Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
6



Aku menarik kursiku dan duduk.


 Misha menoleh Ke arahku."Saya bersyukur kau selamat..."


 "Tekadang aku tidak bisa mempercayaimu." Guman Sasha.


 "Kau mengenalnya Anos?" Tanya Rimuru di sebelahku.


 "Ya begitulah"


 "Begitulah?" Rimuru yang tidak puas dangan jawabanku hanya memelototiku menuntut jawaban pasti.


 "Dia adalah salah satu dari tujuh bawahan yang aku ciptakan dengan darahku dua ribu tahun lalu tapi sepertinya ada yang memanipulasi ingatannya"


 "Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Rimuru.


"Aku mengira jika namaku rusak seiring berjalanya Waktu. tapi tujuh tetua iblis, akademi iblis dan merekku sebagai ketidakcocokan....pasti telah diperhitunggkan, dan tujuannya..."


 "Pelakunya ingin menggantikanmu sebagai Raja Iblis Tirani!" kata Rimuru "Jika begitu maka pelakunya  pastilah Avos Dilhevia, karena hanya dialah yang akan diuntungkan." lanjutnya. Seperti yang diduga dia bisa dengan cepat


memahami informasi.


 "Hei Anos, Rimuru dari pada berbicara bukankah kalian seharusnya membuat catatan atau menyimpan materi ke kristal rekaman?" Sasha bertanya dengan suara pelan.


 "Aku tidak perlu melakukan itu karena aku sudah mengingat semua hanya dengan satu kali penjelasan." kata Rimuru dengan sedikit sombong.


 "Aku sudah punya catatannya di sini." Kataku, mengetuk pelipisku.


 "Apa...Kalian menghafal formula yang rumit hanya dengan melihatnya?" gumannya.


 "Aku juga tidak melihatmu membuat catatan Sasha?" tanya Rimuru.


 "Ini adalah seni rahasia keluarga Necron, aku keturunan langsung, jadi aku menguasai dasarnya bertahun-tahun yang lalu."


 Oh itu benar. "Apakah kau juga dekat dengan Ivis?" tanyaku.


 "Tidak mungkin. Aku memang keturunan langsung, tapi aku berada di urutan keenam belas paling bawah. Aku hanya pernah berbicara sekali dengan lord Ivis..."


 Masuk akal karena iblis punya rentan hidup yang substansial. Wajar jika dia punya banyak kerbat yang masih hidup.


*


*


*


Selama istirahat makan siang setelah kelas sihir dengan Ivis. Anos pergi untuk berbicara secara pribadi dengan Ivis dan aku hanya mengikuti Misha dan Sasha ke halaman. tak lama kerumunan murid datang menghampiri kami. Lebih tepatya mereka menghampiri Sasha. Hmm, bukankah mereka matan anggota tim Sasha? Begitunya, merka mencoba bergabung kedalam tim melalui Sasha.


 "Jika kalian ingin bergabung dengan tim kalian harus bicaraa dengan Anos"


 "Tapi, Nona Sasha, ketidakcocokkan itu tidak berniat mendengarkan kami...." Para siswa memohon dengan putus asa.


 "Kalau begitu, menyerahlah. Aku tidak bisa melakukan apa-apa." Jawab Sasha dengan acuh.


 Walau aku dan Misha ada disana, mereka tidak mencoba bertanya pada kami seolah mengabaikan kami. Lagi pula bukankah lebih masuk akal jika bertanya kepada kami yang lebih dulu satu tim dengan Anos dari pada Sasha yang belum lama bergabung.


'Sungguh ini membuatku kesal'


 [Haruskah saya memberi mereka perhitungan Master?] Itu bukan tawaran yang buruk tapi tidak terima kasih Ciel.


 [Kenapa? Mereka yang berani meremehkan Master harus diberi perhitungan] Ciel benar-benar marah kali ini


Lagi pula tujuan kita hanya untuk menemukan Veldora dan kembali ke Tempest bukan untuk pamer kekuatan kepada mahkluk di dunia ini bersabarlah sedikit lagi Ciel!


 [...Baik]


Aku tau kau kesal, tapi aku tidak bisa membiarkan hal sepele seperti ini membuatku kehilanga Veldora lagi.


[Baik Mastar! Saya akan selalu mendapingi master] Yah... aku senang mendengarnya.


Setalah Sasha menolak anggota timnya, Anos datang menghampiri kami dan mengembalikan lencana Misha yang terjatuh. Kemudian kami memutuskan untuk pergi ke pintu masuk dugeun bawah tanah tempat yang menjadi ujian kali ini.


Saat diperjalanan Sasha dan Anos berbicara menganai tujuan ujian kali ini jika tim yang mendapat tongkat dari altar di lantai paling bawah mendapat nilai penuh. Tapi Sasha menyangkalnya jika mendapatkan tongkat itu mustahil karena para guru bahkan belum mencapai lantai paling bawah. Mereka bahkan tidak yakin apakah tongat itu benar-benar ada atau tidak.


Astaga, bukankah sekolah begitu ceroboh dalam memberi nilai bahkan Akademiku tidak memberi nilai bagi siswa


dengan cara seperti itu. Untungnya Anos mengklaim jika tongkat itu sungguh ada karena dia adalah sang pendiri dan istana itu adalah mliliknya. Dengan ini kita akan mendapatkan benda yang nyata dan benar-benar ada.


"Hei, Anos!" panggilku. "Jika itu istanamu bukankah kau bisa membawa kami ke dengan Gatom?"


[Lebih tepatnya anda dapat menggunakan Gatom. tetapi akibatnya kita tidak dapat mengetahui dengan pasti dimana kita akan berakhir] Ciel menjelaskan informasi yang dia dapatkan setelah menganalisis bagunan ini.


"Begitu, kupikir kita bisa tiba lebih cepat" aku sedikit kecewa karena ingin menyelesaikan ujian dengan cepat. Bagaimana jika menghapus anti-sihir?


 [Tidak bisa. Kerena penjara bawah tanah dirancang untuk menghancurkan diri sendiri jika hal itu dilakukan]


 B...Begituya...


"Tapi aku jalan tercepat untuk mengambil tongkat kerajaan" jawab Anos


Kami terus menuju pintu masuk ke bawah tanah. Saat kami tiba, kami menemukan siswa lainnya dan Emilia memberikan pembukaan sebelum pintu ke ruang tanah dibuka.


Para siswa masuk kedalam dengan tergesa-gesa sedangkan Anos  dan kami hanya berjlan dengan santai karena sebelumnya dia mengatakan tau jalannya maka akupun tidak keberatan dia lebih mengenal istanyanya sendiri, tapi tidak dengan Sasha yang keberatan karena kami berjalan begitu lambat.


"Tidak apa-apa" Anos meyakinkanya " Kau bisa pergi terlebih dulu jika kau mau,"


"Tidak ada gunanya aku jika aku pergi sendiri" Sasha berbalik dengan marah, berjalan beberapa langkah didepan kami.


Kami berjalan tanpa tantangan mungkin karena siswa yang masuk terlebih dulu sudah mengalahkan penjaga tempat ini.


"Ambil kanan!" Printah Anos pada Sasha.


"Bagaimana kau tau jika jalan itu benar?" tanya Sasha yang masih kesal.


"Aku pernah keseni sebelumnya"


Sasha dengan enggan melanjutkan jalan yang ditujuk Anos, kami terus seperti itu hingga Misha menyinggung soal hadiah yang bagus untuk ulang tahun Sasha.


"Aku yakin Sasha akan senang dengan hadiah yang kau berika padanga Misha" Kataku yang memotong percakapan Misha dan Anos.


"Betulkah..?"


"Aku juga berpikir seperti itu, dia tersenyum saat kalian berbaiakan" Anos meyakinkanya.


Misha merenung sejenak. "Pakaian mungkin akan bagus."


Pakaian, ya? mungkin aku bisa memberinya kimino yang dibuat Shuna kupikir Sasha akan tampak cantik jika memakai kimono, tapi apa dia akan menyukainya didunia ini tidak ada pakaiaan yang mirip dengan kimono.


"Kalau begitu aku tau sesuatau yang mungkin akan disukainya." Anos lebih dulu menawarkan idenya. Misha tersenyum dan mengucapakan terima kasih pada Anos


"Lalu ulang tahunmu kapan Misha?" tanyaku


"Besok"


Oh, apa mereka kembar? lagi pula mereka sangat mirip.


"Apakah ada yang kau ingikan?" tanya Anos. Aku juga sedikit penasaran.


 Misha berpikir sejenak "Tidak ada apa-apa..."


"Apa kau serius Misha? Kau bisa mengatakan apapun." Aku mencoba meyakinkanya lagi pula ini ulang tahun hanya sekali setahun kurasa itu bukan masalah jika kau menginginkan hadia.


"Tapi aku tidak akan melihat kalian besok..."


Aku dan Anos hanya menatapnya dengan bigung karena apa yang dikatakan Misha. Apa dia berencana pergi untuk waktu lama.


"Rimuru kapan ulang tahunmu?" tanya Anos denga serius yang membuatku terkejut. Misha juga menatapku dengan serius.


"I..itu.." Aku tidak tau harus menjawabnya lagi pula saat aku bereinkarnasi aku sudah berada digua segel, aku juga tidak tau berapa lama aku disana sebelum bertemu Veldora ataupun sesudah bertemu.


"Anos?" panggil Sasha "Ini adalah jalan buntu." Bagus, karena Sahsa meanggil aku jadi tidak perlu menjawab pertanyaan mereka. Anos berjalan lurus ke ujung koridor.


"Anos, apa-" Sebelum aku menyelesaikan kalimatku Anos terus berjalan dan menghancurkan tembok dinding menciptakan lubang di sana.


"Huuuh?!" Sasha meringis.


"Dia kuat..."tambah Misha.


"Aku juga tau itu..." Jujur aku juga terkejut dengan apa yang dilakukan Anos" Memang benar ada jalan tersembunyi" Lagi pula pasti akan ada jalan tersembunyi di ruang bawah tanah.


 "Ayo," kata Anos.


 Dengan ekspresi bingung, Sasha mulai berjalan." Dia baru saja menebus dinding..."


 "Iya,.." Jawab Misha.


Sasha kemudian melihat kearahku seakan menayakan pertanyaan yang sama, mungkin dia masik terkejut. Aku hanya mengagguk sebagai jawabannya.