Rimuru X Anos

Rimuru X Anos
5



Untuk merayakan kemenanganku dalam ujian ibu menyiapkan pesta mewah. Sasha mengumankan sesuatu tentang tidak mengerti mengapa dia harus berpertisipasi dalam perayaan kekalahannya. Tetapi dia diam saat menggigit masakan ibu. Seperti yang kuduga, makanan ibu sangat lezat bahkan untuk standar zaman ini.


Ibu membanjiri Sasha dengan banyak pertanyaan, sama seperti Misha sebelumnya. Pada akhirnya, menghilangkan kesalahpahaman ibu terbukti sulit. Aku beralih menatap Rimuru yang hanya diam saja sejak tadi dan memakan makananyan dengan tenang atau begitulah yang terlihat. Dia acuh tak acuh dengan apa yang terjadi disekitarnya.


'Apa karena aku memaksanya ikut tanpa bertanya pendapatnya? Mungkin aku akan mencoba bicara dengannya nanti.'


Jadi setelah makan malam berakhir, kuputuskan untuk bicara dengan Rimuru. Awalnya aku ingin mengantarkan Sasha dan Misha pulang terlebih dahulu, namun aku melihat Sasha dan Misha bersama terjadi keheningan diantara mereka jadi kuputuskan untuk memberi mereka sedikit lebih banyak waktu.


"Rimuru!" Panggilku saat dia akan membuka pintu dan akan pergi.


"Ada apa?" Tanya Rimuru


"Ada yang ingin kubicarakan apa kau bisa?"


"Tergantung hal apa yang dibicarakan"


Diluar dugaan kupikir dia akan marah. Dia tidak seperti Sasha yang mudah terbawa emosi atau sedikit bicara seperti Misha.


"Pertama aku minta maaf karena tadi memaksamu ikut kerumah tanpa tau apa kau bisa atau tidak."


"Itu sudah tak perlu dicemaskan." Kata Rimuru dengan santainya.


"Lalu kenapa kau hanya diam saja kau terlihat putus asa." Dia terkejut tapi kemudian kembali menagtur ekspresinya.


"Ternyata kau menyadarinya...."


"Tentu saja! aku tidaklah buta untuk mengetahui itu."


"Sebenarnya aku mendapat pesan dari bawahanku jika ia menemukan tanda-tanda keberadaan temanku tapi saat dia menyelidikiki lebih lanjut itu kemudian menghilang seakan tidak pernah ada."


Bawahan? Rupanya dia punya bawahan. Aku mulai penasaran dengan identitas Rimuru yang seberanya,


"Hilang? Apa maksutmu?"


"Maa... itu memang sering terjadi sih...." Ini pertama kalinya aku melihatnya putus asa, biasanya dia memancarkan aura bagai seorang pemimpin yang bijak, aku mungkin akan percaya jika dia bilang dirinya adalah seorang raja di sebuah kerajaan.


"Bagaimana jika aku membantumu?" Aku mencoba menawarkan bantuan kepadanya,


"Apa? Kurasa itu tidak perlu karena aku bisa mengurusnya." Rimuru terdiam "Kita bahkan baru bertemu satu minggu dan kau ingin membantuku?." Lirih Rimuru


"Benar. lagi pula bukankah sekarang kita adalah teman." Ucapku, yang membuat Rimuru terkejut. tapi kemudian dia kembali tenang.


"Kau benar. Kalau begitu mohon kerja samanya mulai sekarang Anos." Ucapnya dan kemudian pergi setelah melambaikan tangan padaku.


'Deg' Rimuru tersenyum dengan sanagat manis, ini pertama kalinya aku melihat dia tersenyum begitu tulus seakan bebannya berkurang. Entah kenapa rasanya ada yang menggelitik di perutku.


***


Di rumah Rimuru di pinggir kota


Entah kenapa aku menjadi lega saat Anos menawarkan bantuan untuk mencari Veldora, mungkin karena aku hampir merasa putus asa dan tawaran Anos datang diwaktu yang tepat.


[Master. Anda terlihat gembira?] Tanya Ciel yang penasaran.


"Tentu saja. Apa kau tidak suka aku begini Ciel-Sensei?" jawabku sambil sedikit menggoda Ciel


[T... Tentu tidak! Saya bertanya dengan serius Master jangan menggoda saya] Aku tertawa mengetahui reaksi Ciel.


"Memiliki teman baru memang tidak buruk, jika tidak memiliki niat bermusuhan mengapa tidak menjadi kawan bukan begitu Ciel?" jawabku sebelum Ciel semakain kesal.


[Benar!]


Setelah aku menamainya saat perang dengan kekaisaran Ciel kemudian dapat mengekspresikan perasaan layaknya jiwa walau dia tetap bagian dari diriku. Aku senang karena aku merasa tidak pernah sendiri.


"Aku jadi tidak sabar untuk besok pagi untuk bertemu dengan teman-teman baruku." Dengan semangat aku menunggu pagi hari di Akademi.


Hari berikutnya


Aku tiba di kelas Delsgade dan menemukan Rimuru duduk di sebalah kanan tempat dudukku dan di sebelahnya juga ada Sasha. Mereka kemudian menyapaku.


"Bukankah tempat duduk kalian da di sana?"


"Sasha mengajakku untuk pindah dan kurasa itu bukan ide yang buruk" Kata Rimuru yang kemudian melirik kearah Sasha.


"Bukankah lebih baik bagi tim untuk duduk bersama?" Kata Sasha melanjutkan perkataan Rimuru.


Yah, kurasa itu memang lebih baik. Aku menggambil tempat dudukku sendiri dan mengahadap ke kiri." Hai."


"Selamat pagi" jawab Misha dengan datar seperti biasa.


"Ngomong-ngomong soal tim," kata Sasha "apa yang terjadi dengan mantan timku?"


"Beberapa dari mereka ingin bergabung degan timmu."


Kalau dipikir-pikir bebrapa siswa mendatangiku sebelumnya."Aku menolak mereka"


"Hah?! Mengapa? memiliki tim yang lebih besar akan lebih baik saat ujian nanti." Sasha mengomel.


"Aku tidak merasa seperti itu." kataku "Ini tidak seperti kita membutuhkan mereka, kita berempat saja sudah cukup" aku menambahkan. ' Atau lebih tepatnya, aku saja sudah cukup.


"Kita mungkin baik-baik saja saat ujian tim, tapi kau butuh setidaknya lima anggota untuk ujian kelas dan setidaknya tujuh anggota untuk ujian nilai." Jelas Sasha


"Apa yang dikatakan Sasha benar, Anos kau setidaknya menerima tiga orang dari mereka. walau tempramen meraka seperti itu mungkin seiring waktu mereka akan melunak lagi pula kita satu tim" kata Rimuru menegurku


Sasha menjadi senang, hmm sejak kapan mereka jadi akrab.


"Aku tidak tahu itu. tapi karena masih ada waktu untuk berpikir aku akan menanganinya nanti."


"Sungguh sikap yang riang..." guman Sasha, cemberut.


Saat itu bel berbunyi. Emilia melangkah masuk, diikuti oleh pria yang mengenakan jubah formal dan topi. Dia adalah kerangka. Aku ingat jika salah satu dari tujuh bawahan saya adalah unded pasti bernama Ivis Necron.


Mereka yang bergelar Demon Elder pasti memiliki status yang cukup besar di era ini. Para siswa hanya bisa terdiam begitu Ivis muncul. Tunggu. Bukan, para siswa meringkuk ketakutan karena perbedaan kekuatan yang luar biasa.


Sihirku juga memiliki efek yang sama, tetapi karen para iblis di era ini terlalu lemah indra mereka benar-benar mati rasa terhadap kekuatanku. Tidak, ada satu individu yang bisa mersakan kekuatanku walau dia tidak merasa takut.


Saat aku melirik ke arah Rimuru dan seperti yang diduga dia menyadariya, setidaknya kau harus memiliki kekuatan yang sangat besar untuk memiliki kepekaan seperti itu.


"Pelajaran hari ini adalah tentang sihir yang lebih besar yang diberikan oleh Demon Elder Ivis Necron, kerena diadakan sekali ,jadi dengarkan dengan seksama." Dia menatapku saat berbicara "Terutama kamu Anos Voldigoad."


"Saya tahu tanpa haru diberi tahu," jawabku.


"Itu bagus, kalau begitu..."


Bagaimanapun karena ini kesempatan sempurna untuk menyampaikan salam. Aku berdiri dari tempat dudukku."Yo, Ivis lama tidak bertemu."


Rahang Emilia jatuh. "AA-Anos Voldigoad!B-Beraninya kau memanggil Lord Ivis seperti itu?!"


Para siswa mulai berbisik. Mengabaikan keributan, aku menggunakan mataku untuk memeriksa Ivis. Sihirnya femiliar, dia memang salah satu bawahanku yang aku ciptakan menggunakan darahku. Aku hampir yakin itu_hampir.


"Lord Ivis, terimalah permintaan maafku yang tulus! Aku akan segara menggusir Anos Voldigoad!" Emilia memohon.


"Tidak perlu" kata Ivis ramah. "Kamu bilang kamu pernah melihatku sebelumnya."Dia berbalik melihatku.


"Ya, sudah dua ribu tahun. Apa kau tidak ingat."


"Dua ribu tahun," guman Ivis, menggaguk. "Tidak heran. Sayangnya, saya tidak memiliki kanangan saat itu. Aku hanya ingat tuanku, Taja Iblis Tirani."


"Kalau begitu kau harus mengigatku ."


"Apakah kamu terhubung dengan sang pendiri? Sihirmu memang terasa agak femiliar," Ivis mengakui.


"Apakah begitu?"


"Aku yakin kita sudah kenal. Apa yang kamu mau dariku?" Dia bertanya


"Tidak ada yang khusus. Aku baru saja berpikir jika aku bisa membantumu menggerakkan ingatanmu." Di bawah tatapan khawatir dari seluruh kelas, aku berjalan ke arah Ivis. Kemudian aku menangkap tengkoraknya dengan cengkraman. Seketika ruang kelas dibanjiri dengan panik.


"A-Apa yang kamu lakukan Anos?!" Emilia menangis.


Mengabaikan keributan aku menggambar lingkaran sihir di telapak tanganku. Sihir yang aku aktifkan adalah Eviy, mantra yang bisa membangkitkan ingatan, tapi tidak ada respon dari pikiran Ivis.


"Usahamu sia-sia," kata Ivis. "Tidak ada memori yang tersisa dari waktu itu. Bukanyan aku tidak bisa mengingatnya. Kenangan itu memang tidak ada. Bahkan dengan Eviy tidak dapat mengembalikan apa yang hilang."


"Kalau begitu, bagaimana dengan ini" aku melapisi lingkaran sihirku dengan Rivide. di atas Eviy.


"Apa ini...? Apa yang telah kau lakukan? kenanganku... mereka mengalir ke pikiranku..."


"Jika ingatanmu terhapus, aku hanya akan memundurkan waktu dalam pikiranmu dengan Rivide dan mengaktifkan Eviy dari dua ribu tahun yang lalu."


"Mundur waktu? Mustahil! Anda mengatakan ada sihir yang melampaui waktu?!"


"Ini adalah jenis sihir asal. Mantra yang agak sulit, meskipun."  Melintasi Dua ribu tahuni kenangan Ivis....Tapi tidak ada satu pun penyebutan Raja Iblis Anos Voldigoad dalam ingatanya. Karena ingatan yang mengalir di kepala Ivis bukan milikku jadi aku hanya bisa melihat permukaannya. Aku tidak bisa menumakan namaku di mana pun.yang ada hanyalah nama Avos Dilhevia.


"Kenapa aku masih tidak mengigatmu?"


"Seseorang telah menghapus ingatanmu salama dua ribu tahun terakhir." Masa lalunya telah dirubah. Baginya Raja Iblis Anos tidak pernah ada. Betapa merepotkanya.


"Saya mengerti Anos, bukan? Saya harus berterima kasih. Fakta itu merupakan pengetahuan baru jika diluar sana ada menginginkanku sakit."


"Sudahlah, silahkan lanjutkan pelajarannya."