Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
12



"Sebelunya kau bilang kau tidak akan menjawab pertanyaanku namun dihadapan tuanmu apakah kau akan menjawabnya kali ini?" tanya Rimuru dengan sedikit intimidasi pada Ivis.


"Saya akan melakukannya jika itu memang keinginan tuanku."


Rimuru melirik Anos. Anos menggagu sebagai tanggapan jika Ivis pasti akan menjawab pertanyaan Rimuru.


"Baiklah pertama apa benar kau yang mengirim undangan untuk masuk Akademi padaku Ivis?"


Sebelumnya aku meminta Souei untuk menyelidiki ini karena, bagaimana mungkin aku yang tidak memiliki hudungan darah dengan Sang Pendiri bisa masuk ke akademi. Jangankan hubungan darah dengan Sang Pendiri, darah saja tidak punya.


"...Benar. Saya mengirimnya pada anda karena diperintahkan oleh seorang yang mengaku utusan Sang Pendiri."


Jadi Ivis melakukan nya bukan atas keinginannya melainkan perintah dari orang lain. Tapi siapa utusan yang dibicarakan Ivis? "Utusan Avos Dilhavia? Jadi apa kau tahu siapa dia?"


"Saya tak dapat melihat jati dirinya, dan dia hanya mengatakan untuk mengawasi anda selama di akademi ia juga memerintahkan beberapa iblis selain diriku dan dia jugalah memberi informasi mengenai anda adalah seorang Raja Iblis dari dunia lain."


'Individu yang lebih kuat dari Ivis dan memiliki koneksi yang kuat di akademi' pikir Rimuru


"Apa kau tau alasannya utusan itu?" Tanya Anos


"Aku tidak tahu tapi," Ivis melirik kearah Anos "mungkin ada hubungannya dengan anda yang di cap sebagai ketidak cocokan Tuanku."


"Aku?" kata Anos


"Ini hanya dugaan saya pribadi, karena bangsawan sangat marah pada anda karena mendeklarasikan diri sebagai Sang Pendiri ada yang merencanakan akan membunuh anda namun mereka juga tak mampu melakukannya mungkin mereka juga terlibat mengapa Raja Iblis dari dunia lain diundang ke akademi"


"Lalu apa ada lagi yang kau katehui tentang utusan itu?" Tanya Rimuru


"Dia memiliki kebencian yang mendalam pada Anda. 'Dia' mengakatan beberapa kali tidak akan pernah mengatakan 'Aku tidak akan pernah melepaskanmu Raja Iblis Rimuru' saat aku bertanya padanya dia hanya diam dan tak menjawab sama sekali" Kata Ivis yang tidak ada kebohongan dalam perkataannya.


Kebencian yang terlihat dari perkataan utusan tersebut membuat dugaan Rimuru semakin kuat.


"Raja Iblis ya? Begitu... Itu menjawab pertanyaanku bagaimana kau bisa memiliki kekuatan sebesar itu Rimuru." Anos menarik perhatiana Rimuru dan Ivis.


"Memang benar aku adalah Raja Iblis tapi aku tak memiliki keinginan untuk merebut kursi Raja Iblis di dunia ini karena satu tahta saja sudah cukup bagiku."


Setelah itu Anos hanya diam saat aku bertanya lebih lanjut pada Ivis namun informasi yang kudapat tidaklan seberapa.


[Pelaku berusaha untuk tidak meninggalkan jejak sedikitpun master, mungkin jika dia melakukan nya master akan langsung mengenalinya]


Kau benar Ciel aku sudah bisa menebak siapa dia. Dari kebencian yang sangat besar ini...


[Setelah perang tenma dia tidak bisa pulih dengan sempurna, setidaknya butuh ratusan hingga ribuan tahun]


Benar! Tapi, ini hanya dugaan dan bagaimana jika dia mendapat bentuan.


[Bantuan?]


Benar! Bagaimana jika dia membawa Veldora ke dunia ini untuk menyerap kekuatan Veldora untuk mengisi magicule yang hilang atau bantuan dari para dewa di dunia ini.


[?!?]


'...Itu masih dugaan Ciel sensei jangan tegang gitu' Aku mencoba menenangkan Ciel kerena bisa saja dia memanggil Black Number kemari.


"Rimuru setalah ini apa kau akan tetap kembali ke academi atau kau akan pergi? Apapun pilihanmu aku akan menghormatinya." Kata anos sambil berjalan kearahku seteIah ia berbicara dengan Ivis.


"Musuhku mungkin ada di akademi dan memang berbahaya bergerak di lingkunag musuh tapi aku tetap akan di akademi hingga aku menemukan apa yang aku cari dan akan menghancurkan apa saja yang menghalangiku." Aku meyakinkan Anos dan juga diriku sendiri untuk tetap bertahan.


"Houu saat ini kau terdegar layaknya seorang Raja Iblis." puji Anos


"Ya-yah lagi pula aku tertarik dengan sihir di dunia ini jadi tidak salah jika aku belajar sebagai siswa di sini, ha-ha-ha"


[Huh]


"Ngomong-ngomong dimana Ivis?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan lagi pula aku juga penasaran kemana dia pergi.


"Aku menyuruhnya untuk menyelidiki Tujuh Tetua Iblis"


Tetua Iblis. Benar juga Anos memiliki tujuh bawahan yang dia ciptakan dari darahnya, aku penasan antara Tujuh Tetua Iblis dan 12 patronku mana yang lebih kuat.


Aahh bukan saatnya memikirkan itu saat ini lain kali mungkin aku akan meminta mereka bertarung di colosium saat Anos mengijinkannya nanti.


"Apa yang kau pikirkan Rimuru?" tanya Anos membuatku tesentak terkejut.


"Tidak bukan apa apa. lagi pula bukankah saatnya kau menyelesaikan sesuatu Anos." Kataku mengalihkan pembicaraan mengenai ritual Sasha Dan Misha.


"Kau benar. 'Indu'. " Segara setelah Anos mengucapkan mantra. Ruang putih di sekotar kami kembali seperti semula. Jarum jam tel pun kembali bergerak setelah kekalahan Eugo La Raviaz waktu kembali bergerak.


"Hah...?" Aku dan Anos berbalik untuk melihat Sasha menatap langit-langit "Itu cahaya matahari...bukan bulan..." katanya terkejut


"Membunuh Eugo La Raviaz memang membuat kembali ke waktu semula_"


"Tapi hanya selisih beberapa jam saja bukan begitu Anos" lanjutku


"Benar"


"Jadi ini sudah pagi?"  tanya Misha


"ya"


"Kupikir kemarin akan menjadi akhir"


Misha mengerjap lalu mengangu " ya.."


"Misha!" Sasha melompat ke arah Misha memeluknya erat "Syukurlah aku sangat senang. Maaf aku bilang membencimu. Aku ingin kau hidup"


"Aku jugu ingin kau hidup Sasha." jawab Misha sambil menyentuh tangan kakaknya


Keduanya diliputi kegembiraan karena hari ini "Sungguh pemandangan yang mengharukan." melihat kedua saudari ini mengingatkan ku pada murud-murid ku saat mereka takut akan esok hari mereka tiada.


Tapi aku bersyukur dapat menyelamatkan mereka tepat waktu


'U-Um... Raja... Anos...?


"?!?" barusan Sasha bilang apa? Raja Anos?


"Pftt tidak perlu terlalu formal Sasha Aku mereinkarnasi karena bosan dengan dunia yang dilanda perang dan era ini lebih menyenangkan dibandingkan dua ribu tahun lalu"


"Kenapa kau tertawa? Ah tidak Maksutku..." Sasha mundur karena malu


"Tidak perlu formal. apa yang terjadi dengan energimu ketika kau menciumku?" Kata Anos


"A-Apa yanh kamu bicarakan...?!" Pipi Shasa memerah


""Ciuman?"" kataku dan Misha yang berada didekat Sasha bersamaan


"T-Tidak i-itu hanya berciuman antara teman! Tidak ada artinya..."


"Hmm. Betulkah? aku membaca pikiranmu melalui Linoks sebelumnya, dan kau mengatakan ingin melihat kemana cinta in_" sebelum Anos menyelesaikan kalimatnya Sasha langsung berteriak dan Anos hanya rtertawa melihat Sasha


"Hohou" Aku tertawa dengan nada yang menggoda Sasha


"AHH AHHH"


 Melihat tingkah Sasha sepertinya benar mereka pernah berciuman sebelumnya


"Berhentilah menertawaiku, kau blasteran! saat itu aku melakukannya tan kesadaran penuh, aku sedang mempersiapkan kematianku, jadi aku hanya melakukan itu pada siapapun yang paling dekat dengan ku. Itu saja mengerti!"


Astaga Sasha kau malah membuatnya semakin jelas jika kau benar benar mencium Anos jika aku mengatakan itu dia pasti akan mati karena menahan malu lebih baik aku tidak mengatakannya, lagi pula. "Sasha! kau menyebut Sang Pendiri sebagai ras campuran?"


"Aku tidak peduli jika dia adalah Pendiri. Diusianya ini dia adalah ras campuran." Sasha berterusterang


Anos kembali tertawa dengan keterusterangan Sasha " Aku harap kau terus menjadi dirimu sendir kau juga Misha"


"Tentu saja" jawab Misha singkat seperti biasanya


"Kau tidak perlu mengatakan itu padaku" Sasha berbalik dengan Gusar ke arahku "lagi pula apa dia benar-benar Rimuru?"


"Eh!" Terkejut karena Sasha tiba-tiba menunjuk kearahku


"Bukankah penampilan Rimuru sebelumnya memiliki rambut dan mata hitam. Tapi i-itu... Dia terlihat s-sangat c-cantik..." Dengan malu -malu Sasha mengalihkan pandangannya.


"Tsundere?" Kataku yang membuat Sasha berteriak "TIDAK" dengan keras


"Rimuru kau berhutang penjelasan pada kami?" Misha


"Kau benar..." Aku memang berjanji pada mereka sebelumnya, toh cepat atau lamabat identitasku akan terbongkar dan lagi orang tua Anos pernah mempertanyakan mengapa aku menyamarkan penampilanku.


'Tapi aku binggung harus menjelaskannya dari mana' Pikiranku melayang mengingat kembali saat Veldora di culik , datang ke dunia ini dan bertemu orang tua Anos kemudian mendaftar di akademi dan bertemu kalian.


"Bagaimana menjelaskannya ya... Sebenarnya aku berasal dari dunia lain dan menjalani kehidupan Akademi bersama kalian. Sekian." Kataku dengan singkat.


"Tunggu apa apan penjelasan imu itu " teriak Sasha yang tak puas dengan penjelasanku. "Kau mengatakannya seolah itu hal yang biasa memangnya kau bisa dengan mudah datang dan pergi ke dunia lain haa?" Sasha kemudian menatap kearah Anos "Hey Anos katakan sesuatu apa yang dikatan Rimuru memangnya benar?"


"Untuk kebanyakan mahkluk memang sulit tapi itu bukan hal yang mustahil." kata Anos dengan percaya dirinya


"... Aku menyesal bertanya padamu" Sasha dengan kecewa sedang Anos tanpa rasa bersalah bertanya apakah yang dia katakan itu salah


"Aku mengatakan yang sebenarnya apa ada yang salah?" tanya Anos, mendengar itu Sasha hanya menghela nafas panjang.


"Rimuru mengapa kau datang ke dunia ini?" Tanya Misha


"Aku mencari seseorang yang sangat berharga bagiku."


Misha yang penasaran bertanya dan aku pun menjelaskan jika setelah aku lahir di dunia kardinal aku selalu sendirian didalam gua sagel dan berjalan entah kemana tanpa tujuan, hingga aku bertemu dengan Veldora yang disegel.


Aku berjanji akan membebaskanya dan sejak itu kami menjadi sahabat hingga saat perang dengan kekaisaran aku kehilangan dia karena dominasi musuh namun aku berhasil membebaskannya. Tapi sekali lagi Veldora diambil dariku. Saat itu juga karenaku suasana yang sebelumnya ceria karena Sasha dan Misha yang masih hidup menjadi canggung.


'Ah aku membuat suasananya canggung'


"Tapi sejak datang didunia ini aku dapat bertemu dengan kalian. Aku bahagian karena mendapat teman-teman baru. Setiap pertemuan memiliki Makna tersendiri dalam hidup."


"Kami juga..." Kata Misha tersenyum begitu juga Shasa dan Anos


'Benar! Pertemuan baru akan selalu terjadi dalam hidup. Begitu pula perpisahan...'


"..."


"... Kalau bagitu kita kembali ini sudah fajar." Aku tersenyum dan berjalan menghampiri mereka sambil berharap jika perpisaahan itu tak terjadi secepat pertemuan kami terjadi.