dan aku menangkapnya dengan tangan kosong.


"Apa artinya menjadi Raja Iblis?" tanyaku. "Kekuasaan? Gelar? Otoritas? Status?"


"Semuanya" jawab Ivis


"Tidak. Menjadi Raja Iblis berarti menjadi diriku sendiri. Dan jika bawahanku diancam, akan ku balas dengan kehancuran. Bahkan jika harus melawan takdir itu sendiri_itulah menjadi Raja iblis."


Aku menyiapkan pedang panjang gelapku dan menoleh kebelakang. Sasha dan Misha menatapku, membeku dalam waktu begitu pula Rimuru yang tidak terpengaruh oleh waktu yang membeku menatapku. Aku jadi semakin sekuat apa Rimuru sebenarnya.


"Anos! Kami percaya padamu! Sasha, Misha selalu mempercayaimu dan juga aku. Jadi beri dia pelajaran." Sesaat setelah Rimuru berkata. Saat itu, aku mendengar suara.


"Ano...!"


Di dunia di mana waktu telah terhenti, mulut Sasha bergerak. Mata kehancuran Ajaibnya aktif. dia mati-matian melawan waktu yang membeku, dan usahanya meluas ke Misha.


"Ano...!"


Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun, melalui Liknos pikiran dan perasaan mereka mengalir padaku. Sasha yang ingin mengubah nasib. Misha yang ingin hidup lima belas tahun lagi.


"Selamatkan aku, Anos..." Kata Misha dengan lantang


Sasha mulai menangis mendengar apa yang dikatakan Misha. "Tolong... Selamatkan kami, Anos. Nasib dimana hanya salah satu dari kami yang hidup itu tidak adil!"


Aku mengencangkan cengkramanku di sekitar pedang. Aku menepis sabit raksasa itu dan bergerak maju mendekati Ivis. Kegelapan hitam pekat muncul dari bilahnya, pedang panjang itu membelah Ivis dengan mudah, mengatasi setiap lapisan Anti-sihirnya.


"Usaha yang sia-sia tubuh yang mengatur waktu ini adalah pemeliharaan ilahi itu sendiri. Tidak peduli apapun yang kau coba..."


Lengan kanan Ivis terjatuh." A...Apa...? Lukanya tidak sembuh... Mustahil..." Katanya dengan wajah yang sangat terkejut.


"Apa yang salah?" Tanyaku. "Aku pikir kau tidak akan bisa dihancurkan. Ternyata kau sangat rapuh." Aku mengayunkan pendang lagi mengiris legan kiri Ivis, meninggalkan luka yang tidak bisa disembuhkan bahkan jika waktu diulang kembali.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku sudah memundurkan waktu tapi lukanya tidak sembuh?!" Satu ayunan lagi, kaki Ivis terpotong.


Ivis memcoba kabur dengan Fless, tapi aku meraihnya. "Ukir ini ke dalam tengkorak ketakutanmu agar kau tidak akan pernah melupakannya lagi. Aku adalah Raja Iblis Anos Voldigoad." Aku menusukkan Venuzdonoa ke tenggorokannya.


Mayat dan sumber Ivis dan juga Eugo La Raviaz menghilang. Meninggalkan Sabit Pencatat Waktu yang tertinggal, Berdentang di lantai.






"Hmm. Ini pertama kalinya aku mendapatkan ini tanpa merusaknya." Kata Anos pada dirinya sendiri


"Benar. Namun Scythe of the Timekeeper adalah barang ajaib sejati yang memilih sendiri pemiliknya yang sah. Tapi, sabit ini dan aku tak pernah rukun mungkin karena aku selalu mematahkannya saat mengalahkan Eugo La Raviaz." Katanya dengan wajah yang seakan tak melakukan apapun


"Ahh...Begitu..." Dia benar-benar gak bisa diremehin gitu aja. Mungkinkah Anos sebenarnya lebih kuat dari Guy. "Lalu akan kau apakan sabit itu? Kau tidak bermaksut meninggalkannya disini begitu saja bukan?" tanyaku


"Aku akan menyimpanya di gudang harta karun di bawah kastil. Ini mungkin akan berguna suatu hari nanti."


"Itu bagus, ngomong-ngomong soal Ivis Necron bukankah kau bilang dia bawahanmu." Menarik perhatian Anos yang mengambar lingkaran sihir untuk mengirim sabit waktu ke gudang harta karun miliknya. "Aku bukanya menghakimi apa yang kau lakukan pada Ivis... Hanya saja aku sedikit kecewa karena ada hal yang ingin kutanyan padanya."


"Karena Ivis adalah bawahan yang aku ciptakan langsu dengan darahku dua ribu tahun yang lalu aku masih bisa membangkitkanya kembali dengan darahku sekarang."


"Benarkah? Jadi apa kau mau membangkitkannya?" Tanyaku pada Anos


"Aku memang berniat melakukannya tapi... apa yang ingin kau tanyakan padanya Rimuru?" tanya Anos


"...Apakah dia terlibat dalam kasus hilangnya Veldora." Karena Anos berniat membangkitkannya sendiri jadi aku tidak kerepotan jadinya. Tapi aku tidak boleh lengah bisa saja Ivis tidak akan memberikan informasi dengan mudah walau dia mengakui Anos sebagai tuannya yang sah nanti, itu akan merepotkan.


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Rimuru?"


"Saat aku melawannya dia mengetahui jika aku berasal dari dimensi lain di luar Laut Perak."


"Dimensi lain?" kata Anos dengan nada berat


Gawat aku keceplosan.


"Aku baru tau jika aku berasal dari dimensi lain Rimuru "


"Aku belum bilang padamu rupanya.. maaf" aku meminta maaf pada Anos sambil menyatukan kedua telapak tanganku


"Entahlah aku jadi merasa sangat kesal. Aku ingin kau menebusnya Rimuru." Suaranya yang berat ditambah tatapan yang menusuk itu aku yakin dia sangat marah entah kenapa mirip seseorang.


Jika Anos dan Hinata saling menatap siapa yang akan unggul yaa? Maa tidak ada gunanya berpikir begitu lebih baik aku menenagkan Abos saat ini dulu."Begini saja aku akan mengabulkan satu keinginanmu apapun itu. Bagaimana apa kau akan memaafkanku jika seperti itu?" tanyaku pada Anos yang tampak sedikit bingung dengan tawaranku.


Yoss! kalau begini... "Tentu saja kau tidak harus memintanya sekarang dan selama kau tidak meminta hal yang aneh-aneh aku akan memberikannya."


"Baiklah aku setuju dengan itu. Juga mengenai apa yang ingin kau tanya pada Ivis kita akan tahu setelah bertanya langsung padanya" Anos berbalik. Ia mengggambar lingkaran sihir dengan setetes darahnya dan merapalkan mantra "Ingal"


"Bangkitlah pengikut yang lahir dari darahku."


Ivis bangkit dan berlutut didepan Anos "Maafkan diriku, Raja Iblis yang paling terhormat, Anos Voldigoad"


'Dia langsung berlutut, apa sekarang dia benar-banar mengakui jika Anos adalah tuanya' pikir Rimuru


"Apa yang terjadi?" tanya Anos


"Saya tidak tahu... Ingatanku tetap belum kembali. Namun, aku menduga jika hal ini terjadi dua ribu tahun lalu setelah anda mengorbakan dirimu, seseorag telah merebut sumberku dan memanipulasinya"


"Apakah panatua iblis yanglain juga kehilangan ingatan seperti mu?"


"Mungkin saja benar dan mungkin saja pelakunya ada diantara mereka" jawab Ivis


Penghianatkah? pikir Anos. Anos menyentuh dahi Ivis dengan jari. "ini adalah ingatanmu yang sesungguhnya. Hanya ingatan singgkat sebelum aku bereinkarnasi"


"Sumber siapa pun yang menyatu denganmu mungkin adalah Avos Dilhevia_Dia pasti memperhatikanku. Iblis dari Zaman Mitos adalah ganguan yang harus dihadapi. Aku bisa menghapusnya dengan pedang Kehancuran jika mereka mencuri di kastilku, tapi aku ragu mereka cukup bodoh untuk melakukannya."


Mendengar kata-kata Anos Ivis menundukkan kepalanya


"Mari kita ikuti rencananya. Aku akan terus menikmati kehidupan sekolah untuk seterusnya. Jika dia merencanakan sesuatu dia akan bergerak pada akhirnya. Dan biarkan pihak lawan mengira kau sudah mati Ivis untuk mengelabui Avos dilhavia."


"Sesuai keinginamu tuanku," Jawab Ivis


"Sebelum itu ada yang ingin bicara padamu." Anos melirik kearah Rimuru kemudian diikutu oleh Ivis


"Sebelunya kau bilang kau tidak akan menjawab pertanyaanku namun dihadapan tuanmu apakah kau akan menjawabnya kali ini?" tanya Rimuru dengan sedikit intimidasi pada Ivis.


"Jika itu adalah hal yang diinginkan tuanku Raja Iblis Tirani maka aku akan melakkukan apapun." Jawab Ivis dengan percaya diri


"Hee sepertinya kau sungguh sudah sadar sekarang. Itu bagus aku tidak perlu melakukan kekerasan." aku sedikit mengejeknya.