
"Memang kenapa kalau dia dulu gak begitu?" Tanya Rael. Dafa menatapnya dengan tatapan aneh. Rael bingung.
"Kapten itu punya cerita kelam di keluarganya. Dulu almarhumah istrinya punya sahabat dekat seorang blasteran China. Waktu pembantaian dia lagi tugas di luar kota. Istrinya nyembunyikan temannya sama anaknya di rumahnya. Tapi setelah diselamatkan dia ngebunuh istri sama anaknya buat ngelindungi keluarganya di rumah si kapten"
"Hmm, ngelunjak juga ya"
"Ya, padahal itu teman dekatnya sendiri. Bahkan anaknya yang paling kecil waktu itu sekitar umur 6 tahun juga ikut andil dalam pembunuhan keluarganya si Fendy itu" Rael menyeruput kopinya.
"Terus kamu pro kemana?" Tanya Rael.
"Aku gak merasa terganggu sama blasteran. Toh sebenarnya bangsa kita juga percampuran keturunan bangsa luar kan. Kecuali kalau rakyat Indonesia tulen itu berasal dari 1 orang murni penduduk Negeri. Kalau kamu?"
"Entahlah, aku juga gak begitu paham situasinya kenapa bisa begini. Waktu kejadian dulu juga aku gak tau apa-apa"
" Memang umurmu berapa, sih?"
"18 tahun" Jawab Rael.
"Oh, ya? Kita beda 4 tahun" Rael menatap Dafa dengan tajam.
"Aku kira 30 tahun" Katanya.
"Hahahaha... Aku gak setua itu"
Mereka kembali hening dan menikmati minuman masing-masing. Rael meletakkan gelasnya yang sudah kosong di balik rerumputan.
"Aku ngerasa pendapat penduduk lokal juga lumayan masuk akal. Rasanya kayak pelan-pelan negerinya dijajah. Tapi jadi blasteran pun gak begitu juga. Mungkin itu memang ulah beberapa orang tapi gak harus sampai melakukan pembantaian, kan" Kata Rael.
"Jadi kamu juga golongan putih?"
"Gak juga karena nyawaku juga terancam" Tiba-tiba Rael melepas chip di telinganya dan menunjukkan wajah aslinya.
Uhukk... Uhukk...
"Hey, apa maksudnya ini?" Dafa tersedak teh nya melihat Rael.
"Itu apa?" Ia menanyakan sebuah benda bulat kecil seukuran manik-manik di tangan Rael.
"Hmmmm... Apa ya ini. Mungkin semacam topeng hologram. Tapi cara kerjanya juga mengubah bentuk wajahku. Wajahku jadi kebas kalau terlalu lama memakainya"
"Kamu blasteran?" Dafa menatap Rael intens.
"Ya, seperti yang kamu lihat" Dafa hanya melongo.
"Hey, selama puluhan tahun yang aku tau tidak ada tentara blasteran yang mencolok sepertimu"
Dilihat sekilas pun tidak ada darah Indonesia darinya. Rambut pirang panjang, mata berwarna biru cerah seperti permata, hidung mancung, kulitnya yang putih bersinar. Yang memperlihatkan Indonesia-nya hanya dari bahasanya yang fasih dan tidak ada logat asing dalam pengucapannya.
"Aku mengerti. Pasti sulit tinggal disini. Jadi selama ini kamu menyembunyikan wajahmu. Orang tuamu juga?" Rael tersenyum miring.
"Orang tuaku tidak ada. Jenderal Hassan dan istrinya yang merawatku selama ini"
"Merawatmu?"
"Mm-hm"
"Itu menjelaskan kenapa dia sangat memperhatikanmu. Kamu anaknya ternyata"
"Ternyata aslinya bidadari banget gilakkkk!!!" Bisik Dafa. Ia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah dari Rael. 'Padahal pake topeng sudah cantik bangetttttttt', suara hati Dafa. Ia menggigit bibirnya tipis.
Rael terkekeh. Ia mendengar bisikan Dafa tadi dengan pendengarannya yang ditajamkan namun ia berpura-pura tidak tahu. Kalau Dafa tau dirinya yang dulu mungkin ia akan merasa jijik berdekatan dengan Rael.
Rael memainkan chip di tangannya. Sejujurnya tentu saja ia juga tidak suka harus hidup bersembunyi seumur hidupnya karena konflik Negara.
"Kenapa kamu menunjukkannya padaku?" Tanya Dafa.
"Entahlah, mungkin karena aku tidak mau bersembunyi terus. Setidaknya ada satu dua orang yang tau aku hidup. Sebagai diriku yang blasteran bukan topeng palsu ini" Dafa memperhatikan chip milik Rael.
"Ini gak akan berlangsung selamanya" Kata Dafa.
"Tapi benda itu bagus juga. Meski aku gak tau kamu dapat darimana"
"Hahaha... Yah. Ini memang dibuat khusus untukku"
"Oh, begitu. Siapa yang membuatnya?" Rael tersenyum.
"Eummm... pamanku....?"
...✓✓✓✓✓...
"Halo, sayang. Gimana disana? Rael sudah makan?" Tanya Linda di telfon.
Rael memandang keluar jendela sambil memegang handphone-nya. Suasana asrama di malam hari begitu tenang. Para prajurit yang berlatih tadi sore sudah masuk ke kamarnya masing-masing.
"Hahaha... Apaan sih. Yaudah gantian kan tadi mama" Rael tertawa mendengar orang tuanya berebut giliran telfon dengannya.
Beberapa saat kemudian Hassan lah yang menang. Linda mengunci diri di kamar karena kesal tidak bisa bicara lebih lama dengan putri kesayangannya.
"Halo, Rael?"
"Halo, pa. Rael masih disini"
"Rael apa kabar disana?"
"Baik. Sehat jasmani dan rohani" Balas Rael.
"Bagus, dong. Kemarin gimana misinya?"
"Hmm... Rael bikin kesalahan kemarin. Rael ninggalkan tugas Rael buat ngurusin anak kecil yang lewat" Rael merebahkan kepalanya di pinggir jendela.
"Kenapa begitu? Jadi tadi habis dihukum?"
"Dihukum sih enggak. Cuma tadi Rael ditampar 5 kali"
"Hah serius?!!! Siapa yang nampar anak papa?!!! Kasitau papa orangnya, Rael!!" Hassan meninggikan suaranya.
"Hahhhhh?!!!! Siapa yang berani nampar anakku?!!!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan Linda.
"Hahahaha... Nggak, kan Rael juga salah"
"Ya Tuhan, anakku. Pasti sakit, ya" Kata Linda.
"Tadi sih, ma. Sekarang udah gak ada rasanya"
"Husshhhh.... Ini giliran papa, ih. Sana mama di kamar aja sana" Hassan mengusir Linda menjauh. Rael terkekeh mendengar suara Linda menggerutu.
"Papa tau kok Rael pasti melakukan itu ada alasannya, kan? Kalau menurut Rael baik, lakukan. Tapi harus tetap fokus sama tugas Rael, ya"
"Iya, pa" Rael menatap bulan purnama dari jendela kamarnya.
"Rael. Papa mau tanya. Disana sudah ada rumornya, gak?"
"Rumor apa?"
"Hmm... Berarti belum"
"Belum, sih. Bentar lagi mungkin. Emang rumor apa?"
"Info terbaru tragedi 5 tahun yang lalu itu ternyata direncanakan. Kemungkinan benar negara kita diadu domba dengan bangsanya sendiri"
"Oh, ya? Terus kenapa sama itu? Itu kejadian 5 tahun lalu kan, pa"
"Memang benar, Rael. Tapi tujuan dari itu untuk menghancurkan Negara kita. Dan orang itu juga masih melanjutkan tindakannya"
"Alasannya apa? Masa iya ada orang yang bisa bertindak begitu. Yang mau dihancurkan itu kan sebuah Negara bukan mainan monopoli"
"Memang benar. Tapi itulah kenyataannya. Tadi malam ada nomor yang mengirim pesan ancaman ke nomor presiden. Sudah dilacak dan asalnya dari bekas Ibukota Jakarta, tapi nomor itu sudah gak berlaku. SIM card-nya juga sudah ditemukan. Identitas pengirim tidak diketahui hanya tertulis inisial V di dalam pesannya"
"Kok bisa tau nomor presiden?"
"Ada kemungkinan keterlibatan petinggi Negeri. Atau bisa jadi si pengirim pesannya. Papa khawatir karena pesan itu terkirim tepat saat Rael menjalankan tugas di dekat sana"
Rael memikirkan kembali perjalanannya kemarin. Ia tidak ingat melihat sesuatu yang mencurigakan disana. Atau mungkin—?
"Terus apa gimana selanjutnya?"
"Hmmmm.... Dalam waktu dekat para petinggi akan membentuk tim khusus untuk mencari orang itu. Papa juga ikut andil dalam pembentukan tim itu nanti"
"Rael boleh minta tolong gak, pa?"
"Minta tolong apa?"
"Masukkan Rael dalam tim itu" Hassan terdiam.
"Rael tau sesuatu?" Kini giliran Rael yang diam.
"Nanti papa usahakan. Kita tunggu hasil penilaian Rael dulu, ya" Lanjut Hassan.
"Iya. Terimakasih, pa"
...✓✓✓✓✓...