Reborn

Reborn
PART IX



"Rael mau jadi tentara?"


"Jadi tentara itu gak gampang, Rael. Kayak papa gitu, jadi jarang di rumah"


"Mhm. Rael udah pertimbangkan semuanya" Hassan menatap Linda.


"Papa pikirin dulu ya, Rael"


"Iya" Rael balas tersenyum.


"Anakku yang cantik" Hassan mengusap kepala Rael.


Mereka kembali menikmati tayangan di televisi. Kisah romantis yang menceritakan tentang perjalanan cinta antara pangeran dengan putri dari kerajaan yang terlupakan. Sebenarnya ini bukan film kesukaan Rael. Tapi karena ini pilihan mamanya, ia tidak berani berkomentar.


"Rael, mama sama papa mau pergi belanja dulu. Rael mau ikut gak?" Tanya Linda sesaat setelah film berakhir.


"Nggak"


"Yauda, jaga rumah ya"


"Oke. Coklat ya ma" Rael memanis-maniskan wajahnya.


"Iya iya. Mama belikan coklat"


"Terimakasih mama cantik"


"Rael sekarang banyak ngomongnya, ya" Hassan mengacak rambut Rael. Rael menepis tangan Hassan dan menatapnya kesal.


"Mama pergi dulu, Rael"


"Iyaa.. Hati-hati di jalan"


Setelah memastikan mobil yang dikendarai orang tuanya pergi, Rael segera menghubungkan sistem di otaknya dengan seluruh perangkat elektronik di rumah. Ia mengunci pintu dan mematikan semua lampu kecuali lampu di ruang tengah.


Rael pergi ke dapur. Ia menggoreng kentang dan beberapa sosis dan naget dengan air fryer. Gelas dan piring kotor sudah ia cuci dengan mesin pencuci piring. Rael menyiapkan Cola dingin sambil mencari film horor di televisi. Dan tentu saja semua itu ia lakukan hanya dengan perintah langsung dari otaknya.


Setelah cemilannya matang, ia menyusunnya di piring dan membawanya ke ruang tengah. 3 jam adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan 1 film. Sisa waktunya akan ia gunakan untuk bersih-bersih dan bersantai.


Rael sudah tau kalau mamanya bilang belanja itu pasti akan memakan waktu yang lama. Bahkan 3 jam itu belum cukup baginya. Di saat itulah, Rael bebas mengakses perangkat elektronik di rumahnya selama ini, terutama televisi. Karena itu juga, Rael jadi mempelajari banyak hal yang tidak ia ketahui sebelumnya.


...✓✓✓✓✓...


"Menurut mama gimana? Rael mau jadi tentara" Tanya Hassan di mobil.


"Mama gak setuju. Rael pasti bakal susah diterima disana. Terlebih dia itu bukan darah Indonesia murni. Gak mungkin dong mama biarin anak mama kesulitan disana"


"Tapi ini keinginan Rael. Papa rasa gak terlalu buruk juga, karena pribadinya yang kuat. Kemampuannya juga pasti bakal banyak berguna disana"


"Pa. Rael itu anak perempuan. Anak kita satu-satunya. Lagipula gimana kita daftarkan dia tanpa riwayat sekolahnya" Linda mulai kesal dengan pendapat Hassan.


"Soal pendaftaran itu papa bisa urus. Percaya sama Rael, dia pasti bakal baik-baik aja. Coba tebak, pasti sekarang dia lagi mainin barang-barang di rumah lagi. Rael itu setara bahkan melebihi Daren sama Shira. Mama gak mungkin ngurung dia selamanya kan? Menyia-nyiakan kesempatannya disaat dia bisa buat mama bangga"


Linda hanya diam. Ia memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Perlahan air mata mengalir di pipinya yang bulat. Hassan menyadarinya. Ia meraih sebelah tangan Linda dan mengelusnya.


"Terserah papa. Tapi pastikan kalau Rael bakal baik-baik aja"


"Iya, sayang"


...✓✓✓✓✓...


Dorr!! Dorr!!


Pagi hari yang cerah, Rael kembali berlatih senapan di ruang bawah tanah. Kali ini ditemani papanya.


"Wih, Rael makin jago, ya"


"Iya dong. Anak siapa coba"


"Lihat ini, pa" Rael melempar kaleng soda kosong dan menembaknya dengan satu tangan tanpa aba-aba. Dan.... tepat sasaran.


Prok!! Prokk!! Prokk!!


"Hebat anak papa" Hassan memungut kaleng itu. Dilihatnya lubang kecil bekas peluru Rael yang menembusnya.


"Papaa! Ada tamu" Panggil Linda dari pintu.


Sesaat kemudian terdengar langkah kaki seseorang menuruni tangga.


"Pa, chip Rael di atas" Rael panik. Tanpa chip dari profesor Hiro, dia tidak akan bisa menyembunyikan wajahnya.


"Gak apa-apa, Rael"


"Wahhh.. Saudaraku! Makin subur saja kau!" Hassan mendatangi mereka dan menyalaminya.


"Nah, jadi... siapa yang perlu kita bantu disini?" Tanya salah seorang teman Hassan.


"Rael, kemari nak"


"Baik" Rael meletakkan senapannya dan mendatangi mereka.


"Oh, gadis blasteran?"


"Rael, ini teman-teman papa. Ini Angga, Desta, dan Firman. Dan kalian, ini Rael, anakku" Hassan memperkenalkan mereka.


"Halo. Salam kenal paman" Sapa Rael.


"Salam kenal juga, Rael"


"Aku baru tau kamu punya anak berdarah campuran" Kata Desta.


"Iya. Selama ini aku tidak pernah membawanya berkeliling. Kau tau kan, itu bisa membahayakannya" Hassan menuntun mereka ke kursi santai di sudut ruangan.


"Hmm... Aku ingat. Dia gadis dari rumah abu-abu itu kan?" Tanya Angga.


"Oh, kamu ada disana juga. Aku lupa. Iya benar, dia gadis itu"


"Oh, ya? Kemana kau membawanya saat itu?" Hassan terkekeh.


"Kalian tidak akan percaya. Rael, ke atas dulu ya. Bantu mama buatkan hidangan"


"Iya" Rael pergi ke atas. Di tangga ia mengintip sekilas apa yang dibicarakan orang-orang itu. Namun karena takut ketahuan ia berlalu meninggalkan mereka.


"Mama"


"Iya, Rael?" Linda menyiapkan cemilan untuk hidangan para tamu.


Rael tergiur. Semuanya adalah cemilan yang ia suka. Ada bakwan goreng, pisang coklat, stoples coklat dan buah apel.


"Nih, Rael bisa bawa gak?" Linda meletakkan teko berisi teh hangat ke atas nampan.


"Bisa. Tunggu dulu" Rael mengambil sekotak susu coklat miliknya di kulkas.


"Rael turun dulu. Terimakasih, mama"


"Sama-sama. Hati-hati bawanya"


"Iya"


Rael membawa nampan itu dengan hati-hati. Sejujurnya ia juga keberatan karena isi nampannya terlalu banyak. Rael menyalakan sensor di kakinya saat menuruni tangga. Anak tangga itu tidak terlihat tertutupi nampan yang ia bawa.


"Permisi, paman" Rael meletakkan nampannya di meja.


"Sini duduk, Rael" Rael mendudukkan dirinya di samping Hassan.


"Dia benar-benar punya kemampuan begitu?" Tanya Angga.


"Aku sudah melihatnya berkali-kali. Tadi aku menemaninya berlatih sebelum kalian datang"


"Wah kalau benar begitu dia bisa langsung masuk pasukan elit" Kata Firman.


"Nah, Rael. Para paman ini yang akan membantumu mendaftar jadi tentara"


"Hmm... agak sulit juga, ya. Administrasinya gak ada karna dari catatan kependudukan Rae terdata meninggal. Untuk cek kesehatan kita minta surat dari profesor aja. Nanti Rael ikut tes dulu ya. Tes tulis aja, disini boleh sama tunjukkan kemampuan Rael" Jelas Desta.


"Iya, baik"


"Kamu benar-benar bisa mengendalikan alat elektronik?" Tanya Angga.


"Eummm... gimana ya. Lebih kayak terkoneksi gitu, paman. Rael bisa menghubungkan pikiran Rael dengan perangkat yang Rael mau. Kayak lampu ini" Rael menunjuk salah satu lampu ruangan di atas kepala mereka.


Tiba-tiba lampu itu mati. Beberapa detik kemudian lampunya menyala lagi.


"Kalau Rael menghubungkan pikiran Rael dengan lampu itu, tombol lampunya seolah ada di kepala Rael. Rael bisa menyala matikan lampunya sesukanya" Jelas Rael.


"Oh, begitu"


Mereka berbincang sebentar disana sambil menikmati cemilan yang dihidangkan. Rael mengerjakan ujian tulisnya di lembaran kertas yang diberikan Desta. Hasilnya akan diberitahukan kepada Hassan via WhatsApp.


...✓✓✓✓✓...